Rahasia Cinta

Rahasia Cinta
Bertemu Alikha


__ADS_3

Tasya mulai menceritakan pertemuannya dengan Alikha.


"Hari pertama aku datang kekota ini aku tidak sengaja bertemu Alikha, aku pikir dia hanya mirip dengan Alikha. kemudian aku bertemu lagi dengan Alikha dihotel, ternyata kita menginap dihotel yang sama. saat aku tahu nomer kamar Alikha. aku langsung bertanya, atas nama siapa kamar itu dipesan? resepsionis dihotel mengatakan kamar itu dipesan atas nama Alikha." Cerita Tasya.


"Zeedan, kalau kamu tidak percaya, kamu bisa datang kehotel tempat aku menginap. kamu bisa menanyakan sendiri pada Resepsionis hotel." Sambung Tasya.


"Tidak perlu! Aku percaya padamu." Zeedan menghapus air matanya.


"Kenapa kamu tidak memberi tahuku?" Tanya Zeedan.


"Karena Alikha tiba tiba pergi meninggalkan hotel dan aku pikir kamu tidak akan percaya padaku." Tasya menjelaskan.


"Apa kamu tidak mencoba mencegah kepergian Alikha?" Zeedan kembali bertanya.


"Aku tidak sempat mencegahnya." Tasya menghela nafas.


"Zeedan itu Alikha!" Tasya melihat Alikha sedang berjalan masuk kedalam rumah sakit.


"Iya, benar." Zeedan baru ingin membuka pintu mobil.


"Zeedan, tunggu!" Tasya menghalangi Zeedan.


"Ada apa?" Zeedan mengerutkan keningnya.


"Kamu mau kemana?" Tanya Tasya.


"Tentu saja mengejar Alikha, aku ingin bicara padanya." Jawab Zeedan.


"Kamu jangan bicara padanya, kita ikuti saja dia." Saran Tasya.


"Kenapa?"


"Kalau kamu bicara dengannya sekarang, Alikha akan kabur lagi."


"Iya, kamu benar." Zeedan setuju dengan pendapat Tasya


Zeedan dan Tasya kemudian mengikuti Alikha dari belakang. Alikha baru saja masuk kedalam rumah sakit, ia dikejutkan saat melihat Sarah.


"Kak Sarah, sedang apa dia disini?" Alikha bertanya tanya.


Alikha tidak menyadari kalau ada dua orang yang mengawasinya, mereka juga mendengar apa yang Alikha katakan.


"Zeedan, kamu dengar? dia mengenal Sarah. itu berarti kita tidak salah dia benar benar Alikha " bisik Tasya.


Tasya bertambah yakin bahwa perempuan yang sedang mereka ikuti adalah Alikha.Sarah berjalan menuju kamar tempat Revan dirawat, Setelah dari kamar Kiara kini gantian ia ingin melihat keadaan Revan.

__ADS_1


Sarah masuk kedalam kamar Revan, Sarah tidak menutup pintu kamar itu, Sarah juga tidak tahu kalau Alikha mengikutinya.


Melihat Revan terbaring diruangan itu dan melihat tangan Revan diinfus, Sarah kembali bersedih. Ia lalu duduk dikursi yang ada didepan tempat tidur Revan.


"Revan, untunglah kamu selamat. Revan, apa kamu tahu? kamu membuat aku khawatir." Sarah menangis.


Saat Sarah sedang menangis tiba ponselnya berbunyi, Sarah megambil ponsel yang ada disaku bajunya.


"Mama" Sarah melihat dilayar ponselnya tertulis mama.


"Bagaimana ini? mama menelphone." Sarah bingung, akhirnya ia memilih untuk tidak menangkatnya.


Sarah juga mendapat beberapa pesan dari pegawainya.


"Revan, aku keluar sebentar. aku mau menelphone pegawaiku, ini tentang pekerjaan." Meskipun Revan masih tertidur Sarah tetap berpamitan padanya.


Sarah kemudian keluar dari kamar revan, ia menutup pintu lalu berjalan, ia ingin meninggalkan tempat itu, Alikha buru buru membalikan tubuhnya. ia berpura pura memainkan ponselnya, agar Sarah tidak mencurigainya.


Tasya dan Zeedan juga langsung bersembunyi dibalik tembok, Tasya dan Zeedan tidak ingin Alikha dan Sarah melihat mereka.


Alikha menghela napas lega saat Sarah sudah pergi dari kamar Revan. Alikha melangkahkan kakinya berlahan lahan, dengan nafas yang tidak beraturan dan dengan jantung yang berdebar debar Alikha memegang daun pintu.


Alikha lalu membuka kamar itu, Alikha melihat Revan sedang tertidur. Alikha kembali melangkahkan kakinya, ia menghampiri Revan, Alikha kemudian duduk ditempat tidur, ia duduk tepat disamping Revan.


"Revan, apa yang terjadi?" Revan, bangun Revan! Revan kamu harus hidup, kamu harus tetap hidup. Revan, apa kamu tidak ingin melihat anak kita?" Alikha bicara sambil menangis.


"Anak, bagaimana aku bisa lupa? Alikha saat itu sedang hamil. jadi Alikha sudah melahirkan, bayinya juga selamat." ucap Zeedan pada Tasya.


Perasaan Zeedan campur aduk, antara sedih dan bahagia. iya bahagia karena Alikha dan anaknya ternyata masih hidup tapi ia sedih karena Alikha bersembunyi darinya.


Revan terbangun dari tidurnya. ia sangat bahagia karena saat membuka matanya, orang yang pertama ia lihat adalah Alikha.


"Alikha, akhirnya aku bisa bertemu denganmu. mungkin didunia kita tidak bisa bersama, tapi disini, didunia lain ini. kita bisa bersama." Revan memeluk Alikha yang saat itu duduk dihadapannya.


"Dunia lain? apa maksud mu?" Alikha melepaskan pelukan Revan.


"Alikha, kamu sudah mati. aku juga sudah mati karena itu kita bisa bertemu." ujar Revan.


"Jadi maksud mu, tempat ini adalah dunia lain?" Alikha berusaha menahan tawanya.


"Iya" Revan merasa apa yang ia katakan benar.


"Kamu salah! kamu belum mati, sekarang kamu sedang ada dirumah sakit." ujar Alikha.


Revan melihat baju dan tempat tidur yang ia pakai, ia juga merasakan sakit dibagian perutnya. Revan sadar yang dikatakan Alikha benar, ia masih hidup.

__ADS_1


"Jadi aku masih hidup, bagaimana bisa aku bertemu denganmu? Alikha, kamu kan sudah mati?" Tanya Revan.


"Aku bukan Alikha." Alikha bohong.


"Kalau kamu bukan Alikha, kenapa kamu ada disini?"


"Aku salah masuk kamar, aku harus pergi!" Alikha buru buru berjalan, ia ingin segera pergi dari kamar Revan.


Revan tidak percaya ada wanita yang begitu mirip Alikha, Revan ingin mencegah kepergian Alikha, tapi karena ia masih sakit ia tidak bisa melakukannya.


Brug...


Ketika sampai didepan pintu kamar, Alikha tanpa sengaja menabrak seseorang, Alikha mengangkat wajahnya yang semula menunduk. Alikha sangat terkejut melihat orang yang ia tabrak.


Kak Zeedan, kenapa dia ada disini?


Batin Alikha.


"Alikha, kamu masih hidup?" Zeedan memeluk Alikha.


"Aku bukan Alikha" Tanpa diduga Alikha mendorong tubuh Zeedan.


Tasya memegang tubuh Zeedan yang hampir saja terjatuh.


Kak Zeedan, maaf!


Alikha merasa bersalah.


"Zeedan, kamu mau kemana?" Tanya Tasya, saat Zeedan ingin melangkahkan kakinya keluar dari kamar itu.


"Zeedan, kamu tidak ingin bicara dengan adikmu?" lagi lagi Tasya bertanya.


"Tidak! dia bukan adikku, untuk apa aku bicara padanya?" Zeedan menolak.


"Kamu yakin, dia bukan adikmu?" Tasya tidak mengerti, kenapa Zeedan berubah pikiran.


"Wajahnya memang mirip dengan adikku, namanya juga sama seperti nama adikku. tapi dia bukan adikku, karena aku tidak punya adik seperti dia!" kata kata Zeedan membuat Alikha sakit hati.


Zeedan kemudian meninggalkan kamar itu.


"Alikha, selama ini Zeedan berusaha balas dendam karena kematian mu, tapi ternyata kamu masih hidup. Revan ada disini juga karena rencana balas dendam Zeedan dan satu lagi adik Revan hampir mati tenggelam juga karena Zeedan." Tasya berkata panjang lebar, setelah itu ia pergi menyusul Zeedan.


Alikha terdiam dia merasa sangat bersalah.


"Alikha." Revan memanggil nama Alikha, Alikha menoleh.

__ADS_1


"Kalau kamu bukan Alikha, kenapa kamu menoleh saat aku memanggil nama Alikha?"


Alikha diam saja, kelihatannya ia sudah tidak bisa lagi berbohong.


__ADS_2