Rahasia Cinta

Rahasia Cinta
Kembalinya Kiara


__ADS_3

Revan berjalan menyusuri anak tangga didalam rumahnya, ketika ia sampai dilantai bawah ia melihat Pak Aditya dan ibu Arumi sedang duduk dimeja makan.


"Pagi ma, pagi pa." Sapa Revan pada kedua orang tuanya.


Ibu Arumi dan pak Aditya tetap makan mereka mengabaikan kehadiran Revan.


"Aku permisi." Merasa tidak dianggap Revan ingin berdiri dan ingin pergi dari ruang makan itu.


"Dimana Alikha? mama tidak melihat dia sejak kemarin." Ibu Arumi membuka suaranya.


"Alikha dirumah Zeedan ma." Revan tidak jadi berdiri.


"Lalu apa yang akan kamu lakukan sekarang? Tasya sedang hamil anakmu?" Pak Aditya menatap penuh amarah pada Revan, seandainya tidak ada ibu Arumi mungkin dia sudah memukul anaknya itu.


"Anaknya Tasya, bukan anakku." Revan menegaskan.


"lalu kenapa kemarin kamu mengakuinya?" Ibu Arumi tidak percaya.


"Ma, aku sengaja ingin membuat Zeedan marah."


"Kamu jangan bohong!" Sela pak Aditya.


"Revan, mama meminta Tasya datang kesini. mama ingin bicara dengannya, tapi dia tidak datang, dia tidak menghargai undangan mama." Ibu Arumi beprasangka buruk pada Alikha.


"Selamat pagi semua!"


Pembicaraan mereka terputus ketika mereka mendengar suara Kiara. mereka pikir mereka salah dengar, tapi ternyata pendengaran mereka tidak salah yang datang benar benar Kiara.


"Mama, aku pulang." Kiara langsung menghampur kepelukan ibu Arumi.


Setelah memeluk ibu Arumi, Kiara gantian memeluk pak Aditya.


"Kiara, kenapa kamu pulang?" Revan kelihatan tidak senang.


"Revan! Kenapa kamu bicara begitu?" Ibu Arumi cemberut sambil melihat kearah Revan.


"Kak, kamu tidak suka aku pulang?" Senyum bahagia Kiara tiba tiba hilang.


"Bukan begitu, bukankah kamu harusnya kuliah?" Revan alasan.


Revan sebenarnya senang melihat Kiara pulang, ia hanya takut Kiara tergoda lagi oleh Zeedan.


"Kuliahku mulainya dua minggu lagi, aku bosan menunggu, karena itu aku pulang." Kiara kelihatan sangat bahagia bisa bertemu lagi dengan keluarganya.


Tapi melihat raut wajah mereka yang datar tanpa ekspresi membuat kiara kecewa, ia mengira hanya Revan yang menatapnya dengan wajah dingin tapi ternyata ibu Arumi dan pak Aditya juga menunjukan wajah yang sama.


"Mama dan papa kenapa diam saja? apa kalian juga tidak suka aku pulang? baiklah kalau kalian tidak suka, aku akan pergi lagi." Kiara ngambek.


"Kiara sayang, jangan salah paham. mama dan papa kamu ini lagi pusing bukan karena tidak suka kamu datang." ucap ibu Arumi.


"Kiara, kamu pasti cape. sebaiknya kamu istirahat dikamar." Sambung Pak Aditya.

__ADS_1


Kiara menuruti apa yang pak Aditya katakan, ia kemudian beranjak pergi kekamarnya. Revan mengikuti Kiara kekamarnya.


"Kiara benar kan cuma dua minggu?" Revan langsung mengajukan pertanyaan yang membuat Kiara sedih.


"Kak kamu ini kenapa? kamu tidak senang aku pulang?" lagi lagi Kiara mempertanyakan hal yang sama.


"Kiara, aku cuma tidak mau kamu bertemu Zeedan, laki laki tidak bertanggung jawab itu, sudah membuat keluarga kita berantakan."


"Apa maksud kakak?"


"Tasya sekarang hamil tapi Zeedan tidak mau mengakui anaknya, dia malah menuduhku.dia bilang aku adalah ayah dari anaknya Tasya. karena Zeedan, Alikha pergi dari rumah dan kamu lihat sendiri mama dan papa jadi tertekan." Revan menceritakan semua pada kiara, hal itu membuat kiara terdiam karena terkejut.


"Baru sebentar aku pergi, sudah banyak sekali yang terjadi." Kiara menghela nafas.


"Kak, apa benar itu bukan anakmu?" Kiara menyipitkan matanya.


"Jadi kamu juga tidak percaya padaku?" Revan mencubit hidung Kiara.


"Aku bercanda. kak, kenapa kamu tidak membuktikan kalau kamu tidak bersalah"


"Aku malas, Aku terlanjur kecewa pada Alikha karena dia tidak percaya padaku."


"Kak, tapi mama dan papa harus tahu yang sebenarnya."


"Iya kamu benar, kasihan mama dan papa jadi stress. mama juga sampai masuk rumah sakit."


"Apa! Kenapa tidak ada yang memberi tahu aku?" Kiara protes.


"kita tidak mau membuamu khawatir, lagi pula mama sekarang sudah pulang. Kiara, kamu jangan coba coba ketemu Zeedan." Revan memberi peringatan.


"Tapi apa?"


"kalau kita tidak sengaja ketemu, bagaimana?" Kiara ingin tahu.


"Kamu harus bisa menghindari dia. ingat Kiara! Zeedan itu suami Tasya."


Kata kata Revan membuat hati Kiara tiba tiba terasa sakit.


Kenapa saat memikirkan Zeedan, aku tidak memikirkan kalau Zeedan sudah menikah? kak maaf, sebenarnya aku pulang bukan karena aku bosan tapi karena aku ingin bertemu Zeedan.


Kiara melamun.


"hey.. kamu kok malah bengong?" Revan menjetikan jarinya didepan wajah Kiara.


"Aku cuma cape ka." Kiara terpaksa tersenyum untuk menyembunyikan rasa sakit dihatinya.


"Ya sudah, kamu istirahat ya.aku mau kerja dulu." Revan kemudian meninggalkan Kiara sendiri didalam kamarnya.


"Kak Revan benar, Zeedan itu suami Tasya." Kiara menjatuhkan tubuhnya ditempat tidur.


Revan keluar dari dirumahnya, Revan terkejut ketika ia melihat Tasya yang sedang berdiri didepan teras rumahnya. wajah Tasya kelihatan kusut.

__ADS_1


"Tasya, kamu kenapa ada disini?" Revan menghampiri Tasya.


"Aku mau tanya, apa kamu tahu? dimana tasku yang jatuh kemarin?" Tasya berharap Revan melihatnya.


"Oh iya... aku lihat kemarin tas kamu jatuh jadi aku ambil terus aku simpan."


"Syukurlah." Tasya merasa lega, ia hampir menangis.


"Tasya, seharusnya kamu senang aku simpan tas kamu. kenapa kamu malah sedih?" Revan tanpa sadar memegang bahu Tasya.


"Aku senang kok."


"Tapi mata kamu basah. kamu menagis."


"Iya, aku menangis karena bahagia. didalam tasku ada kunci rumahku, kalau sampai tasku hilang, aku tidak bisa masuk rumah " Tasya ingin menghapus air matanya.


"Tunggu!" Revan memegang tangan Tasya.


"Jangan pakai tangan, pakai ini saja." Revan memberikan sapu tangan yang kebetulan ada disaku bajunya.


"Revan, terima kasih ya. aku tidak tahu bagaimana hidupku kalau tidak ada kamu. kamu itu memang pahlawan aku." Tasya mengambil sapu tangan yang diberikan Revan


"Berlebihan kamu." Revan tertawa kecil.


"Revan aku serius, waktu aku tersesat dihutan kamu yang jemput aku. waktu diusir dari rumah Zeedan, kamu yang mengantar aku pulang dan sekarang kamu juga yang menyimpan tasku." Tasya mengingat kebaikan kebaikan Revan.


Revan hanya tersenyum mendengar ocehan Tasya, tapi senyum itu memudar ketika ia melihat Alikha datang.


"Dimana ada Revan, disitu pasti ada Tasya. kalian seperti tidak bisa dipisahkan" Sindir Alikha.


"Alikha, jangan mulai lagi." Balas Revan.


"Aku cuma mengatakan apa yang aku lihat." ucap Alikha sinis.


"Tasya, kamu tidak usah mendengarkan Alikha, ayo kita kemobilku." Revan dan Tasya berjalan melewati Alikha


Mereka berdua pergi meninggalkan Alikha begitu saja, Revan sama sekali tidak memperdulikan perasaan Alikha. Tasya yang ingin segera pulang kerumah juga tidak ingin pusing pusing memikirkan perasaan Alikha.


"Tasya aku antar pulang ya?" Revan menawarkan diri.


"Tidak usah. nanti tas ku ketinggalan lagi, terus nanti Alikha salah paham lagi." Tasya menolak.


"Ya sudah, kalau itu mau kamu." Revan tidak ingin memaksa, Revan sadar kalau ia terlalu dekat dengan Tasya, orang lain akan berfikir buruk tentang Tasya.


Revan mengeluarkan Tas Tasya dari mobilnya, setelah itu ia memesankan taksi online untuk Tasya.


"Aku sudah pesan taksi online buat kamu, tunggu sebentar lagi datang." Revan memainkan ponselnya


"Terima kasih Revan." Tasya mengucapkan tulus dari dalam hatinya


"Tasya, aku bosan dengar kamu bilang terima kasih. jadi tolong jangan bilang terima kasih." Pinta Revan.

__ADS_1


" Iya.. iya." Tasya merasa rasa sedihnya hilang, saat ia sedang bersama Revan.


Tidak berapa lama kemudian taksi online yang Tasya pesan datang, Revan membantu Tasya memasukan tasnya yang besar kedalam mobil. merekapun berpisah Tasya pulang kerumahnya sedangkan Revan pergi bekerja.


__ADS_2