
Zeedan menghentikan mobilnya didepan rumah Tasya, mereka berdua sudah sampai dirumah Tasya.
"Sayang kamu bereskan baju yang mau kamu bawa, setelah itu kita kerumahku mengambil baju." Zeedan membuka sabuk pengaman yang Tasya pakai.
Tasya masih tetap diam, ia membuka pintu mobil lalu ia meninggalkan Zeedan tanpa berkata apa apa.
"Ada apa dengan Tasya? Sejak menjadi istriku sikapnya berubah" Zeedan merasa frustasi menghadapi sikap Tasya.
Cukup lama Zeedan menunggu dimobil tapi Tasya tetap tidak keluar, Zeedan akhirnya memutuskan untuk masuk kedalam rumah Tasya.
Sampai didalam Zeedan melihat Tasya sedang berbaring disofa sambil menonton tv.
"Tasya, kenapa kamu belum membereskan bajumu?" Zeedan merasa kesabarannya mulai habis.
"Aku tidak mau pergi liburan." Tasya mengeluarkan kata kata itu dengan santai, ia tidak perduli meskipun tadi ia sudah setuju untuk pergi liburan.
"Kenapa?" Zeedan Berusaha menahan amarahnya.
"Aku sudah tidak berminat." Jawab Tasya tanpa merasa bersalah.
"Ya sudah, kalau kamu tidak mau. tapi hari ini juga kamu pindah kerumahku." Perintah Zeedan.
"Kalau aku tidak mau?" Tasya seperti sedang meledek Zeedan.
"Tasya, suami istri itu harus tinggal bersama."
"Kalau begitu kamu saja yang tinggal disini, kenapa harus aku yang pindah?"
"Sayang, kalau disini kita harus mengeluarkan uang untuk sewa rumah"
"Kamu pikir aku tidak sanggup bayar? atau kamu takut aku minta kamu yang bayar?" Tasya semakin menjengkelkan.
"Bukan begitu tapi setahuku istri itu ikut suami jadi kamu yang ikut kerumahku." Zeedan masih bersikap sabar.
"Tasya, tolong jangan membantah aku lagi!" Zeedan memohon dengan wajah memelas.
Melihat Zeedan, seperti itu Tasya jadi tidak tega, rasa marahnya tiba tiba hilang. ia kemudian memilih untuk menurut.
"Ya sudah aku akan pindah kerumahmu."Hati Tasya menjadi luluh.
"Benarkah?" Zeedan merasa senang.
"Zeedan, maaf." Tasya memeluk Zeedan dari belakang.
"Maaf, untuk apa?" Zeedan memejamkan matanya.
"Maaf karena aku selalu marah marah."
"Tidak apa apa sayang, aku juga minta maaf karena aku membuatmu marah."Zeedan membalikan tubuhnya.
"Mungkin ini karena aku mau datang bulan, jadi aku lebih sensitif dan gampang marah." Ucap Tasya.
"Datang bulan?"
"Iya aku baru ingat, ini sudah waktunya."
"Tasya, apa setiap ingin datang bulan kamu selalu seperti ini?"
"Tidak juga."
"Lalu, apa yang kamu lakukan jika kamu marah atau kesal seperti sekarang?"
"Olah raga. saat sedang marah, kesal bahkan ketika sedih aku melampiaskannya dengan olah raga. biasanya aku akan berlari sampai lelah." Cerita Tasya.
"Jadi karena ada aku, kamu melampiaskannya padaku?"
"Aku tidak akan melakukannya lagi." Tasya merasa bersalah.
"Tasya, kamu boleh melampiaskan marahmu padaku karena.."
"Karena apa?" Tasya memotong kata kata Zeedan.
__ADS_1
"Karena aku suamimu" Zeedan memeluk Tasya.
"Sayang, mulai sekarang kamu bisa melampiaskan semua perasaanmu. sedih kamu, senang kamu. kalau kamu sedih aku akan berusaha menghiburmu, kalau kamu marah aku akan menghilangkan rasa marahmu." Zeedan menepuk nepuk punggung Tasya.
"Menghilangkan rasa marah? bagaimana caranya?" Tanya bertanya.
"Dengan memelukmu seperti ini atau dengan memasak untukmu."
"Masak?"
"Iya, kamu bilang masakanku enak. jadi pasti kamu senangkan kalau aku masak untukmu?" Zeedan masih betah memeluk Tasya.
"Kamu bilang masak itu tugas istri"
"Sekali kali tidak ada salahnya kan? suami menyenangkan istri."
"Sayang, kebetulan aku lapar. kamu mau masak untukku?" ucap Tasya manja.
"Kamu!" Zeedan cemberut
"Baru janji sudah lupa, kalau begitu aku masak sendiri saja." Tasya kemudian pergi kedapur.
"Tasya, kamu mau masak apa?" Zeedan mengikuti Tasya kedapur.
"Aku tidak jadi masak, ternyata aku belum belanja dikulkasku tidak ada apa apa." Tasya mengeluh.
"Zeedan, temani aku belanja?" Pinta Tasya.
"Kamu bereskan saja barang barangmu kita pulang kerumahku, kulkasku penuh karena kemarin aku baru belanja."
"Sombong" Tasya mencibir.
"Cepat bereskan barang barang kamu." Zeedan mencubit pipi Tasya.
"Tapi aku sudah lapar"
"Kita makan diluar?" Zeedan kemudian meninggalkan Tasya, ia berjalan kekamar.
Sampai didalam kamar Zeedan langsung mengeluarkan baju Tasya dari lemari.
"Membantumu membereskan baju supaya cepat." Zeedan mengambil tas besar yang kebetulan ada disamping lemari Tasya.
Saat Zeedan sedang membereskan baju kakek Zeedan menelphonenya, kakek Zeedan meminta Zeedan dan Tasya datang kerumahnya.
Setelah selesai membereskan pakaian Zeedan meletakan tas Tasya kedalam mobil. Zeedan dan Tasya kemudian lansung pergi kerumah kakek Zeedan.
"Kakek, apa kabar?" Tanya Zeedan ketika mereka sudah sampai dirumah kakek Zeedan.
"Kakek, baik baik saja" Kakek Zeedan terlihat senang karena Zeedan mau mengunjunginya.
"Saat aku menikah, kenapa kakek menghilang ditengah tengah acara? aku dan Zeedan mencari kakek saat ingin pulang, tapi kakek sudah tidak ada." ucap Tasya.
"Waktu itu kakek tidak enak badan karena itu kakek buru buru pulang." Kakek Zeedan meminum teh yang ada dihadapannya.
"Ayo, diminum tehnya! ini buatan kakek sendiri."
"Ini buatan kakek sendiri?" Zeedan seakan tak percaya.
"Benar, sejak nenekmu meninggal kakek selalu membuat teh sendiri." ucap Kakek Zeedan.
Sebelum Zeedan dan Tasya sampai, kakek Zeedan memang membuat teh untuk mereka jadi ketika mereka datang teh itu sudah tersedia diatas meja ruang tamu.
"oh iya hari ini kakek ingin berkunjung ketempat Alikha, apa kalian mau ikut?" Kakek Zeedan mengajak Tasya dan Zeedan mengunjungi Alikha.
Setelah makan bersama dirumah kakek Zeedan. Zeedan dan Tasya ikut pergi kerumah keluarga Revan, untuk sementara Revan dan Alikha memang tinggal dirumah keluarga Revan.
Ibu Arumi dan pak Aditya merasa kesepian setelah Kiara pergi karena itu mereka meminta Revan dan Alikha tinggal disana, ibu Arumi dan pak Aditya juga ingin berada dekat dengan cucunya.
"Mama, maaf aku tidak bisa lama lama tinggal disini." Ucap Revan saat mereka sedang duduk santai diruang keluarga.
Revan memang berencana hanya satu minggu tinggal dirumah orang tuanya.
__ADS_1
"Kamu tidak betah disini?" Ibu Arumi merasa kecewa.
"Bukan begitu ma, rumah ini jauh dari kantorku. mama tahu kan? aku membeli apartement, karena apartement itu jaraknya sangat dekat dengan kantorku." Revan menjelaskan.
"Iya, mama tahu. baiklah mama tidak akan memaksamu." Meskipun berat, ibu Arumi menerima keputusan Revan.
Saat mereka sedang asik menobrol Sarah, David dan celina datang.
"Mama, Ada apa? Kenapa mama memintaku datang kemari? apa ada sesuatu yang penting.?" Sarah bertanya tanya.
"Jadi kamu tidak mau kesini jika tidak ada sesuatu yang penting? Seorang ibu meminta anaknya datang. apa harus ada alasannya?" Ibu Arumi merajuk.
"Kenapa, mama bilang begitu?" Sarah bingung.
"Sarah, mama kamu ini sedang kesepian karena Kiara pergi. itu sebabnya dia meminta kamu sekeluarga datang kesini." Ujar pak Aditya.
"Mama, kalau mama tidak rela Kiara pergi. kenapa mama ijinkan Kiara pergi." Sarah bisa mengerti perasaan Ibu Arumi, Ia memeluk iu Arumi.
"Kak Sarah, kita belum pernah foto keluarga. bagaimana kalau kita foto foto sekarang?" permintaan Alikha merubah suasana menjadi ceria.
"Iya, kamu benar! ayo kita foto foto." Sarah sangat bersemangat.
"Apa aku boleh ikut?" Suara seorang pria membuat semua orang yang ada dirumah itu menoleh.
"Kak Zeedan!" Alikha sangat senang melihat kedatangan Zeedan bersama Tasya dan juga kakeknya.
Keluarga Revan juga merasa senang, meskipun mereka baru mengenal kakek Zeedan tapi kakek Zeedan adalah orang yang mudah dekat
dengan orang lain sikapnya yang sopan dan ramah membuat orang lain nyaman berada didekatnya.
"Pa, ma! apa keluargaku boleh ikut berfoto?" Tanya Alikha sambil menggendong anaknya.
"Boleh." Pak Aditya dan ibu Arumi menjawab bersamaan.
Revan mengambil kamera yang ada didalam kamarnya kemudian mereka berfoto bersama
Aku dan Revan putus. pernikahan yang kami rencanakan batal, aku pikir kita tidak akan bertemu lagi atau saat kita bertemu kita akan seperti musuh tidak disangka kita bisa berfoto bersama.ini semua karena Alikha, seandainya Revan dan Alikha tidak menikah mungkin Revan akan membenciku karena aku lebih memilih Zeedan.
Tasya merasa lega, ia ikut merasakan kebahagian Revan dan Alikha.
Awalnya aku merasa sakit hati pada Zeedan karena dia sudah mempermainkan perasaanku, tapi David suamiku mengajarkanku untuk memaafkan orang lain, kalau David bisa memaafkan kesalahanku, aku juga harus bisa memaafkan Zeedan.
Sarah berfoto tanpa rasa canggung meskipun disana ada Zeedan, orang yang pernah mengisi hatinya.
Sejak Alikha menghilang aku selalu dihantui rasa bersalah, untunglah Alikha kembali.
Revan bersuara dalam hati
Seandainya aku tidak merencanakan balas dendam, mungkin aku tidak akan pernah bertemu Tasya. aku tidak tahu aku harus merasa bersalah karena sudah balas dendam atau aku harus bersyukur karena bertemu dengan Tasya. entahlah yang jelas saat ini aku bahagia Tasya sudah menjadi istriku.
Ungkap Zeedan dalam hati.
Usai foto keluarga mereka lalu makan bersama, ketika makan Revan sempat mengirim foto foto keluarga mereka kedalam grub chat keluarga.
Sementara itu ditempat lain.
Kiara sedang beristirahat dikamarnya, ia berbaring sambil memainkan ponselnya. Kiara melihat ada pesan masuk diponselnya, Kiara membuka pesan itu, Kiara diam terpaku ketika ia melihat foto foto keluarganya.
Zeedan, kak Tasya mereka kerumahku dan mereka berfoto bersama keluargaku. mereka semua kelihatan bahagia meskipun tanpa aku. kak Revan benar, seharusnya aku pergi karena kalau aku masih ada disana aku akan selalu melihat kemesraan Zeedan bersama kak Tasya dan hatiku akan terasa sakit.
Kiara mengapus air matanya.
"Kiara!" Terdengar suara nenek Kiara memanggilnya.
"Kiara sayang, kita makan dulu!" ucap nenek Kiara saat kita membuka pintu kamarnya.
"Iya, oma" Kiara sengaja tersenyum, ia tidak ingin neneknya tahu kalau dirinya sedang bersedih.
Sebelum Kiara keluar dari kamar, kiara mengambil ponselnya ia menghapus foto keluarganya bukan karena ia tidak suka, ia hanya tidak ingin menyimpan foto Zeedan.
"Selamat tinggal Zeedan, semoga hidupmu bahagia."
__ADS_1
Kiara menutup kamar ia lalu berjalan menyusul neneknya yang sudah lebih dulu pergi kemeja makan.
Terima kasih buat yang sudah buat yang sudah membaca novel aku. jangan lupa like, komen. follow aku juga ya.