Protagonist Transmigration : Its Best If I Became A Villain

Protagonist Transmigration : Its Best If I Became A Villain
Oh Haebin (4)


__ADS_3

" bip bip, bip bip, bip bip " Suara alarm jam terdengar nyaring dan berirama membangunkan Oh haebin yang tidur di lantai hanya beralaskan sehelai kain dan sebuah bantal.


Dia meraba ke meja yang ada tepat di atas kepalanya mencari letak jam yang berdering untuk mematikan alat yang berisik itu. Kemudian setelah mematikan jam dia mulai bangun melihat keadaan kamarnya kala itu.


Dia mencoba mengingat kejadian semalam yang membuat situasi semacam ini. Dua orang asing tidur di kasurnya, menggusurnya dari tempat tidur yang seharusnya miliknya.


" Nyam nyam, aku sudah tidak kuat lagi, Haebin mmmnn .. "


Mo yong yang masih terlarut dalam mimpinya.


Oh haebin hanya dapat menepuk jidatnya melihat kelakuan kedua rekan kerjanya. Dia mulai berusaha bangkit dan mulai membereskan alas tempat dia tidur. Memasukkannya ke dalam sebuah lemari yang tidak jauh dari lokasinya dan mulai melangkah ke sebuah pintu yang berada di kamarnya.


Itu adalah pintu sebuah kamar kecil. Dia mulai melepaskan kaos dan melemparkannya ke sebuah bak kecil tempat pakaian kotor.


Sebuah cermin besar di dalam kamar mandi memantulkan sesosok pria kekar dan tampan berjalan ke sebuah bilik kamar mandi.


Tidak lama terdengar suara air mengalir menandakan seseorang sedang menggunakan shower untuk membersihkan diri.


Setelah selesai, Haebin segera keluar dari bilik kamar mandi berencana untuk mengambil handuk dari lemari kecil di samping cermin. Namun, ia dikagetkan oleh sebuah sosok yang berdiri di samping cermin.


" Astaga !! kau mengagetkanku ! "


Itu adalah Eun jae yang berdiri tepat di depan cermin dengan menyenderkan kepalanya ke cermin membuat sosok dan bayangannya saling bersentuhan.


Setelah menyadari Eun jae adalah orang yang dia lihat, Haebin kembali berjalan mencari handuk yang dia letakkan di dalam lemari laci di samping cermin.


" Apa ? ada yang ingin kamu bicarakan ? " Haebin sedikit terganggu melihat Eun jae yang masih tetap diam bersandar menatap Oh haebin yang mulai mengeringkan tubuhnya dengan handuk.


Dia masih terus memperhatikan sampai Oh haebin selesai mengenakan pakaiannya kembali. Sebelumnya Haebin menggunakan kaos, namun kali ini dia sudah rapi dengan pakaian kantoran lengkapnya dan mulai merapihkan rambutnya.


" Apa kau serius akan melakukannya ?


Padahal jarang-jarang kita mendapatkan hari libur. " Eun jae mulai berbicara kemudian memberikan sebuah kacamata kepada Oh Haebin.


" Pelatihan dewa kematian pemula hanya dilakukan sekali dalam seribu tahun.


Sebagai senior bukankah kita harus maju untuk membagikan sedikit pengalaman untuk calon rekan kerja masa depan ?


Dan lagi hal itu tidak begitu merepotkan. " Ucap Haebin yang selesai memakai kacamatanya dan bersiap untuk bekerja.


Menjadi instruktor Dewa kematian pemula. Jujur saja dia tidak pernah membayangkannya, itu karena seperti belum lama dia juga berada di bawah bimbingan instruktor senior saat dia masih pemula dulu.


" Setidaknya dengan menjadi instruktor senior aku bisa mengenang masa dulu saat pertama menjadi dewa kematian.


Selain itu .. " Haebin menghadap ke arah Eun jae memasang wajah serius.


" Sepertinya kau sengaja ya, kejadian tadi malam " Ucap Haebin dengan raut wajah kesal.


Eun jae mulai menegakkan kepalanya menjauh dari cermin dengan wajah polosnya.


" Hhmm ? Apa maksudmu ? " Masih dengan tampang tidak tahu apa-apanya.


Haebin mengeluarkan struk yang ada di kantong celana yang tertumpuk di tempat pakaian kotor. Menunjukkan struk pembayaran pesta tadi malam.


" Ah, bukankah aku sudah memberikan ATM ku ? kau tidak membayarnya dengan menggunakan milikku ?


Oh Haebin, sungguh, kau ingin mentraktir kami ? " Eun jae masi tidak mengetahui apa maksud Haebin sebenarnya menunjukkan struk pembayaran bertanda tangannya.


" Kau ..!!

__ADS_1


Lupa ,,!!


Memberikan pinmu ..!! " Ucap Haebin menekankan kata demi kata.


Wajah Eun jae seketika pucat menyadari sesuatu.


" Uwaah aku tidak percaya ini.


Aku yang genius melupakan hal sepenting itu.


Ahahaha sorry, my mistake !!


Dont mind " Ucap Eun jae mendekati Haebin dan menepuk nepuk bahunya.


" Hoi, aku tidak butuh permintaan maafmu.


Ya ampun, setidaknya ganti rugi kerugianku. Gajiku tidak banyak, setidaknya pasang wajah bersalahmu. " Ucap Haebin.


" Maaf maaf ahaha pinnya 121216.


Kau boleh menggunakannya sementara. Menjadi instruktor juga pasti akan mengeluarkan biaya.


Gunakan untuk mentraktir junior atau apalah. " Ucap Eun jae yang masih menguap lalu diapun masuk ke bilik kamar mandi.


Oh Haebin tidak habis pikir, bagaimana dia bisa mengenal Eun jae. Mereka adalah teman baik bukan ? Yah memang seharusnya teman baik bukan ? Oh Haebin kembali memikirkan apakah memang mereka teman baik ?


Tidak ingin berlama-lama akhirnya Haebin memutuskan untuk segera pergi karena pihak pusat telah menghubunginya.


Alam baka.


Tempat dimana roh mengistirahatkan diri sebelum akhirnya berenkarnasi. Selain roh tempat itu juga di penuhi dengan dewa kematian.


Lempengan tersebut menjadi pengganti tanah yang menjadi pijakan utama. Tergelar luas dan panjang membentuk spiral, tidak ada tumpuan yang menahan lempengan, dengan kata lain seperti berada di atas lempengan CD yang melayang.


Kurang tepat juga kalau di bilang melayang. Intinya, apa yang di sebut alam baka memang sesuatu yang tidak dapat dijelaskan secara logika.


Terbentuk dari beberapa tingkat lempengan yang pada setiap tingkat di sebut sebagai distrik. Bagaimana berpindah dari satu distrik ke distrik lain ?


Sederhana saja kita hanya perlu melompat. Setidaknya itu jalan tercepat untuk pindah dari satu distrik ke distrik lain. Namun itu hal yang gila. Untuk apa melompat ? Dari satu lempengan ke lempengan lain memiliki jarak kurang lebih setinggi gedung pencakar langit berlantai 100.


Meskipun bagi seorang dewa kematian lompar dari satu lempengan ke lempengan lain tidak mustahil, sangat tidak etis kalau tidak menggunakan lift yang sudah tersedia di inti lempengan.


Mereka juga bukan ninja ataupun kera. Menggunakan lift adalah jalan terbaik kecuali pada situasi darurat, dan hal tersebut yang di alami seorang Oh Haebin yang saat itu ingin pergi menggunakan lift utama.


" Mohon maaf saat ini lift sedang dalam perbaikan. " Ucap gadis yang bertugas sebagai informan di depan lift alam baka.


" Aduh, kapan selesainya? Saya harus pergi ke distrik AF untuk pekerjaan penting. " Beberapa orang yang mengeluh.


" Mohon maaf atas ketidaknyamanannya. " Ucap gadis informan itu lagi.


" ....


Apa ini hari sialku ? " Oh Haebin yang baru saja tiba di pusat. Tidak lama dia menerima sebuah panggilan.


" Ah selamat pagi. Maaf sepertinya saya akan sedikit terlambat.


Itu benar, ah jadi anda juga terjebak karena kerusahan lift?


Lokasi saya yang paling dekat dengan distrik pusat. Baik, baik saya mengerti. "

__ADS_1


Setelah menjawab panggilan akhirnya Oh Haebin memutuskan untuk mengambil jalan dengan melompat dari satu distrik dengan distrik lain.


Memang sedikit tidak beruntung, akan tetapi karena beberapa senior terjebak di jalan dan mereka membutuhkan beberapa orang pemandu untuk memulai acara pelatihannya haebin harus segera tiba di lokasi, dan jalan satu-satunya hanya melompat.


" Aku tidak suka karena rambutku pasti akan jadi berantakan. Tetapi apa boleh buat. " Oh Haebin melepaskan kacamatanya dan memasukkannya ke dalam koper yang ia bawa kemudian berjalan ke pusat dan melompat.


" Apa yang dia lakukan ?! Hei dia melompat. Dia benar melompat ! Itu namanya bunuh diri ! " Heboh orang orang yang menunggu perbaikan lift.


Itu memang tindakan yang sedikit bodoh. Melompat dari satu distrik ke distrik lain memang tidak mudah bahkan bagi seorang dewa kematian sekalipun. Tapi berbeda untuk seorang Haebin.


#################################


" Hhmm jadi kamu menyuruhku untuk menjadikannya dewa kematian, dan bukan hanya itu. Kamu menyuruhku untuk menjadikannya penerusku ?


Kau pasti bercanda bukan ? " Ucap pria tua yang berbicara dengan Xue li.


" Apakah aku terlihat sedang bercanda ?


Aku tidak bercanda. Coba pikirkan di saat seperti ini kamu mendapatkan penerus yang cocok.


Ini adalah sebuah kesempatan yang kuberikan. Tidak perlu banyak di pikirkan, hanya jadikan dia penerusmu. " Ucap Xue li meyakinkan.


" Hhmm kamu sedikit benar.


Kamu yang di situ. Siapa namamu tadi ? " Ucap pria tua itu melihat ke arah Haebin yang dari tadi duduk hanya melihat mereka berdua.


" Haebin Oh " Haebin dengan sigap menjawab.


" Aku akan menjadikanmu penerusmu, Ini adalah pelatihan yang berat.


Apa kau bersedia ?! " Tanya pria itu.


" Tu.. tunggu dulu, situasi seperti ini... " Haebin berusaha menanyakan situasi yang dihadapinya.


" Aku menolak jawaban selain iya.


Baiklah kita akan memulai pelatihannya! Tentu saja hal yang pertama yang harus di lakukan berhubungan dengan keadaanmu saat ini.


Apa-apaan semua lemak itu ! Kau harus bisa menyingkirkannya dalam waktu seminggu!! Kalau tidak jangan harap kau bisa menjadi penerusku! "


" Ehhh ??!! " Haebin yang dipaksa menerima semua situasi asing saat itu.


" Syukurlah, aku turut bahagia untukmu. " Ucap Xue li yang menepuk bahu Oh Haebin.


Setelah itu, itu adalah neraka. Oh haebin harus menjalani semua penyiksaan berkedok pelatihan menjadi dewa kematian.


Hanya dalam waktu satu minggu dia berhasil mengubah lemaknya menjadi otot-otot. Lalu hanya dalam waktu 3 bulan dia berhasil melalui semua pelatihan yang di berikan pria tua itu.


" Hei pak tua, apa aku harus melompat dari sini ?


Ngomong ngomong apa pelatihan seperti ini berguna? " Ucap Haebin yang tidak percaya kalau dia harus melompat dan kembali hanya dengan pelindung sebuah tali.


" Jangan banyak bicara, cepat lompat dan jangan panggil aku pak tua! " Ucap pak tua itu kemudian menendang Oh Haebin dengan kakinya.


Oh Haebin pun dipaksa melompat. Untungnya tali itu sudah dia ikatkan ke pinggangnya.


" Ah aku lupa mengikat tali itu ke tiang. "


Dan rupanya pak tua lupa mengikatkan ujung tali satu lagi ke tiang untuk menahan beban Oh Haebin.

__ADS_1


Dengan kata lain. Itu adalah perjalanan kelam bagi seorang Oh Haebin untuk kembali ke tempat pak tua.


__ADS_2