
***FLASHBACK
AUTHOR POV***
Dirumah sakit, nampak terlihat Anisa, Febrian, Wisnu, Sarah, Mala, Setiawan, Shinta, Arya, dan Diaz sedang mengerubungi Heni.
Selesai persalinannya Heni, suasana duka menyelimuti mereka.
Ternyata bayi yang dilahirkan Heni sudah tidak bisa diselamatkan oleh Dokter. Dan tentu saja semuanya sangat terpukul. Apalagi tidak ada Yudha disisi Heni.
Heni yang sedari tadi menahan air mata agar terlihat tegar, akhirnya menangis juga.
"Kenapa hidup Heni seperti ini ma? Apa salah Heni ma? Hiks.. hiks.. hiks.. Mengapa semu meninggalkan Heni?" Tangis Heni dipelukan Anisa.
"Yudha sudah meninggalkanku mas dan sekarang anak Heni juga ikut meninggalkan Heni ma? Mengapa Heni tidak bisa menjaga apa yang jadi milik Heni ma? Anisa mengelus kepala Heni.
"Sabar ya nak, semua pasti ada hikmahnya" Ucap Anisa.
"Nak Heni, maafin Yudha ya? Papa tau ini bukan kesalahan Yudha sepenuhnya? Ini semua kesalahan papa" Ucap Setiawan, kejadian-kejadian yang terjadi setelah Yudha pergi membuat Setiawan sadar jika uang itu bukan segalanya namun keluargalah yang utama.
"Papa tau Yudha itu sangat mencintaimu nak, dia tidak meninggalkanmu tapi dia selalu ada dihatimu" Febrian meyakinkan Heni.
"Pa, Heni ingin melihat anak Heni"
"Arya tolong ambilkan anaknya Heni?" Febrian menyuruh Arya.
"Baik om" Ucap Arya lalu berjalan menuju rung mayat.
Beberapa menit kemudian...
Arya muncul dengan membawa bayi yang sudah tidak bernafas itu keruangan Heni. Dia menyodorkan bayi itu ke Heni.
Heni menerima bayi itu, dilihatnya lama, disentuhnya pipi bayi itu, dingin terasa dingin dan kaku. Air mata Heni keluar lagi. Tidak hanya Heni tapi semuanya yang berada disana ikut menangis..
"Nak, bangunlah! Jangan tinggalin mama nak!"
"Mama tau kamu belum meninggal nak! Berusahalah membuka matamus secara berlahan" Heni mencium kening bayi itu.
"Arya, aku boleh minta tolong tidak?" Tanya Heni.
"Aku mohon rawatlah dia seperti kamu merawatku selama ini"
"Maksud kamu apa Hen?"
"Sebentar lagi dia akan sadar" Ucap Heni
"Aku titip Hani padamu Ar, Jika Yudha ingin mengambilnya serahkan saja karena aku yakin jika Yudha tidak akan menyakitinya! Karena aku tau Yudha benar-benar tulus padaku"
"Kamu ngomong apa sih Hen? Bayi itu sudah tidak bernyawa" Ucap Anisa..
__ADS_1
"Nggak ma! Hani masih hidup ma"
"Aku sayang sama Hani ma, tolong beri tau Hani jika aku dan Yudha sangat menyayanginya"
Sayup-sayup pandangan Heni menjadi buram dan akhirnya Heni meninggalkan mereka semua.
Tidak lama setelah itu Hani menangis sangat keras.
"OEK... OEK... OEK..." Tangis Hani merubah segalanya.
***FLASHBACK END
AUTHOR END***
HANI POV
Namaku adalah Hani, selama ini aku tinggal bersama papa Arya. Dan hari ini iya hari ini aku akan pindah kerumah papa Yudha, papa kandungku.
Aku sama sekali tidak membenci papa Yudha alasannya ya karena aku yakin pasti papa punya alasan sendiri.
Walaupun aku tau jika akhirnya aku akan menjadi anak tunggal dari seorang Yudha
Setiawan yan tidak masalah.
Dan sekarang aku tau kenapa mama menyuruhku untuk tidak membenci papa
FLASHBACK
Karena aku sangat penasaran dengan masalalu papa yang belum ada yang tau jadi sebagai satu-satunya anak darinya, aku Hani harus tau masalalu papa dulu.
Aku masih tidak percaya bagaimana bisa papaku ini sangat tampan? Senyumannya sangat mematikan.
"Pa! Boleh tidak aku bertanya tentang masalalu papa?" Tanyaku.
"Tentu saja boleh, mau tanya apa?"
"Kenapa papa meninggalkan mama?"
"Dulu sebelum papa bertemu dengan mamamu, papa sudah memiliki seserorang yang berada dihati papa, papa sangat mencintai wanita itu"
"Siapa wanita itu?" Tanyaku menyela cerita papa.
"Namanya Vanya"
"Apa papa tidak mencintai mama?" Tanyaku kesal.
Papa tersemyum dan mengelus kepalaku, saat ini aku sedanh duduk disampingnya.
"Papa belum selasai cerita sayang" Ucap papa dengan lembut.
__ADS_1
"Ok lanjutkan" Ujarku penasaran.
"Vanya saat itu sedang sakit parah, dia didiagnosa oleh dokter positif terkena leukimia, saat itu satu-satunya jalan adalah menikah dengan mama kamu karena hanya kakeklah yang bisa membantuku"
"Papa memperalat mama?" Aku sungguh tidak percaya dengan cerita papa. Bagaimana bisa papa sekejam itu sama mama?
"Awalnya seperti itu tapi lama-kelamaan papa jadi suka beneran sama mama"
"Bohong" Ketusku dengan menyilangkan kedua tangan di atas perut.
"Papa nggak bohong nak, papa mulai jatuh cinta dengan mamamu, dan akhirnya papa membuat kamu"
"Setelah membuaatku papa menginggalkan mama begitu saja?"
"Papa sangat keterlaluan" Aku mulai emosi.
"Papa sangat bimbang nak saat itu disisi lain papa sudah berjanji dengan Vanya dan disisi lain ada mama kamu dan kamu"
"Seharusnya papa pilih mama sama aku jika papa mencintai mama" Lanjutku.
"Papa kasihan sama Vanya, dia tidak punya siapa-siapa kecuali papa dan hidupnya pun sudah tidak lama lagi berbeda dengan mama kamu yang selalu dikelilingi orang-orang yang tulus mencintainya jadi papa lebih memilih bersama dengan Vanya dan memberinya semangat hidup"
"Papa sadar jika yang papa cintai itu mama kamu, dan papa hanya kasihan dengan Vanya" Lanjut papa.
"6 Bulan bersama Vanya tapi pikiranku selalu tertuju pada mamamu, dan akhirnya Vanya meninggal"
"Kenapa papa tidak langsunh kembali?"
"Papa malu sama mama kamu nak"
"Papa mencintaimu nak" Papa memelukku sangat erat.
FLASHBACK END
Dalam hidup kita tidak boleh egois dan serakah.
Dan aku setuju dengan pemikiran papa yang mementingkan orang lain dari pada diri sendiri hanya saja cara papa yang salah.
Aku sudah selesai beres-beresnya dan sebentar lagi aku akan pindah kerumah yang mama tempati dulu.
"Ayo berangkat!" Ajak papa
"Ok pa"
***Bersambung...
Terima kasih atas like dan komennya🙏.
Selamat membaca teman-teman***.
__ADS_1