
Tasya terbangun dari tidurnya, ia merasa sedikit lemas, Tasya tidak ingin membuka matanya karena ia merasa nyaman.
"Guling apa yang aku pakai? kenapa rasanya nyaman?"
Tasya memeluk Zeedan erat erat, ia mengira Zeedan adalah guling. Zeedan yang semula tertidur menjadi bangun karena Tasya memperat pelukannya.
Seharusnya aku mendorong Tasya biar dia jatuh dari tempat tidur, biar anak haramnya mati sekalian. siang hari dia bermanja manja dengan Revan, malam hari dia memelukku. perempuan macam apa dia sebenarnya? tapi kenapa aku merasa nyaman dia memelukku? aku ini kenapa?
Pertanyaan pertanyaan itu muncul begitu saja dibenak Zeedan.
"Kenapa guling ini mirip manusia?" Tasya meraba raba dada Zeedan, membuat Zeedan bergerak karena merasa geli.
"Guling ini juga bisa bergerak." Tasya membuka matanya.
Tasya terkejut saat ia melihat tangannya sedang memegang dada Zeedan, Tasya ingin berteriak tapi ia buru buru menutup mulutnya dengan tangan. Tasya baru ingat semalam ia pergi bersama Zeedan.
"Sebaiknya aku pergi dari sini, sebelum Zeedan bangun." Tasya tidak tahu kalau Zeedan sudah bangun dan ia mendengar apa yang Tasya katakan.
"Mau kemana?" Zeedan menarik Tasya hingga tubuh Tasya jatuh diatas tubuhnya.
"Zeedan lepaskan aku." Tasya ingin bangun kembali tapi Zeedan justru memeluknya.
"Aku tidak mau!" Zeedan memejamkan matanya.
"Zeedan aku sedang hamil, kamu bisa menyakiti anak ini." Tasya berbohong.
Ketika Tasya resmi menjadi istri Zeedan, Tasya memang belum siap melakukan kewajibannya sebagai seorang istri karena pernikahan mereka terlalu mendadak.
Tetapi sejak Zeedan mengusirnya,Tasya tidak ada niat dan tidak berniat untuk melakukan kewajibannya sebagai seorang istri. Tasya takut jika Zeedan menceraikannya, ia sudah tidak suci lagi.
Banyak pikiran pikiran buruk Tasya tentang Zeedan, itu semua karena Zeedan mengusirnya dan karena Zeedan mulai bersikap kasar padanya.
Mendengar kata hamil Zeedan kembali murka, dengan cepat ia membalikan keadaan. Tasya berada dibawahnya sedangkan Zeedan, ia berada diatas tubuh Tasya. Zeedan tiba tiba mencekik leher Tasya, itu membuat Tasya kesulitan untuk bernafas.
"Zeedan, apa kamu mau membunuhku?" ujar Tasya dengar berurai air mata.
"Iya, lebih baik aku melihatmu mati! dari pada aku harus melihatmu bersama dengan laki laki lain." Zeedan masih mencekik Tasya, matanya menatap penuh rasa dendam pada Tasya.
"Kalau aku mati, kamu akan masuk penjara!" Tasya mengingatkan Zeedan meskipun dengan suara yang terputus putus karena ia hampir kehabisan nafas.
Zeedan tidak ingin menghabiskan waktunya dipenjara, ia kemudian melepaskankan cenkeraman tangannya dari leher Tasya. Tasya terbatuk batuk, ia mencoba mengatur kembali nafasnya.
"Zeedan, kenapa sekarang kamu jadi kasar?" Tasya terisak.
__ADS_1
"lalu, aku harus bagaimana? haruskah aku bersikap manis setelah aku dihianati?" Melihat Tasya menangis mata Zeedan berkaca kaca.
"Tasya, sayang apa kamu mual? kemarilah biar ku usap usap perutmu. Tasya kamu ngidam? pingin makan apa? aku belikan! Apa itu kata kata yang ingin kamu dengar?" Zeedan meledek Tasya.
ucapan ucapan Zeedan membuat Tasya merasa bersalah, Tasya tidak tahan untuk mengatakan yang sebenarnya pada Zeedan.
"Zeedan, aku.."
"Kamu apa?"
"Aku tidak hamil."
"Tadi kamu bilang kamu hamil, sekarang kamu bilang kamu tidak hamil. kenapa ucapanmu berubah rubah." Zeedan menarik rambut Tasya karena kesal.
"Aww.. sakit Zeedan, ini namanya kekerasan dalam rumah tangga." Tasya meringis kesakitan.
"Diam kamu ! aku sudah tidak percaya lagi padamu. kamu hamil atau tidak, aku tidak perduli lagi!" Zeedan kemudian tidur membelakangi Tasya.
"Zeedan, aku punya bukti kalau aku tidak hamil."
"Benarkah?" Zeedan membalikan tubuhnya, ia menghadap Tasya yang masih duduk ditempat tidur.
"Dimana kunci mobilmu?
"Dimeja ruang tamu, memangnya kenapa?" Zeedan merasa aneh karena Tasya menanyakan kunci mobilnya.
"Ya sudah, cepat ambil! aku tungggu disini." Perintah Zeedan.
Tasya segera pergi meninggalkan Zeedan sendirian didalam kamar.
"Bukti apa yang dia maksud? kenapa bisa ada dimobilku?" Zeedan penasaran.
"Jangan, jangan Tasya mau kabur." Zeedan buru buru berjalan keluar dari kamar.
Saat keluar Zeedan melihat Tasya masih berdiri didepan mobilnya tidak ada tanda tanda kalau ia ingin kabur.
"Tasya, kamu sedang apa?" Zeedan merasa lega karena ternyata Tasya tidak kabur.
"Zeedan, apa kamu lihat tasku?" Tasya seperti sedang mencari cari sesuatu dimobil Zeedan.
"Tas apa?"
"Tas yang aku bawa kerumah sakit "
__ADS_1
"Tas yang ketinggalan dibagasi selingkuhanmu itu?" Sindir Zeedan.
"Zeedan! Aku serius."
"Aku juga."
"Aku sedang tidak ingin bertengkar denganmu." Tasya menghela nafas.
"Aku juga."
"Zeedan, tas yang tertinggal dimobil Revan itu tas bajuku. waktu kamu mengusirku, kebetulan aku bertemu dengan Revan. dia mengantarku pulang karena itu tasku ketinggalan."
"Tidak usah bertele tele langsung saja apa maksudmu." Telinga Zeedan terasa panas mendengar Tasya menyebutkan nama Revan.
"Maksudku tas ku yang kecil, bukan tas isi bajuku.di Tas kecilku itu ada bukti kalau aku tidak hamil, bukan cuma itu ditas kecilku juga ada handphone sama dompetku." Tasya menjelaskan.
"Aku tidak lihat." Jawab Zeedan singkat.
"Ya ampun aku ingat, waktu itu tasku jatuh karena kamu menarik tanganku. Zeedan boleh aku pinjam hp kamu? Aku mau telphone Revan."
"Tidak boleh"
"Zeedan tapi aku mau tanya Revan apa dia.. "
"Revan! Revan! Revan! setiap kamu sebut namanya, aku jadi emosi." Zeedan tiba tiba marah.
"Kenapa?"
"Kamu itu bodoh atau pura pura bodoh! dimana mana kalau mau selingkuh itu diam diam, bukan terang terangan seperti kamu."
"Aku sudah bilang, aku tidak selingkuh." Tasya menyangkal.
"Aku juga sudah bilang aku tidak percaya." Zeedan kembali marah.
"Tapi aku punya buktinya."
"Mana buktinya?" Zeedan menantang Tasya.
"Zeedan, aku ini istri kamu tapi Kenapa kamu tidak percaya padaku? kenapa harus ada bukti? baru kamu percaya padaku. kalau kamu begini, aku merasa kita bukan suami istri tapi orang lain."
Zeedan merasa tertampar oleh kata kata Tasya.
"Zeedan, kamu menuduh aku hamil. aku terima, karena tuduhan kamu. aku rela mengantri dirumah sakit hanya untuk membuktikan kalau aku tidak hamil. tapi apa yang kamu lakukan? kamu menarik aku sampai tasku jatuh, didalam tas itu ada surat dari dokter yang menyatakan kalau aku tidak hamil dan sekarang disaat aku tidak tau dimana tasku, dengan mudahnya kamu bertanya. mana buktinya?" Tasya mengeluarkan semua rasa yang ada dihatinya marah, benci, sedih dan kecewa.
__ADS_1
"Zeedan, aku sudah lelah. kita berpisah saja." Tasya berjalan meninggalkan Zeedan, ia tidak ingin menunggu jawaban dari Zeedan.
Zeedan hanya diam terpaku, ia hanya menatap kepergian Tasya tanpa berkata apa apa.