Rahasia Cinta

Rahasia Cinta
Salah paham


__ADS_3

Zeedan berjalan masuk kedalam rumah sakit, ia ingin mencari Alikha. Zeedan terlihat sangat kesal.


"Dasar perempuan aneh. dia yang berhianat, dia yang hamil, dia juga yang marah." Zeedan merasa geram.


Zeedan ingin menelphone Alikha. ia ingin bertanya, dikamar mana Alikha dirawat? tetapi ia tidak jadi melakukannya karena ia melihat Alikha sedang berjalan bersama Revan dan keluarganya.


Alikha kelihatan baik baik saja, jadi siapa yang sakit? Batin Zeedan.


Zeedan segera berjalan keluar dari rumah sakit, ia tidak ingin bertemu Revan dan keluarganya. entah mengapa, setelah ia mengatakan Tasya hamil ia merasa malas bertemu Revan dan keluarganya.


Saat sampai diluar rumah sakit, Zeedan melihat Tasya sedang diduduk ditaman rumah sakit.


"Tasya, kamu masih disini?" Zeedan mendekati Tasya.


Tasya tidak menjawab ia hanya menoleh sebentar kemudian ia memalingkan wajahnya.


"Tasya, aku sedang bicara denganmu.apa kamu tidak dengar?" Zeedan kesal.


"Aku dengar."


"lalu, kenapa kamu tidak menjawab?"


"Apa aku harus menjawab pertanyaanmu? lagi pula apa perdulimu?"


"Tasya kamu itu istriku tentu saja aku per.."


"Revan!" Tasya memotong kata kata Zeedan


Zeedan kelihatan tidak suka melihat kedatangan Revan. ia sangat marah karena Tasya mengabaikannya, bahkan dengan santai dan tanpa merasa berdosa Tasya menghampiri Revan.


Keluarga Revan dan Alikha memandang Tasya dengan tatapan sinis, mereka menganggap Tasya bukan perempuan baik baik.


"Tasya, kamu menungguku? Revan merasa heran.


"Iya, aku mau mengambil tasku yang ada dibagasi mobilmu." Jawab Tasya.


"Ya ampun, Tasya maaf ya. aku lupa. ya sudah ayo ikut aku." Revan tersenyum. Revan sengaja membuat Zeedan cemburu, ia juga sedang tidak ingin memikirkan perasaan Alikha.


Zeedan, Alikha dan juga keluarga Revan hanya bisa melongo melihat kelakuan Revan dan Tasya. dengan santainya mereka berdua berjalan menuju mobil Revan.


Sebelum pergi Tasya sempat menoleh kearah Zeedan, kebetulan Zeedan juga sedang menatapnya. Tasya buru buru membuang mukanya, tatapan matanya pada Zeedan seakan akan sedang meledek Zeedan.


"Pak Aditya, bapak lihat sendiri kan? bahkan didepanku. Revan berani bersikap manis pada istriku." Zeedan menahan amarahnya.

__ADS_1


"Istrimu saja yang genit, kamu tidak dengar dia yang menunggu Revan." Ucap Sarah ketus.


"Kamu membela adikmu, jelas jelas dia yang salah." Balas Zeedan.


"Bukan cuma Revan yang salah, tapi kak Tasya juga salah." Alikha terlihat sangat sedih.


"Kamu benar Alikha, mereka berdua sama sama salah." Ibu Arumi menepuk nepuk pundak Alikha ia merasa bersalah karena anaknya Revan sudah menghianati Alikha.


Sementara itu Tasya dan Revan sudah sampai ditempat dimana Revan memarkirkan mobilnya, Revan membuka bagasi mobilnya kemudian ia mengambil tas Tasya.


"Ini Tasnya. Maaf, karena kemarin aku mau kerja jadi aku buru buru pergi." Revan memberikan tas ia pegang pada Tasya.


"Tidak perlu minta maaf, seharusnya aku yang berterima kasih sama kamu. oiya Revan, kenapa tadi kamu meninggalkan Alikha? nanti dia salah paham lagi."


"Biarkan saja. aku sudah berusaha menjelaskan padanya tapi dia masih tetap tidak percaya padaku, dia masih tetap marah padaku. jadi, biarkan saja dia salah paham." Revan kecewa pada Alikha.


"Revan dia istri kamu, seharusnya dia percaya padamu." ucapan Tasya membuat Revan tersentuh.


"Zeedan suami kamu, dia juga seharusnya percaya padamu."


Revan membalikan kata kata Tasya dan itu membuat hati Tasya sakit.


"Iya kamu benar, kenapa mereka tidak percaya pada kita." Mata Tasya berkaca kaca.


Karena merasa kasihan dan karena merasa senasib, Revan mencoba menghibur Tasya.Tasya tidak dapat menahan air matanya dan itu membuat Revan tergerak untuk memeluk Tasya.


"Revan!" Zeedan tiba tiba datang, ia menarik Revan hingga pelukan Revan terlepas.


"Berani, beraninya kau menyentuh istriku." Suara Zeedan sedikit gemetar, ia tidak terima ada orang lain yang menyentuh istrinya.


"Aku bukan cuma menyentuh, tapi aku juga sudah menghamili istrimu." Suara Revan terdengar seperti mengejek.


"Revan!" Suara pak Aditya membuat Revan dan Zeedan menoleh.


Pak Aditya ingin memukul Revan tapi ibu Arumi menghalanginya, ia memegang lengan pak aditya. ibu Arumi menggelengkan sedikit kepalanya, ia memberi isyarat agar pak Aditya tidak memukul Revan. Karena Ibu Arumi baru saja keluar dari rumah sakit, pak Aditya akhirnya menuruti Ibu Arumi.


"Tasya, datanglah kerumah sekarang. saya mau bicara dan kamu Revan, kamu juga pulang mama juga ingin bicara denganmu." Setelah mengatakan itu Ibu Arumi pergi bersama Pak aditya dan Sarah.


"Alikha, ayo kita pulang." Ajak Revan.


"Aku tidak mau pulang." Alikha menangis tanpa suara.


"Kalau kamu mau pulang, pulang saja sama Tasya! bukankah mama ingin bicara dengan kalian." Alikha masih menangis.

__ADS_1


Alikha sakit hati karena Revan mengaku bahwa anak yang dikandung Tasya adalah anaknya.


"Kak Zeedan, boleh aku pulang kerumah kakak? kalau tidak boleh aku akan kerumah kakek." Pinta Alikha dengan wajah memelas.


"Alikha, rumahku rumahmu juga. kamu boleh datang kapan saja." Zeedan memeluk Alikha.


"Tasya, ayo kita pergi? buat apa kita menonton drama kakak dan adik." Revan kesal dengan penolakan Alikha.


"Iya sayang, kita pergi saja. aku juga malas berlama lama disini." Tasya melingkarkan tangannya dilengan Zeedan


Deg...


Jantung Zeedan berdetak lebih kencang, tubuhnya kembali gemetar. ia sangat cemburu mendengar Tasya memanggil Revan dengan sayang, ia juga cemburu melihat Tasya bemanja manja dengan laki laki lain.


"Revan, kau urus Alikha Aku ingin bicara dengan Istriku." Zeedan menarik tangan Tasya dengan kasar.


"Kakak ipar, kau jangan kasar." Revan tidak senang melihat sikap Kasar Zeedan pada Tasya.


"Dia istriku, terserah aku." Mata Zeedan merah. ia seperti ingin mengeluarkan bara api cemburu yang ada didalam hatinya, Zeedan benar benar marah.


"Revan, aku ingin bicara dengan Zeedan." Tidak ingin memperkeruh suasana Tasya memilih menuruti keinginan Zeedan.


Mendengar ucapan Tasya, Zeedan tersenyum sinis. ia kemudian kembali menarik tangan Tasya agar Tasya mengikuti langkah kakinya.


Zedaan mendorong tubuh Tasya kedalam mobilnya, Setelah keduanya berada didalam mobil Zeedan melajukan mobilnya dengan cepat.


Zeedan terus melajukan mobilnya.Tasya tidak tahu, Zeedan mau membawanya kemana. karena lelah Tasya akhirnya tertidur pulas.


Beberapa jam kemudian


Zeedan menghentikan mobilnya disebuah villa yang indah, disana banyak bunga bunga bermekaran. pohon pohon disana terlihat hijau dan terawat,


Dengan perlahan lahan Zeedan melepaskan sabuk pengaman yang Tasya pakai, Zeedan tidak ingin Tasya terbangun.


"Seharusnya aku marah pada perempuan penghianat ini, tapi kenapa aku malah kasihan padanya." Zeedan mengeluh.


Zeedan menggedong Tasya masuk kedalam villa, kemudian ia membaringkan tubuh Tasya diatas ranjang.


Ketika itu langit gelap, tapi bintang bintang dan bulan memberikan cahayanya sebagai penerang. Menyetir beberapa jam membuat Zeedan merasa kelelahan.


Zeedan membaringkan tubuhnya disamping Tasya, ia menengok kesamping dimana Tasya sedang tidur terlentang. Tasya tiba menggerak gerakan tubuhnya, ia seperti sedang kedinginan.


Udara divilla itu memang cukup dingin, tanpa pikir panjang Zeedan langsung memeluk Tasya. beberapa saat kemudian mereka sama sama terbang kealam mimpi.

__ADS_1


__ADS_2