
Sarah berlari kecil ia mengikuti langkah kaki Kiara.
"Kiara pelan pelan!" nafas Sarah terengah engah, ia lalu duduk ditaman rumah sakit.
"Kak Sarah, kita harus cepat nanti kak Revan mengejar kita." Kiara ikut duduk ditaman itu.
"Tidak mungkin! Revan sedang sakit, dia tidak akan bisa megejar kita. Kiara, apa keputusan kita benar? kakak tidak tega meninggalkan Revan sendirian." ujar Sarah.
"Kak, disana ada Alikha. kita berikan kesempatan mereka berdua."
"Bukannya selama ini kamu ingin Revan bersama Tasya." Sarah mengingatkan Kiara.
"Iya tapi itu sebelum aku bertemu Alikha. Aku merasa Alikha yang tulus mencintai Kak Revan, bukan Tasya." ucap Kiara.
"Terus, kenapa kamu tadi memarahi Alikha."
"Aku cuma pura pura, supaya mereka tidak tahu kalau kita mendengar pembicaraan mereka." Kiara tertawa kecil.
"Pintar" Sarah mengacak ngacak rambut Kiara.
"Kak, rambutku nanti berantakan. Ayo kita pergi dari sini." Pinta Kiara.
Kiara dan Sarah kemudian pergi meninggalkan rumah sakit itu.
Sudah beberapa hari Alikha merawat Revan dirumah sakit dan semenjak itu mereka menjadi dekat kembali, kehadiran Alikha membuat Revan melupakan Tasya.
Sementara itu Tasya,Tasya kembali kehilangan Zeedan. selama beberapa hari Zeedan tidak menghubunginya, Zeedan juga tidak pernah datang mencarinya.
"Dia menghilang lagi" Tasya mengeluh.
Tasya akhirnya memilih menyibukan dirinya dengan mencari pekerjaan, karena Tasya sudah mempunyai pengalaman kerja diperusahaan Revan.Tasya bisa dengan mudah mendapatkan pekerjaan baru.
"Untunglah aku bisa dengan cepat mendapatkan pekerjaan baru, uang tabunganku semakin menipis." Tasya tersenyum bahagia.
Untuk merayakan pekerjaan baru yang ia dapatkan, Tasya memilih membeli makanan disebuah reataurant.
"Hari ini, aku akan membeli banyak makanan." Tasya kelihatan senang.
Tasya sampai didepan restaurant yang cukup mewah, restaurant itu adalah restaurant yang sering ia datangi saat ia masih bersama Revan.
"Aku akan memesan makanan makanan kesukaanku." ucap Tasya.
Saat Tasya bersama Revan, Revan selalu memesankan makanan untuk Tasya. Revan tidak pernah bertanya, Tasya ingin makan apa.
Tasya membuka pintu restauran dan pandangan matanya berhenti ketika ia melihat Revan dan Alikha.
Bukan hanya Revan disana juga ada semua keluarga Revan. Ibu Arumi, pak Aditya, Kiara juga Sarah bahkan David dan Celina juga ada disana.
__ADS_1
"Revan, kenapa kamu meminta kita berkumpul disini?" Tanya ibu Arumi.
"Aku mau memperkenalkan calon istriku." Revan tersenyum tipis.
"Kamu sudah memperkenalkan Tasya, kami sudah kenal dengan calon istrimu." Pak Aditya meminum air digelas yang ada dihadapannya
"Pah, maaf aku belum bilang. aku dan Tasya sudah putus dan sekarang aku akan memperkenalkan calon istriku yang baru." Revan menjelaskan.
Ibu Arumi dan Pak Aditya sedikit terkejut mendengar pengakuan Revan.
"Kita sudah berkumpul disini? Kenapa calon istrimu belum datang?" Sarah penasaran siapa calon istri Revan.
"Dia sudah datang ka, sekarang dia sedang ketoilet sebentar." Jawab Revan.
"Itu dia." Revan tersenyum sambil memandang Alikha yang baru saja datang.
"Alikha." Kiara dan Sarah menyebutkan nama Alikha bersamaan.
"Semuanya kenalkan, ini Alikha calon istriku." ucap Revan penuh semangat.
Alikha tersenyum manis, hari itu Alikha terlihat sangat cantik. dengan gaun yang diberikan Revan dan dengan riasan yang tipis membuat kecantikan Alikha terlihat alami.
Keluarga Revan kelihatan menyukai Alikha, satu persatu diantara mereka mengajak Alikha bicara. bahkan Sarah juga bersikap baik pada Alikha.
Dulu saat aku bertemu dengan keluarganya Revan, suasananya tegang dan kaku. Sarah juga mengatakan sesuatu yang menyakitkan, tapi saat Alikha datang suasananya kelihatan santai. Sarah, kelihatannya dia menyukai Alikha. ketika aku mencintai Revan aku terpaksa putus dengannya karena aku merasa tidak pantas untuknya, ketika aku mulai membuka hatiku untuk Zeedan. dia menghilang entah kemana?
Suara hati Tasya berbicara, ia kelihatan sedih dan kecewa.
"Maaf" Tasya menatap orang yang ia tabrak, Tasya terkejut karena orang yang ia tabrak ternyata adalah Zeedan.
"Zeedan!" Tasya sangat senang melihat Zeedan.
"Tasya, kamu sedang apa disini?" Tanya Zeedan.
"Aku ingin membeli makanan, kamu sendiri?"
Saat Zeedan menghilang Tasya sangat sedih. ia juga berkata pada dirinya sendiri. Ia akan marah dan tidak ingin behubungan lagi dengan Zeedan.
Tapi ketika bertemu lagi dengan Zeedan Tasya lupa dengan apa yang ia katakan ia justru merasa senang bisa bertemu lagi dengan Zeedan.
"Alikha yang memintaku datang kesini.?" Jawab Zeedan.
"Alikha?"
"Kemarin Alikha menelponeku, dia minta maaf padaku. Alikha juga mengirim pesan dan memintaku datang ketempat ini sekarang." cerita Zeedan.
"Jadi, kamu sudah memafkannya?" Tasya tersenyum, ia senang akhirnya Zeedan bisa berbaikan dengan Alikha
__ADS_1
"Waktu dia menelphoneku, aku tidak menanggapinya aku hanya diam saja mendengarkan dia bicara, aku juga tidak membalas pesannya." Zeedan memberitahu Tasya.
"Pergilah, Alikha sudah menunggumu." Mata Tasya melihat kearah Alikha.
Zeedan mengikuti arah pandangan mata Tasya, ia melihat Alikha sedang duduk bersama keluarga Revan.
"Apa apaan Alikha, jadi dia sudah kembali lagi pada Revan." Zeedan kelihatan marah.
Zeedan lalu berjalan keluar dari restaurant itu, Tasya mengikuti langkah kaki Zeedan.
"Zeedan tunggu!" Karena Zeedan berjalan dengan cepat sehingga Tasya setengah berlari mengejar Zeedan.
"Ada apa?" Zeedan menghentikan langkahnya, ia menengok kebelakang.
Zeedan sudah hampir satu minggu kita tidak bertemu tapi sikapnya biasa saja. apa dia tidak merindukanku? dia bilang dia mau menepati janjinya. apa dia lupa? Tasya merasa kecewa.
"Kenapa kamu pergi? apa kamu tidak ingin bertemu Alikha?" Tasya berusaha menyembunyikan rasa kecewanya.
"Awalnya aku mau bicara dengannya, tapi melihat Revan aku tidak jadi. Aku tidak setuju Alikha berhubungan lagi dengan Revan." Zeedab menjelaskan.
"Kenapa kamu tidak setuju dengan hubungan mereka?" Tanya Tasya
"Revan orang yang tidak bertanggung Jawab, ketika Alikha hamil ia tidak menikahi Alikha."
"Tapi mereka sudah punya anak "
Kata kata Tasya membuat Zeedan teringat bahwa Alikha sudah melahirkan anaknya.
"Kamu benar, Tasya sudahlah kita jangan membicarakan Alikha lagi. Bagaimana jika kita membicarakan tentang masa depan kita." Zeedan merangkul Tasya.
"Masa depan? Memangnya apa hubungan kita?" Tasya menjatuhkan tangan Zeedan dari bahunya.
"Kau datang dan pergi sesuka hatimu, aku tidak mau berhubungan lagi denganmu." Tasya cemberut.
"Tasya, aku kangen." Zeedan kembali merangkul Tasya.
"Apa kamu marah? karena selama Beberapa hari aku tidak memberi kabar? aku sedang menghindari Alikha, karena itu aku tidak menghubungimu." Cerita Zeedan.
"Sampai kapan kamu akan menghindari Alikha?" lagi lagi Tasya menjatuhkan tangan Zeedan bahunya.
"Sekarang tidak lagi. kamu benar, Alikha dan Revan sudah memiliki anak seharusnya aku membiarkan mereka bersama." Zeedan memegang tangan Tasya.
Zeedan lalu berjalan sambil menggandeng tangan Tasya.
"Tunggu! Kita mau kemana?" Tanya Tasya.
"Menemui Alikha."
__ADS_1
"Kau, saja yang menemui Alikha. buat apa mengajakku?"
Zeedan tidak menggubris kata kata Tasya, ia tetap berjalan sambil menggandeng tangan Tasya. Zeedan dan Tasya akhirnya sampai dimeja tempat Alikha dan keluarga Revan berkumpul.