Rahasia Cinta

Rahasia Cinta
Sakit hati


__ADS_3

Sarah pergi meninggalkan Tasya yang masih termenung sendiri.


Zeedan awalnya aku ingin memberitahumu kalau aku tidak hamil, aku juga ingin menunjukan hasil pemeriksaanku, tapi kamu sudah membuat aku sakit hati dan kamu membuat keluarga Revan berpikir buruk tentang aku. aku tidak akan memberi tahumu kalau aku tidak hamil, jika kamu ingin tahu yang sebenarnya. kamu cari tahu saja sendiri.


Tasya bicara sendiri dalam hati, ia sudah terlanjur sakit hati.


"Tasya."


Tasya tersadar dari lamunannya saat Revan memegang bahunya dari belakang.


"Revan!" Tasya menoleh tanpa terasa air mata mengalir dari kedua buah matanya


"Tasya, kenapa kamu menangis?" Revan merasa kasihan melihat Tasya.


Tasya diam membisu ia seakan enggan menanggapi Revan.


"Tasya, aku tahu. Zeedan tidak ingin mengakui anaknya, benar kan?" Revan duduk disamping Tasya.


Jadi, Revan mengira aku hamil? terserahlah. suamiku saja tidak percaya padaku, apalagi orang lain. Batin Tasya


"Tasya apa kamu tahu? karena masalah ini Alikha marah padaku, dia bahkan tidak mau bicara padaku. hanya tadi pagi saja dia bicara padaku, itupun karena dia memberi tahuku kalau mamaku masuk rumah sakit."


Revan mencurahkan isi hatinya tapi tasya tetap diam, ia tak menggubris kata kata Revan.


"Tasya, apa kamu mau membantuku." Revan tetap bicara meskipun Tasya tidak menanggapinya.


"Membantu apa?" Tasya akhirnya bicara.


"Tolong jelaskan pada Alikha dan mamaku, kalau anak yang kamu kandung itu bukan anakku. Tasya kamu mau kan?" Revan memohon.


"Baiklah." Tasya menarik nafas.


"Ngomong ngomong dimana Alikha?" Tanya Tasya.


"Waktu kita sampai, dia langsung masuk kedalam."


"Kamu tidak masuk?"


"Aku ingin masuk tapi melihat kamu sendirian, aku jadi tidak tega."


"Revan, kamu masuk saja. aku juga mau pulang." Tasya berdiri dari duduknya.


"Tasya kamu jangan pulang dulu! Kamu bicara dulu dengan Alikha dan mamaku." Revan ikut berdiri.

__ADS_1


"Tapi mama kamu sedang sakit aku tidak ingin menggangu." Alikha alasan.


"Kalau kamu bicara sekarang, mamaku akan senang mendengarnya dan dia akan cepat sembuh."


"Ya sudah." walaupun malas tapi Tasya bersedia memenuhi permintaan Revan.


Tasya melangkahkan kakinya, ia mengikuti langkah kaki Revan. saat didepan pintu rumah sakit ada seorang anak kecil laki laki yang bermain lari larian.


Anak kecil itu berlari melewati Revan dan tanpa sengaja ia menabrak Tasya, Tasya hampir saja terjatuh untunglah Revan menengok kebelakang sehingga ia melihat Tasya hampir jatuh.


Revan dengan cepat memegang tubuh Tasya yang hampir jatuh, karena Tasya kehilangan keseimbangan Revan terpaksa menarik tubuh Tasya kedalam pelukannya.


Mata Tasya membulat, ia sedikit terkejut Revan memeluknya dan pandangan mata Tasya berhenti ketika ia melihat Alikha berdiri tidak jauh dari tempatnya berdiri.


"Alikha."


Mendengar Tasya menyebutkan nama Alikha Revan buru buru melepaskan pelukannya, ia tidak ingin istrinya salah paham. benar saja dugaan Revan Alikha salah paham.


Alikha menjatuhkan minuman yang dibawanya, ia membalikan tubuhnya. ia berlari kecil meninggalkan Revan dan Tasya.


Revan mengejar Alikha, Revan memegang tangan Alikha saat ia sudah berhasil mengejarnya.


"lepaskan aku." Alikha menepis tangan Revan.


"Penjelasan apa? semuanya sudah jelas, jelas jelas aku lihat kamu berpelukan dengan Tasya. kamu mau menyangkal?" Alikha salah paham.


"Alikha, tadi itu Tasya hampir jatuh. aku cuma menolong dia." Revan memberi penjelasan.


"Dengan memeluk dia? Kalau aku tidak datang kalian pasti masih berpelukan." Alikha tidak percaya.


"Ada apa ini? kenapa kalian ribut ribut?" Sarah membuka pintu, ia baru saja keluar dari kamar ibu Arumi.


Sarah menutup kembali pintu itu, kemudian ia menghampiri Alikha dan Revan.


"Ini rumah sakit, jangan bertengkar disini." ucap Sarah.


"Maaf!" Alikha merasa tidak enak.


"Masalah kalian, bahas nanti saja. sekarang sebaiknya kita bantu mama bersiap siap. mama mau pulang." Sarah memberitahu Revan dan Alikha.


"Mama sudah boleh pulang? syukurlah." Revan senang mendengar ibu Arumi sudah boleh pulang dari rumah sakit.


"Iya." Sarah masuk kedalam kamar tempat ibu Arumi dirawat.

__ADS_1


Setelah Sarah masuk, Alikha ingin menyusulnya tetapi Revan kembali memegang tangan Alikha.


"Alikha percayalah padaku." ucap Revan dengan wajah penuh harap.


Revan berharap Alikha percaya padanya.


"Aku lebih percaya dengan apa yang aku lihat." lagi lagi Alikha menepis tangan Revan ia kemudaian masuk menyusul Sarah.


Revan terlihat kecewa karena Alikha tidak percaya padanya dengan wajah sedih ia masuk kedalam kamar Ibu Arumi.


"Sama seperti Zedaan yang tidak pecaya padaku, Alikha juga tidak percaya pada Revan. Zeedan dan Alikha memang mirip, mereka berdua sama sama menyebalkan." Tasya mengerutu, ia berdiri aga jauh dari Revan dan Alika tapi ia bisa mendengar apa yang mereka bicarakan.


Ketika Revan mengejar Alikha, Tasya berjalan mengikuti mereka. Tasya merasa iba dengan Revan karena itu ia ingin menjelaskan semua pada Alikha, tapi Melihat sikap Alikha yang sama seperti Zeedan membuat Tasya jadi kesal dan berubah pikiran.


Tasya berjalan keluar dari rumah sakit, tanpa disangka sangka ia bertemu dengan Zeedan.


Zeedan baru saja pergi kerumah keluarga Revan, ia bermaksud mencari Alikha tetapi orang yang bekerja dirumah keluarga Revan mengatakan Alikha sedang berada dirumah sakit.


Zeedan mengira Alikha yang sakit, karena itu ia segera pergi menuju rumah sakit.


"Zeedan, kenapa dia juga ada disini?" Tasya buru buru mengambil buku yang ada ditasnya ia menutup wajahnya dengan buku itu.


Tasya berjalan pelan pelan ia tidak ingin Zeedan melihatnya, maksud hati ingin menghindari Zeedan tapi karena ia menutupi wajahnya dengan buku ia justru menabrak Zeedan.


Buku yang Tasya pegang jatuh.Tasya mengambil buku itu, ia ingin kembali menutupi wajahnya tapi Zeedan menarik lalu mengambil buku yang Tasya pegang.


"Zeedan!" Tasya pura pura kaget.


Zeedan tidak tahu kalau yang menabraknya adalah Tasya, ia baru menyadarinya saat Tasya menjatuhkan bukunya.


"Sayang" Zeedan terlihat senang melihat Tasya untuk sesaat iya lupa kalau mereka sedang bertengkar.


"Sedang apa kamu disini." Zeedan terseyum manis.


"Bukan urusanmu." Kata kata Tasya membuat Zeedan sadar kalau mereka sedang bertengkar.


"Ini bukumu!" Zeedan melempar buku milik Tasya.


Tasya tidak siap menerima dari Zeedan apalagi Zeedan memberikannya dengan cara dilempar, buku itupun kembali jatuh kelantai.


Zeedan kemudian pergi meninggalkan Tasya begitu saja.


"Apa apaan ini! kenapa jadi dia yang marah? seharusnya aku yang marah.?" Tasya merasa sakit hati.

__ADS_1


__ADS_2