Rahasia Cinta

Rahasia Cinta
Rahasia Cinta 22


__ADS_3

4 Bulan kemudian...


Yudha pov


Aku hampir frustasi mengingat kejadian 4 bulan kemarin, dan sekarang Arya tengah melamar anak gadisku. Dan yang membuatku tambah frustasi itu anak gadisku juga menginginkan menikah denganya.


"Hahh" Aku mengacak2 rambutku sendiri.


"Aku keberatan kamu menikah dengan anakku" Ucapku.


"Orang tuamu pun juga tidak setuju, jangan menentang, usia kalian berbeda jauh apalagi Hani itu masih sekolah" Lanjutku yang mengontrol emosiku.


"Aku mencintai anakmu, dulu aku telah kehilangan Heni dan sekarang aku nggak mau kehilangan Hani" Kata Arya dengan wajah memohonnya.


"Papa, aku yakin kalau om Arya itu jodoh aku" Ini lagi kenapa anakku ikut-ikutan.


"Arya, pikirkan lagi nak? Hani itu pantasnya jadi anakmu?" Ucap Mama mertuaku yang cantik.


"Benar aku tak masalah jika kamu ingin bermain dengan Hani tapi tidak untuk dinikahinya apalagi kamu itu duda" Tegasku.


"Mama juga nggak setuju Arya" Tante sarah.


"Kalau aku setuju, karena selama ini Arya selalu menjaga Hani dengan baik" Ucap kak Diaz.


"Aku setuju" Papa Febrian pun ikut setuju.


"Aku juga setuju" Om Wisnu.


"Usia Hani itu baru 18 tahun sedangkan Arya 41 tahun, aku nggak bisa melepaskan anakku" Aku benar-benar hampir gila sekarang.


"Papa boleh ya" Hani merajuk.


"Arghhhhhh!" Teriakku dengan mngacak-acak rambutku.


"Ok tapi jika aku tau kamu menyakiti anakku aku akan membawanya kembali" Oh tidak, Heni maafkan aku yang tidak bisa menjaga anak kita bahkan sampai melepaskan anak kita kepada Arya.

__ADS_1


"Baiklah, karena Hani masih sekolah jadi pernikahan ini akan dilaksanakan bulan depan secara diam-diam"


"APA?" Aku terkejut dan pingsan.


**Yudha end


Hani pov**


Akhirnya aku akan menikah dengan om Arya, tapi aku hanya ingin membuat Stevan cemburu, biar dia tau rasa jika selama ini dia sudah menyia-nyiakan wanita yang mencintainya. Om Arya maaf kan aku ya.


Bulan depan itu waktu yang masih lama, dan sekarang om Arya sering menjemputku dengan alasan jika aku adalah calon pengantinnya.


Dan akupun menggunakan kesempatan itu untuk membuat Stevan cemburu, entah dia cemburu atau tidak yang penting aku tidak kalah dengannya.


Walaupun om Arya seumuran dengan mama tapi wajahnya masih awet muda, wajahnya mirip sekali sama oppa-oppa korea. Makanya aku tidak mempermasalahkan umurnya karena kalau dilihat-lihat umurnya seperti masih 28 tahunan.


Aku menunggu om Arya didepan sekolah bersama Angel. Walaupun aku tidak mnyukainya tetapi dia itu adikku. Mau tidak mau aku harus bersikap baik dengannya.


Aku melihat sebuah mobil hitam yang aku ingat itu mobilnya Stevan, dan tidak salah lagi dia menjemput Angel.


"Iya hati-hati dijalan ya, kak Stevan aku titip adikku ya" Ucapku dengan pura-pura tersenyum.


"Tentu saja aku akan menjaga bidadari ku" Ucapnya dengan mengelus-elus rambut Angel.


Aku sebal sangat sebal melihat pemandangan itu, aku *** tasku.


"Kami duluan ya" Ucap Stevan lalu berlalu.


Sebenarnya om Arya kemana sih, kok dari tadi nggak datang-datang.


"Tin...tin...tin..." Aku terkejut mendengar suara klakson. Saat aku melihat kearah klakson itu ternyata om Arya.


Aku lalu masuk kedalam mobil dengan wajah cemberutku. Om Arya yang menyadarinya pun mengelus-elus rambutku.


"Maaf ya, tadi aku ada urusan" Ucapnya lalu menyudahi mengelus rambutku dan menjalankan mobilnya.

__ADS_1


"Om Arya, lebih penting aku atau pekerjaan?" Tanyaku.


"Hmm, tentu saja lebih penting kamu tapi kalau aku nggak kerja aku nggak bisa membelikan apa yang kamu suka"


"Jawaban yang bagus, kalau gitu bolehkan aku meminta satu kartu atm om Arya" Om Arya melihatku sebentar dan lalu fokus kembali menyetir.


"Boleh dong, tu pilih sendiri di dompet" Jawabnya.


Aku mengambil dompetnya yang berada di sampingnya. Aku membuka dompetnya dan melihat iso dari dompetnya.


"Ini foto siapa om?" Tanyaku.


"Itu foto mama kamu saat masih kecil"


"Apa om Arya masih mencintai mama?" Aku masih fokus mencari-cari dan melihat-lihat isi dompet om Arya.


"Masih"


"Kenapa om mau menikah denganku? Apa karena aku mirip dengan mama?"


"Tidak, mama kamu cinta pertama om dan kamu cinta terakhirku"


Aku menemukan sesuatu yang tersembunyi dibelakang foto mama.


"Kalau ini?"


"Itu kamu"


Aku menaruh kembali dompetnya, dan tak jadi mengambil kartunya.


"Kenapa tidak jadi ambil?" Tanyanya.


"Aku bukan cewek matrek om? Dan papa masih bisa membelikanku barang-barang yang aku mau" Kulihat om Arya tersenyum mendengar ucapanku.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2