Rahasia Cinta

Rahasia Cinta
Rumah sakit


__ADS_3

Zeedan kembali duduk diruang tamu bersama Ailkha dan keluarga Revan.


"Zeedan, apa Tasya sedang hamil? apa benar anak yang dikandung Tasya adalah anak Revan?" Air mata mengalir dari mata Ibu Arumi ia terlihat sangat sedih.


"Iya benar" Zeedan merasa yakin.


Mendegar jawaban Zeedan ibu Arumi menarik nafas dalam dalam Pak Aditya terlihat sangat marah sedangkan Alikha. Alikha hanya bisa menangis tanpa suara.


"Apa apaan kamu Zeedan! seenaknya saja kamu menuduhku, kalian jangan percaya kata kata dia." Revan dibuat emosi dengan sikap Zeedan yang menurutnya konyol.


"Hey kakak ipar, aku sudah lama putus dengan Tasya. setelah kita putus, bukankah dia menjalin hubungan denganmu? Tasya juga menikah denganmu lalu, kenapa dia hamil anakku? sungguh tidak masuk akal." Revan marah marah.


"Dia anakmu, karena kau dan Tasya selingkuh." ucap Zeedan tanpa berpikir.


"Kau jangan bicara sembarangan!" Revan semakin marah.


"Cukup! kalian jangan bertengkar dan saling tuduh. Sebaiknya kalian tanyakan saja pada Tasya, siapa ayah dari anaknya?" Pak Aditya tak kalah emosi.


"Saya sudah menanyakan pada Tasya, tapi Tasya bilang dia tidak hamil." ucap Zeedan.


"Kak Zeedan, mungkin saja kak Tasya benar. mungkin dia memang tidak hamil." Alikha berharap Tasya tidak hamil.


"Alikha, aku sendiri yang mengantar Tasya kedokter dan dokter bilang Tasya hamil." Zeedan masih tetap dengan keyakinannya.


"Kalau begitu periksakan lagi Tasya kedokter, kalau dia benar hamil lakukan tes DNA." Saran pak Aditya.


"Baiklah, saya akan melakukannya." Zeedan berdiri.


"Alikha, ayo kita pulang." Zeedan mengandeng tangan Alikha.


"Pulang?" Alikha melepaskan gandengan tangan Zeedan.


"Sebelum tes DNA dan sebelum terbukti kalau revan bukan ayah dari anak yang dikandung Tasya, sebaiknya kamu jangan tinggal disini." ucapan Zeedan membuat Revan dan keluarganya kaget.


"Alikha, jika kamu tinggal disini kamu bisa saja hamil lagi. bagaimana kalau anak Tasya itu adalah anaknya Revan? kamu akan semakin menderita." Sambung Zeedan.


"Aku tidak mau pulang! Revan itu suamiku memangnya, kenapa kalau aku hamil anak Revan?" Meskipun hati Alikha sakit karena mungkin saja Tasya hamil anak Revan tapi ia berusaha membela suaminya didepan Zeedan.


"Kak, semua yang kakak katakan belum ada buktinya. jadi tolong! jangan meminta aku pulang." Alikha menolak keinginan Zeedan.


"Kamu tidak mau ikut kakak?" Zeedan masih berharap.


"Tidak!" Alikha menghela nafas.


"Terserah kamu saja Alikha! tapi kalau kamu nanti menyesal karena Revan menyakitimu, aku tidak akan membantumu." Zeedan merasa kecewa.


Setelah membuat Kekacauan dirumah keluarga Revan, Zeedan akhirnya pulang. sementara itu Alikha menangis dan langsung masuk kedalam kamarnya. Melihat Alikha berlari kecil kekamar, Revanpun berjalan menghampiri Alikha kekamar.


"Paa.. Bagaimana ini? bagaimana kalau Zeedan benar? apa yang harus kita lakukan?" Ibu Arumi tidak bisa membayangkan jika yang dikatakan Zeedan itu benar.


"Ini benar benar memalukan. Revan mempunyai anak dengan Tasya, kakak iparnya sendiri." Ibu Arumi mulai menangis.

__ADS_1


"Sudahlah ma, Jangan terlalu banyak berpikir! Semuanya belum pasti." Pak Aditya menghibur ibu Arumi.


"Paa... kepala mama, kepala mama tiba tiba pusing!" Ibu Arumi memegang kepalanya.


"Ma.. papa kan sudah bilang, mama jangan banyak pikiran. tekanan darah mama pasti naik." Pak Aditya khawatir dengan keadaan ibu Arumi, ia segera membawa ibu arumi kerumah sakit.


Sementara itu didalam kamar.


"Sayang, percayalah padaku. aku tidak pernah menyentuh Tasya." Revan memeluk Alikha yang masih menangis.


"Kita lihat saja nanti, tapi untuk sementara aku ingin kita tidur terpisah." Alikha melepaskan pelukan Revan kemudian ia mengambil bantal.


Alikha berjalan menuju sofa kemudian ia membaringkan tubuhnya diatas sofa, Alikha membalikan badannya sehingga ia tidur membelakangi tempat tidur Revan.


"Alikha, aku akan membuktikan kalau aku tidak salah." Revan menyelimuti tubuh Alikha.


Keesokan harinya


Alikha terbangun dari tidurnya, ia melihat Revan masih tertidur pulas. Alikha kemudian keluar dari kamarnya untuk mengambil segelas air.


"Mba, rumah sepi. Bapak sama ibu belum bangun?" Tanya Alikha pada Mba Irna salah seorang yang bekerja dirumah pak Aditya.


"Bapak tidak ada, semalam kerumah sakit, mengantar ibu." Jawab mba Irna sambil menyiapkan makanan diatas meja makan.


Mendengar itu Alikha buru buru kekamar untuk memberitahu Revan.


"Revan, bangun Revan!" Alikha membangunkan Revan.


"Mama... mama masuk rumah sakit." ucap Alikha terbata bata.


"Apa?" Revan yang semula ingin tidur lagi langsung beranjak dari tempat tidurnya.


Revan kemudian menelphone pak Aditya, semula pak Aditya enggan memberi tahu rumah sakit tempat ibu Arumi dirawat, tetapi karena Revan memaksa. pak Aditya akhirnya memberi tahu, dimana ibu Arumi dirawat. didalam perjalanan Revan sempat menelphone Sarah.


Dirumah sakit,


Tasya mengambil nomer antrian untuk periksa, dia memang sudah berniat ingin memeriksakan dirinya. Tasya benar benar yakin kalau ia tidak hamil, karena itu ia kembali memeriksakan dirinya dirumah sakit lain.


Setelah menunggu antrian, Akhirnya tiba giliran Tasya diperiksa, jantung Tasya berdebar debar saat Tasya ingin memasuki ruangan dokter.


Beberapa saat kemudian.


"Dokter, bagaimana hasilnya? apa saya hamil?" Tanya Tasya selesai diperiksa dokter.


"Maaf bu Tasya, ibu tidak hamil." Dokter perempuan itu mengira Tasya berharap hamil.


Mendengar ucapan dokter yang baru saja memeriksanya, Tasya sangat bahagia ia hampir menangis.


Tasya tidak tahu bahwa rumah sakit tempat ia diperiksa adalah rumah sakit yang sama dimana ibu Arumi dirawat.


Dikamar ibu Arumi.

__ADS_1


Sarah sudah sampai dirumah sakit ia buru buru masuk kekamar, tempat ibu Arumi dirawat.


"Sarah, kamu tahu dari mana mama ada disini?" Tanya ibu Arumi saat melihat Tasya datang.


"Revan yang memberi tahu ma, Revan belum datang ? dia bilang dia juga mau kesini?" Sarah duduk dihadapan ibu Arumi.


"Tidak tahu! biarkan saja." Ibu Arumi tidak senang Sarah menanyakan Revan.


"Oiya ma, dimana papa?" Sarah tidak melihat pak Aditya, diruangan itu hanya ada ibu Arumi.


"Papamu sedang ketoilet sekalian mama suruh untuk makan. kasian dia semalaman menjaga mama pasti cape."


"Ma, sebenarnya mama sakit apa? Kenapa mama bisa masuk rumah sakit." Sarah khawatir.


"Darah tinggi mama kumat, ini semua karena Revan."


"Revan?"


"Semalam Zeedan datang kerumah dan dia bilang Tasya hamil anaknya Revan." Cerita ibu Arumi.


Sarah sangat terkejut mendengar cerita ibu Arumi.


Saat ibu Arumi ingin meneruskan ceritanya Pak Aditya datang.


"Sarah kamu disini? kamu kesini sendirian?" Tanya pak Aditya yang melihat kehadiran Sarah.


"Iya pa, tadi waktu Revan menelphoneku David sudah berangkat kerja dan Celina sudah berangkat sekolah." Sarah menjelaskan.


"Pa, ma. aku keluar dulu, sebentar! ini ada telphone dari kantor, mungkin penting." Sarah pamit keluar saat ia merasakan ponsel disaku bajunya bergetar.


Sarah menerima telphone sambil duduk ditaman rumah sakit. selesai menerima telphone ia ingin kembali masuk kekamar Ibu Arumi, Sarah menghentikan langkahnya ketika ia melihat Tasya.


Sarah ingin berjalan masuk kedalam rumah sakit sedangkan Tasya baru saja keluar dari rumah sakit mereka berdua berpapasan.


Plak...


Satu tamparan mendarat dipipi Tasya.


"Sarah, kenapa tiba tiba kamu menamparku?" Tasya memegang pipinya yang merah.


"Tamparan itu tidak sebanding dengan apa yang kamu lakukan, kamu tahu mamaku masuk rumah sakit dan semua itu gara gara kamu!"


"Apa maksudmu? aku tidak mengerti." Tasya kelihatan bingung.


"Tidak usah pura pura bodoh, kamu hamil anak Revan, benarkan? Tasya kamu sudah menikah dengan Zeedan dan Revan sudah menikah dengan Alikha. tapi kenapa kamu hamil anak Revan? kenapa kamu selingkuh?" Sarah terus bicara.


"Sarah, siapa bilang aku hamil?" Menerima tuduhan hamil karena selingkuh membuat Tasya sakit hati.


"Zeedan."


Jawaban Sarah membuat hati Tasya bertambah sakit.

__ADS_1


Zeedan, kamu bukan hanya tidak percaya padaku. kamu bahkan menuduh Revan. Tasya mencoba menahan air matanya.


__ADS_2