
Tasya terbangun dari tidurnya, ia merasa tubuhnya pegal pegal dan sakit. Tasya menengadahkan kepalanya karena ia merasakan hembusan nafas seseorang.
Tasya sedikit terkejut melihat Zeedan, ia baru sadar ia tidur didada Zeedan, bukan hanya itu Tasya juga memeluk pinggang Zeedan bahkan Tasya menaikan satu kakinya diatas paha Zeedan.Tasya lalu teringat malam panjang yang mereka lalui.
"Akhirnya aku sudah melakukan kewajibanku sebagai seorang istri." Tasya tersenyum bahagia.
Tasya kembali menengadahkan kepalanya agar dia bisa melihat wajah Zeedan dengan jelas, awalnya ia ingin segera bangun dari tempat tidur tapi melihat wajah Zeedan yang tampan Tasya mengurungkan niatnya. Tasya tergoda untuk bermain main dengan wajah Zeedan.
Tasya meletakan satu jari telunjuknya diatas dahi Zeedan, kemudian ia menurunkan jarinya berlahan lahan. Jari terlunjuk Tasya berhenti tepat disalah satu mata Zeedan.
"Mata ini tidak boleh melihat orang lain selain melihat diriku."
Tasya menurunkan kembali jari telunjuknya, jari itu kemudian sampai dihidung Zeedan.
"Hidung ini, tidak boleh ada yang memegangnya selain aku."
Terakhir jari Tasya berhenti bergerak saat menyentuh bibir Zeedan.
Wajah Tasya tiba tiba memerah, jantungnya berdetak lebih cepat, ia juga merasa malu karena ia menyentuh bibir Zeedan. bibir itu terasa lembut dijarinya.
"Apa yang aku lakukan?" Tasya menarik jari telunjuknya dari bibir Zeedan.
Tasya segera bangun dari tidurnya tapi saat ia ingin turun dari tempat tidurnya, Zeedan menarik tangannya hingga tubuh Tasya jatuh diatas tubuh Zeedan.
"Zeedan, kamu sudah bangun?" Tasya tersipu malu.
Zeedan tetap memejamkan matanya, ia tidak menjawab. namun saat Tasya ingin melepaskan pelukan Zeedan, Zeedan justru mempererat pelukannya.
"Zeedan, aku mau bangun." Ucap Tasya.
"Nanti saja. kita kan belum lama tidur." Zeedan bicara tapi matanya masih terpejam.
"Tapi aku harus kerja." Ucap Tasya.
"Bukankah semalam kamu sudah bekerja keras, jadi hari ini libur dulu."
Kerja keras? apa maksudnya? Tasya tidak mengerti apa maksud Zeedan.
Tasya membayangkan saat semalam ia melayani Zeedan, meskipun lelah tapi Tasya tidak ingin mengecewakan suaminya.Tasya berpikir mungkin itu, yang dimaksud Zeedan dengan kerja kerja.
"Dasar mesum" Tasya memukul dada Zeedan.
"Maksudku kerja diperusahaan Revan" sambung Tasya.
Mendengar nama Revan, Zeedan menjadi emosi. ia melepaskan pelukannya Pada Tasya kemudian ia bangun dari tidurnya. Zeedan duduk diatas ditempat tidur, ia memandang Tasya dengan kesal.
"Jadi kamu masih mau bekerja diperusahaan Revan?" Raut wajah Zeedan terlihat marah.
"Iya." Tasya mengangguk.
"Mulai hari ini, kamu tidak usah bekerja diperusahaan Revan lagi!" Perintah Zeedan.
"Kenapa?" Tasya manyun.
"Karena aku akan memberikan pekerjaan untukmu."
Tasya sangat senang Zeedan mau memberinya pekerjaan, ia membayangkan jika ia bekerja diperusahaan yang besar dan lumayan terkenal.
"Pekerjaan apa yang mau kamu berikan untukku?" Tasya mengira Zeedan akan memberinya posisi yang penting diperusahaan.
"Pekerjaanmu hanya satu, yaitu melayani aku setiap hari." Zeedan tertawa.
"Apa!" Tasya hampir sesak nafas mendengar perkataan Zeedan.
"Semalam saja aku sudah kelelahan, aku tidak sanggup jika harus melayanimu setiap hari. bagaimana kalau seminggu sekali atau tiga hari sekali?" Tasya memberi penawaran.
"Bodoh, aku bisa mati kalau tiga hari sekali." Zeedan mencubit hidung Tasya.
"Benarkah? Kamu akan mati jika tidak menyentuhku?" Tasya merasa Zeedan bohong.
"Sebenarnya apa yang kamu bicarakan? Kenapa kamu bertanya tentang sentuh menyentuh?" Tanya Zeedan dengan wajah bodoh.
__ADS_1
"Zeedan, kamu ingin aku melayanimu setiap hari. maksudmu, seperti yang kita lakukan tadi malam?"
Zeedan tertawa mendengar kata kata Tasya.
"Kamu pikir melayani itu hanya ditempat tidur?" Zeedan geregetan.
"Lalu dimana lagi."
"Dengar, istriku yang pintar. yang aku maksud melayani itu, kamu harus mengurus semua keperluanku. saat aku selesai mandi kamu siapkan baju ganti untukku, saat aku haus kamu buatkan minum untukku, saat aku lapar kamu masak untukku dan..."
"Saat kamu ingin tidur, aku harus meceritakan dongeng untukmu." Tasya memotong kata kata Zeedan.
"Bukan begitu maksudku" Zeedan kembali tertawa.
"Sudah sudah, aku mau minum dulu. malas meladenimu." Tasya bergegas pergi kedapur.
Selesai minum Tasya mencari cari Zeedan tapi Zeedan tidak ada didalam rumah. Tasya lalu mencari Zeedan keluar rumah, ternyata Zeedan sedang duduk dibangku teras.
"Zeedan, sedang apa kamu disini?" Tasya duduk disamping Zeedan.
"Aku baru saja menerima telphone dari Alikha." Zeedan meletakan ponselnya diatas meja.
"Celina anaknya Sarah ulang tahun dan Alikha minta kita datang, tapi aku tidak mau." Cerita Zeedan.
"Kenapa kamu tidak mau datang?"
"Memangnya aku harus datang?" Entah mengapa Zeedan enggan bertemu dengan keluarga Revan, ia merasa tidak enak.
"Zeedan, Sarah sekarang sudah menjadi saudara ipar kamu. jadi sebaiknya kita datang."
"Kamu mau datang?" Tanya Zeedan.
"Iya" Tasya menegaskan.
"Baiklah aku akan datang sekalian aku mau minta maaf pada keluarga Revan."
"Minta maaf?" Tasya bertanya tanya.
"Sayang, itu sudah berlalu. jangan dipikirkan lagi, bagaimana kalau sekarang kamu antar aku pergi keMall?" Tasya melingkarkan tangannya dilengan Zeedan sementara kepalanya ia sandarkan dibahu Zeedan.
"Kamu mau belanja apa?"
"Aku mau membeli kado buat Celina."
"Ya sudah kamu siap siap, kita pergi sekarang."
"Baiklah." Tasya senang Zeedan mau mengantarnya.
Tasya berdiri, ia ingin mandi kemudian bersiap siap untuk pergi.
"Kamu mau kemana?"
"Mandi." Tasya berjalan meinggalkan Zeedan.
"Tunggu! aku ikut!" Zeedan tersenyum.
"Dasar suami mesum"
Zeedan tidak perduli dengan omelan Tasya, ia tetap mengikuti langkah kaki Tasya dari belakang.
Sementara itu dirumah keluarga Revan,
Kiara berjalan keruang keluarga, disana ia melihat Alikha habis menutup telphone dari seseorang.
"Kamu telphone siapa?" Kiara duduk sambil mengambil gelas air yang ada dihadapannya.
"Telphone kakakku Zeedan."
Kiara terbatuk batuk saat Alikha menyebutkan nama Zeedan, untunglah Kiara sudah menelan air yang ia minum hingga meskipun terbatuk batuk Kiara tidak mengeluarkan air dari mulutnya.
"Pelan pelan." Alikha mengelus elus sambil sesekali menepuk nepuk punggung Kiara.
__ADS_1
"Kiara, tadi aku minta kak Zeedan datang ke acara ulang tahun Celina. aku tahu, mungkin kamu tidak suka kakakku datang. aku akan menelphone Kak Zeedan lagi dan bilang pada kak Zeedan, dia tidak perlu datang." Alikha mengira Kiara membenci Zeedan karena Zeedan pernah membalas dendam pada keluarganya.
"Jangan!" Kiara melarang Alikha.
"Tidak apa apa, kalau Zeedan mau datang keacara ulang tahun Celina. ngomong ngomong kemana mama dan papa? aku tidak melihatnya." Kiara mengalihkan pembicaraan.
"Mama dan papa pergi membeli kado untuk Celina, Revan ikut bersama mama dan papa." Alikha memberi tahu Kiara.
"Kenapa mereka tidak mengajakku?" Kiara berdiri ia ingin pergi meninggalkan Alikha
"Kiara, kamu mau kemana?"
"Aku mau menyusul mama dan papa aku juga mau membeli kado untuk Celina." Jawab Kiara.
"Alikha maaf, aku pergi dulu ya. kamu tidak apa apa kan dirumah sendiri?" Ucap Kiara.
"Aku tidak sendiri, bukankah ada banyak orang bekerja dirumah ini? lagi pula aku harus menjaga anakku." Alikha tersenyum.
"Ya sudah, kalau begitu aku pergi sekarang!" Kiara segera pergi meninggalkan Alikha.
Didalam mobil Kiara menelphone Revan dan bertanya ia ada dimana. setelah Revan memberi tahu dimana ia berbelanja, barulah Kiara pergi dan menjalankan mobilnya.
Sampai diMall kiara berjalan tergesa gesa menuju eskalator, Revan baru saja memberi pesan pada Kiara. Revan memberi tahu kalau saat itu ia berada dilantai dua tepatnya ditoko mainan anak anak.
Brug...
Karena berjalan tergesa gesa, Kiara tanpa sengaja menabrak seseorang.
"Maaf, aku tidak sengaja." Kiara tidak melihat kearah orang yang ia tabrak karena ia fokus mengambil Tasnya yang jatuh, Kiara juga mengambil barang barang yang sebagian jatuh dari dalam tasnya.
"Kamu tidak apa apa?" orang yang Kiara tabrak mengambilkan dompet Kiara yang jatuh lalu memberikannya pada Kiara.
"Terima kasih." Kiara mengambil dompetnya. Kiara diam terpaku tubuhnya seperti tidak bisa digerakan, dunia seakan berhenti berputar saat ia melihat orang yang ia tabrak ternyata adalah Zeedan.
"Zeedan." Tangan Kiara gemetar, tanpa sengaja ia menjatuhkan kembali dompet yang diberikan Zeedan.
Dompet Kiara adalah dompet segi empat yang bisa lipat menjadi dua, saat Pertama kali terjatuh dompet itu masih terlipat tapi saat dompet itu jatuh untuk yang kedua kalinya lipatan dompet itu menjadi terbuka.
Zeedan mengambil kembali dompet itu, ia ingin mengembalikan dompet itu pada Kiara. Zeedan terkejut ketika ia melihat fotonya ada didalam dompet Kiara.
Kiara cepat cepat merebut dompet yang dipegang Zeedan, ia lalu memasukan dompet itu kedalam tasnya.
"Maaf, aku sedang buru buru. permisi!" Kiara membalikan badannya, ia ingin segera pergi dari tempat itu.
Kiara belum sempat melangkahkan kakinya, ketika tiba tiba Tasya datang, Kiara menarik nafas dalam dalam ia mencoba mengatur kembali nafasnya yang tadi sempat tidak beraturan karena Zeedan.
"Kiara, kamu juga ada disini?" Tasya menghampiri Kiara dan Zeedan.
"Iya, aku mau beli kado buat Celina." Kiara serba salah, ia merasa tidak enak setelah Zeedan melihat fotonya didalam dompet.
"Kamu sendirian?" Sebenarnya pertanyaan Tasya adalah pertanyaan biasa, tapi karena Kiara cemburu melihat kebersamaan Tasya dan Zeedan, Kiara menjadi tersinggung mendengar pertanyaan Tasya.
"Aku bersama mama dan papaku, kak Revan juga ikut. Aku pergi dulu, mereka pasti mencariku." Kiara berjalan meninggalkan Zeedan dan Tasya.
Zeedan menatap Kiara hingga tubuh kiara menghilang dari pandangan matanya.
Kiara sedalam itukah cintamu? sampai kamu menyimpan fotoku didalam didompetmu. Hati Zeedan merasa tersentuh.
"Sayang, kamu kenapa?" Melihat Zeedan melamun Tasya menjadi kesal, Karena Kiara sudah pergi Tasya tidak menyadari kalau Zeedan sedari tadi sedang memperhatikan Kiara.
"Tidak apa apa sayang, kamu sudah selesaikan ketoiletnya?"
"Sudah."
"Kalau begitu kita pulang sekarang." Zeedan mengajak Tasya pulang.
"Tapi aku masih mau belanja"
"Sayang aku pusing, kita pulang dulu ya? kita juga sudah beli hadiah buat Celina, belanjanya besok saja." Zeedan ingin menghindari Kiara karena itu ia ingin segera pulang.
Tasya dan Zeedan lalu pergi meninggalkan Mall itu.
__ADS_1