Protagonist Transmigration : Its Best If I Became A Villain

Protagonist Transmigration : Its Best If I Became A Villain
(Ekstra) Hutan bambu, Gunung Jiang (4)


__ADS_3

Hari itu matahari telah terbenam, setelah melakukan perjalanan selama dua hari dari puncak gunung Jiang, akhirnya mereka, tim ekspedisi dari sekte seribu pedang sampai di sebuah desa bernama Houye.


Sesuai namanya, desa itu merupakan sebuah desa terpencil yang di apit oleh beberapa bukit. Tidak heran tempat ini menjadi sasaran empuk untuk para mist yang lolos dari penjagaan border dan menjadikannya tempat persembunyian mereka.


Setelah mereka sampai, mereka di sambut oleh beberapa orang yang merupakan warga desa tersebut. Mereka mengantarkan jian yi fan dan kawan-kawan menuju ke rumah kepala desa untuk membicarakan tentang apa yang terjadi di desa itu.


Sambil berjalan, jian yi fan memperhatikan suasana sekitar. Dia dapat merasakan ketakutan warga desa yang bersembunyi di dalam rumah seakan teror sedang menghantui mereka.


" Terima kasih tuan dan nona karena telah mendengarkan permintaan kami.


Kepala desa telah menunggu di dalam "


Seorang pemuda keluar dari sebuah gubuk tua setelah menyadari kedatangan orang-orang yang di kawal dua penjaga desa.


Dia langsung mempersilahkan tamu mereka masuk untuk bicara langsung dengan kepala desa.


Di dalam sebuah gubuk kecil, terlihat meja dan beberapa kecil. Gubuk itu memang kecil, namun setelah mereka masuk ternyata tidak seperti kelihatannya di luar.


Di dalamnya mereka menemukan sebuah tangga turun kecil. Sebuah meja dan beberapa kursi, meski berada hanya dalam satu ruangan, namun ruangan itu memiliki dapur dan tempat tidur dari kayu pohon yang di atasnya digelar tikar lebar yang terbuat dari jerami.


Di atas tempat tidur itu, terdapat seorang tua renta yang mulai berusaha bangun setelah menyadari keberadaan orang lain di ruangan itu. Pemuda yang tadinya berdiri di samping jian yi fan mempersilahkan mereka masuk bergegas menuju tempat tua renta itu berbaring, membantunya ke dalam posisi duduk.


Pak tua itu mencoba melihat orang-orang yang datang dan berusaha menebak,


" Kalian "


" Kami adalah tim ekspedisi yang di utus dari Sekte seribu pedang, Puncak gunung jiang "


Jian yi fan langsung membalas dan memberi penghormatan di ikuti oleh mereka yang berada di belakangnya.


" Uhuk uhuk. Tuan pendekar, terima kasih karena telah menerima permintaan kami, tapi.. "

__ADS_1


Pria tua itu melihat jumlah orang yang dikirim. Dia memang bersyukur setidaknya Sekte seribu pedang mau mendengarkan permintaan mereka, namun dengan jumlah yang hanya terdiri dari tiga orang pemuda dan satu pemudi. Hal itu cukup membuat kepala desa tercengang.


Meskipun sekte Seribu pedang terkenal dengan bela dirinya yang kuat, menghadapi mist yang bersembunyi di hutan desa, itu masihlah cukup sulit.


Kepada desa langsung menjelaskan situasi yang mereka sedang hadapi sekarang. Beliau juga mengatakan ada yang aneh dengan mist yang mereka hadapi. Biasanya mereka dapat mengalahkan beberapa dengan mengandalkan alat-alat pendukung dan beberapa penduduk desa. Namun akhir-akhir ini.


" Mist yang kami hadapi sepertinya memiliki kemampuan berkembang "


Itulah yang dikatakan tua renta itu yang kemudian terbatuk-batuk.


Anak muda itu bergerak maju sedikit membungkuk memberikan segelas air yang baru saja dia ambil dari meja samping tempat tidur.


Jian yi fan mendengarkan cerita kepala desa dengan seksama. Memang sangat aneh, seharusnya makhluk yang berhasil lolos dari penjagaan border biasanya tidak memiliki kekuatan besar dan mereka pastinya dapat dikalahkan oleh warga desa selama mereka mengincar titik lemah mist tersebut.


Kecuali kalau memang yang dikatakan kepala desa benar. Mist yang mereka hadapi memiliki kemampuan berkembang. Kalau memang ada tipe mist seperti itu, tempat ini sudah tidak aman lagi.


Jian yi fan memikirkan, tidak seharusnya dia membawa jian yi an di tempat berbahaya seperti ini. Dia mulai menyesali keputusannya membawa yi an dalam ekspedisi kala itu.


Dia menatap yi su yang tersenyum seolah mengatakan, semua akan baik-baik saja. Kemudian menggerakkan tangan kanannya untuk menyingkirkan dengan lembut tangan yi su yang memegang tangan kirinya dan melanjutkan diskusi dengan kepala desa.


Setelah mendengarkan dengan seksama penggambaran dari monster yang mereka hadapi, akhirnya jian yi fan dapat undur diri bersama dengan yang lainnya untuk beristirahat, mempersiapkan diri untuk pekerjaan besok.


Tugas mereka ke tempat ini adalah untuk membantu warga desa membasmi mist yang merekahkan warga desa di sini dan mencegah penyebaran mist dalam border.


Pilihan mereka hanyalah dua. Membunuh seluruh mist kecil yang telah melarikan diri ke desa ini, atau mengusir mereka keluar border dan memperkuat pertahanan di border.


Untuk lebih memperkuat pertahanan di border mereka membutuhkan batu spirit, batu spirit terbilang sangat langka di dunia itu, akan sulit menemukan mereka hanya dalam waktu singkat. Sebisa mungkin jian yi fan ingin mengesampingkan opsi ke dua dan akan berusaha memusnahkan mist yang berkeliatan di hutan sekitar desa itu.


Malam sudah sangat larut, penduduk desa mengantar mereka berempat ke sebuah rumah kosong untuk mereka tempati selama berada di desa.


Rumah itu kecil, meskipun begitu setelah masuk tempat itu cukup besar. Sepertinya semua rumah di desa itu sudah didesain sedemikian rupa, semua hampir terlihat sama di luar dan di dalam. Hanya barang-barang yang tersedia yang membedakan.

__ADS_1


Setelah mereka semua sampai, Jian yi su langsung menuju dapur untuk mendidihkan air. Setelah mendidih, dia menyeduh beberapa minuman hangat, itu adalah teh yang dia selalu bawa dalam tas kecilnya.


Dia membuat satu teko teh, kemudian mencuci beberapa peralatan yang ada di dapur untuk digunakan. Setelah teh siap, dia membawanya bersama dengan 4 buah gelas dan mempersilahkan tiga pemuda di sana menikmati teh yang di buat.


Itu adalah teh spiritual yang digunakan untuk merilekskan tubuh. Setelah melakukan perjalanan panjang, mereka semua lelah. Yi su sebenarnya ingin menyiapkan teh tersebut selama perjalanan, namun dia tidak dapat membuatnya, jadi dia hanya membuat beberapa pembekalan seperti pisau dan lainnya.


Selama perjalanan mereka hanya makan makanan dari hasil berburu dan minum minuman dari sungai. Setidaknya saat inilah saat yang yi su tunggu-tunggu untuk dapat menyiapkan teh spiritual untuk membantu merilekskan tubuh mereka.


" Terima kasih nona su " Hong min yang telah di sodorkan segelas teh yang memiliki harum menggoda tidak menahan diri lagi.


Yi su membalas ucapan terima kasih dari hongman dengan senyuman dan sedikit postur mempersilahkan lalu dia duduk di kursi kosong menuangkan teh untuk dirinya untuk meminumnya.


Sebelum meminumnya, dia melirik yi fan dan yi an yang masih belum menyentuh gelas tehnya. Sebelumnya dia ingin mengingatkan yi fan untuk meminumnya sebelum teh menjadi dingin, namun dia mengurungkan niatnya lalu menatap yi an yang juga terdiam.


" xiao an ( an kecil ) " Yi su memanggil namanya lalu jian yi an akhirnya sadar dari lamunannya.


" terimakasih, kak ( jie jie ) " Lalu jian yi an mencoba meraba raba meja.


Biasanya jian yi an dapat merasakan letak benda di sekitarnya, namun kali ini dia seprti panik.


" Berhati-hati " Saat menyadari yi an hampir menyentuh teh panas gelas, jian yi fan sadar dan menggenggam kedua tangan jian yi an lalu menuntunnya ke gelas membantunya menemukan gelas.


Hong man merasakan suasananya jadi semakin tidak enak. Jadi dia menyarankan untuk semua beristirahat lebih cepat.


Yi su yang memiliki naluri, sebagai seorang wanita dia tahu apa yang mereka pikirkan. Yi fan masih memikirkan situasi berbahaya yang mereka hadapi, sedangkan yi an, dia tahu kalau yi an memikirkan dirinya yang tidak berguna pada situasi seperti ini. Kalau saja dia tidak ikut, semua orang dalam ekspedisi tidak akan mundur.


Yi su ingin menghibur mereka, tapi tidak ada kata-kata yang pas pada situasi ini. Akhirnya dia juga menyetujui saran Hong man untuk beristirahat lebih awal karena besok pagi mereka harus mulai berkeliling melihat situasi sebenarnya.


Yi su dan Jian yi fan tidur di satu kamar, yi su di kasur tikar dan yi fan di lantai dengan beberapa selimut.


Yi an dan hong man tidur di lantai ruangan satunya hanya beralaskan tikar jerami dan beberapa helai pakaian yang digunakan sebagai selimut.

__ADS_1


Malam itu menjadi malam yang singkat, karena tidak terasa matahari sudah terbit.


__ADS_2