
Tasya pulang dari rumah sakit sekitar jam tujuh malam, karena keadaannya sudah baik baik saja Tasya tidak perlu menginap.
"Sayang, kamu duduk dulu ya. Aku mau beresin baju kita." ucap Zeedan Ketika ia dan Tasya sudah sampai dirumah.
"Memangnya kita mau pergi malam ini juga?" Tanya Tasya.
"Iya sayang, selesai aku beresin baju kita langsung berangkat."
"Kenapa engga besok pagi saja?"
"Besok kakek pasti menelphoneku atau mungkin saja kakek datang kesini jadi kita tidak bisa pergi" Zeedan menjelaskan.
"Kamu tidak memberi tahu kakek kalau kita akan pergi?" Tasya menjatuhkan tubuhnya diatas sofa.
"kalau aku bilang, kakek pasti tidak mengijinkan. nanti aku telphone kakek kalau kita sudah sampai." Zeedan duduk disebelah Tasya.
"Tadi aku tidak melihat kakek diacara ulang tahun Celina."
"Kakek sedang tidak enak badan karena itu dia tidak datang." Zeedan berdiri dari duduknya.
"Ya sudah, aku kekamar dulu, mau beresin baju."Zeedan ingin melangkahkan kakinya kedalam kamar.
"Biar aku bantu." Tasya menawarkan bantuan.
"Tidak usah sayang, kamu baru pulang dari rumah sakit. kamu istirahat saja." Zeedan melarang Tasya.
Selesai memasukan semua baju bajunya kedalam tas dan koper, Zeedan memindahkan Tas dan koper itu kedalam bagasi mobil. Ia kemudian mengunci rumah dan pintu pagar setelah itu barulah ia dan Tasya pergi meninggalkan rumah itu.
"Sayang, apa tidak apa apa kita meninggalkan kakek sendirian? lalu bagaimana dengan perusahaan kakek?" Tasya mencemaskan kakek Zeedan.
"Kamu tenang saja, diperusahaan banyak orang orang kepercayaan kakek. kalau aku tidak ada, aku yakin kakek akan menunjuk salah satu dari mereka untuk memimpin perusahaan, Lagi pula ada Alikha, yang bisa kapan saja menjenguk kakek." Zeedan masih tetap fokus menyetir.
Meskipun Zeedan sudah menjelaskan panjang lebar agar Tasya tidak khawatir, tapi dalam hati Tasya tetap mencemaskan kakek Zeedan.
"Nanti kalau kita ada waktu, kita juga bisa sesekali menjenguk kakek." Zeedan berusaha menghilangkan rasa khawatir Tasya.
"Ya, sudah." Tasya menghela nafas.
"Kita sekarang mau kemana?" Tasya tidak tahu Zeedan akan membawanya kemana.
Aku juga tidak tahu. Batin Zeedan.
"Bagaimana kalau kita kevilla? untuk beberapa hari kita menginap disana dulu, sekalian berlibur." Zeedan meminta pendapat Tasya.
"Villa siapa?" Tanya Tasya.
"Villa kakekku, kebetulan waktu itu kakek menitipkan kuncinya padaku. aku pernah mengajakmu kesana."
"Kapan? oiya aku ingat, waktu itu kamu mencekikku sampai aku hampir tidak bisa nafas." Tasya membuat Zeedan teringat hal buruk yang pernah ia lakukan.
"Maaf, aku tidak bermaksud mengungkit kesalahanmu." Tasya merasa tidak enak.
"Tidak apa apa Tasya, itu pertama kalinya aku mengajakmu kevilla kakek dan aku sudah berbuat kasar padamu jadi wajar kalau kamu menginggat kenangan buruk ditempat itu." Zeedan bisa memaklumi Tasya.
Sementara itu dirumah keluarga Revan,
Kiara baru saja selesai mandi, Kiara kesal saat ia melihat Revan berada dikamarnya.
"Kak Revan, masih disini? aku pikir kakak sudah pulang keapartement." ucap Kiara ketus.
"Besok pagi aku baru pulang, hari ini aku masih cape. Kiara, kamu masih marah?"
"Menurut kakak?" Kiara cemberut.
"Kiara, aku minta maaf. kamu jangan marah lagi ya." Pinta Revan.
"Kiara, aku akan menuruti apa saja permintaan kamu. asal kamu mau memaafkan aku." Revan benar benar tulus ingin meminta maaf.
"Serius?" Wajah Kiara tiba tiba berubah, ia terlihat senang.
"Iya, aku serius. sekarang kamu bilang, kamu mau apa?"
"Aku cuma punya satu permintaan, aku mau kakak antar aku kerumah Zeedan."
"Aku tidak tahu dimana rumah Zeedan, lagi pula buat apa sih kamu cari dia? gara gara dia tidak bisa menjaga istri, aku jadi menyalahkanmu." Revan kesal mendengar Kiara ingin kerumah Zeedan.
"Aku bukan mau mencari Zeedan. aku mau tahu, bagaimana keadaan kak Tasya?"
"Tapi, aku benar tidak tahu. dimana rumah Zeedan?"
"Alikha, dia pasti tahu." Kiara bejalan kekamar Alikha dan Revan.
"Kiara, kamu mau kemana?" Revan mengikuti Kiara.
"Aku mau tanya Alikha, dimana rumah Zeedan?"
"Kiara ini sudah malam, besok saja perginya." Revan berusaha mencegah Alikha.
"Ini baru jam delapan, belum terlalu malam." Kiara akhirnya sampai didepan pintu kamar Alikha dan Revan.
"Kiara.."
"Kalau kakak tidak mau mengantarku, aku akan pergi sendiri." Kiara tetap dengan keinginannya.
Kiara mengetuk pintu kamar Alikha dan Revan, Alikha sedikit terkejut ketika membuka pintu.
__ADS_1
"Kiara, ada apa?" Tanya Alikha.
"Maaf Alikha, aku mengganggumu. aku cuma mau tanya alamat rumah Zeedan, aku mau melihat keadaan kak Tasya." Kiara langsung menjelaskan maksudnya meminta alamat rumah Zeedan.
"Kamu mau pergi sekarang?" Alikha kembali bertanya.
"Iya Alikha, aku akan mengantar Kiara. kalau besok pagi aku tidak bisa mengantarnya karena besok pagi kita akan pulang keapartementku." Revan yang menjawab pertanyaan Alikha.
"Begitu ya. ya sudah, aku akan kirimkan alamatnya." Alikha lalu mengambil ponselnya yang ada diatas tempat tidur.
Alikha mengetik alamat rumah Zeedan diaplikasi pesan, kemudian ia mengirimkannya pada Kiara.
"Sudah aku kirim alamatnya." Alikha memasukan ponselnya kedalam saku baju.
"Terima kasih Alikha." Kiara tersenyum senang, ia kemudian pergi meninggalkan Alikha dan Revan.
"Alikha, aku pergi dulu sebentar." Setelah berpamitan Revan lalu pergi menyusul Kiara.
"Kiara! Tunggu!" Revan mendekati Kiara yang saat itu sedang membuka pintu mobinya.
"Kak Revan, mau mengantarku?" Kiara menutup kembali pintu mobilnya."
"Iya, kalau kamu pergi sendiri Tasya akan salah paham."
"Cihh..aku pikir, kakak khawatir karena aku malam malam pergi sendiri."
"Aku juga mengkhawatirkan kamu, bodoh." Revan mencubit pipi Kiara karena gemas, kebiasaan lama Revan muncul kembali.
Kiara hanya tersenyum, ia dan Revan kemudian pergi menuju rumah Zeedan. sampai didepan rumah Zeedan Kiara merasa kecewa karena pintu pagar rumah Zeedan terkunci.
"Mereka tidak ada dirumah kak, apa mungkin mereka masih dirumah sakit?" Kiara merasa sedih.
"Tasya dan Zeedan sudah pulang dari rumah sakit, Alikha memberi tahu aku. Alikha bilang, dia tadi menelphone Zeedan untuk menanyakan keadaan Tasya. Zeedan bilang pada Alikha kalau Tasya baik baik saja dan sudah boleh pulang." Revan memberitahu Kiara.
"Lalu, mereka kemana?" Kiara tiba tiba menjadi lesu tidak bersemangat.
"Mana aku tahu. aku akan telphone Tasya." Revan mengambil ponsel dari saku bajunya.
"Tidak perlu!" Kiara mencegah Revan.
"Kenapa?"
"Aku tidak mau mengganggu mereka, yang penting sekarang aku sudah tahu kak Tasya baik baik saja." ucap Kiara.
"Kalian mencari pak Zeedan?" Seorang tetangga Zeedan kebetulan lewat didepan rumah Zeedan dan berpapasan dengan Revan dan Kiara.
"Iya bu, Tapi Zeedan tidak ada dirumah, besok saja kita datang lagi." Jawab Kiara sopan.
"Apa kalian tidak tahu? Zeedan sudah pindah rumah, dia tidak aka kembali lagi." ucap tetangga Zeedan.
"Saya juga tidak tahu, tadi waktu saya belanja ditoko. saya bertemu Zeedan dan istrinya mereka sedang membeli minuman. Zeedan dan istrinya berpamitan mereka bilang mau pindah keluar kota. saya tidak sempat tanya kekota mana, karena mereka kelihatan buru buru." Tetangga Zeedan bercerita panjang lebar.
Mendengar cerita tetangga Zeedan, tubuh Kiara terasa lemas. ia seakan tidak percaya, Zeedan pergi begitu saja. Kiara berlari kecil, ia meninggalkan tetangga Zeedan tanpa mengatakan apa apa.
"Terima kasih bu, kalau begitu saya permisi"Revan menyusul Kiara yang sudah berada didalam mobilnya.
"Kiara, sudahlah. jangan menangis." Revan melihat Kiara sedang menghapus air matanya.
"Kak, aku kecewa sama Zeedan. seharusnya sebelum pergi dia minta maaf dulu, dia sudah menuduhku mendorong Tasya."
"Kiara, aku tahu kamu tidak salah dan kamu juga tidak bermaksud mendorong Tasya. tapi bagaimanapun Tasya jatuh karena kamu. kalau kamu tidak memegang pungung Tasya, Tasya tidak akan jatuh.
Kata kata Revan membuat Kiara menyadari kesalahannya. Kiara tidak dapat menahan air matanya, pada akhirnya ia hanya bisa menangis tanpa suara. Revan tidak ingin Kiara larut dalam kesedihannya, Revan segera mengajak Kiara pulang agar Kiara bisa tidur dan berisirahat.
...********...
Pagi itu mentari bersinar cerah, Revan dan Alikha turun untuk makan bersama. sampai diruang makan mereka melihat Sarah sudah ada disana.
"Kalian sudah datang?" Ibu Arumi senang melihat Sarah datang.
Pak Aditya dan Ibu Arumi yang baru sampai diruang makan langsung duduk.
"Revan, Alikha. kenapa kalian berdiri saja? ayo duduk, kita makan." Pinta pak Aditya.
"Papa dan mama sengaja meminta Sarah untuk datang karena mama ingin kita makan bersama." ucap Ibu Arumi setelah Revan dan Alikha duduk.
"Dimana Kiara?" Sarah menaruh nasi kedalam piringnya.
"Mungkin masih tidur." Jawab Revan.
"Kalau begitu, biar aku bangunkan." Sarah berdiri dari duduknya ia lalu berjalan kekamar Kiara.
Tidak lama kemudian Sarah keluar dari kamar Kiara, ia buru buru kembali keruang makan.
"Kiara tidak ada dikamarnya, dan aku menemukan ini." Sarah memberikan selembar kertas yang terlipat pada ibu Arumi.
Ibu Arumi kemudian membuka kertas itu, kertas itu ternyata adalah surat dari Kiara..
Mama, papa. saat kalian membaca surat ini mungkin aku sudah ada dipesawat, kuliahku sebentar lagi akan dimulai jadi aku harus kembali keluar negeri. mama, papa. maaf aku tidak berpamitan, aku juga juga tidak pamit dengan kak Sarah dan Revan. aku hanya tidak ingin bersedih.
Tanpa terasa air mata ibu Arumi menetes, setelah ia membaca surat dari Kiara.
"Kiara, dasar anak nakal. dia datang pergi sesuka hatinya." Ibu Arumi menghapus air matanya.
Beberapa bulan kemudian,
__ADS_1
Zeedan dan Tasya kelihatan sibuk memasak didapur. Zeedan dan Tasya memang memutuskan untuk membuka rumah makan kecil kecilan disebuah kota yang ramai penduduknya.
"Sayang, bagaimana ini? rumah makan yang kita buka semakin hari semakin ramai." Tasya kebingungan.
"Kamu harusnya bersyukur, itu berarti penghasilan kita bertambah." Zeedan mengelus elus kepala Tasya.
"Tapi kita bisa kewalahan, kalau begini terus aku cape." Tasya mengeluh.
"Sabar sayang, aku sekarang lagi cari orang untuk membantu kita masak. jadi biarpun rumah makan kita ini semakin ramai, kita tidak akan kewalahan. aku akan cari tiga orang."
"Beneran?" Tasya memeluk Zeedan.
Begitulah kehidupan Zeedan dan Tasya setelah pindah rumah, Zeedan dan Tasya kelihatan bahagia.
Sedangkan Kiara, diluar negeri kiara mempunyai banyak teman baru. kakek dan nenek Kiara juga sangat memanjakan Kiara, itu membuat Kiara senang.
Sementara Revan dan Alikha mereka juga sedang menikmati kebahagiannya, mereka sangat senang melihat perkembangan Alvan anak mereka.
Alvan bahkan sudah mengenali Revan, saat Revan ingin berangkat kerja. Alvan terkadang menangis ia seperti tidak ingin Revan meninggalnya.
"Sayang, jangan menangis. hari ini papa libur. jadi kita bisa bermain seharian." Revan menggendong Alvan yang saat itu sedang menangis dan anehnya Alvan lansung diam saat Revan menggendongnya.
"Revan, bagaimana kalau sekarang kita kerumah mama dan papa." Alikha meletakan kopi yang baru saja ia buat."
"Iya, sudah lama juga kita tidak kesana, habis dari rumah mama dan papa kita mampir kerumah kakek."
Setelah sama sama selesai mandi, Revan dan Alikha kemudian pergi kerumah kerumah pak Aditya dan ibu Arumi.
Sampai disana mereka melihat Sarah, David dan Celina juga berada disana.
"Mama senang sekali kalian semua mau datang kesini." Ibu Arumi sangat bahagia
"Sarah, biasanya kamu selalu sibuk. tumben kamu bisa datang." Sambung pak Aditya.
"Aku punya kabar bahagia karena itu aku datang kesini?" Sarah membuat semua terdiam dan penasaran.
"Kabar bahagia apa ka? cepat beritahu aku." Revan kelihatan tidak sabar.
"Aku hamil."
Mendengar ucapan Sarah semua yang ada diruangan itu kelihatan bahagia, mereka senang Sarah akan mempunyai anak kedua.
"Selamat ya sarah, mama harus memberitahu kabar bahagia ini pada Kiara." Ibu Arumi teringat Kiara.
"Aku akan menenelphone Kiara." Sarah mengambil ponsel yang ia letakan diatas meja.
"Tidak usah, mama dan papa akan memberitahunya secara langsung." ucap Ibu arumi.
"Maksud mama?" Sarah tidak mengerti maksud perkataan ibunya.
"Mama dan papa mau menjenguk kakek dan nenekmu sekalian menjenguk Kiara."
"Mama mau keluar negeri, aku ikut ya ma?" Revan tiba tiba bertingkah seperti anak kecil.
"Alikha dan alvan juga ikut ya ma?" Karena selama beberapa bulan sibuk dengan pekerjaan Revan menjadi antusias ingin pergi jalan jalan.
"Revan, kamu saja belum tentu diajak, lalu bagiamana dengan pekerjaanmu kalau kamu pergi." Sarah menyipitkan matanya.
"Sudah sudah! Jangan ribut, tenang saja kalian semua diajak, mama dan papa yang akan membayar semuanya." ucap pak Aditya.
"Kakek, Celina boleh ikut?" Pertanyaan polos Celina membuat Ibu arumi dan pak Aditya ingin tertawa.
"Boleh sayang" ibu Arumi membelai belai rambut Celina.
"Horee!" Celina bersorak bahagia.
Melihat kebahagiaan Celina, semua yang ada diruangan itu juga ikut merasa bahagia.
langit sudah mulai gelap sesekali terdengar suara petir menyambar, hujanpun turun begitu deras. Zeedan menutup pintu dan jendela.
ketika masuk kedalam kamar ia melihat Tasya baru menutup telphonenya, Tasya duduk diatas tempat tidur sambil melamun.
"Sayang, telphone dari siapa?" Zeedan melihat Tasya sedih setelah menerima telphone.
"Dari kakek, kakek bilang Sarah hamil."
"Ini kabar gembira, kenapa kamu sedih?" Zeedan merasa heran.
"Karena aku belum juga hamil."
"Sayang, kita baru beberapa bulan menikah. lagi pula kita kurang berusaha." Zeedan mencoba menghibur Tasya.
"Kurang berusaha?" Tasya bertanya tanya.
"Semejak pindah kerumah ini kita sibuk dengan rumah makan kita, kita jarang melakukannya." Zeedan menggoda Tasya.
"Melakukan apa? Dasar suami mesum." Tasya ingin memukul Zeedan tapi Zeedan lebih dulu memegang tangannya.
"Sayang, kita buat bayi sekarang?" Zeedan mengedipkan satu matanya.
Tanpa menunggu persetujuan Tasya, Zeedan mendorong Tasya hingga tubuh Tasya terbaring diatas tempat tidur, Zeedan lalu mematikan lampu tidur yang ada disamping tempat tidurnya.
Pada akhirnya mereka semua menemukan kebahagiaannya masing masing. Zeedan bersama Tasya. Revan bersama Alikha. Sarah bersama keluarga kecilnya dan Kiara, kehidupan barunya diluar negeri juga membuatnya bahagia.
Tamat
__ADS_1