
Sarah memberikan bubur untuk Kiara, bahkan dengan telaten ia menyuapi Kiara.
"Kak, dimana Zeedan?" Kiara mengambil gelas minuman yang diberikan Sarah.
"Zeedan, Zeedan, Zeedan! kenapa sejak sadar dari pingsan kamu selalu menanyakan dia?"
"Memangnya kenapa kak?" Tasya meminum air digelas yang ia pegang.
"Kiara, Zeedan sedang bersama Tasya." Sarah mengatakannya dengan malas.
"Kak, kakak jangan bohong!" Kiara tidak percaya.
"Saat kakak membawa kamu kerumah sakit ini, Zeedan dan Tasya juga datang kesini tapi sekarang aku tidak tahu. mereka pergi kemana?"
"Kak Sarah benar, mereka pasti sedang bersama karena sebelum aku jatuh kedalam kolam renang. Zeedan mengatakan, dia mencintai Tasya." Kiara menghapus air matanya.
"Kiara, sudahlah! Jangan sedih! mungkin Zeedan itu bukan jodoh kamu." Sarah mencoba menghibur Kiara.
"Oh.. ya kak Sarah, dimana kak Revan?" Kiara tiba tiba teringat Revan.
Sarah diam saja ia tidak memberitahu Kiara bahwa Revan juga sedang sakit, ia tidak ingin membuat Kiara Khawatir.
"Kak, kenapa kak Sarah diam saja?" Kiara ingin turun dari tempat tidurnya.
"Kiara, kamu mau kemana?"
"Karena kak Sarah tidak menjawab, aku akan mencari kak Revan sendiri."
"Baiklah aku akan memberitahu mu, tapi kamu tetap disini."
Kiara mengangguk, Sarah kemudian mulai bercerita.
"Waktu ingin membawa kamu kerumah sakit kita dirampok, perampok itu ingin menusuk Zeedan tapi..." Sarah belum selesai bercerita.
"Tapi, apa kak?" Kiara penasaran.
"Tapi Revan melindungi Zeedan dan akhirnya Revan, Revan tertusuk pisau." Sarah menghela napas.
"lalu, lalu dimana Kak Revan sekarang?" Kiara seperti ingin menangis.
"Revan ada dirumah sakit ini juga."
"Aku mau melihat keadaan kak Revan." Kiara benar benar turun dari tempat tidurnya.
"Kiara, tunggu!" Sarah menghalangi Kiara.
"Kak, Sarah aku sudah tidak apa apa." Kiara tetap ingin melihat Revan.
"Baiklah, kalau kamu ingin kekamar Revan.aku akan menemanimu." Sarah mengalah.
Sarah tahu dengan sifat Kiara yang keras kepala. meskipun ia melarang, Kiara akan tetap pergi menemui Revan.
Sarah kemudian menuntun Kiara berjalan kekamar Revan, sampai disana mereka melihat Revan sedang bicara dengan Alikha.
"Kak Sarah, siapa perempuan itu?" Bisik Kiara.
Sarah meletakan satu jari telunjuknya diatas bibirnya, ia mengisyaratkan agar Kiara diam.
__ADS_1
"Alikha, kamu tidak bisa berenang. bagaimana kamu bisa selamat?" Revan ingin Alikha menjelaskan semua padanya.
Kiara dan Sarah sangat terkejut mereka tidak menyangka Alikha masih hidup, meskipun sedikit shock mereka tetap diam. mereka menunggu apa yang akan dikatakan Alikha.
"Ada seseorang yang menolongku." Alikha memberitahu Revan.
"Siapa."
"Kenapa aku harus menjawab pertanyaanmu?"
"Alikha." Revan menatap mata Alikha
Ditatap seperti itu membuat Alikha jadi serba salah.
"Yang menolongku adalah orang yang bekerja dengan kakekku." Kiara akhirnya menjawab pertanyaan Revan.
"Kamu punya kakek?" Revan ingin tahu.
"Bukankah orang tuamu sudah meninggal dan Zeedan adalah satu satunya keluargamu?"
Kiara memang pernah bercerita pada Revan bahwa ia hanya mempunyai seorang kakak laki laki.
"Kakekku bilang, kakek tidak setuju ibuku menikah dengan ayahku karena itu kakekku mengusir ibuku dari rumah. kakek merasa ayahku bukan orang yang baik, sejak saat itu kakekku tidak pernah bertemu dengan ibuku."
"kakekku benar ayahku bukan orang baik, ayahku tidak mau bekerja kerjanya setiap hari hanya judi dan mabuk mabukan.suatu hari karena tidak punya uang untuk berjudi ayahku ingin menjualku dan kak Zeedan."
"Ibuku mencoba menghalangi ayahku, mereka bertengkar hebat. ayah dan ibuku tidak menyadari ada mobil yang lewat, mobil itu menabrak ayah dan ibuku. lalu, lalu ayah dan ibuku meninggal." Alikha bercerita panjang lebar, matanya berkaca kaca.
"Kakekku menyesal karena sudah mengusir ibuku, ia berusaha mencari ibuku tapi ibu seperti menghilang ditelan bumi. tiga bulan sebelum aku ingin bunuh diri Kakek menemukan aku dan Kak Zeedan, tapi karena merasa bersalah kakekku tidak berani menemuiku."
"Ketika kakek melihatku menjatuhkan diri kedalam pantai, kakek meminta seseorang untuk menolongku. setelah aku selamat kakek barulah mengaku bahwa dia adalah kakekku" Alikha kembali melanjutkan ceritanya, sesekali ia mengapus air matanya.
Seperti tertusuk duri tajam, hati Revan tiba tiba menjadi sakit, Kata kata dan cerita Alikha membuat perasaan bersalah kembali merasuki dirinya. Revan memang tahu orang tua Alikha sudah meninggal tapi ia tidak tahu kejadiaannya seperti itu.
Revan merasa dirinya adalah orang yang jahat, Revan merasa jahat karena ia sudah menyakiti hati Alikha.
Sarah dan Alikha juga mendengarkan semua Cerita alikha, entah mengapa mereka tiba tiba merasa kasihan pada Alikha.
"Alikha, maafkan aku!" Untuk kesekian kalinya Revan meminta maaf pada Alikha, Revan kemudian memeluk Alikha.
"Kiara, kita pergi. jangan ganggu mereka." Sarah berbisik pada Kiara.
"Tidak mau." Kiara menolak.
"Kak Revan!" Kiara justru memanggil nama Revan.
"Kiara" Karena terkejut Revan buru buru mendorong tubuh Alikha.
Alikha hampir jatuh. untunglah Sarah memegangi kedua lengan Alikha dari belakang, sehingga Alikha tidak terjatuh.
"Kak Revan, ini siapa?" Kiara pura pura tidak tahu.
"Dia Alikha, adiknya Zeedan." Revan mengucapkannya dengan santai.
"Jadi kamu masih hidup?" Kiara kembali berpura pura dia seakan akan kaget.
"Alikha, apa kamu tahu? gara gara kamu, Zeedan jadi balas dendam dan gara gara kamu, aku dan kakakku Revan ada dirumah sakit ini." Kiara marah marah pada Alikha
__ADS_1
"Maaf" Alikha merasa tidak enak.
"Kiara, kamu ini apa apan si, dateng dateng marah marah. kemari kamu!" Revan meminta Kiara duduk dikasurnya.
"Kenapa kak?" Kiara duduk dikasur Revan.
"Kiara, aku senang kamu baik baik saja." Revan mengelus elus rambut Kiara.
"Kak Revan, aku ini bukan kucing" Kiara segera menepis tangan Revan.
"Memangnya cuma kucing yang boleh dielus elus" Revan tersenyum tipis.
"Kak Revan, aku mau pulang." ucap Kiara.
"Sekarang?" Tanya Revan.
"Iya."
"Ya, sudah kalau begitu kita pulang sekarang."
"Tidak, tidak bisa! Kak Revan tidak boleh pulang." Kiara melarang Revan pulang.
"Kenapa?"
"Kak Revan, belum sembuh."
"Kiara, ini cuma luka kecil, bisa dirawat dirumah."
"Pokoknya aku tidak mau mengajak kakak pulang, kalau kakak mau pulang, pulang saja sendiri." Kiara lalu menarik tangan Sarah.
"Kak Sarah, ayo kita pulang!" ucap Kiara.
"Alikha, tolong kamu rawat kakakku, kalau sudah sembuh kabari aku." Kiara kemudian berlari kecil meninggalkan Revan dan Alikha.
"Mereka sudah pergi, mereka meninggalkan aku sendiri. Alikha, apa kamu juga akan pergi?" Tanya Revan dengan wajah memelas.
"Iya."
"Kalau begitu, aku juga akan pergi." ucap Revan.
"Revan, tapi luka kamu belum sembuh, kamu seharusnya menginap disini."
"Aku pulang saja, biar mamaku yang merawatku sampai aku sembuh." Revan turun dari tempat tidur.
"Aaww.." Revan kembali meringis kesakitan.
"Revan, sudah aku bilang kamu harus menginap disini."
"Sudahlah, jangan perdulikan aku. tolong pesankan saja taksi online, aku mau kebandara." Pinta Revan
"Tidak, kamu harus dirawat" Alikha menolak.
"Kalau kamu tidak mau, aku bisa pesan sendiri." Revan menahan rasa sakitnya.
"Revan!" Alikha kesal.
"Aku akan menginap disini tapi dengan syarat kamu yang merawat aku." Revan tersenyum.
__ADS_1
"Baiklah."
Dengan terpaksa Alikha menuruti keinginan Revan.