Rahasia Cinta

Rahasia Cinta
Permintaan Revan


__ADS_3

Revan membawa tubuh Kiara keluar dari kolam renang, ia sangat panik.


"Kiara, bangun Kiara!" Revan menekan nekan dada Kiara, agar air yang masuk kedalam tubuh Kiara keluar.


"Revan, apa yang terjadi?" Sarah yang baru saja datang langsung menghampiri Revan dan Kiara.


"Kiara, Kiara baru saja tenggelam." Jawab Revan sambil menangis.


"Bagaiman bisa?" melihat Revan menangis Sarah juga ikut menangis.


"Aku, akan panggil ambulans atau aku akan cari bantuan dari hotel ini." Sarah juga menjadi panik.


"Sarah, jangan!" Tasya menyela pembicaraan mereka.


"Kenapa?" Sarah memadang sinis kearah Tasya.


"Kalau kita menunggu ambulans atau memanggil dokter kesini itu terlalu lama, aku takut Kiara tidak bisa bertahan. Kita langsung saja, bawa Kiara kerumah sakit." Saran Tasya.


"Tasya benar kak!" Revan menggedong Kiara.


Revan segera membawa Kiara keluar dari hotel itu, sampai diluar hotel ia melihat mobil berhenti tepat didepannya.


"Ayo cepat masuk!" Zeedan membuka kaca mobil.


Ternyata orang yang mengendarai mobil itu adalah Zeedan. Revan membuka pintu mobil belakang, kemudian ia meletakan Kiara disana.Revan lalu masuk kedalam mobil itu.


Setelah Revan masuk Sarahpun ikut masuk, ia duduk disamping Kiara, sedangkan Kiara didudukan ditengah tengah. Kiara berada diantara Revan dan sarah.


karena yang tersisa hanya bangku disamping Zeedan, dengan terpaksa Tasya duduk disamping Zeedan.


Suasana sangat tegang dan mereka semua terkejut saat tiba tiba Zeedan mengerem mobilnya.


"Zeedan ada apa?" Tanya Tasya.


"Aku sepertinya menabrak seseorang." Zeedan keluar dari mobilnya.


Tasya dan Revan mengikuti Zeedan sementara Sarah masih didalam mobil menjaga Kiara.


Zeedan melihat seorang laki laki tergeletak diidepan mobilnya. Zeedan menghampiri laki laki itu, Zeedan berlutut lalu menepuk nepuk pundak laki laki itu.


"Kau tidak apa apa?" Tanya Zeedan pada laki laki itu.


Tanpa diduga laki laki itu tiba tiba menarik tangan Zeedan dan disaat Zeedan jatuh terduduk laki laki itu mengarahkan pisau keleher Zeedan.


Satu tangan laki laki itu melingkar dileher Zeedan dan satu tangan lagi membawa pisau, pisau itu ia tempelkan tepat dileher Zeedan.

__ADS_1


"Jika kau ingin selamat, serahkan semua hartamu!" Ancam laki laki itu.


Laki laki itu bertubuh tinggi, kulitnya sedikit hitam dan wajahnya terlihat sangar. Tasya ketakutan, Revan juga panik melihat Zeedan ingin dirampok.


Sama seperti Tasya, Sarah yang menyaksikan kejadian itu dari dalam mobil juga merasa ketakutan.


"Baiklah, aku akan berikan uangku dan juga mobilku tapi tolong lepaskan aku." ujar Zeedan kepada laki laki itu.


Meskipun mobil yang aku bawa adalah pinjaman dari hotel, aku tidak akan memberikannya karena aku harus segera membawa Kiara kerumah sakit. Batin Zeedan.


Lelaki itu sedikit lengah saat Zeedan membohonginya, kesempatan itu Zeedan gunakan untuk menepis tangan laki laki itu.


Pisau laki laki itupun terjatuh dan karena terkejut ia melepaskan pegangan tangannya pada leher Zeedan.


"Revan, Tasya. pergilah! cepat bawa Kiara kerumah sakit!" perintah Zeedan


"Tidak, aku tidak mau meninggalkanmu." Tasya menolak.


Mendengar kata kata Tasya, Revan tiba tiba menjadi sedih.


laki laki itu ingin mengambil pisaunya kembali tetapi Zeedan menghalanginya, akhirnya merekapun berkelahi.


Tasya menghampiri Sarah dan Kiara yang sedang menunggu didalam mobil, Sarah membuka jendela mobil saat ia melihat Tasya menghampirinya.


"Sarah cepat bawa Kiara kerumah sakit!"pinta Tasya.


"Tidak ada tapi tapian, Sarah cepatlah sebelum terlambat." Tasya sangat cemas.


"Baiklah." mendengar kata terlambat Sarah menjadi takut.


Sarah keluar dari mobil, ia pindah kekursi depan untuk menyetir. Sarah lalu buru buru menjalankan mobilnya. sementara itu Zeedan dan laki laki itu masih berlelahi


Zeedan memukul laki laki itu, laki laki itu terjatuh hidungnya berdarah. mata laki laki itu terpejam kelihatannya laki laki itu pingsan. melihat laki laki itu pingsan Tasya berlari mendekati Zeedan.


"Zeedan, kamu tidak apa apa?" Tasya memeluk Zeedan.


Zeedan bisa merasakan detak jantung Tasya, ia juga bisa merasakan jantungnya sendiri berdebar debar.


Tasya sudah lama kamu tidak memelukku seperti ini. Zeedan sangat senang.


"Iya, aku tidak apa apa." Zeedan memejamkan matanya.


Tasya, saat kita putus aku pikir kamu hanya marah sebentar. aku pikir kita akan kembali lagi seperti dulu. sekarang aku sadar kita tidak mungkin kembali lagi karena hatimu, bukan milikku lagi. Suara hati Revan berbicara.


Untuk sesat Revan menundukan wajahnya hatinya terasa sakit.

__ADS_1


"Sebaiknya kita pergi dari sini!" Revan mengajak Zeedan dan Tasya untuk segera pergi.


Ucapan Revan membuat Tasya dan Zeedan menyadari kehadiran Revan, dengan cepat Tasya melepaskan pelukannya pada Zeedan.Tasya merasa tidak enak pada Revan.


Saat mereka sedang lengah, mereka tidak menyadari laki laki yang tadi Zeedan pukul sudah terbangun. ia mengambil pisau yang sempat terjatuh kemudian ia berjalan mendekati Zeedan.


Laki laki itu ingin menusuk Zeedan dengan pisaunya, Tasya dan Zeedan tidak mengetahui pergerakan laki laki itu.Saat langkah laki laki itu semakin dekat dengan Zeedan, Revan melihatnya.


"Zeedan awas!" Revan mendorong tubuh Zeedan.


Zeedan hanya terjatuh sedangkan Revan, perut Revan tertusuk pisau. dalam hitungan detik perut disamping pusar Revan mengeluarkan banyak darah. Laki laki itu kaget ia tidak menyangka ia akan benar benar akan menusuk orang.


Laki laki itu takut ada orang yang melaporkannya pada polisi, tanpa berpikir panjang ia berlari dengan cepat. laki laki itu akhirnya berhasil melarikan diri. Zeedan ingin mengejar laki laki itu.


"Zeedan, tidak usah dikejar!" Tasya melarang Zeedan.


"Zeedan, kita harus cepat cepat menolong Revan." Tasya menangis.


"Tidak perlu!" Revan meringis menahan rasa sakitnya.


Tubuh Revan tergelak dipinggir jalan, Tasya memegang tangan Revan.Tasya duduk disebelah kiri Revan. Zeedan yang semula berdiri kemudian duduk disebelah Kanan Revan.


"Zeedan, maafkan aku. aku sudah merusak masa depan Alikha, aku juga membuat Alikha bunuh diri. Zeedan, kalau kau ingin balas dendam. balas dendam saja padaku, tapi jangan sakiti keluargaku. jangan sakiti Kiara atau Sarah, mereka tidak bersalah." Dalam keadaan sakit Revan masih bisa memohon pada Zeedan.


"Zeedan, aku sudah tidak kuat lagi, Zeedan berjanjilah padaku, berjanjilah kau tidak akan menyakiti Kiara dan Sarah. Zeedan, jika kematianku bisa menghapus rasa dendammu. aku rela, aku rela mati."


Setelah mengungkapkan isi hatinya Revan memejamkan kedua matanya, ia jatuh pingsan.


"Revan, Revan!" Tasya menangis, ia memanggil manggil nama Revan sambil mengucang guncangkan tubuh Revan.


"Kita harus kerumah sakit." Zeedan mengangkat tubuh Revan.


Revan, tadi kau menangis karena Kiara pingsan. siapa yang menyangka, sekarang kaulah yang pingsan. Revan jika kau hidup, jika nyawamu bisa diselamatkan. aku janji, aku tidak akan balas dendam lagi. aku, aku akan menuruti permintaanmu. Zeedan berjanji dalam hati.


Beruntunglah, baru beberapa langkah Zeedan membawa Revan, ada sebuah mobil yang lewat.


"Berhenti!" Tasya menghentikan mobil itu, ia berdiri ditengah tengah jalan.


Mobil itupun berhenti.


"Ada apa?" Pemilik mobil membuka kaca mobilnya, ia sedikit terkejut karena Tasya tiba tiba menghentikan mobilnya.


"Tolong aku! temanku pingsan, apa boleh kami menumpang kerumah sakit?" Tasya berharap mendapat pertolongan.


"Kebetulan aku dan istriku mau menjenguk temanku dirumah sakit." ucap orang itu.

__ADS_1


"Masuklah." Sambung istri pemilik mobil yang duduk disamping suaminya.


Tasya ternyata menghentikan mobil pasangan suami istri yang ingin pergi kerumah sakit.


__ADS_2