
Tasya berdiri mematung, ia sedang menunggu taksi online yang ia pesan.
"Kenapa aku bisa hamil? Aku harus periksa lagi ini pasti salah." Tasya melamun.
Zeedan aku bersedia menikah denganmu.walaupun kita hanya menumpang diacara pernikahan Revan dan Alikha, tapi kenapa dengan mudah kamu ingin berpisah dariku? Kenapa kamu tidak memberiku kesempatan untuk membuktikan kalau aku tidak hamil? Zeedan, jangan salahkan aku. jika nanti kamu menyadari kesalahanmu, aku tidak bisa memaafkanmu. Tasya memegang dadanya yang terasa sesak.
Hujan turun deras tapi taksi online yang Tasya pesan belum juga datang. Tasya berlari kecil untuk mencari tempat berteduh, baru beberapa langkah Tasya merasa hujan tiba tiba berhenti.
Untuk sesaat Tasya mengangkat kepalanya ia melihat ada seseorang yang memayungi dirinya
"Revan!"
Revan seandainya kamu belum menikah dengan Alikha dan seandainya aku belum menikah dengan Zeedan, aku pasti sudah memelukmu seperti dulu.
Tasya meneteskan air mata, Revan tidak tahu kalau Tasya menangis karena air mata Tasya bercampur air hujan yang membasahi wajah Tasya.
"Tasya, nanti baju kamu basah! kita kemobilku." Revan mengajak Tasya
Tasya lalu mengikuti Revan berjalan ketempat dimana mobil Revan diparkir. Revan kemudian mengambil tas yang Tasya pegang sambil memayungi Tasya.
"Kamu masuk dulu, aku akan meletakan tas mu dibelakang" Revan membantu Tasya.
Revan kemudian meletakan tas Tasya dibagasi mobil, setelah itu barulah ia melipat payungnya lalu masuk kedalam mobil.
"Ini lap dulu tangan dan muka kamu yang sudah terlanjur basah." Revan memberika tissu yang ada didepannya.
"Revan" Panggil Tasya.
"Apa?" Revan mengelap tangannya yang basah dengan tissu.
"Terima kasih." Tasya memandang Revan.
"Tidak usah berterima kasih, kita ini keluarga." Revan menoleh.
Deg..
Kata kata Revan membuat hati Tasya tersentuh.
"Keluarga?" Tasya mengalihkan pandangannya, ia lalu mengelap Tangan dan wajahnya yang basah.
"Iya, kamu lupa? kamu sudah jadi kakak iparku."
Kakak ipar! Revan, Zeedan ingin menceraikanku kalau aku dan Zeedan berpisah. aku bukan kakak iparmu. Tasya berusaha menahan air matanya.
"Tasya, sebenarnya kamu mau kemana?" Tanya Revan.
"Aku mau pulang!"
"Pulang kerumah Zeedan? Suami macam apa Zeedan? tega sekali dia membiarkanmu kehujanan dijalan." Revan menggerutu.
"Revan, jangan salah paham. sejak menikah aku tinggal bersama Zeedan, tapi sekarang aku mau pulang kerumah yang aku sewa sendiri." Tasya menjelaskan.
"Kenapa? apa kalian bertengkar?" Revan penasaran.
"Kenapa kamu ingin tahu urusan rumah tanggaku?" Tasya menyipitkan matanya.
"Maaf, aku tidak bermaksud, aku hanya berpikir jika kamu punya masalah dengan Zeedan mungkin saja aku bisa membantumu." ujar Revan.
"Kamu tenang saja, aku tidak bertengkar. aku hanya tidak ingin tinggal dirumah Zeedan.aku sengaja pergi tanpa sepengatuan Zeedan karena kalau dia tahu, dia pasti melarangku." Tasya bohong.
"Jadi kamu dan Zeedan tinggal terpisah?"
"Tidak, aku yakin Zeedan akan menyusulku." Tasya tersenyum kecut.
"Revan, jika Alikha melakukan kesalahan. apa yang akan kamu lakukan?" Tanya Tasya
"Kalau Alikha minta maaf, aku akan memaafkannya." Jawab Revan dengan entengnya.
"Kalau Alikha merasa tidak bersalah?"
__ADS_1
"Tasya, apa maksudmu? aku tidak mengerti, kenapa tiba tiba kamu bertanya seperti itu?" Revan merasa ada yang aneh dengan Tasya.
"Aku cuma asal bicara, lupakan saja."
Entah mengapa? aku merasa Tasya sedang menyembunyikan sesuatu. Batin Revan.
"Kalau Alikha merasa tidak bersalah itu artinya Alikha tidak salah." ucap Revan
"Revan, apa kamu selalu percaya pada Alikha?"
"Iya."
Zeedan, seharusnya dia percaya padaku, sama seperti Revan percaya pada Alikha. Tasya menarik nafas.
Hujan sudah berhenti, langit mulai terlihat cerah. Revan menghentikan mobilnya ketika mereka sampai didepan rumah Tasya.
"Kita sudah sampai." Revan memberitahu Tasya.
"Terima kasih Revan." Tasya melepaskan sabuk pengaman yang ia pakai.
"Aku sudah bilang, tidak usah berterima kasih."
"Revan, apa kamu bisa membantuku?" Tasya terlihat ragu ragu.
"Bantu apa?"
"Aku ingin bekerja lagi diperusahaanmu."
"Kamu serius? kalau kamu mau aku bisa memperkerjakanmu lagi." Revan seperti tidak percaya
"Benarkah?" Tasya tersenyum bahagia.
"Tentu saja! tapi kenapa tiba tiba kamu ingin bekerja lagi." Revan mulai curiga.
"Aku bosan dirumah seharian" Tasya alasan.
"Ya sudah, aku masuk dulu. Apa kamu mau mampir sebentar?" Tasya berpamitan.
"Bekerja?" Tasya melihat jam yang melingkar ditangannya.
"Ya, ampun ternyata ini masih pagi." Tasya masuk kedalam rumahnya setelah mobil Revan menghilang dari pandangannya.
Tasya merebahkan tubuhnya diatas kasur.
"Aku hamil, rasanya aku tidak percaya. ini pasti kesalahan. aku akan periksa lagi kedokter lain." Tasya ingin mengambil tasnya tapi karena merasa lelah Tasya akhirnya memutuskan untuk tidur lagi.
Sementara itu dirumah Zeedan.
Zeedan merasa tidak tenang pikirannya kacau, entah mengapa Zeedan menyesal karena telah mengusir Tasya.
"Tidak, aku tidak boleh menyesal. Tasya memang pantas untuk diusir." Zeedan bicara sendiri
"Sebenarnya, siapa ayah dari anaknya Tasya. aku jadi ingin tahu? jangan jangan..."Zeedan terus bicara.
"Revan, dia adalah orang terakhir yang menjalin hubungan dengan Tasya. mungkin saja dia ayah dari anak yang dikandung Tasya. Revan, kalau benar anak itu adalah anaknya Revan aku akan membuat perhitungan." Zeedan sangat marah.
Malam harinya,
Zeedan datang kerumah keluarga Revan, ia ingin bicara dengan Revan, Zeedan melihat pintu rumah keluarga Revan terbuka.
Saat ingin masuk, Zeedan melihat Alikha dan keluarga Revan sedang tersenyum bahagia.
"Alikha, mama ingin menggendong Alvan lagi." Pinta ibu Arumi.
"Mama, nanti mama kecapean.." Alikha menggendong Alvan sambil berjalan mondar mandir agar anaknya tidak menangis.
"Tidak, mama tidak akan cape." Ibu Arumi memaksa.
"Ya, sudah, kalau itu mau mama." Alikha memberikan anaknya pada ibu Arumi.
__ADS_1
"Pa, cucu kita mirip aku. hidungnya mancung." Bu Arumi memegang hidung cucunya.
"Hidung kamu itu pesek, yang mancung itu jelas jelas hidungku." Pak Aditya menggoda ibu Arumi. Ibu Arumi cemberut mendengar ucapan pak Aditya.
"Alvan itu anakku jadi dia mirip aku, bukan mirip kalian." Revan tertawa kecil.
"Kamu itu anakku jadi kamu mirip aku, Kalau cucuku mirip kamu itu berarti cucuku juga mirip denganku." Pak Aditya tidak mau kalah.
"Pa, Revan juga anakku dia juga mirip denganku. itu berarti cucu kita juga mirip denganku." Ibu Arumi tersenyum.
"Alvan juga anakku jadi dia mirip denganku, itu berarti Alvan mirip kita berempat." ucapan Alikha membuat Ibu Arumi, pak aditya dan Revan tertawa.
"Maaf, aku mengganggu." Zeedan merasa tidak enak.
Revan, Alikha, Ibu Arumi dan Pak Aditya melihat kearah Zeedan secara bersamaan.
"Kak Zeedan, ada apa datang malam malam?" Alikha berjalan menghampiri Zeedan.
"Zeedan duduk dulu disini, kita bicara disini saja." Pinta Ibu Arumi.
"Ayo kak!" Alikha menarik tangan Zeedan ia menuntun Zeedan berjalan ketempat duduk.
Zeedan akhirnya duduk dihadapan Ibu Arumi dan pak Aditya.
"Sebenarnya saya datang kesini karena ingin bicara dengan Revan." Zeedan mulai bicara.
"Begitu ya.. Ya sudah, kalian bicaralah. ma kita kekamar, papa sudah ngantuk." Pak Aditya berdiri.
Pak Aditya dan ibu Arumi kemudian pergi dari ruang tamu bersama dengan cucunya.
"Kak Zeedan aku kekamar dulu, nanti kalau kakak dan Revan sudah selesai bicara beritahu aku." Alikha juga ingin pergi meninggalkan Zeedan dan Revan tapi Zeedan menghalanginya.
"Alikha kamu disini saja." Pinta Zeedan.
"Revan, Aku dan Tasya akan berpisah!" Dengan berat hati Zeedan mengatakannya.
"Apa!" Revan sangat terkejut begitu juga dengan Alikha.
"Kenapa, kak? Kenapa kakak mau bercerai" Alikha ingin tahu.
"Karena Tasya hamil dan anak itu bukan anakku." Revan dan Alikha kembali dibuat terkejut oleh Zeedan.
"Revan, katakan padaku apa anak itu anakmu?" Zeedan menatap tajam kearah Revan.
Pertanyaan Zeedan membuat Alikha sedikit shock, kepalanya tiba tiba pusing. dadanya seakan akan tertusuk ribuan jarum yang membuat hatinya menjadi sakit.
"Bukan, anak itu bukan anakku." Revan terlihat marah ia tersinggung karena Zeedan sembarangan menuduhnya.
"Kalau bukan anakmu, lalu anak siapa?" Zeedan yakin anak yang dikandung Tasya adalah anak Revan.
"Anakmu! Kau saja yang tidak mau mengakuinya." Jawab Revan sinis ia semakin marah.
"Aku belum pernah menyentuh Tasya, jadi mana mungkin dia mengandung anakku." Zeedan membela diri.
"Aku juga belum pernah menyentuh Tasya." Revan mengucapkannya dengan penuh keyakinan.
"Sudah cukup! kalian jangan saling menuduh dan menyalahkan seperti ini. bukankah ada tes DNA." Alikha mulai stress.
"Alikha kamu jangan percaya padanya. kalau Revan bisa membuatmu hamil, dia juga bisa membuat Tasya hamil. kau tidak tahu saat kau menghilang Revan pacaran dengan Tasya." Zeedan tetap menuduh Revan.
"Alikha, aku memang pernah pacaran dengan Tasya. tapi aku tidak pernah melakukan apa apa padanya, karena dia perempuan baik baik" Revan mencoba menyakinkan Alikha.
"Maksudmu aku bukan perempuan baik baik." mata Alikha berkaca kaca.
"Sayang bukan begitu..."
Prang...
Revan tidak melanjutkan kata katanya karena ia mendengar suara gelas pecah.
__ADS_1
Zeedan, Revan dan Alikha melihat kearah sumber suara. ternyata ibu Arumi sedang berdiri tidak jauh dari tempat mereka bicara dan ternyata ibu Arumi mendengar apa yang mereka bicarakan.