Rahasia Cinta

Rahasia Cinta
Rahasia Cinta 4


__ADS_3

Aku berjalan dibelakang Yudha, tanganku digenggam erat olehnya. Rasa nyaman saat bersamanya seperti rasa nyaman saat bersama Arya, aku menatapnya dengan penuh tanda tanya?


"Sebentar huh... huh... huh..." Nafasku hampir mau berhenti, sebenarnya ini kemana sih.


"Kamu capek?" Tanyanya.


"Kita huh... huh... huh... istirahat sebentar" Ajakku karena kaki ku rasanya sangat berat dan ingin copot.


"Naiklah" Tiba-tiba Yudha berjongkok dan membelakangiku.


"Apa yang kamu lakukan? Disini ada banyak orang" Raguku.


"Cepatlah, aku ingin menunjukanmu pemandangan yang indah"


"Baiklah, tapi kamu jangan bilang kalau aku ini gemuk ya?"


"Kamu tidak akan berat manis" Akupun menaiki pundaknya, dia mulai berdiri dan mulai melangkah.


"Apa kamu tidak pernah makan? Kenapa kamu sangat ringan" Candanya.


"Aku berat tau, kamu tidak lihat badanku yang mirip seperti gajah ini"


"Ha...ha...ha..., jika kamu seperti gajah terus aku seperti apa? Tubuhmu itu krempeng nggak ada yang menonjol dari tubuhmu"


"Yak, apa mesti sejujur itu?" Aku memayunkan bibirku.


"Imut" Lirihnya namun aku masih bisa mendengarnya.


"Sudah sampai" Dia menurunkanku.


"Wau, sejuknya" Aku merentangkan tanganku.


"Ini dimana?" Tanyaku.


"Ini namanya puncak joglo, disini kita bisa lihat semuanya dari sini, itu Waduk Gajah Mungkur" Dia menunjukkan ke arah yang seperti laut.


"Waduk sebesar itu, aku kira itu pantai atau laut" Heranku.


"Apa kamu suka?" Tanyanya.


"Ya, sungguh indah" Ucapku dan diapun tersenyum.


"Habis ini kita ke plaza ya?" Ajaknya.


"Ngapain kesana?"


" Aku ingin mengajakmu makan, makanan kesukaanku"


"Baiklah"


'Kenapa nyaman sekali bersamamu Yud, apakah aku mencintaimu? Atau benar kata Arya jika rasa ini seperti rasa sayang seorang adik ke kakak' Batinku.

__ADS_1


SKIP___


Di Plaza


"Bukannya tadi kamu bilang kita mau ke Plaza?" Bingungku.


"Ini Plaza"


'Apa-apaan ini? Ini seperti tempat nonkrong, tapi itu indah banget seperti ada dipantai' Batinku.


"Bukankah Plaza itu semacam mall?" Tanyaku.


"Ha... ha... ha..." Tawanya.


"Sebentar kamu tunggu disini ya, aku mau beli sesuatu"


"Ok, tapi jangan lama-lama ya"


"Siap gadis manis" Dia melangkah pergi.


"Huh... Sejuknya"


------


"Ini" Aku memberikan Cireng dan minuman ke Heni.


"Ini sempol ya?" Tanyanya.


"Enak, aku suka"


"Tentu saja, kapan-kapan aku akan mengajakmu kesini lagi" Janjiku.


"Benarkah?" Ucapnya senang


'Kenapa saat aku melihatmu tersenyum hatiku merasa damai Hen, Aku janji akan menjagamu Hen' Batinku.


"Yudha, terima kasih ya untuk waktu yang sudah kamu luangkan untukku" Ucapnya, namun tatapannya masih tertuju pada matahari yang hampir tenggelam.


"Apa kamu senang?" Tanyaku dengan menaruh tanganku ke pundaknya.


"Iya Yud"


"Maukah kamu menjadi pacarku manis?"


"A... apa ya...ng kamu katakan barusan Yud?" Tanyanya sedikit terbata.


"Aku serius, sejak awal melihatmu aku sudah jatuh cinta sama kamu"


"Maaf, tapi aku belum bisa menerimamu, hatiku belum bisa move on darinya" Ucapnya sendu.


"Move on, apa kamu baru saja putus?" Tanyaku tak percaya.

__ADS_1


"Bukan putus, lebih tepatnya ditolak"


"Jadi kamu selama ini murung karena ditolak sama laki-laki, bukan karena dipjndah kesini?"


"Ya"


"Aku akan membuatmu melupakannya, dan menyisakan namaku dihatimu" Ucapku.


"Tidak semudah itu Yud"


"Tidak masalah, ayo kita pulang! Nanti nenekmu memarahiku karena kemalaman"


Diperjalanan dia kembali melamun, dengan tatapan kosong.


------


Waktu terus berputar.


Dikediaman Susi terlihat 2 keluarga tengah berbicara hal yang penting, dimeja makan.


"Om Febrian kedatangan saya dan keluarga saya ingin melamar Putri om"


"Siapa namamu?" Tegas Febrian.


"Saya Yudha Setiawan om, dan ini bapak saya Setiawan dan ibu saya Mala"


"Begini, sebenarnya putriku sudah aku jodohkan dengan anak sahabatku" Meraka yang berada disanapun terbelalak.


"Ayah, kenapa ayah nggak pernah bilang ke Heni?" Tanya heni bingung.


"Tapi jika kamu bisa membahagiakan putriku, aku akan menerima lamaranmu"


"Saya berjanji om, akan membahagiakan Heni seumur hidupku" Teriak Yudha bersemangat.


"Baiklah minggu depan kita lakukan acara pertunangan kalian berdua"


"Tapi ayah bagaimana dengan Arya?" Tanya Anisa istri Febrian.


"Selama ini kita sudah melihat bagaimana sikap Arya kepada Heni, jadi aku akan membicarakan ini secepatnya dengan Wisnu" Jawan Febrian.


"Terima kasih om" Yudha tersenyum bahagia.


"Mari dimakan" Suruh Susi


Bersambung...


Terima kasih teman-teman sudah mau membaca cerita saya😄


Like jika kalian suka, dan kirim ide-ide di kolom komentar ya teman-teman, siapa tau bisa membuat saya bisa terinspirasi oleh ide teman-teman semua.


Selamat membaca😊.

__ADS_1


__ADS_2