
Saat bersantai di tepi sungai bawah jembatan, seseorang menghampiriku. Hal itu membuatku cukup kaget melihat siapa orang yang menghampiriku.
Aku sedikit menelan ludah, tidak dapat mempercayai apa yang kulihat di hadapanku. Apakah benar kalau gadis itu malaikat ? Tidak mungkin ada manusia seindah itu. Mataku berbinar saat menatapnya.
Melihat diriku yang seperti itu gadis itu mulai tesenyum. Senyumannya semakin membuatku terpana.
" Hey mister. Apa anda tidak apa-apa ? " Masih dengan senyumannya gadis itu menanyakan keadaanku.
Aku kembali ke kesadaranku mendengar pertanyaan itu, kemudian bergegas menjawab.
" Ah, iya saya tidak apa-apa. " Awalnya aku bingung harus menjawab apa, tetapi dengan sigap aku menjawab kalau aku baik-baik saja.
" Eh ? Benarkah ? " Gadis itu kembali menjawab membuatku lebih terpana mendengar dengan jelas suaranya.
" Meski kau mengalami hal itu ? " Gadis itu menunjuk ke arah sungai membuatku reflek melihat ke arah yang dia tunjuk.
Awalnya tidak ada kepanikan di kepalaku setelah melihat sosok tubuh mengapung di atas sungai. Tetapi setelah beberapa saat terdiam memperhatikan sosok tubuh itu...
" Apa ? Bohong kan ?! " Aku menyadari sosok tubuh itu.
' Itu adalah tubuhku ! '
Aku mulai panik, keluar keringat dingin dari sekujur tubuhku. Bukan, aku tidak dapat merasakan apa-apa lagi dari tubuhku. Perasaan itu tidak dapat diungkapkan.
Sebenarnya apa yang telah terjadi. Seluruh pertanyaan mulai keluar dari benakku. Namun aku tidak mengerti jawaban apa yang ingin ku dengar pada situasi semacam itu.
Saat itu aku tidak sadar kalau beberapa gemercik terdengar dari dasar sungai.
Tiba-tiba terdengar suara gemuruh air dan sebuah pusaran air naik ke permukaan membawa naik tubuhku yang tadinya mengapung di sungai.
Apa yang terjadi kemudian semakin membuatku kaget, itu karena pusaran air tersebut kini berubah menjadi sosok ular besar dimana saat itu tubuhku berada di mulut besar ular itu dan..
" Hiiiyyyyyyy "
Aku di telannya
Ular itu, Dia telah menelan tubuh gemukku.
Sebenarnya apa yang telah terjadi ?
Setelah menelan tubuh gemukku, seakan belum puas ular besar itu hendak menyerangku yang saat itu masih panik atas kejadian yang kulihat.
" Benar-benar iblis air yang merepotkan.
Setelah menelan manusia bahkan kau belum puas dan ingin memakan jiwanya juga ? " Gadis yang ada di sampingku mulai berjalan maju.
" Jangan salahkan aku atas apa yang akan kulakukan padamu " Dia mengeluarkan 2 buah kertas mantra emas dan melemparkan dengan cepat ke arah kepala ular besar.
" Kekang ! " Gadis itu berteriak, dan sesuatu keluar dari kertas mantra yang menempel di kepala ular tersebut.
Itu adalah rantai. Rantai yang sangat besar keluar dari kertas mantra dan mulai menjerat ular besar tersebut.
" Kau membuatku mengeluarkan 2 kertas mantra berharga yang kudapat dari keluarga Lu. Aku jamin aku pasti akan menagihnya dengan bayaran setimpal padamu. "
Lilitan yang menjerat ular besar itu semakin menguat. Meskipun dengan kekuatan besar ular yang terus berusaha melepaskan diri dari jeratan rantai tersebut, hal itu percuma. Itu karena semakin dia memberontak, semakin kuat dan tajam juga lilitan rantai tersebut yang pada akhirnya membuat ular tersebut terpotong-potong ke dalam beberapa bagian dengan kepalanya yang jatuh di tepi sungai.
" Bukankah sudah kubilang. Percuma saja melawan. " Gadis itu mendekati potongan kepala ular yang matanya masih melihat murka kearah gadis tersebut.
" Ah, apa aku sudah bilang ya ? " Gadis itu berbicara pada dirinya sendiri kemudian mengeluarkan sebuah pisau kecil dari dalam pakaiannya kemudian menusuk dahi ular tersebut untuk mengeluarkan sebuah batu.
Setelah batu itu berhasil dikeluarkan ular tersebut berubah menjadi air.
" Oke, Batu spirit biru berhasil di dapatkan. " Ucapnya seperti melaporkan kesuksesannya.
Aku yang masih tercengang melihat ke gadis yang membawa sebuah batu permata biru di bawah sinar rembulan.
Indah, sangat indah pemandangan yang kulihat saat itu. Kalaupun apa yang kulihat adalah sebuah lukisan. Aku yakin lukisan itu akan menjadi perebutan di seluruh dunia yang dapat mengundang perang dunia untuk memperebutkannya.
Dan kalau hal itu adalah sebuah novel, sulit untuk membuat kata-kata yang tepat untuk menggambarkan kejadian yang saat ini ku lihat yang membuatku kehilangan kata-kataku.
Hal yang terpenting yang seharusnya kulakukan adalah meminta penjelasan atas apa yang telah terjadi, akan tetapi aku tidak tahu harus mulai dari mana sampai pada akhirnya gadis itu akhirnya melihatku.
Saat dia melihatku, secara tidak sadar aku melangkah mundur, namun apalah daya tidak melihat sekitar, aku tersandung batu dan akhirnya jatuh duduk ke belakang.
Gadis yang tadinya melihatku mulai lebih memperhatikanku seakan dia memikirkan, apa yang harus dia lakukan padaku?
" Gawat,
__ADS_1
aku melupakan satu masalah lagi.
Apa yang harus kulakukan? " Ucapnya seakan berbicara pada orang lain.
" Ah aku punya ide. " dia menepuk tangannya kemudian mulai melangkah maju kearahku membuatku semakin tegang.
" Namamu ? " Dia menanyakan namaku.
" Oh Daebin. " Tidak sadar aku malah menyebutkan namaku. Apa yang sebenarnya kulakukan.
" Oh Daebin kah. Nama yang unik.
Kalau begitu sekarang, Maukah kamu ikut denganku ? " Ucapnya dengan senyuman.
Kupikir itu adalah saat dimana aku meninggalkan dunia. Aku tidak pernah menyangka, ternyata seperti itulah malaikat maut itu. Setidaknya itulah yang kupikirkan.
Sampai pada dia membawaku kesuatu tempat dimana seorang pria dengan jas serba hitam yang duduk dihadapanku.
" Jadi ? Apa yang membuat anda datang ke sini ? " Tanya pria tersebut.
" Jadi begini.. " Gadis itu mulai menjelaskan kronologi kejadian.
Dia mengatakan, dia sedang dalam tugas memburu iblis air yang meresahkan, dia mengejar iblis air tersebur sampai pada kota tempatku hidup.
Kebetulan juga saat itu aku berada di lokasi, dan benar saja. Aku mati karena kelaparan dan tidak sadar tubuh dan jiwaku sudah terpisah.
Kemudian karena hal itu, Iblis air berhasil ditarik keluar menggunakan tubuhku sebagai umpan. Meskipun hal itu tidak di sengaja tetapi tetap saja, tubuhku yang menjadi tumbal.
Apa yang harus ku lakukan ? Kalau tubuhku telah di telan, bagaimana nasibku ?
Ah memang aku sudah mati, akan tetapi..
Bagaimana dengan keluargaku? Mereka pasti akan sangat mencemaskanku. Bagaimanapun juga tubuhku sudah lenyap. lenyaaaappp!!!
Hal itu yang sebenarnya ingin ku permasalahkan, akan tetapi entah mengapa aku hanya dapat berdiam dan tidak mengganggu jalannya pembicaraan.
Apa yang sebenarnya kulakukan.
" Ngomong-ngomong, melihatmu sekarang sepertinya kau cukup tenang mendengar apa yang telah terjadi padamu. " Pria itu memperhatikanku.
Oh mungkin lebih cocok ke tidak dapat berkata-kata? Dan lagi, siapa yang bisa tenang melalui kejadian luar biasa seperti itu. Aku bukan tenang, hanya lebih ke terpaksa menerima kenyataan ?
" Tuh kan, sudah kubilang. Bagaimana kalau anda mempertimbangkannya?
Menjadikannya dewa kematian " Ucap gadis itu.
Mendengar perkataannya sontak membuatku kaget.
Menjadi dewa kematian dia bilang? Sebenarnya situasi macam apa yang membawaku ke akhir seperti ini ?
" Hmm, tapi untuk menjadi dewa kematian..
Itu cukup sulit " Ucap pria itu.
" Tenang saja, aku tahu kamu berencana pensiun dan sedang mencari penerus.
Bagaimana dengan dia? Aku yakin dia tidak buruk juga bukan ? " Ucap gadis itu meyakinkan.
Kemudian pria itu mulai memperhatikanku lebih dalam melihatku dari ujung kepala sampai ujung kaki.
" hhmm ... Memang benar selain masuk melalui jalur tes resmi aku juga dapat memberikannya surat rekomendasi.
Tapi mengapa aku berfikir kalau anda malah melemparkan tugas dan tanggung jawab anda kepada saya ? " Ucap pria itu.
" Lagi-lagi, ansa pasti berfikir terlalu jauh.
Terlalu banyak berfikir juga tidak bagus lho, dan lagi bukan maksudku melempar tanggung jawab atau apapun.
Anda masih ingat kalau anda masih memiliki hutang pribadi kepada saya ? " Ucap gadis itu.
" Apa anda mengatakan ini sebagai ancaman ? " Pria itu mulai bersikap tegas.
" Mana mungkin ini ancaman. Hanya saja
anda pasti dapat mengusahakannya bukan ?
Dan lagi saya yakin dia sangat cocok untuk menjadi penerus anda.
__ADS_1
Bisa di bilang kalau ini adalah instuisi wanita ? " Ucap gadis itu yang mulai berdiri dan setengah duduk di meja.
" Baiklah. Aku akan mempertimbangkannya lagi kalau dia berhasil lolos dari tes yang kuberikan. " memberikan keputusan akhir.
" Silahkan lakukan yang anda inginkan " Ucap gadis itu mulai beranjak dari meja dan menghampiriku yang dari tadi duduk di sofa.
Tangannya menepuk bahuku, dia mulai mengangkat satu tangannya lagi dan memberiku jempol.
" Hanya ini yang bisa ku lakukan, aku yakin kamu bisa melakukannya!
semangat " Gadis itu mengedipkan satu matanya dan menjulurkan sedikit lidahnya (melet) membuatku sontak kaget.
Gambaran yang ku bayangkan tentang gadis itu sebelumnya kini hancur total. Dan lagi, apa maksudnya dengan mengedipkan mata dan menjulurkan sedikit lihatnya itu ?
Setelah meninggalkan ruangan hanya tinggal aku dan pria di balik meja.
" Jadi namamu Oh Daebin. Mulai sekarang kamu akan menjalani tes untuk menilai cocok atau tidaknya kamu menjadi penerusku " ucap pria itu.
Itulah awal perjuanganku, dimana aku yang secara tidak sengaja di rekomendasi menjadi dewa kematian.
Kalau di pikir-pikir, apakah gadis itu juga seorang dewa kematian ?
##################################
Setidaknya itulah awal mengapa aku bisa berada di sini. Kalau tidak salah, terakhir aku melihat gadis itu adalah saat di bencana kapal karam. Aku menyadari sesuatu, kalau ada jarak yang sangat jauh di antara kami. Dia bukanlah dewa kematian, lalu apa sebenarnya dia? Hal itu tidak terjawab.
Namun, satu hal yang pasti.
" Aku tidak ingin melihatnya lagi " secara tak sadar kuucapkan.
" He ? apa ? hik
tidak ingin melihat? siapa ? hik
aku ? hik
Oh Haebin, hik kau brengsek. Setelah semuanya.. " Eun jae menjawab. Sepertinya dia sudah mabuk, begitu juga dengan Mo yong yang tidak dalam kondisi lebih baik dari Eun jae.
" Haaa ? Apa kau bilang? Aku tidak brengsek hik " Mo Yong menjawab.
Aku hanya dapat menepuk jidatku melihat kondisi dua orang teman di hadapanku yang sudah mabuk berat.
Dan sepertinya begitu juga denganku yang sedikit mabuk.
" Haaaaaaahhhh , sebaiknya akhiri saja semua di sini. " Setelah aku berbicara seperti itu, bibi pemilik restoran tiba-tiba sudah berada di sampingku membuatku kaget.
" Totalnya jadi 168.750 merit point. "
" F*ck!! bibi mengagetkanku ! " Apa mereka selalu sigap seperti ini? yah sepertinya benar. Tunggu dulu, sepertinya ada sesuatu yang membuatku tidak nyaman.
Aku memberikan kartu yang diberikan Eun jae kepadaku. Hampir 170.000 point, Sebenarnya berapa botol yang mereka minum.
" Pinnya ? " Tanya bibi restoran yang sudah menerima kartu dari tanganku.
" ... "
" Pin ? " Aku yang berfikir lambat.
" Aarrgggg ?!! Eun jae !!
Brengsek !! Bangun kau !! " Aku yang tersadar dan langsung menarik kerah baju Eun jae.
" Brengsek ! Kau lupa memberikan pinnya. Hoy ! " Mengayun-ayunkan.
" Oh, Haebin ? , Ah, Aku juga mencintaimu mumumumu " Eun jae yang mabuk berat.
" Damn! Eun jae !! "
Pada akhirnya Haebin yang membayar seluruh tagihan mereka dan membawa mereka kembali ke asrama.
" Brengsek, seharusnya aku sudah memprediksi hal seperti ini. "
" Oh haebin , Cinta.. aku cinta kamu.. " Ucap Eun jae mabuk
" Curang, aku juga cinta haebin " Mo Yong yang tidak ingin kalah.
" Dasar dua pemabuk ini!!!! "
__ADS_1