Protagonist Transmigration : Its Best If I Became A Villain

Protagonist Transmigration : Its Best If I Became A Villain
Tes Praktik Dewa Kematian (8)


__ADS_3

" Seharusnya hari ini kita semua menjalani tes dewa kematian bukan ?


Namun dua orang yang menjadi dewa kematian pembimbing kita sepertinya sangat sibuk. "


" Sebenarnya bukan itu yang menjadi permasalahannya sekarang


Kau mendengar apa yang di katakan senior itu ?


Yang satu menyuruh kita mencari senior satunya di luar. Namun yang satunya lagi menyuruh kita menunggu.


Oh iya. Ngomong-ngomong, kita belum saling memperkenalkan diri.


Perkenalkan Namaku han Ji soo aku termasuk ke dalam tim wanita dewa kematian tadi. " Ucap satu orang lagi.


Mereka bersembilan adalah anak baru yang berencana melakukan tes praktik untuk menjadi dewa kematian. Saat ini mereka di bingungkan dengan para senior yang seharusnya menjadi pembimbing mereka.


Mereka tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi dan hanya dapat menuruti perintah yang di berikan. Akan tetapi, merka juga memiliki waktu yang terbatas.


" Untuk apa memperkenalkan diri? Memangnya hal itu diperlukan ?


Belum tentu juga kalian akan lolos menjadi dewa kematian. " Ucap satu orang lagi, sinis.


" Memangnya berkenalan ada hubungannya dengan menjadi dewa kematian ? " Seseorang membalas.


" Tolong jangan dimasukkan ke hati. Perkenalkan, namaku He an. Aku salah satu calon dewa kematian dari tim senior Oh. " Ucapnya.


Beberapa dari mereka yang sebelumnya ragu berbicara kemudian memperkenalkan diri mereka juga, meskipun ada juga yang tidak memperkenalkan diri karena menganggap hal itu tidak diperlukan.


" Salam kenal semuanya. Kalau begitu bagaimana dengan keputusan kita. Apakah kita akan pergi keluar lagi untuk mencari senior Ho ? " Tanya han ji soo pada rekan calon dewa kematiannya.


" Hhmm bagaimana ya. Senior Oh menyuruh kami menunggu di sini. Sepertinya kami hanya akan menunggu sampai kembalinya pembimbing kami.


Maaf " Ucap He an.


" CRASHH !!! " Terdengar suara keras dari lantai atas.


" Apa itu ?! Suara apa itu ? " beberapa calon dewa kematian panik lalu melihat ke arah sumber suara.


" Lihat. Tanaman apa itu? Sepertinya seseorang membuat keributan. " Tunjuk Chris.


" Hmmph " Seorang yang sinis itu pergi meninggalkan lokasi setelah melihat ke arah sumber suara.


" Hei, apa dia rekan satu timmu ? Sifatnya buruk sekali " Tanya seseorang dari tim Oh haebin.


" Bukan bukan, dia bukan dari tim kami " jawab Han ji soo.


" Dia dari timku.


Sejak awal kami berkumpul dia memang sudah aneh. Bagaimana aku menjelaskannya ya.. " Sela satu orang dari tim tuan Ho.


" sudah aneh ? apa maksudmu. Oh ya, namamu ? " Tanya Han ji soo.


" Ah aku lupa memperkenalkan diri. Namaku Yeol. dan teman satu tim ku namanya Chris. "


" Halo salam kenal, namaku Christoper kalian bisa memanggilku Chris " Ucap seseorang yang terlihat seperti orang luar negri.


" Salam kenal. Lalu, orang yang pergi tadi rekan satu tim mu ? "


" Benar, namanya kalau tidak salah seol ? seol bi ? ah namanya seol gi. "


" Hei hei, apa tidak apa membiarkan dia berkeliaran ? " Cemas He an


" Entahlah. Tapi syukurlah kalau dia tidak ada di sini aku jadi sedikit lega. Sebenarnya aku sedikit tidak menyukainya. " Jawab Yeol.


" Apa terjadi sesuatu ? Padahal kalian baru berkumpul tapi sudah saling tidak menyukai. Pasti ada sesuatu yang terjadi " Tanya han ji soo.


" Saat kumpul untuk perkenalan tadi. Dia berbicara hal yang tidak enak didengar.


Dia mengatakan. Tidak perlu untuk melakukan tes lagi karena hasilnya sudah pasti dia sangat yakin kalau dia akan terpilih. " Jelas Chris


" Huh. Dia pikir dia siapa ? Dia menganggap remeh calon dewa kematian lainnya. " Keluh yeol.

__ADS_1


" Ei ei, kalian memiliki nama dengan intonasi yang sama. Tidak baik membicarakan orang lain di belakang mereka." Saran he an.


" Itu benar, setiap dari kita memiliki tujuan yang sama namun hanya satu orang dari setiap tim yang akan menjadi dewa kematian.


Kalau begitu aku pamit untuk pergi menemui senior Ho. " Ucap Han Ji soo.


" Ah kau benar. Maaf karena telah mendengar mulutku yang berbicara sembarangan ini.


Kau benar, sebaiknya kita segera menemui senior Ho. " Sahut Yeol yang merupakan kelompok tuan Ho.


" Bagaimana dengan temanmu satunya yang pergi tadi ? " Tanya Han ji soo.


" Biarkan dia. Dia memiliki kaki dan otak sendiri. Tidak mau mendengarkan ya sudah. " Ucap Yeol.


Tim mereka akhirnya berpisah. Tim Oh haebin yang di pimpin He an tetap menunggu di lobby sampai senior mereka kembali. Sedangkan tim milik Tuan ho dan nona Keanne mencari tuan Ho yang katanya masih terjebak di pintu masuk.


################################


Di lantai 3 kantor divisi investigasi.


" Arrrggg eun jae. Beraninya kamu ?! " Mo yong yang masuk ke dalam ruang kantor langsung berlari menuju eun jae yang sedang menikmati mie instan sambil bersenjer di jendela.


Dia berusaha merebut kembali mie instan namun eun jae berhasil menghindari terjangan mo yong.


" Beraninya kamu mencuri mi instan edisi terbatasku!! Uugghh kembalikan ! kembalikan !!! Ku bilang kembalikan !! " Mo yong masih berusaha merampas hak miliknya.


Eun jae dengan lihat menghindari terjangannya sambil menikmati mi instan seduhannya itu hingga habis dan kembali bersender ke jendela.


" Uwah pelitnya.


Ngomong ngomong mi nya sudah habis. Bagaimana caranya ku kembalikan ? apa mau kumuntahkan saja ? " Eun jae memperlihatkan kemasan sisa dari mi instan goreng edisi terbatas yang selesai dia nikmati.


" K k k k kauuu. Eun jae BODOH! SIALAN ! TIDAK BERPERASAAN !. " Tidak dapat menahan kekesalannya, Mo yong menutup matanya kemudian mengeluarkan senjata dewa kematiannya.


" Mawar memang berduri, Tetapi Eun jae,


Ternyata hatimu lebih berduri !


Senjata dewa kematian.


serabut mawar berduri! "


Mo yong mengeluarkan sebuah mawar dan mengubahnya menjadi sebuah sabit. Kemudian sabit itu mulai mengeluarkan puluhan akar yang menjalar dari sabit dan langsung melesat ke arah eun jae memerangkap tubuh eun jae dan memaksanya menerobos jendela dengan menghancurkannya.


Hal itu terjadi dengan cepat sehingga Eun jae tidak memiliki persiapan. Dia berusaha keluar dari jeratan serabut mawar berduri itu namun hanya mampu mengeluarkan kepalanya. Saat ini posisi kepalanya mengarah ke arah tanah.


" Hoi hoi hoi. Apa kau sudah gila ?!


Kau berniat membunuhku? dan lagi


Apa yang kau lakukan dasar bodoh! Kau menghancurkan property kantor!. " Teriak Eun jae, protes.


" Hump, siapa suruh dengan seenaknya kau memakan mi instan edisi terbatasku!


Rasakan! " Mo yong menancapkan sabit dewa kematiannya ke lantai membuatnya tetap berdiri meski dia tidak menggenggamnya.


" Hoi hoi, apa yang mau kau lakukan ?! " Eun jae memiliki insting kalau mo yong hanya akan membiarkannya terperangkap seharian di sana.


" Hari ini sepertinya kau senggang. Apa kau masih memiliki pekerjaan ?


Tenanglah di sana setidaknya seharian.


Kau tahu betapa sulitnya aku mendapatkan mi instan edisi terbatas yang hanya di jual 3 buah setiap harinya di kantin ? " Mo yong tersenyum jahat.


" Hoi! Hanya karena satu gelas mie instan kau memperlakukanku seperti ini ?! Lepaskan tidak?! " Eun jae masih tetap memberontak, namun semakin memberontak akar mawar tersebut semakin menguat dan bahkan semakin melilit bagian atas eun jae.


Karena hal itu eun jae akhirnya menyerah. Setidaknya serabut itu tidak akan menyakitinya kalau dia tidak memberontak. Untung saja dia sudah mengisi perutnya. Anggap kejadian itu sebagai kesempatan untuk beristirahat.


Eun jae berusaha untuk mengubah posisinya agar tidak terbalik setelah berusaha akhirnya dia berhasil mengatur posisinya namun hanya mampu mengubahnya dengan posisi wajah yang mengarah ke arah tanah.


Dia melihat beberapa serabut lain menahan pecahan jendela.

__ADS_1


" Benar-benar kemampuan yang serba guna ya. Jadi kau masih memikirkan nasib jendela yang kau hancurkan itu? " Eun jae berdiri sendiri.


Tidak ada korban yang terkena dampak dari kerusakan itu. Setidaknya itu meminimalis perhatian orang akan kejadian yang terjadi. Kalau tidak, Eun jae yakin 100% kalau dia akan menjadi bahan tontonan publik.


" Hei mo yong. Sepertinya lobby sangat ramai. Apa kantor kita memiliki anak baru ? 1 2 3 hhmm ada 8 orang. Jumlah yang cukup banyak. " Ucap eun jae.


" Hoi, apa kau mendengarkanku? " ucap eun jae yang merasa tidak di dengarkan.


" Terus ?


apa urusannya denganku ?


Kau tidak perlu menghabiskan energimu untuk sesuatu yang tidak penting seperti bicara denganku " Ucap Mo yong yang sedang duduk di meja dekat jendela, ketus.


" Wah wah lihat ini. Bagaimana bisa kepribadianmu terbelah seperti ini.


Saat bersama haebin kau bertingkah seperti orang baik dan bahkan suka bekerja sama menggoda haebin denganku. Setelah dia tidak ada kau memperlakukanku seperti ini.


Kejamnya dirimu " Eun jae berakting.


" Biar kuperjelas ya. Haebin dan dirimu adalah sesuatu yang saaaangat berbeda.


Kalian bagaikan seekor katak dan bulan. Baik penampilan maupun sifat. " Jelas mo yong.


" Hoo jadi kau mau mengatakan kalau aku seekor katak sedangkan haebin adalah bulannya ?


Jangan salah. Katak juga bisa berubah menjadi pangeran. " Goda Eun jae.


" Tutup omong kosongmu.


Asal kau tahu saja. Sejak pertama kali bertemu denganmu, aku sudah membencimu.


Itu karena kau dengan seenaknya melakukan ini dan itu pada Haebin, ah tapi beberapa kali kau juga berguna untuk menjadi jembatan kami. " Ucap Mo yong.


" Hah, bahkan aku pun, juga membenci kalian. Baik kamu, dan juga haebin " Ucap Eun jae kecil.


" Hah? apa yang kau katakan ? "


" Bercanda " Mengalihkan pembicaraan.


Karena penasaran dengan keramaian yang dibicarakan eun jae, mo yong juga melihat ke arah lobby.


" Hhmm, kau benar. Terlalu banyak untuk ukuran anak baru.


Ah, kalau tidak salah hari ini haebin izin untuk melatih calon dewa kematian baru. Mungkin itu mereka ? " ucap mo yong.


" Dewa kematian baru yang di latih haebin ? Jadi begitu.


ngomong-ngomong mo yong. Bisakah kau membantuku mengubah posisi tubuhku?


Kau tahu posisi ini sedikit tidak nyaman? " Pinta eun jae.


" Hah ? " Mo yong menuruti perkataan eun jae dan mengubah posisi tubuh eunjae. Namun kembali dengan posisi kepala yang mengarah tanah.


" Hei hei, bukan posisi ini yang ku maksud. Kau tahu ka... Humpphh humppphh " Saat eun jae ingin meminta mengubah posisinya. Akar-akar itu menutup mulutnya.


" Diamlah! Aku sedang sibuk bekerja. "


################################


Mo yong :



Eun Jae :



Oh Haebin :


__ADS_1


__ADS_2