
"Tasya ada apa?" Zeedan melihat Tasya memecahkan gelas.
"Zeedan, kamu lihat berita itu." Tasya terlihat antusias.
"Iya memangnya kenapa dengan berita itu?" Zeedan pura pura tidak tahu.
"Zeedan, dokter yang ditangkap itu adalah dokter yang memeriksa aku dan bilang kalau aku ini hamil. orang itu ternyata bukan dokter" Tasya masih bersemangat menceritakan berita yang baru saja ia lihat.
"Benarkah?" Zeedan berlagak bodoh, sebenarnya dalam hati ia merasa khawatir. ia khawatir Tasya akan marah padanya.
"Zeedan kenapa reaksimu biasa saja? orang yang memeriksaku itu bukan dokter. itu berarti dia salah, saat dia bilang aku ini hamil." Tasya geregetan.
"Memangnya aku harus bereaksi seperti apa?" ucap Zeedan dengan wajah datar.
"Zeedan, aku tidak hamil! kamu sudah menuduhku berselingkuh! seharusnya kamu merasa bersalah dan minta maaf " Tasya setengah berteriak.
"Aku kan sudah minta maaf, lagi pula ini bukan salahku. ini salah dokter palsu itu."
"Zeedan!" Tasya benar benar kesal.
"Kamu jangan marah marah terus nanti cepat tua." goda Zeedan.
"Ya sudah aku keluar dulu, aku mau mencari orang untuk membereskan pecahan gelas yang ada dilantai." Zeedan kemudian meninggalkan Tasya yang masih terlihat kesal.
Zeedan baru saja keluar dari ruangan Tasya, ia menghentikan langkahnya, saat ia melihat Kiara berjalan kearahnya.
"Kiara" sapa Zeedan.
"Zeedan" Kiara sangat senang bisa bertemu dengan Zeedan.
Kiara awalnya ingin berjalan melewati kamar Tasya, tapi karena melihat Zeedan ia berhenti.
orang bilang jodoh pasti bertemu, terkadang aku bertemu Zeedan tanpa sengaja. Kita bertemu tapi kita tidak berjodoh, mungkin ini yang dinanamakan cinta bertepuk sebelah tangan. Kiara bicara dalam hati.
"Kiara, kenapa kamu ada disini?" Zeedan sedikit kaget.
"Aku sedang mengantar mamaku checkup, dia ada diruangan dokter. ruangannya tidak jauh dari sini." Wajah Kiara berseri seri ia tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya, karena ia bisa bertemu lagi dengan Zeedan.
"Kamu sendiri sedang apa disini? apa kamu Sakit?" Kiara tiba tiba memegang dahi Zeedan, membuat Zeedan merasa tidak nyaman.
"Zeedan." Panggil Tasya yang baru saja membuka pintu kamar.
Mendengar suara Tasya Kiara buru buru menurunkan tangannya, Tasya tidak tahu bahwa wanita yang berdiri bersama Zeedan adalah Kiara. karena saat itu Kiara berdiri membelakanginya.
Kiara buru buru berjalan meninggalkan Zeedan, ia tidak menengok kebelakang. Kiara tidak ingin membuat Tasya salah paham, Tasya tidak melihat wajah Kiara karena kiara berjalan lurus kedepan.
__ADS_1
"Zeedan, siapa perempuan tadi?" Tasya cemburu.
"Bukan siapa siapa!" Zeedan terlihat gugub.
"kenapa kamu keluar kamar? kamu kan masih sakit?" Zeedan memarahi Tasya.
"Aku sudah tidak apa apa, Zeedan aku mau pulang sekarang." Pinta Tasya.
"Tidak bisa, kamu tidak boleh pulang." Zeedan melarang Tasya.
"Zeedan, kamu lupa? hari ini kamu bilang, kamu mau menuruti semua permintaanku." Tasya meningatkan Zeedan.
"Semua permintaanmu kecuali ini."
"Tidak ada pengecualian, aku akan pulang dengan atau tanpa seijinmu." Tasya tetap dengan pendiriannya.
Karena tidak ingin bertengkar, Zeedan akhirnya menuruti keinginan Tasya.
Zeedan menuntun Tasya berjalan keluar dari rumah sakit, Zeedan tidak mengira kalau ditempat parkir ia akan bertemu lagi dengan Kiara.
Saat itu Kiara berada ditempat parkir mobil, Kiara baru ingin masuk kemobilnya, tapi ia mengurungkan niatnya ketika ia melihat Zeedan dan Tasya.
Kenapa aku harus bertemu dia lagi? memalukan sekali. Kiara malu bertemu Zeedan karena tadi ia sudah bersikap aneh.
Meskipun Kiara hanya memegang dahi Zeedan tapi mengingat wajah Zeedan yang datar dan mengingat Zeedan sudah beristri membuat Kiara merasa malu.
"Kak Tasya, kakak juga ada disini?" Kiara pura pura tidak tahu.
"Iya, kamu sendiri Kenapa ada disini? bukankah kamu sudah pergi keluar negeri? entah mengapa Tasya merasa tidak suka melihat Kiara.
Dulu memang ia menyukai Kiara karena Kiara adalah orang yang ceria dan suka membuatnya tertawa. bahkan meskipun mereka mencintai orang yang sama, Tasya tetap ingin dekat dengan Kiara.
Waktu memang bisa merubah perasaan seseorang, sejak melihat Zeedan memeluk Kiara dibandara. perasaan Tasya sedikit berubah, ada rasa takut dihatinya. Tasya takut Zeedan tergoda dengan Kiara.
Tasya mungkin bisa merelakan Zeedan jika Zeedan masih menjadi pacarnya, tapi Zeedan sudah menjadi suaminya yang syah. itu membuat Tasya tidak ingin mengalah.
"Kuliahku masih dua minggu lagi, karena itu aku pulang."
Kiara tersenyum manis, Meskipun hatinya sakit karena melihat Zeedan menempel terus dengan Tasya tapi Kiara tidak ingin menunjukan rasa sakit hatinya.
Syukurlah kiara cuma dua minggu disini. Tasya menarik nafas lega.
"Kiara, siapa yang sakit?" Tanya Tasya.
"Tidak ada, tadi aku cuma mengantar mamaku check up." Jawab Kiara.
__ADS_1
"lalu, dimana mamamu sekarang?" Tasya ingin tahu.
"Mamaku baru saja pulang bersama papaku."
"Sayang sekali, sebenarnya beberapa hari yang lalu mama kamu mau bicara denganku. tapi kita belum sempat ketemu lagi"
"Bicara apa?" Kiara penasaran.
"Aku juga tidak tahu."
"Sayang sudah siang, ayo kita pulang." Zeedan menyela pembicaraan Tasya dan Kiara
Sayang? Zeedan, begitu cintanya kamu dengan Tasya. sampai sampai didepan orang lain kamu memanggilnya sayang. Batin Kiara sedih.
"Kiara, kita pergi dulu. sampai ketemu lagi."
Tasya berpamitan, sedangkan Zeedan hanya diam saja. mereka berdua kemudian pergi meninggalkan Kiara sendirian.
"Kak Tasya, dulu setiap kita bertemu. kamu kelihatan senang menghabiskan waktu denganku. tapi sekarang kamu lebih senang bersama Zeedan. mungkin karena Zeedan itu suami kamu. sedangkan aku, aku bukan Siapa siapa lagi untukmu." Kiara kembali bersedih.
Sementara itu dimobil Zeedan.
"Kamu senangkan ketemu Kiara?" Tanya Tasya tiba tiba.
"Senang."
"Apa! Zeedan kamu itu suami aku, bisa bisanya kamu bilang senang ketemu sama permpuan lain." Tasya kesal.
"Ya sudah, aku tidak senang. puas!"
"Zeedan, kamu pasti bohong!" Tasya menyipitkan matanya.
"Kamu itu maunya apa? aku bilang senang kamu marah. aku bilang tidak, kamu bilang aku bohong." Zeedan mencoba menahan rasa marahnya.
Ketika mereka hampir bertengkar Tasya melihat Kiara masuk kedalam mobilnya, jarak mereka tidak terlalu jauh awalnya Tasya melihat kiara dari depan tapi saat Kiara masuk kedalam mobilnya Tasya melihat Kiara dari belakang.
Jadi perempuan yang tadi bicara dengan Zeedan itu Kiara, tapi kenapa kiara menghindari aku dan kenapa Zeedan tidak bilang kalau dia itu Kiara? Tasya mulai berprasangka buruk.
Zeedan memang belum menjalankan mobilnya karena ia sibuk bicara dengan Tasya.
"Zeedan, katakan siapa perempuan yang tadi bicara dengan kamu?" Tasya hampir menangis suaranya terdengar serak.
"Perempuan yang mana?" Zeedan pura pura lupa.
"Perempuan yang tadi aku lihat didepan kamar rumah sakit."
__ADS_1
"Aku tidak kenal, dia cuma menanyakan nomer kamar." Zeedan bohong, ia malas bertengkar dengan Tasya.
"Zeedan, kenapa kamu bohong?" Tasya menghela nafas.