Protagonist Transmigration : Its Best If I Became A Villain

Protagonist Transmigration : Its Best If I Became A Villain
Season 1 Selesai


__ADS_3

" Mereka sudah kabur tuh " Ucap He an.


" Ehhh ?? kok bisa ? bukannya kakak pemanah? kenapa tidak mencegah mereka kabur ? " keluh Armir.


" Aku memiliki kebanggaan, tidak akan menarik busur jika tidak bisa mengenai sasaran " He an menjawab.


" Yah, mau bagaimana lagi. Sepertinya sekarang kita harus mengumpulkan kawan-kawan lainnya. "


" ... " han seulgi masih dalam status siaga.


" Tuan ho menyuruh kita untuk bekerja sama. Meski situasinya memberatkan tim merah tapi dengan menggunakanmu sebagai umpan kita mungkin dapat mengumpulkan point dari tim putih lainnya. " jelas Armir


Han seulgi mulai sedikit merilekskan tubuhnya mendengar pernyataan armir. Namun seketika armir menyerang tangan han seulgi menggunakan dua bilah pisau kecil yang dia sembunyikan di lengannya.


" SLASH ! "


" Apa maksudnya ini ? " Han seulgi tidak kalah cepat, dia hanya merilekskan tubuhnya sebentar dan bukannya hilang kesiagaan. Dia menahan dua belah pisau kecil armir menggunakan pistolnya. Lalu mendorong armir dengan kuat untuk mundur.


" Cih, padahan sedikit lagi ". Armir yang terpental berhasil menahan posisi untuk tidak terjatuh.


" Hentikan- hentikan


seul gi, simpan senjatamu, armir juga. " He an menengahi dan seperti biasa Ga eun menyebut nama ren dan rem meminta armir untuk segera mencarinya.


Armir memasukkan bilah pisaunya kembali dan seulgi juga memasukkan pistolnya kembali ke sarungnya lalu merapihkan sarung tangannya yang sedikit miring. Mereka akhirnya memutuskan untuk mencari rekan lainnya. Dengan begitu mereka bisa saling menjaga dan bekerja sama mencari point dari tim lawan.


#################################


[ Wilayah Bersalju ]


*Ciprat


Cipratan hitam mulai mencemari warna polos dari salju. Seorang pria muda mengenakan hoodie kuning mencengkram tubuh seorang calon dewa kematian dengan tangan besar penuh cakar yang menggenggam tubuh bagai sebuah botol.


" Yiks, menjijikan. Sebenarnya tubuh buatan dewa kematian ini terbuat dari apa ?. Dia mengeluarkan darah hitam tuh. " Ucap si hoodie kuning.


" Tidak ada komentar. Sudah berapa yang berhasil kita kumpulkan ? " Seorang pria kecil mengenakan hoodie putih muncul dari belakang.


" Ini sudah yang ke 3. Bagaimana denganmu ? "


" aku tidak ingin mengotori tanganku untuk tugas semacam ini. " ucap hoodie putih itu.


" Sebenarnya apa yang para atasan pikirkan dengan mengumpulkan inti dewa kematian seperti ini ? bukankah akan lebih cepat hanya membunuh dewa kematian di markasnya dari pada harus bersusah-susah menyusup seperti tikus begini ? " Hoodie kuning menunjukkan taringnya dari senyuman.


Baginya, melawan calon dewa kematian seperti ini sudah seperti menginjak semut. Akan lebih menggairahnya jika dia bisa mencabik-cabik dewa kematian yang asli. Pasti akan sangat mendebarkan.


Tapi para atasan mereka menyuruh mereka untuk melakukan tugas remeh ini.


" Sialan, apa mereka melihatku seperti orang lemah, menyuruhku melawan cecunguk seperti ini. Jika mereka membiarkanku melawan dewa kematian yang asli, aku pasti sudah melakukannya dengan senang hati. " Gairah hoodie kuning.


" Omong kosong, apa kau tahu kemampuan dewa kematian yang asli ?


Apa kau yakin bisa mengalahkan mereka dengan mudah ? Lanjutkan tugasmu. Kita membutuhkan banyak inti dari calon dewa kematian. Baik tim merah maupun putih, jangan ada yang terlewat " Peringat hoodie putih.


Di belakang sebuah rumah tengah salju, ren dan rem menutup mulut masing-masing sambil menahan napas melihat kejadian yang ada di hadapan mereka sambil bersembunyi.


Sebelumnya, mereka mengintai calon dewa kematian dari tim merah karena kebetulan dia adalah lawan terdekat yang dapat mereka temukan, namun tiba-tiba saja saat mereka masih bersembunyi, dalam sekejap orang itu dikalahkan.

__ADS_1


Entah bagaimana tubuhnya hancur lebur tercabik-cabik dalam waktu singkat.


Mereka memiliki insting kalau orang itu berbahaya jadi mereka hanya diam bersembunyi, menyembunyikan keberadaan mereka sebisa mungkin. Namun sialnya, salju terjatuh dari ranting pohon tepat di sebelah mereka. Keberadaan mereka, akan diketahui.


Hoodie putih berpaling ke arah suara salju jatuh. Seekor tupai salju turun dari pohon.


" Oh, itu hanya tupai. Ayo kita pergi. " Ucap hoodie putih.


Hoodie kuning berlari menjauh terlebih dahulu meninggalkan hoodie putih.


Rem dan ren merasa sedikit lega mendengarkan langkah kaki, menandakan orang orang itu sudah beranjak pergi.


" Tapi bohong "


Hoodie putih melesat ke hadapan ren dan rem yang bersembunyi.


Saat ini wajahnya sudah berada tepat di depan ren dan rem membuat mereka berdua sangat kaget.


" Ah, hanya tikus putih. Jadi, apa yang kalian lakukan di sini ? " ucap hoodie putih tersenyum.


" Apa kalian melihatnya ? " Tanya hoodie putih kembali.


Ren dan rem berkeringat, mereka membeku.


Melihat reaksi mereka hoodie putih menyimpulkan.


" Jadi begitu, kalian melihatnya kan ? " Meskipun sudah pasti tapi hoodie putih masih memberikan tanda tanya.


" Bagaimana ini ..


" Tapi pasti rasanya tidak seru menghabisi kalian yang seperti seekor tikus tercebur. Dan si bodoh tidak berotak itu juga sudah pergi.


Hei, mau mainkan sebuah game denganku ? " tawar hoodie putih menatap ren dan rem sambil tersenyum.


Ren dan rem hanya menutup matanya, ketakutan.


' Ga eun oppa ' mereka merindukan ga eun.


" Haaah membosankan. Tidak menarik ! kalian sama sekali tidak menarik. Kalian beruntung karena aku tidak mau mengotori tanganku. " Hoodie putih itu menarik kembali kata-katanya dan langsung pergi meninggalkan ren dan rem.


№#############################


" Mari kita lihat, kemana si bodoh itu pergi " hoodie putih mengamati dari pohon salju tertinggi. Dia mencari rekannya yang pergi meninggalkannya itu.


Sebenarnya itu bukan pekerjaan yang dia sukai juga. Mengalahkan calon dewa kematian untuk mencuri inti ? hah, itu pekerjaan rendahan untuk seorang general mist seperti dirinya. Bukan karena dia suka membelot, namun sebagai seorang general dia masih memiliki harga diri, apa lagi kalau dia juga merupakan setengah bangsawan. Pekerjaan seperti ini cukup dilakukan oleh seorang bawahan rendahan seperti hoodie kuning.


" Pasti menyenangkan. Untuk yang bertugas di luar.


Mereka pasti saat ini sedang bersenang-senang,


Enaknya .. " Keluhnya sambil mengeluarkan sebuah permen dari kantong hoodienya.


##############################


Clasus erudel, general mist dari sub class Erd.


Setengah bangsawan memiliki rambut kecoklatan dan warna mata hijau. Tinggi badan 163 cm. Hasil persilangan antara mist dan bangsa peri.

__ADS_1


Dia memiliki sebelah telinga runcing dan sebuah tanduk di bagian lainnya. Karena hybrid ini, dia tidak dapat menduduki posisi bangsawan tertinggi region 11 yang saat ini di duduki Erd.


Dia tidak membencinya, bahkan lebih jujur, dia cukup menyukai berada langsung di bawah peritah Erd. Hanya saja, pandangan orang lain berbeda. Kebanyakan dari mereka semua berusaha menghasutnya untuk menggusur posisi Erd. Itu yang membuatnya muak.


Sebelumnya, orang yang disuruh menjalankan misi ini adalah Erd sendiri.


" Beraninya bajingan-bajingan busuk itu memerintahkan pimpinan region 11 untuk melakukan hal rendahan seperti ini. " Dia menggigit permennya hingga patah.


Yup, Erd adalah bangsawan mist panutannya. Itu karena satu-satunya orang yang menerimanya dengan tulus hanya Erd. Sebelum Erd berkuasa, orang yang berkuasa adalah ayah dari Clasus. Bangsawan Erudel.


Dia tidak menyukai ayahnya, itu karena ayahnya selalu bertindak semena-mena pada ibunya. Ayahnya jugalah yang telah dengan sadis membunuh ibunya.


Lalu saat itu Erd muncul, memotong kepala bangsawan Erudel dan meraih posisi petinggi region 11. Meski saat itu sangat banyak pihak yang menentang karena sikap kekanak-kanakan Erd yang terdengar kejam dan nakal.


Dari perawakan dia memang lebih pendek dari clasus, namun clasus tahu, siapa lebih kuat. Dia juga merasa berhutang budi karena telah menyingkirkan ayah tidak tahu diri miliknya.


" Kau adalah Putra satu-satunya bangsawan Erudell , Apa kau tidak mau mengambil posisi milik ayahmu ini kembali ? "


Erd bertanya pada Clasus.


Clasus memiliki insting, dia pasti mati jika melawannya. Tatapan Erd begitu dingin saat bertanya seperti itu. Clasus merinding di buatnya.


" Ti.. tidak, bukan begitu "


" Lantas ? "


" Aku hanya merasa sedikit lega, karena anda menghabisi ayah saya dan merebut posisinya. "


" Hee ? " Erd masih menunjukkan wajah dinginnya.


" Oleh karena itu ..


Izinkah saya membuat sumpah untuk mengikuti anda seumur hidup saya " Tekad Clasus.


" ... " Wajah Erd masih dingin, namun itu hanya berlangsung sementara hingga dia menampilkan wajah tersenyumnya.


" Jadi begitu ? " Erd tertawa polos mendengar ucapan Clasus.


Clasus tercengang, orang dihadapannya yang menunjukkan wajah begitu dingin itu, kini menunjukkan senyuman cemerlang seperti seorang anak yang tidak memiliki dosa.


" Boleh saja sih, tapi, apa kau yakin ingin menjadi pengikutku ? "


Clasus terdiam sebentar, namun tidak lama dia bertekat, dia sudah bertekat mengikuti orang di hadapannya ini. Dia bertekat untuk menjadi pengikut setianya.


Erd yang melihat mata penuh tekad clasus berjalan turun mendekatinya.


" Ini, kuberikan permen untukmu ! " Dia memberikan permen dari kantongnya untuk clasus. Clasus langsung menadahkan tangannya menerima permen dari Erd


" Bagus-bagus, anak baik " Erd mengelus kepala Clasus sambil tersenyum ceria.


Tidak ada lagi bekas tatapan dingin dari Erd yang membekas di kepala Clasus.


Erd selalu memperlakukannya seperti itu karena selalu mendengarkan perkataan Erd dengan baik.


" cih, Permenku habis.


Ayo kita selesaikan pekerjaan di sini dan kembali pada tuanku " Dia mulai beranjak dari atas pohon setelah menghabiskan permennya.

__ADS_1


__ADS_2