
Alikha sudah tidak bisa bersembunyi lagi, ia juga sudah lelah dan tidak ingin berlari lagi.
"Iya, aku memang Alikha, aku masih hidup. terus kenapa?" ucap Alikha sinis.
"Alikha, aku mencarimu kemana mana. kenapa kamu tidak menemuiku? aku putus asa dan mengira kamu sudah mati." Cerita Revan.
"Aku hidup atau mati tidak ada hubungannya denganmu." ucap Alikha.
Alikha, dia sudah berubah. Batin Revan
"Alikha, Kenapa kamu sekarang jadi judes?" Tanya Revan.
Alikha tidak memperdulikan Revan, ia berjalan keluar kamar.
Tidak, Alikha tidak boleh pergi.
Revan tidak ingin Alikha pergi.
Revan berusaha mengejar Alikha tetapi baru turun dari tempat tidur ia sudah terjatuh.
"Aa... " Revan sedikit berteriak, ia merasa kesakitan.
Alikha yang mendengar suara Revan akhirnya memilih kembali lagi kekamar Revan.
"Revan!" Alikha kaget melihat Revan jatuh terduduk dilantai.
Alikha lalu membantu Revan berdiri, setelah itu ia memapahnya ketempat tidur.
"Revan, sebenarnya apa yang terjadi? kenapa kamu bisa masuk rumah sakit?" Alikha duduk disebelah Revan.
"Aku menyelamatkan Zeedan, Zeedan hampir saja ditusuk pisau." Jawab Revan.
Alikha terkejut mendengar jawaban Revan.
"Alikha, kenapa kamu bersembunyi?" Tanya Revan.
"Karena kamu tidak mau menikahiku."
Ucapan Alikha membuat Revan semakin merasa bersalah.
"Alikha maafkan aku." Revan memeluk Alikha sebentar, perutnya tiba tiba terasa sakit.
"Ngomong ngomong, bukankah kamu bilang kamu hamil. kenapa perutmu tidak besar besar?"
"Bodoh! kamu pikir bayi itu akan terus ada diperutku." Alikha tersenyum.
"Benar juga, sudah lama kita tidak bertemu. itu berarti, kamu sudah melahirkan?" Revan sangat penarasan, ia ingin tahu bagaimana nasib anaknya.
"Aku, aku keguguran." Alikha bohong lagi.
Aku terpaksa berbohong, aku takut Revan mengambil anakku. Alikha merasa takut.
Wajah Revan berubah menjadi suram, ia tidak menyangka Alikha bisa keguguran. Revan ingin sekali memarahi Alikha karena Alikha tidak bisa menjaga anaknya, tapi ia mengurungkan niatnya.
Selama ini aku mengira Alikha dan anakku sudah mati, jadi saat aku tahu Alikha masih hidup. kenapa aku harus marah karena Alikha keguguran? Revan berusaha menghilangkan amarahnya.
"Alikha, bagaimana kamu bisa keguguran? Revan ingin tahu.
"Dokter bilang aku stress." Alikha asal bicara.
"Alikha, maaf!" Revan kembali merasa bersalah dan lagi lagi ia meminta maaf pada Alikha.
"Revan, semua sudah berlalu jadi kamu tidak perlu minta maaf lagi." Alikha berdiri.
__ADS_1
"Alikha, kamu mau kemana?" Revan tidak ingin Alikha pergi.
"Pulang."
"Alikha kamu tidak boleh pergi, sebelum kamu membayar hutangmu."
"Hutang?" Alikha menyipitkan matanya.
"Iya, aku sudah menyelamatkan Zeedan kakakmu jadi kamu berhutang nyawa padaku."
"Kamu menyelamatkan kakakku bukan aku." Alikha mulai kesal.
"Tapi aku ingin kamu yang membayar hutangnya." Meskipun terdengar konyol tapi Revan sengaja mengulur waktu.
"Bagaimana caraku membayarnya." Alikha cemberut.
"Hutang uang dibayar uang, hutang nyawa dibayar nyawa. Karena aku sudah menyelamatkan nyawa kakakmu jadi mulai hari ini nyawamu adalah milikku." Revan terseyum tipis.
"Apa maksud mu?" Alikha bertanya.
"Maksud aku, nyawamu adalah milikku. apapun yang ingin kamu lakukan, kamu harus minta ijin dulu padaku. sekarang aku mau kamu tetap disini, aku tidak mengijinkan kamu pergi!" Revan sangat senang ia merasa sudah bisa mengendalikan Alikha.
"Seperti yang kamu bilang, hutang nyawa dibayar nyawa. jadi katakan! kapan kamu akan membayar hutang nyawa anakku yang mati."
"Apa!"
"Kamu yang membuat anakku mati jadi kamu berutang nyawa padaku." Alikha membalikan keadaaan.
"Aku tidak membunuh anakmu." Revan menyangkal.
"Kalau kamu menikahiku, aku tidak akan stess dan kalau aku tidak stess anakku tidak akan mati." Alikha menyalahkan Revan.
"Sudahlah! aku malas membicarakan masa lalu, aku anggap kita impas." Alikha kembali berdiri dari duduknya.
"Aww..." Revan terlihat kesakitan.
"Revan, kamu kenapa lagi?" Alikha menghampiri Revan, ia terlihat cemas.
" Perutku sakit." Revan memegangi perutnya.
"Revan, perut kamu berdarah!" Alikha panik.
"Tadi aku jatuh dari tempat tidur, mungkin karena itu lukaku berdarah lagi. Revan bicara sambil menahan sakit.
"Revan, dimana kak Sarah? aku akan memanggilnya kemari."
"Tidak usah, kak Sarah pasti ada dikamar Kiara. Kiara juga sedang sakit. Kak Sarah mungkin sibuk mengurus Kiara." Ucap Revan, wajahnya kelihatan sedih.
"Seandainya saja aku mempunyai istri. akan ada orang yang merawatku, saat aku sakit." Revan berangan angan.
"Seandainya dulu kamu menikahiku, sekarang aku sudah menjadi istrimu." Alikha menutup mulutnya, tanpa sadar ia mengungkit ngungkit masa lalu.
"Kamu tunggu sebentar, aku akan memanggilkan dokter." Alikha lalu menekan tombol yang ada disamping Revan.
Tidak lama kemudian dokter dan beberapa orang suster datang memeriksa Revan.
"Pak Revan luka anda belum lama dijahit, jadi jangan terlalu banyak bergerak." Doker memberi tahu keadaan Revan.
"Bu, tolong dijaga suaminya. supaya suami ibu tidak banyak bergerak dan supaya suami ibu cepat sembuh." Lanjut sang dokter.
Alikha hanya terbengong mendengar kata kata dokter itu, ia tidak sempat membantah karena dokter itu terlanjur pergi meninggalkan kamar Revan.
"Suami? Apa aku kelihatan tua?" Alikha menghela nafas.
__ADS_1
"Alikha, apa kamu tidak pernah bercemin? wajahmu kelihatan lebih tua dari umurmu yang sebenarnya." Revan meledek Alikha.
"Oh, benarkah! lalu siapa perempuan yang kelitahan muda. Tasya, atau..." Alikha tidak melanjutkan kata katanya.
"kamu cemburu?" Revan tersenyum senang.
Alikha tidak menjawab, wajahnya terlihat masam dan untuk kesekian kalinya ia berjalan kearah pintu kamar.
"Revan, aku pergi dulu. jangan coba coba mengikutiku, karena aku akan berlari kamu tidak akan bisa mengejarku. kalau kamu memaksa lukamu akan semakin parah." Ancam Alikha.
"Aku tidak perduli, bahkan meskipun harus mati aku rela. asalkan aku bisa mengejarmu." Revan mengucapkannya dengan sungguh sungguh.
Hati Alikha tersentuh mendengar kata kata Revan.
"Revan" Sarah memanggil nama Revan langkah kakinya semakin dekat kekamar Revan.
Alikha buru buru keluar melalui jendela, untunglah jendela dikamar itu besar sehingga dengan mudah Alikha keluar melalui jendela itu.
Alikha lalu bersembunyi dibalik jendela. Revan hanya tersenyum melihat sikap Kiara yang menurutnya aneh.
"Kak Sarah, bagaimana keadaan Kiara?" Tanya Revan saat Sarah masuk kedalam kamarnya.
"Dia baik baik saja, nanti sore kiara sudah bisa pulang." Jawab Sarah.
"Aku juga mau pulang." ucap Revan
"Revan, dokter bilang kamu harus istirahat disini selama beberapa hari." Sarah melarang Revan pulang."
"Aku tidak mau! aku bisa istirahat dirumah, aku juga bisa memanggil dokter kerumah." Revan mulai sombong.
"Tapi.."
"Kak Sarah, kita berangkat sama sama jadi kita harus pulang sama sama."
"Baiklah" Sarah akhirnya mengalah, ia menuruti permintaan Revan.
"Revan, maaf aku harus kekamar Kiara. ia tadi minta dibelikan bubur." cerita Sarah.
"Kiara, waktu sehat saja dia manja. apalagi sakit tambah manja dia." Revan tertawa kecil.
"Revan, ada apa? kamu keliatan senang." Sarah mulai curiga.
"Tidak ada kak." Revan sedikit gugub.
"Revan, jangan bohong!" Sarah tidak percaya.
"Sebaiknya kakak temani Kiara, kasihan dia sendirian." Revan mengalihkan pembicaraan.
"Baiklah." Sarah lalu meninggalkan kamar itu.
Karena Revan masih sakit ia tidak ingin memaksa Revan untuk bercerita.
"Syukurlah dia cepat pergi" Alikha merasa lega.
Alikha kemudian keluar dari persembunyiannya, ia kembali masuk kekamar Revan.
"Kenapa kamu bersembunyi?" bukankah tadi kamu ingin memanggil kak Sarah kemari?" Tanya Revan.
"Itu karena tadi kamu sakit, sebenarnya aku belum siap bertemu dengan kakakmu." Alikha menunduk.
"Jadi kapan kamu siap bertemu kakakku?" goda Revan.
"Revan!" Alikha menghentakan satu kakinya ia kelihatan sangat kesal.
__ADS_1