Rahasia Cinta

Rahasia Cinta
Pertengkaran


__ADS_3

Setelah bicara dengan kiara, Revan kembali masuk kedalam gedung. disana ia melihat Ibu Arumi sedang menggendong seorang bayi laki laki


"Mama, anak siapa ini?" Revan mendekati ibunya.


"Ini cucu mama." Ibu Arumi sangat senang.


"Cucu mama, itu berarti dia anakku."


"Memangnya, anak siapa lagi?"


"Mama, boleh aku menggendongnya." Revan bahagia melihat anaknya yang lucu dan menggemaskan.


"Tidak boleh." Ibu arumi menolak.


"Revan, mama kamu baru menggendongnya jadi biarkan mama kamu senang dulu." Sambung Pak Aditya.


"Tapi pa, aku juga mau gendong anakku." ucap Revan memelas.


"ini" Ibu Arumi memberikan cucu yang ia gendong pada Revan.


"Ya, ampun nak, akhirnya aku bertemu denganmu." Revan hamir menangis karena bahagia.


"Revan, maaf aku baru membawanya sekarang." Alikha merasa tidak enak.


"Tidak apa apa, yang penting sekarang aku sudah bertemu dengan anak kita. ngomong ngomong siapa nama anak kita?" Revan mencium kening anaknya.


"Alvan" Alikha memberi tahu Revan.


"Alvan?"


"Iya Alvan singkatan dari Alikha dan Revan.


Revan merasa terharu mendengar ucapan Alikha. Revan tidak menyangka meskipun ia tidak ada dimasa masa sulit Alikha, tapi Alikha tetap mengingatnya.


Ketika Alikha mengetahui dirinya hamil, itu adalah masa sulit baginya. bagaimana Ia merasakan mual, ngidam dan bagaimana sakitnya saat ia melahirkan.


"Alikha maafkan aku." Revan merasa bersalah dan menyesal dan untuk kesekian kalinya Revan meminta maaf pada Alikha.


"Sudah, sudah! jangan ada yang bersedih lagi, hari ini adalah hari bahagia. kenapa kalian sedih." Kiara yang baru saja masuk langsung mendekati Revan.


Beberapa saat kemudian,


Tamu tamu sudah mulai pulang dan tempat itu sudah mulai sepi.


"Karena kebetulan semua sedang berkumpul, sekalian saja aku berpamitan."


Ucapan Kiara membuat keluarga Kiara menoleh kearah Kiara. Zeedan, Tasya dan Alikha juga melihat kearah Kiara.


"Besok aku akan pergi keluar negeri, jadi hari ini adalah hari terakhirku disini." Sambung Kiara.


"Kiara, apa maksudmu?" Ibu Arumi bertanya pada Kiara.


"Ma.. aku sudah memutuskan aku ingin meneruskan kuliahku diluar negeri." Kiara merangkul Ibu Arumi.


"Tidak, papa tidak setuju. jika tinggal sendiri diluar negeri kamu pasti akan jadi nakal karena tidak ada yang mengawasimu." Pak Aditya melarang dengan tegas.


"Papa kamu benar, disana nanti kamu akan pergi berpesta sesuka hati kamu. mama juga tidak setuju." Ibu Arumi sependapat dengan pak Aditya.


"Mama sama papa tenang saja, aku tidak akan nakal. diluar negeri aku akan tinggal bersama .kakek dan nenek." Kiara menjelaskan.


"Kamu mau tinggal dirumah kakek dan nenek." Tanya Sarah.


"Iya kak." Balas Kiara.

__ADS_1


"Kiara, kenapa mendadak?" Sarah terlihat sedih.


Ibu Arumi dan Pak Aditya juga keliatan sedih, bahkan Tasya berusaha menahan air matanya.


Kiara bukan adiku. tapi kenapa aku merasa sedih jika dia pergi. Batin Tasya.


Setelah acara pernikahan selesai mereka kembali kerumah masing masing, Revan mengajak Alikha dan anaknya ke apartemennya. Sarah pulang bersama david dan Celina sedangkan bu Arumi pulang bersama pak Aditya.


Kiara tidak pulang bersama Pak Aditya dan ibu Arumi karena ia membawa mobil sendiri.


"Mereka semua pulang bersama keluarganya. hanya aku, hanya aku yang sendiri" Kiara kembali bersedih.


"Kiara!" panggil Tasya ketika ia melihat Kiara yang ingin membuka pintu mobilnya.


"Kak Tasya, ada apa?" Kiara tidak tahu kenapa Tasya seperti terburu buru menghampirinya.


"Kiara, maaf!" Tasya memeluk Kiara.


"Maaf? untuk apa?" Tanya Kiara saat Tasya melepaskan pelukannya.


"Maaf karena aku menikah dengan Zeedan." Tasya merasa bersalah.


"Kak Tasya tidak perlu minta maaf, Zeedan itu jodoh kak Tasya bukan jodohku." Kiara terlihat tenang.


"Kiara, aku tahu perasaan kamu dengan Zeedan. seharusnya aku membantumu supaya bisa bersama Zeedan tapi aku malah.. " Tasya seperti ingin menangis ia tidak melanjutkan kata katanya.


"Kak Tasya, aku pernah berharap Kak Revan menikah dengan mu tapi akhirnya Kak Revan malah menikah dengan Alikha. aku juga pernah berharap Zeedan bisa menikahiku tapi akhirnya Zeedan malah menikahimu." Mata Kiara berkaca kaca.


"Kiara, apa kamu pergi karena Zeedan?"


"Iya."


"Kiara, jangan pergi!" pinta Tasya.


"Jadi aku harus disini melihat kemesraan kamu dan Zeedan."


"Apa kamu gila? kamu baru saja menikah tapi sudah ingin berpisah.


"Kiara, demi kamu aku rela."


"Terlambat, seharusnya tadi kak Tasya menolak menikah dengan Zeedan."


"Aku memang ingin menikah dengan Zeedan,aku juga bahagia menikah dengan Zeedan tapi saat melihatmu aku merasa bersalah. Kiara, kalau kamu pergi aku akan kehilangan teman baikku. kita mungkin tidak menjadi saudara ipar, tapi apa tidak bisa kita menjadi teman?" Tasya bicara panjang lebar.


"Kak, kamu tidak perlu memperdulikan aku. sekarang sudah Alikha, dia yang akan menggantikan aku. jadi biarpun aku pergi kamu tidak akan merasa kesepian, lagi pula ada Zeedan suami yang selalu ada disisimu." Hati Kiara seakan tertusuk ketika mengucapkan nama Zeedan.


"Kiara, maafkan aku. aku mohon jangan pergi!" Tasya kembali memeluk Kiara.


"Maaf ka, ini sudah jadi keputusanku. tidak ada yang bisa merubah."


"Tapi, kamu mau memaafkan ku?"


"Kakak tidak salah, jadi tidak perlu minta maaf."


Ketika Tasya dan Kiara masih bicara, Zeedan datang.Tasya sudah terlalu lama pergi sehingga Zeedan mencari cari keberadaan Tasya.


"Ini sudah sore, aku pulang dulu." Kiara berpamitan.


"Kenapa buru buru?"


"Mama dan papaku sudah menungguku, lagi pula suami kakak sedang mencari kakak." Kiara melihat Zeedan datang.


Setiap kali Kiara menyebutkan Kata suami, entah mengapa Tasya merasa tidak enak ia merasa kiara sedang menyindirnya.

__ADS_1


"Sa.." Zeedan ingin memanggil Tasya sayang, tapi karena ada Kiara ia tidak jadi mengucapkannya.


"Kiara berjalan melewati Zeedan, ia tidak menyapa Zeedan.


"Kiara!" Panggil Tasya.


"Apa?" Kiara menoleh.


"kapan kamu berangkat keluar negeri?" Tanya Tasya.


"Besok pagi, jam sepuluh." Kiara lalu meninggalkan Tasya dan Zeedan.


"Ayo kita pulang." Tasya merasa lelah.


"Pulang? kemana?"


"Aku pulang kerumah kamu, kamu pulang kerumah kamu. kenapa kamu bertanya?" Tasya merasa aneh dengan pertanyaan Zeedan.


"Kita kerumah kamu dulu untuk mengambil baju baju kamu, setelah itu baru kita pergi kerumah aku."


"Kita? mengambil baju? maksud kamu, aku juga ikut kerumah kamu?" Tasya bingung.


"Bukan ikut, tapi kamu akan tinggal dirumahku."


"Kenapa aku harus tinggal dirumahmu? aku tidak mau."


"Jadi, kamu maunya aku yang tinggal dirumahmu?"


"Zeedan, apa apaan kamu ini? kenapa kamu ingin tinggal dirumahku. kamu kan punya rumah sendiri.


"Kamu ingin kita tinggal terpisah?"


"Iya, lagi pula.. kenapa kita harus tinggal bersama."


"Tasya! kamu itu istriku, Jadi sudah seharusnya kamu tinggal bersamaku." Zeedan mulai kesal.


"Istri?"


Ya ampun, kenapa aku bisa lupa? aku dan Zeedan sudah menikah, aku sekarang istrinya Zeedan. Batin Tasya.


"Kenapa? kamu lupa?" Zeedan menghentikan mobilnya.


"Iya."


"Tasya!" Zeedan marah ia meninggikan suaranya.


"Zeedan, kamu membentakku."


Tasya menangis ia ingin keluar dari mobil Zeedan.


"Kamu mau kemana?" Zeedan menghalangi Tasya.


"Tasya, pernikahan itu suatu yang penting. wajar jika aku marah karena kamu melupakannya." Zeedan mencoba memberi pengertian pada Tasya.


"Wajar juga aku lupa, pernikahan kita mendadak dan ini tidak sesuai keinginanku." Balas Tasya.


"Memangnya pernikahan seperti apa yang kamu inginkan? Apa kamu ingin resepsi yang mewah?" nada suara Zeedan terdengar sinis.


"Jadi menurut kamu, aku orang yang seperti itu? Zeedan, bukan resepsi yang mewah yang mau. aku cuma mau pernikahanku seperti pernikahan pada umumnya. Aku ingin memakai baju pengantin meskipun baju pengantin yang sederhana, Aku juga ingin berdandan seperti pengantin pengantin lain." Tasya berlinang air mata.


"Oh, lalu kenapa tadi kamu mau menikah. seharusnya kamu menolak."


Dengan mudahnya Zeedan mengucapkan kata kata itu, ia seolah tidak menyadari kata katanya membuat Tasya sakit hati.

__ADS_1


"Zeedan bukan begitu, intinya aku lupa pernikahan kita karena pernikahan kita tidak wajar." Tasya membuka pintu mobil, ia kemudian berlari meninggalkan Zeedan.


Kenapa begini? belum satu hari aku menikah dengan Zeedan tapi kita sudah bertengkar.Tasya menangis.


__ADS_2