Protagonist Transmigration : Its Best If I Became A Villain

Protagonist Transmigration : Its Best If I Became A Villain
Tes Praktik Dewa Kematian (17)


__ADS_3

Beberapa minggu sebelumnya.


' Duarrr Duarrr ' Suara ledakan beruntun terdengar dari hutan wilayah kekuasaan keluarga Lu.


Grandmaster Lu yang awalnya sedang membujuk ( memaksa ) Lu xinnian turun dari pohon sakral miliknya merasakan ketidakberesan dari tempat ledakan segera menyuruh clansman nya untuk segera menyelidiki tempat itu.


Namun sebelum sampai mereka melihat sosok monster raksasa yang muncul di tengah asap bekas ledakan.


" Hydra ?! "


Grandmaster Lu sangat familiar dengan makhluk itu. Itu adalah makhluk legendaris yang mereka sebut sebagai Hydra. Naga raksasa dengan 9 kepala.


" Bagaimana itu bisa berada di sini ?! "


Grandmaster Lu sangat mengetahui betul kalau Hyrda masih merupakan monster kontrak Kaisar surga tingkat 9. Melihat makhluk itu berada di sini, mungkin ada hubungannya dengan kaisar surga. Grandmaster Lu mulai memikirkan, apakah dia atau clansmannya membuat kesalahan yang mengakibatkan bencana ini ?.


Saat Grandmaster dan clansmannya sampai pada lokasi, Hydra sudah tidak banyak lagi bergerak. Mereka melihat Hydra telah terlilit oleh ribuan daun jalar yang bersinar.


Grandmaster melihat siapa orang yang melawan Hydra. Pria muda berambut hijau bermata hijau memainkan kecapinya untuk mengikat Hydra dengan kekuatannya. Melihat hal itu wajah Grandmaster Lu memerah, tanpa basa-basi dia bergegas menghampiri pria itu dan menamparnya dengan keras.


' PLAK '


Saking keras tamparan penuh kemarahan Grandmaster Lu membuat pria itu terhempas hingga melepaskan kecapinya dan menabrak sebuah pohon besar.


" Dasar Bedebah busuk !


Apa yang kau lakukan sehingga membuat kekacauan seperti ini?! " Grandmaster Lu Berteriak karena sangat marah.


" Xinrong ge ! " Lu xinnian kaget karena sikap kakeknya yang begitu tiba-tiba. Dia langsung berlari ke arah Lu Xinrong untuk membantunya.


Saat Lu xinnian menghampirinya, Lu xinrong batuk darah. Sepertinya itu karena pertarungannya dengan Hydra dia mendapati luka dalam. Tapi pukulan keras dari Grandmaster Lu juga mempengaruhinya.


" Ya Dewa, mohon tunjukkan belas kasihanmu pada kami yang kotor ini.


Tolong redam kemarahanmu " Grandmaster Lu tiba-tiba berlutut di depan Hydra.


Lilitan yang dipengaruhi oleh suara kecapi mulai melonggar.


Hydra menghembuskan napas bukan karena lega namun karena marah. Dia benar-benar marah. Bagaimana mungkin orang yang bahkan bukan setengah dewa berani menyentuhnya ( menyinggungnya / melawannya ). Tapi dia tidak lupa dengan apa yang harus dilakukannya.

__ADS_1


" Jangan bertele-tele. Cepat katakan dimana orang yang kau sembunyikan ? Tunjukkan dia padaku ! " Hydra mulai berbicara. Dia mulai menyusut dan kembali ke bentuk manusianya semula.


Rambutnya hitam panjang dengan mata merah bersinar. Empat tato merah menghiasi di bawah masing-masing matanya. Sepasang ornamen menghiasi kepalanya. Dia terlihat seperti dewa berdarah murni melihat ketampanan dan keagungannya dalam penampilannya saat ini.


" Ya Dewa tolong redam amarahmu " Mendengar nada bicara orang agung di depannya membuat Grandmaster Lu sedikit bergeming. Namun dia mencoba mencerna tentang apa yang dikatakan oleh Legenda Hydra di hadapannya.


Gransmaster Lu memalingkan wajah ke arah Xinrong yang masih berusaha bangkit dengan bantuan Xinnian.


" Itu pasti kamu !


Kamu penyebab semua ini. Dimana orang yang kamu sembunyikan ?! Keluarkan dia ! " Tatapan tajam Grandmaster Lu.


Lu Xinrong sekali lagi batuk darah. Dia melepaskan bantuan Lu Xinnian dan kembali berlutut.


" Kakek, bukan..,


Grandmaster, saya tidak mengetahui apa yang beliau tanyakan. Saya tidak sedang menyembunyikan sesuatu. " Ucap Lu Xinrong dengan posisi berdiri dengan lutut dan kedua tangan mengepal d depan dada.


" Kau pembohong besar. Sangat jelas aku melihat penyusup itu pergi ke sini. Kau pasti menyembunyikannya. Kalau bukan, siapa lagi ?! " Hydra masi menekan untuk menemukan jawaban.


" Anak ini! Masih tidak mau bicara ?!


Lu Xinrong saat itu hanya sedang berlatih di hutan seperti biasanya. Namun Hydra tiba-tiba muncul, dan Xinrong yang tidak mengetahui apapun menganggapnya sebagai penyusup dan mengambil tindakan pencegahan. Jadi mereka hanya salah paham. Tapi apa yang bisa dia katakan saat itu ? Apapun yang dikatakannya tidak akan di dengar, dia menyadari itu.


Tidak lama gelang yang dipakai Hydra bercahaya, itu menandakan rekan kontraknya memanggilnya untuk kembali.


" Ya Dewa, tolong redam amarahku.


Maafkan atas ketidak sopanan klan Lu. Saya berjanji akan melakukan cara apapun agar anak ini mengatakan yang sebenarnya. " Grandmaster Lu meminta waktu untuk memaksa Lu Xinrong memberikan jawaban yang di inginkan.


" Tidak perlu. " Dengan nada kesar Sang Legenda Hydra berpaling dan terbang kembali untuk menanggapi panggilan kontraktornya.


Setelah melihat Hydra yang marah akhirnya pergi Grandmaster Lu berdiri dan langsung menghampiri Lu xinrong yang masih berdiri dengan lutut dan kedua tangan mengepal di dada.


" PLAK !! " Sekali lagi tamparan keras menampar pipi Lu Xinrong, namun kali ini dia berusaha untuk tidak bergeming hanya wajahnya yang sedikit miring mengikuti arah tamparan.


" PLAK PLAK PLAK " Tamparan demi tamparan jatuh ke pipi Lu Xinrong, Lu Xinrong masih tidak bergeming menerima tamparan dari Grandmaster Lu. Namun terlihat sedikit darah mengalir keluar dari ujung bibirnya menandakan dia menahan batuk darah sebisa mungkin.


" Kakek! Apa yang kakek lakukan ? Sudah Hentikan ! " Lu Xinnian berusaha menengahi.

__ADS_1


" Masih tidak mau bicara?! Bedebah ini ! " Merasa tidak cukup hanya dengan tamparan, Grandmaster Lu menendang Lu Xinrong hingga terjatuh, namun sesegera mungkin dia bangkit dan kembali berlutut.


" Saya, tidak sedang menyembunyikan apapun " Lu Xinrong masih bertekad kalau dia berkata jujur dan tidak mengetahui apapun selain kejadian dengan Legenda Hydra.


" Bedebah ini! " Saat Grandmaster Lu hendak memukul Lu Xinrong, Lu Xinnian kali ini benar-benar menghentikan tindakan kakeknya.


" Sudah cukup hentikan kek ! Masalah ini biarkan aku yang menanganinya. " Wajah Lu Xinnian mulai serius.


" Penjaga ! Bawa dia ke penjara bawah tanah ! Pastikan dia tidak keluar dan biarkan dia menerima 1000 cambukan ! " Grandmaster Lu menambahkan.


" 1000 cambukan ? Kakek! Itu terlalu berlebihan " Lu Xinnian menentang.


Kalau itu cambuk biasa 1000 bukanlah masalah untuk immortal. Namun itu adalah cambuk di kediaman Lu, Itu adalah cambuk yang bahkan mampu membunuh seekor badak hanya dengan sekali cambukan, apalagi seribu.


" Seharusnya memang aku membunuhku sejak awal.


Kalau bukan karena permintaan terakhir putriku, kau pasti sudah ! " Kecam Grandmaster Lu.


Lu xinnian menelan ludah mendengar perkataan kakeknya. Bagaimanapun, mereka adalah saudara bagaimana dia bisa membiarkan hal seperti ini terus berlanjut. Dengan menyelamatkan Lu Xinrong, itu juga akan menyelamatkannya. Jika Lu Xinrong menjadi penerus resmi keluarga Lu, itu akan sangat membantu Lu Xinnian mewujudkan mimpinya. Namun pada kenyataan, hal itu sangatlah sulit bahkan mendekati kemustahilan melihat bagaimana Grandmaster Lu memperlakukan Lu Xinrong seperti itu. Sebenarnya apa masa lalu yang membuat kakek yang ia hormati sebegitu merasa jijik pada cucunya sendiri.


" Biarkan aku yang mengawalnya " Lu xinnian memberikan perintah pada pengawal untuk meninggalkannya dan Lu Xinrong berdua. Lu Xinnian yang akan memasukkan Lu Xinrong ke penjara sendiri. Grandmaster Lu sedikit meliriknya untuk memberikan tatapan tajam kemudian kembali berbalik dan hanya menggelengkan kepala membiarkan apa yang dilakukan cucu bodohnya itu.


" Dengan luka seperti ini, Xinrong ge, kaku benar-benar .. " Lu Xinnian tidak bisa berkata-kata melihat kondisi Lu Xinrong.


Dia benar-benar tidak ingin membawanya ke penjara bawah tanah. Setidaknya, hanya sebentar saja, dia berharap dapat membawanya untuk mengobati luka-lukanya terlebih dahulu. Namun melihat kekeras kepalaan kakeknya, hal itu hanya merupakan satu angan-angan yang tidak akan pernah terkabul.


Lu Xinnian membantu Lu Xinrong berjalan mengikuti Grandmaster Lu dan pengawal yang sudah berada sedikit jauh di depan. Dia juga membawa kecapi milik Lu Xinrong yang di bungkus oleh jubah luarnya di punggungnya.


Tiba-tiba saja terjadi sebuah gempa besar. Gempa itu mampu membelah tanah dan menumbangkan pohon di sekitar dalam waktu sekejap. Betapa tidak beruntung lokasi Lu Xinnian dan Lu Xinrong saat itu, mereka berada di dekat patahan tanah.


" A nian ?! " Grandmaster Lu kaget, dia melihat Lu Xinnian masih di belakang yang saat ini terpisah oleh sebuah retakan tanah yang besar.


" Tidak ! Itu akan segera longsor! Cepat kemari ! " Grandmaster Lu berteriak di tengah guncangan.


" Lepaskan bedebah itu dan segera kemari! " Perintah Grandmaster Lu.


Bagaimana bisa Lu Xinnian menurutinya. Saat ini Lu Xinrong dalam keadaan setengah sadar, namun dia masih dapat membaca situasi. Dia menepis tangah Lu Xinnian dan menyuruhnya untuk segera pergi ke sebrang, namun bagaimana bisa dia melakukannya. Suara pertentangan mereka tidak dapat terdengar karena suara tanah longsor. Tidak dapat di hindari lagi, mereka berdua jatuh kedalam jurang, namun bukan jatuh, sebuah lubang hitam muncul di tengah jurang dan menelan hanya mereka berdua.


Situasi itu membuat saat ini mereka berada di tempat ini.

__ADS_1


__ADS_2