
Hari ini Arya terlihat tidak bersemangat, rasa-rasanya seperti ada yang kurang didalam hidupnya, namun dia tidak tau apa. Dengan wajah yang lesu dia beranjak dari kasur ke kamar mandi untuk mencuci mukanya.
"TING TONG TING TONG" suara bell rumah Arya berbunyi.
Sarah yang sedang dirumah bergegas membukakan pintu. Dan tersentak saat melihat kedatangan putrinya yang sudah hampir seminggu ini tak kerumahnya.
"Heni!" Sarah pun langsung memeluknya dengan erat.
"Om ada tan?" Tanya Diaz.
"Ada, ayo masuk" Sarah menyuruh Heni dan Diaz masuk kerumah.
Diazpun langsung berjalan kearah ruangan kerja Wisnu, karena dari awal dia sudah berniat untuk membicarakan masalah perusahaannya dengan Wisnu.
Sedangkan Heni duduk diruang tamu bersama Sarah.
"Ma, Dimana Arya?" Tanya Heni, kenapa Heni memanggil Sarah itu mama karena sejak kecil dia sudah terbiasa dititipkan ke Sarah saat kedua orang tuanya pergi ke Luar kota. Jadi Sarah dan Wisnu itu orang tua keduanya Heni.
"Dia ada dikamar"
"Sudah beberapa hari kamu tidak kesini Arya terlihat sangat murung sayang" Lanjut Sarah
"Benarkah?" Wajah Heni kembali ceria saat mendengar ucapan Sarah.
"Iya, kamu taukan sejak kecil kalian itu selalu bersama jadi akan terasa kehilangan saat kamu tidak ada disisinya" Bisik Sarah.
"Aku kekamar Arya dulu ya ma" Heni pun dengan ceria berlari menuju kamar Arya.
Saat Heni membuka pintu kamar Arya, terlihatlah Arya yang sedang keluar dari kamar mandi. Rambutnya yang basah membuat Heni semakin terpesona.
"ARYA" Teriak Heni yang langsung memeluk Arya.
"Heni apa yang kamu lakukan, cepat lepaskan!" Henipun melepaskan pelukannya.
"Ar, aku ingin mengatakan sesuatu"
"Apa?" Arya menyuruh Heni duduk diranjangnya.
__ADS_1
"Tapi kamu harus janji tidak boleh marah ya" Heni menyodorkan jari kelingkingnya.
"Baiklah, aku janji tidak akan marah sama kamu" Arya menyatukan jari kelingkingnya pada Heni.
"Sebenarnya, aku sudah mencintaimu sejak lama, melihatmu berduaan dengan Shinta membuat hatiku sakit" ucap Heni dengan nada lirih namun masih bisa didengar.
"Hmm, itu bukan cinta Hen" Arya menyangkalnya.
"Kalau bukan cinta terus apa, mengapa hatiku sakit saat melihatmu bersama cewek lain, mengapa air mata ini sangat mudah keluar saat kamu..."
"Itu hanya karena kamu belum terbiasa saja Hen" Arya memotong ucapan Heni.
"Nggak Ar, aku yakin ini cinta"
"Hen, sejak kecil kita selalu bersama, melihatmu menangis aku tidak sanggup, melihatmu dilukai aku akan marah, karena aku sudah menggapmu sebagai adikku, rasa sayangku ini kekamu tidak lebih dari sayang seorang kakak ke adiknya" Air mata Heni mengalir deras.
"Arya, kamu salah! Kamu mencintaiku dan kamu hanya kagum dengan Shinta" Kata Heni dengan getar.
"Tidak hen, kamu yang salah mengartikan sikapku ke kamu" Heni menggelengkan kepalanya.
"Arya hiks... aku mohon hiks... jauhi Shinta, dan pacaranlah denganku hiks..." mohon Heni, Arya menghapus air mata Heni dan memeluknya dengan erat.
"TERUS KENAPA KAMU BERSIKAP SEPERTI INI PADAKU SELAMA INI" Teriak Heni yang membuat semua orang dirumah mendengarnya dan langsung berlari kearah suara.
"Hen, tenanglah aku sayang sama kamu karena kamu adikku" Arya menenangkan Heni.
"AKU BUKAN ADIKMU!" Teriaknya lagi.
"Ada apa ini?" Tanya Wisnu, Diaz yang melihat Heni menangis langsung memeluknya dan menenangkannya.
"Arya, apa yang kamu lakukan pada putri mama nak?" Sarah mendekati Arya.
"Aku salah, maafkan aku Hen tapi aku tidak bisa mencintaimu, yang dihatiku saat ini hanya Shinta"
------
"Aku salah, maafkan aku Hen tapi aku tidak bisa mencintaimu, yang dihatiku saat ini hanya Shinta" Kata itu begitu sangat menyakitkan.
__ADS_1
Tiba-tiba kepalaku menjadi pusing dan semuanya menjadi gelap.
"Hen, Heni" Teriakan itu semakin pudar dan aku tak bisa mendengar apa-apa lagi.
SKIP____
Aku terbangun dari tidurku. Aku lihat kakakku sedang berdiri melihat kearah luar.
"Kak"
"Heni, kamu sudah sadar" Kak Diaz menghampiriku.
"Kita dimana kak?" Tanyaku.
"Kita ada di rumah sakit"
"Memangnya aku kenapa kak?"
"Kemarin kamu pingsan hen, ceritakan semua padaku apa yang sebenarnya terjadi?" Kak Diaz mengusap rambutku
"Aku mencintai Arya kak, aku tidak bisa melihat Arya dengan Shinta kak" Tangisku pecah lagi.
"Sudahlah, jangan menangis" Kak Diaz memelukku.
"Besok kita Wonogiri, mama dan papa ingin kamu sekolah disana" aku tersentak mendengar ucapan kak Diaz.
"Tapi kak"
"Tidak ada tapi-tapian, mama dan papa ingin kamu tinggal bersama nenek"
"Baiklah kak"
"Sekarang kamu tidurlah" akupun mengangguk.
Bersambung...
Terima kasih teman-teman sudah mau mampir dan membaca ceritaku.
__ADS_1
Jangan lupa like jika teman-teman suka dan komen untuk memberikan penilaian😊.
Selamat membaca.