Rahasia Cinta

Rahasia Cinta
Istri sebenarnya


__ADS_3

Malam itu bulan bersinar sangat terang hujan sudah berhenti, Revan mengajak Alikha pulang sampai disana ia melihat Sarah sedang ngobrol bersama Ibu Arumi dan pak Aditya.


"Alikha kamu akhirnya pulang" Ibu Arumi sangat senang melihat Alikha pulang.


"Iya ma." Alikha menunduk malu." Alikha merasa tidak enak, ia sudah pergi dari rumah keluarga Revan tapi ia kembali lagi.


"Alikha, istirahatlah. kamu pasti cape dan kamu Revan duduk dulu sebentar, papa ingin bicara denganmu." ucap pak Aditya.


Revan kemudian duduk diruang keluarga besama Pak aditya, ibu Arumi dan juga Sarah.sedangkan Alikha ia masuk kedalam kamarnya.


"Revan, apa Alikha sudah memaafkanmu?" Tanya pak Aditya.


"Iya pa." Jawab Revan singkat.


"Jadi dia sudah menerima kalau Tasya sedang hamil anakmu." Pak Aditya kembali bertanya.


"Revan, lalu bagaimana dengan anak yang dikandung Tasya? anak itu adalah anakmu. Zeedan akan menceraikan Tasya. apa kamu akan menikahi Tasya?" Ibu Arumi nampak tertekan.


"Revan, kamu mau punya istri dua?" Sarah tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya.


Apa apaan ini! kenapa keluargaku berhayal seperti ini? Batin Revan.


"Mama, papa dan kak Sarah jangan berpikir macam macam! aku tidak ada hubungan apa apa dengan Tasya. lagi pula Tasya itu tidak hamil." Revan mendengus kesal.


"Revan, apa benar apa yang kamu katakan? kamu tidak bohong kan?" Tanya ibu Arumi penuh harap.


"Benar ma, kalau Tasya hamil anakku. Alikha tidak akan mau pulang bersamaku." Revan menyakinkan ibu Arumi.


"Syukurlah" Ibu Arumi menghela nafas lega, ia bahkan hampir mengeluarkan air mata.


"Ma, Kenapa mama menangis?" Revan merasa heran.


"Tentu saja mama menangis, mama menangis bahagia. Revan, apa kamu tahu? beberapa hari ini mama sering tidak bisa tidur. mama memikirkan masalah kamu dan Tasya. mama tidak tahu, apa yang harus mama lakukan seandainya Tasya benar benar hamil?" Ibu Arumi menghapus air matanya.


"Maafkan aku ma." Revan duduk dihadapan ibu Arumi sambil memegang tangan ibu Arumi.


"Ma, besok aku dan Alikha akan kembali keapartementku." Revan memberitahu ibu Arumi.


"Kenapa mendadak kamu ingin pindah? Apa Alikha tidak betah tinggal disini?" Pak Aditya mengira Revan pindah Karena keinginan Alikha, sedangkan ibu Arumi hanya diam dan tidak menanggapi keinginan Revan.


"Pa, ini bukan karena Alikha. aku dan Alikha tinggal disini karena Kiara pergi dan mama merasa kesepian. sekarang Kiara sudah pulang jadi aku akan pindah keapartementku. lagi pula sejak bekerja aku memang sudah tinggal diapartement aku sendiri, jadi ini tidak ada hubugannya dengan Alikha." Revan menjelaskan.


"Revan, jadi Kiara sudah pulang? Kenapa tidak ada yang memberi tahu aku?" Sarah ternyata belum tahu kalau Kiara sudah pulang.


"Maaf Sarah, Kita disini pusing memikirkan masalah Revan jadi tidak terpikir untuk memberi tahu kamu." Ucap Ibu Arumi.


"Lalu dimana Kiara sekarang?" Sarah senang Kiara pulang, ia tidak sabar ingin bertemu Kiara


"Kiara tadi baru saja bertemu dengan teman temanya, sekarang dia sedang istirahat dikamarnya. mungkin Kiara sudah tid.. "Sahut pak Aditya.


Tanpa menunggu pak Aditya selesai bicara, Sarah bergegas menaiki anak tangga yang menuju kekamar Kiara.


"Anak itu, sudah dewasa masih saja tidak tahu. bagaimana bersikap sopan pada orang tua?" Ibu Arumi menggelengkan kepalanya.


"Sudah ma, biarkan saja. dia pasti kangen sama Kiara." Pak Aditya membela Sarah.


"Pa, ma. aku kekamar dulu, aku mau istirahat." Revan berpamitan.


"Setelah membuat mama masuk rumah sakit dan setelah membuat mama tidak bisa tidur bisa bisanya kamu istirahat." omel ibu Arumi.


"Maafkan aku ma." Revan hanya tersenyum lalu ia pergi meninggalkan ruangan itu.

__ADS_1


Sarah membuka pintu kamar Kiara, ia melihat Kiara sedang berbaring dikamarnya, mendengar suara pintu dibuka Kiara buru buru memejamkan matanya ia pura pura tidur.


"Kiara! bangun Kiara!" Sarah membangunkan Kiara, ia duduk disamping tempat tidur Kiara.


"Kiara, ayo bangun!" Karena Kiara tidak juga bangun Sarah menguncang guncang tubuh Kiara.


"Kiara, kalau kamu tidak bangun. aku akan memanggil Zeedan untuk membangunkanmu." Ancam Sarah.


"Zeedan! mana Zeedan? apa dia ada disini?" Mendengar nama Zeedan disebut Kiara langsung bangun.


"Cih..begitu aku sebut nama Zeedan, kamu langsung bangun. dasar anak nakal." Sarah mencubit pipi Kiara karena gemas.


"Kakak, sakit. sebenarnya kakak mau apa kekamarku?" Kiara memegang pipinya.


"Kenapa? engga suka lihat kakak?" Sarah menyipitkan matanya.


"Bukan begitu, kalau tidak ada hal penting dan kalau kakak kesini cuma mau mencubit pipiku lebih baik kakak pegi! aku ngantuk, aku tidak punya tenaga untuk meladenimu." Kiara menarik selimut yang ada dihadapannya, ia ingin tidur.


"Kiara, Kenapa kamu pulang? apa kamu tidak jadi melanjutkan kuliahmu diluar negeri." Meskipun Kiara sudah menutupi tubuh dan wajahnya dengan selimut Sarah tidak perduli ia tetap bicara karena ia tahu kiara mendengarnya.


"Kiara, besok Celina ulang tahun. sebenarnya aku kemari untuk meminta kalian semua datang kepesta ulang tahun Celina" Sarah terus bicara.


"Aku sampai lupa! besok ulang tahun Celina." Kiara membuka selimut yang menutupi wajahnya kemudian ia duduk.


"Iya karena itu aku datang untuk mengingatkan papa dan mama, tapi aku tadi lupa memberi tahu Revan."


"Kak Revan, sudah pulang?"


"Iya tadi dia pulang bersama Alikha."


"Jadi Kak Revan dan Alikha sudah baikan, wah Alikha hatinya seluas samudra. dia bisa memaafkan kak Revan meskipun kak Revan sudah menghianatinya " Kiara memuji Alikha.


"Aku percaya, tapi yang aku tahu Alikha tidak percaya pada kak Revan."


"Sudahlah, kita tidak usah membahas masalah ini lagi. jangan lupa besok datang! jam empat sore!" Sarah berdiri dari duduknya.


"Iya kakakku yang cerewet." Kiara tersenyum.


"Jangan lupa juga bawa kado! kalau tidak, aku tidak akan akan mengijinkan kamu masuk." goda Sarah.


"Tenang saja kak, buat keponakanku tersayang aku pasti akan membelikan kado yang paling bagus."


"Bagus apanya? kamu tidak ingat apa yang kamu berikan pada Celina tahun lalu? Sarah mencibir.


Kiara teringat tahun lalu ia memberikan Celina boneka bekas miliknya. saat itu ia sedang dihukum oleh Ibu Arumi dan Pak Aditya, Ibu Arumi dan pak Aditya menarik semua uang yang mereka berikan untuk Kiara.


Ketika itu Kiara menghabiskan banyak uang untuk belanja, Kiara berbelanja banyak barang untuk disumbangkan kepanti asuhan. ia membeli baju, sepatu, tas serta barang barang lainnya untuk anak anak dipanti asuhan.


Pak Aditya dan ibu Arumi tidak tahu tentang hal itu, mereka pikir Kiara menghambur hamburkan uang untuk berfoya foya. Pak Aditya dan ibu Arumi lalu mengambil semua uang yang mereka berikan pada Kiara, karena itu Kiara bisa membeli kado ulang tahun untuk Celina. alhasil ia hanya bisa memberikan boneka bekas miliknya.


"Kak, meskipun boneka itu bekas tapi aku hanya beberapa memainkannya, boneka itu selalu tersimpan dilemari. kakak tahu kan, waktu kecil mainan ku sangat banyak, jadi aku tidak sempat memainkan boneka itu lagi." Kiara tertawa bangga karena Pak Aditya dan ibu Arumi lebih memanjakan dirinya dari pada Sarah maupun Revan


"Kamu terlalu dimanja karena itu kamu jadi nakal dan sering bersikap tidak sopan padaku." Sarah mengacak acak rambut Kiara.


"Aku pulang dulu, sampai ketemu besok." Sarah lalu pergi meninggalkan kamar Kiara.


...----------------...


Zeedan menunggu Tasya sambil menonton tv diruang tengah, ia merasa bosan karena Tasya tidak juga keluar dari kamarnya. sejak Alikha pergi Tasya masuk kekamar Zeedan dan ia belum keluar dari kamar.


"Sedang apa dia dikamarku? Kenapa lama sekali?" Zeedan mulai kesal.

__ADS_1


Zeedan membuka pintu kamarnya berlahan lahan, Ia lalu menyalakan lampu karena hati sudah malam dan kamar itu kelihatan gelap. Zeedan mengererutkan keningnya saat ia melihat Tasya tertidur pulas dikamarnya. Tasya bahkan sudah menutup jendela dan menyalakan ac.


"Kenapa dia seperti berada dikamarnya sendiri? dia bahkan tidak bilang kalau mau tidur. dia memang istriku kamarku kamarnya juga, tapi apa salahnya dia bilang kalau mau tidur? jadi aku tidak perlu menunggunya diluar." Zeedan marah marah sendiri.


Tasya bergerak ia merubah posisi tidurnya, itu membuat selimutnya tersingkap. Waktu masuk kedalam kamar Zeedan, Tasya merasa tubuhnya lengket dan panas karena itu ia ingin mandi dan mengganti bajunya. selesai mandi Tasya tidak mempunyai baju ganti, akhirnya Tasya memakai baju Zeedan.


Zeedan tidak berkedip menatap Tasya, Tubuh Tasya telihat indah dengan posisi tidurnya yang terlentang. Sebagai seorang laki laki normal ia ingin sekali menyentuh istrinya.


Tidak ingin membuat Tasya marah Zeedan kemudian memikirkan, apa yang harus ia lakukan.


"Malam ini kamu harus jadi istriku yang sebenarnya." Zeedan tersenyum licik, ia seperti sedang merencanakan sesuatu.


Zeedan berjalan keluar rumah, sampai diteras rumahnya ia menunurukan skalar listrik dengan santai ia kemudian duduk dibangku teras rumahnya.


Beberapa saat kemudian.


"Zeedan!" Zeedan mendengar Tasya berteriak.


"Ada apa sih? kenapa kamu teriak teriak?" Zeedan masuk kedalam kamar sambil menyalakan senter dari ponselnya.


"Kenapa acnya mati? lampunya juga mati?" Tanya Tasya.


"Jadi kamu bangun karena kepanasan?" Zeedan balik bertanya.


"Iya, cepat kamu nyalakan acnya sama lampunya sekalian lampunya." Perintah Tasya.


"Maaf Tasya kali ini aku tidak bisa menuti perintah kamu"


"Kenapa, kamu lupa! kamu janji mau menuruti semua keinginanku."


"Aku ingat, tapi aku tidak bisa menyalakan ac sama lampu karena sekarang listriknya mati." Zeedan bohong.


"Maksud kamu mati lampu?"


"Iya." Zeedan lalu berbaring disamping Tasya yang masih duduk atas ditempat tidur.


"Aku mau tidur." Zeedan tidur membelakangi Tasya.


"Zeedan kamu jangan tidur dulu, aku tidak bisa tidur."


"Kenapa karena lampunya mati, bukannya kamu biasanya tidur dengan lampu mati."


"Ini bukan karena lampu, tapi aku kepanasan." Tasya mengeluh.


"Kalau begitu buka saja bajumu." Zeedan asal bicara.


"Zeedan aku serius!" Tasya kesal.


"Aku juga."


"Percuma ngomong sama kamu, tidak ada solusinya." omel Tasya.


"Kenapa yang kamu pikirkan hanya tidur, apa kamu tidak ingin melakukan sesuatu yang lain?" Zeedan berdiri, ia ingin keluar dari kamar itu.


"Zeedan kamu mau kemana?" Tasya memeluk Zeedan dari belakang.


"Zeedan jangan pergi, aku takut." Tasya memperat pelukannya.


Zeedan tiba tiba membalikan tubuhnya dan mendorong tubuh Tasya hingga tubuh Tasya tidur terlentang sementara Zeedan tubuh Zeedan berada tepat diatas Tasya.


"Zeedan kamu mau apa?" Jantung Tasya tiba tiba berdebar debar dan tanpa Tasya sadari Zeedan sudah mencium bibir Tasya.

__ADS_1


__ADS_2