Rahasia Cinta

Rahasia Cinta
Bertemu Tasya.


__ADS_3

Zeedan baru kembali dari villa tempat ia. membawa Tasya. sampai dirumah ia mencari cari Alikha tapi ia tidak menemukan. Alikha.


"Alikha dimana dia? aku sudah memberi pesan padanya dan memberi tahu dia kalau kunci rumah ada dibawah sepatu, tapi kenapa dia tidak ada? apa dia tidak jadi datang?"


Untuk mengusir rasa penasarannya Zeedan. menelphone Alikha, Alikha mengatakan ia sedang berada dirumah Revan karena anaknya menangis.


Zeedan merasa kesepian dirumah sendirian, ia akhirnya memutuskan untuk pergi mengunjungi kakeknya.


"Tumben kamu datang kesini." ucap kakek Zeedan saat ia melihat Zeedan sudah ada dirumahnya.


"Memangnya tidak boleh, aku datang kerumah kakek?"


"Tentu saja boleh, duduklah jangan berdiri saja." kakek Zeedan meminta Zeedan duduk.


Zeedan kemudian duduk, mengikuti kakeknya yang sudah duduk terlebih dulu.


"Zeedan, bagaimana apa kamu jadi membuka restaurant?" Zeedan memang pernah bercerita pada kakeknya bahwa ia ingin membuka sebuah restaurant. karena itu kakeknya bertanya.


"Tidak jadi kek."


Zeedan teringat dia berencana akan membuka Restauran bersama Tasya, tapi ia dan Tasya akan berpisah itu membuat Zeedan tidak bersemangat lagi.


"Kenapa tidak jadi? lalu apa rencanamu sekarang? tidak mungkinkan kamu menganggur selamanya?"


Pertanyaan pertanyaan kakek Zeedan membuatnya kembali tersadar, bahwa ia sudah lama tidak bekerja.


"Aku akan mencari pekerjaan kek!" ucap Zeedan.


"Bagaimana kalau kamu bekeja diperusahaan kakek?"


"Kakek punya perusahaan?" Zeedan sedikit terkejut.


"Kamu tidak tahu?" kakek Zeedan terlihat sedih.


"Kek, kita belum lama bertemu, aku belum tahu banyak tentang kakek." Zeedan merasa tidak enak.


"Iya, kamu benar Zeedan. Zeedan besok pagi kamu datang keperusahaan kakek, kamu bisa lihat lihat atau kalau kamu mau kamu bisa langsung bekerja."


"Aku"


"Zeedan, dari pada kamu repot repot mencari pekerjaan. bukankah lebih baik kamu bekerja diperusahaan kakek." Saran kakek Zeedan.


"Aku takut tidak mampu." Zeedan merendahkan dirinya.


"Tenang saja kakek akan mengajarimu." Kakek Zeedan memberikan segelas air untuk Zeedan.


Keesokan harinya.


Pagi pagi sekali Tasya datang kekantor Revan, Revan memang menelphonya untuk bekerja kembali diperusahaannya.


Tasya sebenarnya enggan kembali lagi bekerja diperusaahaan Revan, ia tidak ingin ada yang salah mengartikan hubungannya dengan Revan, ia takut orang orang berpikir sama seperti Zeedan.


tapi karena ia membutuhkan perkerjaan terpaksa ia meminta pada Revan untuk memperkejakannya kembali.


Ketika keluar dari perusahaan Revan, Tasya pernah diterima bekerja diperusahaan lain tapi, setelah itu ia menikah dengan Zeedan. ia dan Zeedan berencana untuk membuka restaurant karena itu Tasya tidak mengambil pekerjaan itu.


Tasya masuk kedalam ruangan Revan, disana ia melihat Revan sedang sibuk memainkan laptopnya.


"Tasya, kamu sudah datang?" Revan menutup laptopnya.


"Iya." Tanpa diminta Tasya duduk hadapan Revan.


"Tasya, aku minta maaf. posisi kamu yang dulu sudah terisi."


"Kalau memang tidak ada pekerjaan untukku. kenapa kamu memintaku datang?" Tasya merasa kecewa.


"Tasya, aku belum selesai bicara. dengarkan dulu! posisi kamu memang sudah gantikan orang lain, tapi dikantorku ini masih ada lowongan. kamu mau kan jadi sekertarisku?"


Tasya hanya bisa tercengang mendengar tawaran Revan. bagaimana mungkin dia bisa menjadi seorang sekertaris sedangkan selama ini ia hanyalah karyawan biasa.

__ADS_1


"Aku merasa tidak pantas, jadi maaf aku tidak bisa menerimanya." Tasya menolak.


"Tasya kamu coba dulu, begini saja bagaimana kalau aku kasi waktu kamu satu bulan? Selama satu bulan aku akan memberi tahu apa saja tugas kamu supaya kamu tidak bingung. kalau ada kesulitan kamu bisa tanya aku. kalau dalam satu bulan kamu merasa tidak sanggup, kamu boleh mengundurkan diri." Revan menjelaskan panjang lebar.


Revan sebenarnya sengaja memaksa Tasya karena ia merasa iba pada Tasya, Revan mengira Tasya sedang hamil dan suaminya tidak bertanggung jawab.


"Ya sudah, aku mau." ucap Tasya pasrah.


"Kalau begitu kamu bisa bekerja mulai hari ini!" Revan memberi tahu Tasya.


"Hari ini?" Tasya terkejut.


"Iya, kenapa? keberatan?"


"Bukan begitu. Apa aku langsung diterima? apa aku tidak perlu diwawancarai?" Meskipun ia dan Revan saling mengenal, Tasya ingin Revan bersikap professional.


"Kamu dulu pernah bekerja diperusahaan ini, jadi tidak perlu lagi wawancara karena aku sudah tahu kinerjamu."


"Benarkah?"


"Kamu adalah salah satu pegawaiku yang rajin, karena terlalu rajin kamu sampai tidak sempat mencari jodoh." Revan meledek Tasya sambil tertawa kecil.


Tasya hanya tersenyum mendengar ejekan Revan.


"Ya sudah sekarang kamu ikut aku." Perintah Revan.


Beberapa saat kemudian Tasya dan Revan sudah berada didalam mobil Revan.


"Tasya hari ini kita akan membahas kerja sama kita dengan PT Sentra dwitama." Revan menjalankan mobilnya berlahan lahan.


"Sentra dwitama? sepertinya tidak asing" Tasya seperti pernah mendengar nama perusahaan itu.


"Tentu saja Sentra dwitama termaksud perusahaan yang maju dan lumayan terkenal." Ujar Revan.


"Revan, aku gugub."


"Tidak perlu gugub, tugasmu hanya menemaniku." Tanpa sadar Revan mengusap usap kepala Tasya.


Revan dan Tasya akhirnya sampai didepan PT Sentra dwitama, Tasya merasa kagum melihat perusahaan itu. perusahaan itu besar dan berdiri kokoh. Jika dibandingkan dengan perusahaan Revan, perusahaan itu jauh lebih besar.


"Permisi, saja ada janji dengan pak Dwitama" Revan berkata pada resepsionis, saat ia dan Tasya telah masuk kedalam perusahaan.


Resepsionis itu kemudian memberitahu dimana ruangan pak Ditama lalu ia mempersilahkan Tasya dan Revan masuk.


Revan dan Tasya menunggu diruangan pak Dwitama.


Revan dan Tasya dikejutkan oleh kedatangan kakek Zeedan.


"Kakek" Tasya memeluk kakek Zeedan.


Meskipun baru beberapa kali bertemu dengan kakek Zeedan tapi Tasya bisa merasakan kebaikan serta ketulusan kakek Zeedan, kakek Zeedan orang yang ramah dan kekeluargaan.


"Tasya, bagaimana kabarmu?" Kakek Zeedan mengelus elus kepala Tasya.


"Baik kek, jadi nama kakek Dwitama?" Tasya melepaskan pelukannya.


"Jadi kamu tidak tahu? kamu ini sama saja seperti suamimu."


"Ngomong ngomong, kenapa kalian berdua bisa datang kesini?" Kakek Zeedan menjatukan dirinya dikursi.


"Aku kesini ada urusan pekerjaan kek dan Tasya, dia sekarang bekerja diperusahaanku." Revan menjelaskan pada Kakek Zeedan.


"Begitu ya, jadi perusahaan kamu yang mengajukan proposal kerja sama pada perusahaan ini? kamu hebat Revan, masih muda sudah punya perusahaan sendiri." Kakek Zeedan memuji Revan.


"Hanya perusahaan kecil kek, tidak ada apa apanya dibandingkan dengan perusahaan kakek." Revan tersipu malu.


"Perusahaan kamu belum lama berdiri, wajar saja jika masih dianggap perusahaan kecil. nanti setelah bertahun tahun, kakek yakin perusahaanmu akan menjadi perusahaan besar. bahkan mungkin lebih besar dari pada perusahaan kakek." Kakek Zeedan memberi semangat pada Revan agar ia tidak berkecil hati.


"Masalah kerja sama kalian. jangan bicara dengan kakek, karena mulai sekarang sudah ada seseorang yang menggantikan kakek."

__ADS_1


Mendengar ucapan kakek Zeedan, untuk sesaat Tasya dan Revan saling berpandangan. mereka menerka nerka kira kira siapa yang akan menggantikan kakek Zeedan.


"Zeedan kemarilah!" Kakek Zeedan melakukan panggilan melalui ponselnya.


Deg..


Jantung Tasya berdetak lebih kencang saat kakek Zeedan menyebutkan nama Zeedan. keringat dingin membasahi dahinya, tidak lama kemudian Zeedan masuk kedalam ruangan itu.membuat Tasya jadi salah tingkah.


Tasya yang semula menundukan kepalanya memberanikan diri untuk mengangkat wajahnya, ia melihat Zeedan yang saat itu juga sedang menatapnya.


Tasya terpesona menatap Zeedan, dengan memakai setelan jas dan rambut yang tersisir rapi serta wangi parfum yang bisa tercium oleh hidung Tasya. membuat Zeedan bagaikan seorang laki laki sempurna dimata Tasya.


"Ehem..." Zeedan berdehem karena melihat Tasya yang tidak bekedip menatapnya.


Zeedan yang biasa memakai pakaian santai hari itu benar benar kelitahan berbeda.


"Kalian bicarah dengan Zeedan, urusan perusahaan sudah kakek serahkan semuanya pada Zeedan." ucap kakek Zeedan


"Kenapa harus Zeedan kek?" Tasya mengajukan keberatannya.


"Kalau bukan Zeedan, lalu siapa lagi?" Tanya kakek Zeedan.


"Bukankah masih ada Alikha." Tasya asal bicara.


"Alikha, dia sibuk mengurus anaknya" Setelah mengatakan itu kakek Zeedan keluar dari ruangan itu.


Suasana diruangan itu tiba tiba menjadi kaku.


"lama tidak bertemu, kalian berdua keliatannya bertambah lengket." Sindir Zeedan


lama? bukankankah, baru beberapa hari yang lalu kamu mencekik leherku. Batin Tasya.


Zeedan kemudian duduk bersandar dikursi, dengan angkuhnya ia meletakan kedua kakinya diatas meja.


"Kakekku sudah memberikan proposal yang kalian ajukan, aku belum sempat membacanya, tapi aku sudah membuat keputusan. proposal kalian ditolak! Aku tidak mau bekerja sama dengan penghianat seperti kalian!"


Plak.. Zeedan membanting map yang dari tadi ia pegang, ia membantingnya keatas meja.


"Hanya perusahaan kecil saja, mau mengajukan kerja sama. percaya diri sekali." Kalimat Zeedan penuh dengan penghinaan.


"Dasar manusia sombong! kalau aku tahu kamu pemimpin perusahaan ini, aku juga tidak mau datang ketempat ini." Revan sakit hati karena Zeedan sudah menghinanya.


"Sayang, kita pergi saja dari sini!" Revan mengajak Tasya pergi.


Mendengar Revan memanggil Tasya dengan sebutan sayang, raut wajah Zeedan langsung berubah.Wajah sombongnya tiba tiba menjadi dingin.


Revan pergi meninggalkan ruangan itu sementara Tasya mengikutinya dari belakang, saat Revan sudah keluar dan Tasya masih berada didepan pintu. Zeedan menarik Tangan Tasya.


Zeedan segera menutup pintu lalu menguncinya. Zeedan melakukannya dengan cepat sehingga Revan tidak bisa menghalanginya.


Revan ingin mengetuk pintu atau kalau perlu ia mendobraknya, tapi melihat beberapa orang yang lewat membuat ia mengurungkan niatnya.


"Sudahlah, lagi pula mereka itu suami istri" Revan berjalan pergi dari tempat itu, ia memutuskan menunggu Tasya dimobil.


Sementara itu diruangan Zeedan.


Zeedan masih memegang tangan Tasya, mereka berdua berdiri berhadap hadapan, jarak mereka sangat dekat.


"Zeedan, bisakah kamu bersikap propesional?" nada suara Tasya terdengar ketus.


"Professional?" Zeedan menaikan satu alisnya.


"Hanya karena masalah pribadi kita, kamu menolak proposal yang dibuat Revan."


"Masalah pribadi kita berhubungan dengan pekerjaan. kalau kalian bisa menghianati pasangan kalian, kalian juga bisa menghiati rekan kerja kalian. karena itu aku menolak kerja sama yang kalian tawarkan"


"Sudah aku bilang, aku tidak ada hubungan apa apa dengan Revan." Tasya mulai emosi.


"Tidak ada hubungan, tapi kamu selalu bersamanya. tidak ada hubungan tapi kamu hamil anaknya."

__ADS_1


"Zeedan!" Tasya sangat kesal mendengar tuduhan tuduhan Zeedan.


Tasya tiba tiba mengalungkan tangannya dileher Zeedan, Tasya tidak ingin Zeedan bersuara lalu mengeluarkan kata kata yang menyakitkan. tanpa pikir panjang Tasya mencium bibir Zeedan.


__ADS_2