Rahasia Cinta

Rahasia Cinta
Tasya terjatuh


__ADS_3

Kiara akhirnya sampai dilantai dua tempat Revan berbelanja mainan anak.


"Kiara!" panggil Revan, saat ia melihat Kiara datang.


"Kak Revan, Mana mama dan papa?" Tanya Kiara.


"Itu disana." Mata Revan melihat kearah kasir, disana terlihat ibu Arumi dan Pak Aditya baru saja membayar barang belanjaannya.


"Mama" Kiara menghampiri ibu Arumi dan pak Aditya.


"Kiara, kenapa kamu disini?" Ibu Arumi tersenyum senang.


"Kenapa kalian pergi sendiri? Kenapa tidak mengajakku?" Kiara protes.


"Tadi papa lihat kamu masih tidur karena itu kami tidak mengajakmu." Balas Pak Aditya.


"Sayang, kita tidak mau menggangu tidurmu." Sambung Ibu Arumi.


"Yang penting sekarang kamu ada disini. kamu mau beli hadiah apa, buat Celina?" Tanya Revan.


"Aku mau beli gelang untuk Celina." Jawab Kiara.


"Kebetulan disini juga ada gelang." Revan memberitahu Kiara.


"Kakak, yang aku maksud bukan gelang mainan tapi gelang emas asli." Kiara cemberut, ia kesal karena Revan mengira ia membeli hadiah yang tidak berguna buat Celina.


"Kiara, meskipun gelang disini bukan gelang emas tapi gelangnya bagus bagus. bisa dipakai celina, lagi pula memangnya kamu punya uang buat beli gelang emas." Revan meledek Kiara.


"Kakak pikir semahal apa gelang emas? itu cuma hadiah kecil. tentu saja aku punya uang." Kiara semakin kesal.


"Sudah, sudah. kalian jangan bertengkar disini, Kiara ayo kita beli hadiah untuk Celina, habis itu kita makan." Pak Aditya mengajak Kiara keluar dari tempat itu.


"Iya, mama juga sudah lapar." Ibu Arumi juga ingin segera makan.


Mereka berempat kemudian keluar meninggalkan toko mainan itu.


Detik berganti menit dan menitpun berganti menjadi jam, tanpa terasa jam sudah menunjukan pukul empat sore.


Rumah Sarah sudah terlihat indah dengan dihiasi bunga bunga dan juga balon balon menunjukan bahwa sipemilik rumah ingin mengadakan sebuah acara.


Celina juga sudah terlihat cantik, ia memakai gaun berwarna biru muda yang dibelikan Sarah.gaun itu membuat celina bertambah cantik. Tamu tamu yang diundang sudah mulai hadir.


Pesta ulang tahun Celina diadakan disamping rumah karena disamping rumah itu lumayan luas, disana juga terdapat kolam renang yang cukup besar.


Seluruh keluarga telah datang kerumah itu. Ibu Arumi dan pak Aditya, Revan dan Alikha serta tidak ketinggalan Kiara. Saat itu Kiara menggendong anak Revan dan Alikha.


Apa Zeedan akan datang? Batin Kiara.


Beberapa menit kemudian, Zeedan dan Tasya akhirnya datang. mereka berdua berjalan bersama, Tasya melingkarkan tangannya dilengan Zeedan. bagai pasangan Romeo dan juliet mereka terlihat serasi dan mesra.


Senyum manis juga tidak terlepas dari bibir Zeedan dan Tasya, sebagai pasangan suami istri yang baru saja tinggal bersama mereka tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya.


Kenapa aku iri melihat mereka? Kiara melihat Zeedan dan Tasya dari jarak yang tidak terlalu jauh.


Dan acara yang dinanti nantikanpun tiba, Celina ingin meniup kue ulang tahunnya.


"Sebelum kamu tiup lilinnya, berdoa dulu. sebutkan keinginan kamu." ucap Sarah kepada Celina.


Setelah mengucapkan keinginannya dalam hati, Celina kemudian meniup lilin yang berada diatas kue ulang tahunnya.Celina memberikan potongan kue untuk Sarah dan David.


Beberapa saat kemudian, Sarah mempersilahkan semua tamu undangan untuk makan. orang orang yang bekerja dirumah Sarah terlihat sibuk melayani tamu yang datang.


"Sayang, kita pulang sekarang?" Tasya mengajak Zeedan pulang.


"Kenapa buru buru? Kita kan belum makan." ucap Zeedan.


"Aku belum lapar, kita ucapkan selamat Pada Celina terus kita pulang ya?" Pinta Tasya.


"Ya sudah, kamu tunggu sebentar. aku mau minum dulu, aku haus." Zeedan berjalan meninggalkan Tasya sendirian.


Tasya berjalan kedekat kolam berenang, ia berdiri tepat didepan kolam berenang.


Rumah Sarah besar sekali, bahkan sampai ada kolam renangnya. Tasya berdecak kagum.


Kiara sedang berbincang bincang dengan keluarganya sesekali ia tertawa kecil. pandangan mata Kiara berhenti ketika ia melihat Tasya berdiri sendirian.

__ADS_1


Kiara berinisiatif untuk menghampiri Tasya, ia berjalan mendekati Tasya, Kiara berdiri hanya beberapa langkah dibelakang Tasya. niat hati Kiara ingin menyapa Tasya tapi tiba tiba Kiara ingin terpeleset, ia hampir saja jatuh.


Kiara refleks memegang punggung Tasya dari belakang. karena tidak siap dan tidak tahu kalau Kiara akan memegangnya, tubuh Tasya terhuyung dan


Byurr....


Tasya jatuh kedalam kolam berenang. Kiara panik, ia ingin menolong Tasya tetapi ia tidak bisa berenang. orang orang yang melihat kejadian itu buru buru berlari mereka berjalan kedepan kekolam berenang.


Mereka hanya menonton saja karena mereka pikir Tasya bisa berenang dan kolam itu tidak terlalu dalam, melihat Tasya tidak juga keluar dari kolam berenang mereka menjadi panik.


Revan dan David ingin menolong Tasya. Revan baru saja ingin menceburkan dirinya kedalam kolam, tetapi Zeedan Mendahuinya. Zeedan tiba tiba masuk kedalam kolam berenang dan tidak lama kemudian ia keluar dari kolam itu sambil menggendong Tasya.


"Tasya, bangun Tasya! Tasya!" Zeedan menepuk nepuk pipi Tasya.


Karena tidak ada reaksi dari Tasya, Zeedan akhirnya menekan nekan dada Tasya. Tasya terbatuk batuk dan dari mulutnya keluar air, dengan sabar Zeedan menepuk nepuk punggung Tasya.


"Kiara! Apa yang lakukan pada Tasya?" Zeedan menatap tajam kearah Kiara, hawa amarah terlukis jelas diwajahnya.


"Aku tidak melakukan apa apa." Jawab Kiara terbata bata.


"Bohong!" Zeedan membentak Kiara dan itu membuat Kiara kaget.


"Aku lihat sendiri kamu mendorong Tasya kekolam renang." Zeedan marah.


"Zeedan, kamu salah paham. aku tadi hampir kepeleset makanya aku pegangan sama Tasya, aku juga tidak tahu kalau Tasya akan jatuh cuma gara gara aku pegang." Kiara berusaha menjelaskan pada Zeedan.


"Alasan! dengar Kiara. kalau terjadi sesuatu pada istriku, aku akan menuntutmu.aku akan laporkan kamu kepolisi supaya kamu dipenjara." Zeedan kembali menggendong tubuh Tasya.


Meskipun sempat tersadar dari pingsannya tapi Tasya sudah memejamkan matanya, ia tertidur dan tidak mendengar kemarahan Zeedan.


Zeedan, aku tidak salah. kenapa kamu tega membentak bentak aku didepan orang? Bagai tersayat pisau hati Kiara sangat sakit mendengar amarah Zeedan


Sarah merasa malu, ia lalu meminta maaf pada para tamu undangan. karena suasana sudah berubah menjadi tidak menyenangkan, tamu tamu yang menghadiri ulang tahun Celina kemudian pulang.


"Kiara, kenapa kamu lakukan itu?" Revan menegur Kiara yang saat itu masih berdiri mematung.


"Kak, aku tidak mendorong Tasya." Kiara menangis.


"Tapi aku lihat sendiri." Revan merasa yakin.


"Kalian tidak usah ribut, bikin malu saja. Sarah dirumah kamu ada cctv? bagaimana kalau kita lihat sekarang?" Ucap pak Aditya.


"Iya pa, kita lihat sekarang." Sarah berjalan keruangan dimana ia bisa melihat cctv.


Semua keluarga Sarah juga mengikuti Sarah untuk melihat rekaman cctv, setelah melihat rekaman itu mereka terkejut. karena disana mereka melihat Kiara yang terburu buru memegang punggung Tasya hingga membuat Tasya terjatuh kedalam kolam berenang.


Tidak ada yang menyadari kalau Kiara memegang Tasya, karena ia ingin terpeleset. dari gambar itu menujukan seakan akan Kiara sengaja mendorong Tasya.


"Kalian lihat sendiri, Kiara mendorong Tasya. Kiara, aku kecewa padamu." ucap Revan.


"Diam kamu Revan!" Pak Aditya memarahi Revan.


"Pak bisa tolong diperbesar gambarnya?" Pinta Pak Aditya pada seseorang yang tadi memperlihatkan gambar cctv.


Orang itu kemudian menuruti perintah pak Aditya.


"Sekarang kalian fokus dan lihat benar benar Kiara." Perintah pak Aditya.


Setelah diperbesar barulah terlihat, dari ekspresi wajah dan gerak tubuh Kiara terlihat dengan jelas bahwa Kiara ingin terpeleset.


Kiara berlari kecil meninggalkan ruangan itu, ia merasa sangat sedih karena tadi Revan dan Zeedan mengira ia Sengaja mendorong Tasya.


"Kiara, tunggu!" Revan mengejar Kiara.


"Kiara, kamu mau kemana?" Revan memegang tangan Kiara ketika langkah kakinya sudah sangat dekat dengan Kiara.


"Tidak usah perdulikan aku!" Kiara menepis tangan Revan ia lalu kembali berlari kecil meninggalkan Revan.


Sementara itu dirumah sakit,


Zeedan dengan setia menunggu Tasya, saat itu Tasya terbaring lemah diatas tempat tidur rumah sakit. Tasya sempat terbangun sebentar tapi karena merasa lelah ia kembali tidur.


"Sayang, kamu cepat sembuh ya." Zeedan mengelus elus kepala Tasya.


Zeedan dikejutkan oleh suara pintu yang tiba tiba dibuka.

__ADS_1


"Sarah, kenapa kamu datang kesini?" Zeedan merasa heran denga kedatangan Sarah, tidak mungkinkan wanita itu mau menjenguk Tasya.


"Zeedan, kamu tidak perlu pura pura bodoh. bisa bisanya kamu menuduh Kiara mendorong Tasya! kamu pikir Kiara orang jahat?" Sarah marah marah.


"Aku tidak menuduh, aku lihat sendiri." Ucap Zeedan dengan santai.


"Zeedan, Kiara itu memegang Tasya karena dia mau kepeleset. dia tidak bermaksud mendorong Tasya." Sarah mulai emosi.


"Kiara juga bilang begitu, tapi aku tidak percaya." Zeedan tidak percaya pada Sarah sama seperti ia tidak percaya pada Kiara.


"Aku punya buktinya, aku akan kirimkan." Sarah meyakinkan Zeedan.


"Zeedan, tolong berhenti membuat masalah dalam keluargaku? semenjak kamu datang, keluargaku selalu dalam masalah. pertama kamu balas dendam karena kematian Alikha padahal Alikha masih hidup, dia tidak mati. lalu kemudian kamu menuduh Revan adalah ayah dari Anak yang Tasya kandung, padahal Tasya tidak hamil dan sekarang kamu menuduh Kiara mendorong Tasya." Sarah mengingatkan kembali semua kesalahan kesalahan Zeedan, ia seperti ingin menangis.


"Aku tidak tahu, setelah ini. Masalah apa lagi yang akan kamu buat pada keluargaku?" Sarah berusaha menahan air matanya.


"Maaf" Setelah Sarah bicara begitu panjang, Zeedan hanya mengucapkan satu kata.


"Zeedan, aku tidak ingin melihatmu lagi, aku harap kamu tidak pernah muncul lagi dihadapan keluargaku." Entah Mengapa Sarah menyesal mengatakannya, karena marah dan kesal kata kata menyakitkan itu keluar begitu saja dari mulut Sarah.


Ada rasa sakit dihati Zeedan saat ia mendengar ucapan Sarah, tapi Zeedan merasa apa yang dikatakan Sarah benar. ia merasa selama ini ia sudah membuat masalah dan kekacauan dalam keluarga Sarah.


"Zeedan." Panggil Tasya yang sudah terbangun dari tidurnya.


Zeedan menghapus air matanya, ia tidak ingin Tasya melihatnya menangis.


"Zeedan ada apa? kenapa kamu menangis?" Tasya melihat mata Zeedan sedikit merah.


"Aku tidak menangis." Zeedan menyangkal.


"Tapi mata kamu merah, kamu juga kelihatan sedih."


"Tentu saja aku sedih, istriku masuk rumah sakit." Zeedan menghela nafas.


"Tasya, apa kamu tidak bisa berenang?" Tanya Zeedan.


"Bisa" Jawab Tasya dengan cepat.


"Lalu Kenapa saat jatuh kedalam kolam renang kamu tidak berenang dan naik keatas?" Zeedan kembali bertanya.


"Kakiku tadi kram, mungkin aku kelelahan."Tasya memberi tahu Zeedan.


"Kelelahan?" Zeedan seakan tidak percaya.


"Iya, bukankah semalam aku sudah bekerja keras dan tadi siang kita mengelilingi Mall." Tasya malu malu mengatakannya.


"Tasya maaf, aku sudah membuatmu lelah." Zeedan memegang tangan Tasya.


"Tasya, aku ingin kita pergi dari kota ini." Zeedan menatap Tasya dalam dalam.


"Pergi, tapi kenapa?" Tasya tidak mengerti kenapa Zeedan ingin pergi.


"Aku kan sudah pernah bilang, aku ingin kita menikah dan pergi jauh dari kota ini. kita sudah menikah, jadi saatnya kita pargi."


"Iya, tapi kenapa mendadak?"


Zeedan tidak menjawab, Zeedan hanya menarik nafas.


"Zeedan, kalau kamu tidak mau memberi tahu aku, aku tidak mau pergi." Ancam Tasya.


"Aku sudah banyak melakukan kesalahan pada keluarga Revan. balas dendam, menuduh Revan berselingkuh dengamu aku juga..."


"Zeedan sudah, jangan dilanjutkan. itu semua masa lalu. mereka kelihatannya sudah memafkanmu buktinya mereka mengundangmu ke acara ulang tahun Celina." Tasya tidak ingin Zeedan membicarakan masa lalu.


"Tapi, aku baru saja melakukan kesalahan lagi."


"Kesalahan apa?"


"Aku membentak bentak Kiara didepan banyak orang, bukan hanya itu aku juga menuduh Kiara mendorong kamu sampai kamu jatuh kedalam kolam" Zeedan menceritakan semua pada Tasya.


"Zeedan, Kiara itu orang baik dia tidak mungkin melakukan itu. kenapa kamu menuduhnya?" Tasya tidak habis pikir dengan sikap Zeedan yang selalu melakukan sesuatu tanpa berpikir.


"Sayang, aku tahu aku salah. karena itu aku ingin kita pergi, aku merasa tidak enak jika bertemu dengan keluarga Revan. sayang, kamu mau kan pergi bersamaku." Zeedan sangat berharap Tasya menuruti keinginannya.


"Kamu itu suamiku. jadi kemanapun kamu pergi, aku akan ikut denganmu."

__ADS_1


"Terima kasih sayang." Zeedan memeluk Tasya ia merasa lega mendengar jawaban istrinya.


__ADS_2