
Tasya merasa kecewa karena Zeedan membohonginya.
"Tasya, kenapa kamu diam saja? Kamu masih marah?" Zeedan melirik Tasya.
Tasya malas menjawab Zeedan ia sudah terlanjur kesal.
"Oke.. aku jujur sama kamu. tadi itu, aku memang bicara sama Kiara. terus kenapa? apa aku tidak boleh bicara dengan adik iparku?" Zeedan menegaskan kata adik ipar.
"Kiara bukan cuma adik ipar kamu, dia itu mantan pacar kamu dan dia.."
"Dia apa?" Zeedan memotong kata kata Tasya.
"Dia masih mencintai kamu."
Zeedan tertawa mendengar ucapanTasya.
"Kenapa ketawa? ada yang lucu?" Tasya cemberut.
"Iya, kamu yang lucu. kamu itu halu, kamu pikir sehebat apa diriku sampai Kiara masih memiliki perasaan untukku. aku ini sudah menikah.Tasya, diluar sana masih banyak laki laki single. untuk apa Kiara mencintai laki laki beristri?" Zeedan mencoba meyakinkan Tasya.
"Kamu benar, tapi cinta itu buta." Tasya ragu dengan ucapan Zeedan.
"Terserah kamu, yang jelas aku dan Kiara tidak ada hubungan apa apa! sekalipun kami dekat, itu hanya sebatas saudara ipar."
Tasya merasa lega setelah mendengar kata kata Zeedan.
Zeedan mengajak Tasya kembali kerumahnya, sesampainya disana ia melihat Alikha yang sedang menonton tv.
"Alikha kamu belum tidur?" Zeedan duduk disebelah Alikha.
"Aku belum ngantuk." Alikha senang melihat Zeedan sudah pulang tapi raut wajahnya berubah saat ia melihat Tasya masuk.
"Tasya, masuklah! kenapa berdiri disitu?" Perintah Zeedan.
Tasya kemudian duduk didepan Zeedan dan Alikha.
"Kak Zeedan, untuk apa kakak mengajaknya kesini?" Alikha memandang Tasya dengan tatapan benci.
"Alikha jangan bicara seperti itu pada kakak iparmu." Zeedan menasehati Alikha.
"Kakak, apa kamu tidak perduli? dia itu sedang hamil anak Revan suami aku. seharusnya kita membenci dia." omel Alikha.
"AIikha, kakak ingin memberi tahu sesuatu padamu. Tasya tidak hamil. semua ini salahku, akulah yang sudah salah paham padanya." Zeedan menceritakan yang sebenarnya.
"Benarkah?" Alikha seakan tidak percaya dengan ucapan Zeedan.
"Iya Alikha." Zeedan meyakinkan Alikha.
Untuk sesaat Alikha terdiam ia menarik nafasnya dalam dalam.
"Kak bagaimana ini? Aku sudah menuduh Revan macam macam, aku bahkan pergi dari rumahnya. seharusya aku percaya padanya" Alikha merasa bersalah dan menyesal.
"Ini semua gara gara kakak! seharusnya sebelum menuduh orang kakak cari tahu dulu kebenarannya." Alikha seperti ingin menangis ia pergi meninggalkan Zeedan begitu saja.
Zeedan ingin mengejar Alikha tapi Tasya menghalanginya.
__ADS_1
"Biar aku saja yang bicara dengan Alikha." Tasya kemudian pergi menyusul Alikha.
Tasya melihat Alikha sedang duduk dikursi teras rumah, Tasya menghampiri Alika kemudian ia duduk disamping Alikha.
"Kak Tasya, maafkan aku ka." Alikha meminta maaf ia merasa tidak enak hati
"Tidak apa apa Alikha, kamu tidak perlu minta maaf."
"Tapi kak, aku sudah menuduhmu hamil dan..."
"Alikha kamu mengira aku hamil karena Zeedan yang memberitahu kamu, jadi kamu jangan merasa bersalah." Tasya tidak ingin Alikha semakin merasa bersalah.
"Seharusnya aku percaya padamu, apa Revan akan memaafkanku?" Alikha khawatir Revan tidak memaafkannya.
"Kalau aku bisa memaafkan Zeedan, Revan juga pasti bisa memaafkanmu."
"Kak Tasya, kamu benar benar baik, Kak Zeedan beruntung mempunyai istri sepertimu." Alikha memeluk Tasya.
"Ya sudah ka, aku pergi dulu." Tasya bepamitan.
"Mau Kemana?"
"Aku mau mencari Revan, aku mau minta maaf."Jawab Alikha
"Ya ampun aku sampai lupa, tadi pagi aku sama Revan pergi kekantor Zeedan. mungkin dia masih disana menungguku." Tasya sedikit cemas.
Alikha tidak bertanya, kenapa Tasya dan Revan bisa ada dikantor Zeedan. Alikha tidak ingin salah paham lagi.
"Kak Tasya, tolong telphone Revan. Tanya apa dia masih ada dikantor kak Zeedan? kalau Revan masih ada disana, suruh tunggu. aku mau kesana sekarang." Pinta Alikha.
"Tasya, kamu kemana saja? aku masih nunggu kamu dimobil." Suara Revan ditelphone terdengar marah.
"Revan, maaf aku sakit jadi aku kerumah sakit." Tasya merasa kasihan pada Revan.
"Kamu sakit apa?" Suara Revan yang semula marah berubah menjadi khawatir.
"Sekarang aku sudah tidak apa apa, kamu tunggu disana ya!" sesuai permintaan Alikha, Tasya Meminta Revan menunggu disana.
Setelah Revan setuju menunggu, Tasya lalu menutup telphonenya.
"Sudah aku telphone, Revan sedang ditempat parkir mobil." Tasya memberitahu Alikha.
"Terima kasih ka." Alikha kemudian pergi dengan terburu buru.
Sementara itu ditempat parkir mobil, Revan sedang gelisah menunggu Tasya ia cemas saat Tasya mengatakan dia sedang sakit dan rasa cemasnya bertambah ketika tiba tiba hujan turun membasahi bumi.
Revan sedikit mengantuk, ia hampir tertidur saat ada seseorang yang mengetuk kaca jendela mobilnya. Revan membuka kaca jendela mobilnya, ia terkejut melihat Alikha.
"Alikha, cepat masuk!" Revan membuka pintu mobilnya.
Alikha lalu masuk kedalam mobil Revan.
"Alikha, kenapa kamu ada disini?" Tanya Revan
"Aku mau ketemu kamu, Kak Tasya bilang kamu ada disini." Alikha memeluk tubuhnya sendiri, ia merasa kedinginan.
__ADS_1
"Kalau kamu mau ketemu aku, kamu bisa pulang kerumah. Kenapa repot repot datang ketempat ini?" ucap Revan.
"Aku mau bicara sama kamu, sekarang."
"Memangnya ada hal penting apa? sampai kamu buru buru ingin bicara denganku."
"Revan, aku minta maaf. aku sudah menuduh mu selingkuh, aku juga minta maaf karena aku tidak percaya padamu" Alikha mengungkapkan penyesalannya.
"Kenapa kamu tiba tiba percaya padaku?" Revan ingin tahu.
"Aku bertemu Tasya dan aku baru tahu kalau Tasya tidak hamil." cerita Alikha.
"Apa Tasya bilang begitu?" Revan mengerutkan keningnya.
"Bukan Tasya tapi kakak ku Zeedan, yang bilang kalau Tasya tidak hamil."
"kamu ini benar benar...waktu Zeedan bilang Tasya hamil kamu percaya dan sekarang Zeedan bilang Tasya tidak hamil kamu juga langsung percaya. Apa kamu hanya percaya pada kakakmu?" Revan sangat kesal.
"Revan maaf!" Alikha kembali meminta maaf.
"Alikha, aku tidak bisa memafkanmu." Ucap Revan dengan suara yang terdengar berat.
"Saat kamu menolak menikahiku, aku hampir mati karena bunuh diri, tapi aku masih tetap memaafkan kamu bahkan aku bersedia menikah denganmu. kenapa sekarang tidak bisa memaafkanku." Mata Alikha mulai berair.
"Zeedan hampir membuat kakakku sarah bercerai dengan suaminya, karena balas dendamnya dia juga menyakiti hati Kiara jadi menurutku kita impas."
Kata kata Revan membuat Alikha sakit hati.
"Kenapa kita jadi membahas masa lalu? Kalau kamu tidak bisa memaafkanku aku tidak memaksamu." Alikha terlihat kecewa.
Alikha, sebenarnya meskipun kamu tidak meminta maaf. aku sudah memaafkanmu. aku hanya ingin memberi sedikit pelajaran untukmu, agar dimasa depan kamu bisa selalu percaya padaku. Revan menghela nafas.
"Aku pergi!" Alikha ingin membuka pintu mobil Revan.
"Mau kemana? diluar masih hujan." Revan mencegah Alikha pergi.
"Kamu tidak usah memperdulikan aku." Alikha nekat ingin keluar dari mobil Revan.
Dan tiba tiba terdengar suara petir menggelerar, itu membuat Alikha ketakutan dan ia akhirnya memilih untuk menutup pintu mobil Revan.
"Kenapa masih disini? Katanya mau pergi!" Revan meledek Alikha.
"Revan, kamu benar benar mau aku pergi? kalau aku kesambar petir bagaimana?" Alikha menangis.
Melihat Alikha nenangis Revan menjadi iba.
"Sudahlah, jangan menangis lagi." Revan memeluk Alikha.
"Revan apa kamu sudah memaafkanku?" Alikha merasa senang.
Kelihatannya Alikha sudah menyadari kesalahanya dan dia juga tulus meminta maaf. Batin Revan.
"Iya"
Mendengar Jawaban Revan, Alikha tadinya sedih menjadi senang, Alikha membalas pelukan Revan. ia melingkarkan tangannya dipinggang Revan.
__ADS_1