
Alikha dan keluarga Revan sedikit terkejut melihat kedatangan Zeedan dan Tasya.
"Kak Zeedan" Alikha memeluk Zeedan.
"Aku, bukan kakakmu adikku Alikha sudah mati." Zeedan terlihat sinis.
"Kakak! maafkan aku." Alikha memohon.
"Minta maaf memang gampang, apa kamu tahu? apa yang aku alami saat kamu pura pura mati? siang malam aku memikirkan cara untuk balas dendam. karena aku pikir kamu benar benar sudah mati." Zeedan mencurahkan isi hatinya
"Kakak!" alikha merasa bersalah.
"Zeedan, jangan salahkan Alikha. akulah yang bersalah. seandainya waktu itu aku menikahi Alikha, Alikha tidak akan pergi." Revan membela Alikha.
"Sudahlah! terserah! siapapun yang salah aku tidak perduli lagi, aku tidak ingin membicarakan masa lalu." Zeedan ingin meninggalkan tempat itu.
"Zeedan, kamu mau kemana?" Tanya Revan.
"Mau pergi, tidak ada gunanya aku disini"
"Jangan pergi dulu!" Alikha berusaha menghalangi Zeedan.
"Ada yang ingin aku katakan." Ucap Alikha.
"Aku dan Revan akan menikah." sambung Alikha.
"Saat, kamu hamil kamu tidak memberitahu aku. saat kamu melahirkan, kamu juga tidak memberitahu aku. jadi, untuk apa kamu memberitahuku tentang rencana pernikahanmu?"
Kata kata Zeedan membuat Revan dan keluarganya terkejut.
"Apa? melahirkan? jadi anak kita tidak meninggal?" Tanya Revan pada Alikha.
"Iya." Jawab Alikha.
"Alikha, Kenapa kamu bohong?" Revan sangat kecewa.
"Karena.. karena aku takut kamu mengambil anakku, aku tidak tahu kita akan berbaikan dan kamu akan menikahiku." Alikha menjelaskan.
"Anak! Revan jadi kamu dan Alikha sudah punya anak?" Pertanyaan Ibu Arumi mengejutkan Revan, saat bicara Revan lupa bahwa keluarganya sedang berkumpul.
Revan tidak menjawab, ia hanya mengangguk.
"Kalau kalian sudah punya anak, kenapa kalian tidak menikah dari dulu." Suara pak Aditya membuat suasana tiba tiba menjadi hening. Pak Aditya terlihat sangat marah.
"Maafkan aku! ini semua salahku." Revan meminta maaf ia merasa bersalah.
"Revan, mama tidak mau tahu kalian harus menikah besok!" Perintah Ibu Arumi.
"Tapi ma.." Revan memotong kata kata Ibu Arumi.
"Tidak ada tapi tapian." Ibu Arumi tidak menerima penolakan, kata katanya seperti sebuah perintah.
"Aku mau menikah dengan Alikha tapi semuanya butuh persiapan." Revan memberi alasan.
"Kamu tenang saja, mama dan papa yang akan mengurus pernikanmu. iya kan pa?" Ibu Arumi melihat kearah pak Aditya.
__ADS_1
"Iya. mama kamu benar! Revan seharusnya papa memukulmu dengan tongkat. kau ini benar benar tidak bertanggung jawab. Alikha hamil tapi kamu tidak menikahinya! kamu membuat papa malu. papa tidak pernah mengajarimu lari dari tanggung."
Pak Aditya marah marah, tapi ia berusaha merendahkan suaranya karena saat itu mereka sedang ada ditempat umum. Revan hanya bisa diam mendengar ocehan ayahnya.
"Alikha, mama ingin sekali melihat cucu mama." Ibu Arumi tidak sabar, ia ingin segera bertemu cucunya.
"Alikha anakmu laki laki atau perempuan." Sarah juga terlihat bersemangat.
"Laki laki." Alikha memberitahu.
"Wahh.. aku punya keponakan laki laki, sekarang keponakanku lengkap ada yang perempuan ada yang laki laki." Kiara terlihat bahagia.
"Zeedan, untuk apa kita disini? lebih baik kita pulang." Tasya berbisik pada Zeedan.
"Baiklah." Zeedan kembali menggandeng tangan Tasya.
"Aku permisi! aku tidak ingin mengganggu acara keluarga kalian." Sindir Zeedan.
"Zeedan, Alikha adalah adikmu itu artinya kita juga keluarga." ucap Revan.
"Aku sudah bilang, dia bukan adikku!" Zeedan masih marah, ia belum bisa memaafkan Alikha.
Zeedan dan Tasya kemudian pergi dari restaurant itu, Zeedan masih tetap mengandeng tangan Tasya. Kiara menatap Zeedan hingga tubuhnya menghilang dari tempat itu.
Zeedan, dia benar benar tidak perduli dengan perasaanku.didepanku dia bergandengan tangan dengan kak Tasya. Batin Kiara.
"Kiara, sudahlah. jangan pikirkan Zeedan lagi, nanti kakak akan mencarikan kamu laki laki yang lebih baik dari Zeedan." Sarah menghibur Kiara, karena ia melihat Kiara sedih saat Zeedan pergi menggandeng tangan Tasya.
Sementara itu Alikha ingin mengejar Zeedan tapi Revan melarangnya.
"Alikha biarkan Zeedan pergi, berikan dia waktu. aku yakin pada akhirnya dia akan memaafkanmu." Saran Revan.
"Sebenarnya apa yang terjadi? Zeedan adalah orang yang menerima kue ulang tahun pertama dari Kiara dan Tasya dulu adalah calon istri Revan. Kenapa sekarang Tasya bisa bersama Zeedan? dunia ini benar benar sempit." Kata kata ibu Arumi membuat semua terdiam.
"Sudahlah ma, kita tidak perlu membicarakan masa lalu yang penting Revan dan Alikha akan menikah dan kita akan segera bertemu dengan cucu kita." Pak Aditya kelihatan bersemangat.
"Lalu Kiara?" Ibu Arumi mencemaskan Kiara.
Ibu Arumi masih ingat ketika Kiara berulang tahun, dengan penuh percaya diri Kiara menyatakan cintanya pada Zeedan bahkan tanpa malu malu ia mengatakannya didepan semua tamu.
Dan sekarang tiba tiba Zeedan bersama dengan perempuan lain, ibu Arumi bisa merasakan sakit hati yang Kiara rasakan.
"Kiara, dia masih punya banyak kesempatan. suatu hari nanti, dia menemukan jodohnya." Pak Aditya berusaha menghibur Kiara.
"Sudah! Sudah! Hari ini adalah hari bahagia, jadi kita jangan bicara yang sedih sedih." Revan membuat suasana kembali menjadi hangat.
Ditempat lain,
"Zeedan kita mau kemana?" Tasya menepis tangan Zeedan.
"Mengajakmu jalan jalan, Tasya selama ini yang aku pikirkan hanya balas dendam. sekarang saatnya aku menikmati hidupku." ucap Zeedan.
"Katakan, kamu ingin pergi kemana." Tanya Zeedan
"Aku tidak ingin kemana mana. aku hanya ingin..." Tasya tidak melanjutkan kata katanya.
__ADS_1
"Ingin apa?" Zeedan penasaran.
"Ingin makan." Tasya sedikit malu.
Zeedan tersenyum, ia kemudian mengantarkan Tasya pulang.
"Zeedan, kenapa kamu mengantarku pulang?" Tasya cemberut.
"Hari ini aku mau masak buat kamu."
"Apa! kamu serius?" Tasya seperti tidak percaya dengan ucapan Zeedan.
"Serius." Tasya sangat senang, baru pertama kali ada seseorang yang mau memasak untuknya.
Setelah masuk kedalam rumah Tasya, Zeedan langsung pergi kedapur, Zeedan mulai memasak untuk Tasya.Tasya mengikuti Zeedan masuk kedalam dapur.
"Sayang, kamu tunggu saja dimeja makan." Pinta Zeedan.
"Kenapa?"
"Aku tidak bisa fokus, kalau kamu melihatku seperti itu."
"Ya sudah, aku tunggu dimeja makan."
Tasya lalu pergi meninggalkan Zeedan sendiri, tapi beberapa saat kemudian Tasya kembali lagi kedapur.
"Masakan Zeedan pasti enak, wanginya saja sampai tercium keruang makan" Tasya bicara sendiri sambil melihat Zeedan yang sedang memasukan makanan kedalam piring.
"Kenapa cuma berdiri saja? bantu aku membawa piring piring ini kemeja makan." ucapan Zeedan membuat Tasya sedikit salah tingkah.
Ternyata dia melihatku.Tasya malu.
Tasya berdecak kagum saat ia melihat didapur ada beberapa piring dan mangkuk yang sudah terisi dengan makanan.
"Ini semua masakan kamu?" Tasya mengambil salah satu piring.
"Iya, memangnya siapa lagi?" Zeedan tersenyum bangga.
Tasya dan Zeedan kemudian memindahkan satu persatu piring piring itu kemeja makan, mereka berdua lalu makan bersama.
"Kalau seperti ini kita seperti keluarga."
Tasya hampir tersedak mendengar kata kata Zeedan.
"Pelan pelan" Zeedan memberikan gelas berisi air pada Tasya.
"Tasya, aku serius. aku ingin kita segera menikah." Zeedan kelihatan bersungguh sunguh dengan ucapannya.
Zeedan menatap Tasya dalam dalam ia ingin meyakinkan Tasya.
Ditatap seperti itu membuat jantung Tasya berdebar debar, wajahnya sedikit memerah karena malu.
"Zeedan, masakan kamu enak." Tasya mengalihkan pembicaraan.
"Kalau kamu menjadi istriku, aku akan masak tiap hari untukmu."
__ADS_1
Lagi lagi Tasya hampir tersedak, ia lalu buru buru mengambil gelas berisi air yang ada dihadapannya.
"Zeedan, lebih baik kita makan dulu. jangan bicara lagi." Tasya lalu meminum segelas air yang ia ambil.