
Tasya sudah sampai didepan rumahnya, ia berjalan dengan langkah gontai rasanya ia malas untuk pulang kerumah. pikirannya sedang dirasuki oleh Zeedan, Zeedan dan Zeedan.
Tasya membuka pintu rumah, ia sedikit terkejut saat ia melihat Zeedan sudah berada didalam rumahnya.
"Sayang, kamu pulang." Zeedan memeluk Tasya.
"Mau apa kamu kesini?" Tasya mendorong tubuh Zeedan hingga pelukannya terlepas.
"Tasya, aku ini suamimu! apa aku tidak boleh kerumah istriku sendiri?"
"Aku mau cerai, jadi kamu bukan suamiku lagi."
"Tasya, kita baru menikah. tapi kamu sudah mau cerai. cuma masalah kecil saja, kamu marah sampai seperti ini."
"Bagi kamu ini masalah kecil tapi bagi aku ini masalah besar."
"Besar apanya? berlebihan kamu." Zeedan lalu berjalan masuk kedalam kamar mandi."
"Zeedan, kamu mau apa?" Tasya mengetuk pintu.
"Mandi!"
"Kenapa kamu mandi dirumahku?"
Zeedan diam saja dengan santai ia menutup kembali pintu kamar mandi, Zeedan bersikap seolah olah ia berada dirumahnya sendiri. tidak lama kemudian terdengar germicik suara air berjatuhan.
Sepuluh menit kemudian
"Dia itu mandi, apa tidur? lama!" Tasya menggerutu sendiri.
"Tasya." Zeedan keluar dari kamar mandi.
Tasya memalingkan wajahnya ia tidak ingin melihat Zeedan yang tidak pakai baju dan hanya memakai handuk.
Tasya buru buru kabur, ia berlari kecil kekamar mandi setelah masuk kedalam kamar mandi Tasya langsung menutup pintu lalu menguncinya.
Tasya memegang dadanya, ia merasa jantungnya berdetak lebih kencang.
"Bagaimana ini? Zeedan sudah menjadi suamiku. aku tidak mungkin menghidarinya terus." Tasya lalu segera mandi.
Setelah mandi Tasya masuk kedalam kamarnya, ia kesal karena melihat Zeedan masih memakai handuk.
"Zeedan, kenapa kamu belum pakai baju?" Tasya marah marah, ia mengalihkan pandangannya kelemari baju.
"Buat apa? nanti juga dilepas lagi." Zeedan terseyum.
"Dilepas lagi? apa maksudmu?" Tasya sedikit berpikir.
"Dasar mesum." Tasya memukul Zeedan dengan bantal.
"Tasya, aku hanya bercanda. aku memang tidak punya baju ganti."
Zeedan mengambil bantal yang ada ditangan Tasya lalu ia melemparnya ketempat tidur, Zeedan melangkah mendekati Tasya.Tasya mundur tapi Zeedan terus maju.
"Zeedan kamu mau apa?" Tasya tetap melangkah mundur sampai tubuhnya menempel didinding.
"Aku ini suami mu. kenapa kamu menghindariku?" Zeedan mengingatkan statusnya.
"Zeedan, aku... aku belum siap." Tasya menunduk malu.
"Belum siap apa?" Zeedan memegang dagu Tasya agar Tasya menatap nya.
"Belum siap melakukan kewajibanku."Jawab Tasya.
__ADS_1
"Tapi aku mau sekarang."
"Zeedan, aku bilang aku belum siap! besok saja."
"Aku tidak bisa menunggu sampai besok."
"Apa!" Tasya menatap tajam kearah Zeedan.
"Sayang, sekarang saja. perutku sudah keroncongan, aku lapar." ucap Zeedan dengan wajah melas.
"Jadi kamu mau makan?"
"Iya..salah satu tugas istri adalah memasak untuk suami dan aku ingin kamu melakukan kewajibanmu sekarang!" pinta Zeedan.
Aku pikir dia ingin. Tasya menghela nafas.
"Kenapa? Kamu pasti berpikir yang tidak tidak!"
Zeedan mencubit hidung Tasya.
"Aku tidak... ah sudahlah aku masak dulu." Tasya membuka lemari kemudian dia mengambil baju lalu ia berjalan keluar.
Tasya memang hanya memakai kimono sejak ia keluar dari kamar mandi.
"Tunggu!" Zeedan mencegah Tasya pergi
"Apa lagi?" Tasya cemberut.
"Aku juga mau pakai baju." ucap Zeedan.
Tasya meletakan bajunya diatas tempat tidur lalu ia kembali membuka lemari. Tasya mengambil baju tidur yang ada lemari.
"Ini! bajunya masih baru." Tasya memberikan baju yang masih terbungkus plastik putih.
"Kamu, suruh aku pakai baju perempuan? berikan saja aku kaos dan celana panjang." Perintah Zeedan.
"kamu punya baju laki laki?" Zeedan menyipitkan matanya.
Dulu aku membeli baju itu untuk Revan, waktu itu kami berencana liburan keluar negeri. tapi sayang kami putus dan aku belum sempat memberikannya pada Revan. Batin Tasya.
"Kenapa diam?" Zeedan menjetikan jarinya didepan wajah Tasya.
"Aku beli sepasang baju tidur, baju tidur laki dan perempuan." Tasya berusaha menyembunyikan rasa gugubnya.
"Kenapa kamu beli baju pasangan?"
"Duhhh... kamu tu cerewet banget! Aku suka warna baju itu. ternyata baju itu pasangan pegawai tokonya bilang kalau mau beli harus sepasang jadi terpaksa aku beli dua duanya." Tasya mengarang cerita.
"Jadi kamu juga punya baju seperti ini? Ya sudah kalau begitu kamu pakai sekarang." Pinta Zeedan.
Aku tidak punya baju pasangannya. aku harus bilang apa? Tasya bingung
"Aku tidak mau" Tasya mengambil bajunya yang ada ditempat tidur setelah itu ia berlari, ia kabur meninggalkan Zeedan.
Zeedan keluar kamar mencari cari Tasya tapi ia tidak menemukannya karena Tasya sedang ada dikamar mandi.
"Apa dia dikamar mandi?" Zeedan berjalan kekamar mandi.
"Sayang!" Panggil Zeedan sambil mengetuk ngetuk pintu kamar mandi.
"Apa!" Tasya menjawab dari dari dalam kamar mandi.
"Kamu sedang apa?"
__ADS_1
"Ganti baju."
Beberapa saat kemudian Tasya keluar dari kamar mandi.
"Tasya, aku ini suami kamu. kalau kamu mau ganti baju didepanku juga tidak apa apa.kenapa kamu pergi?" lagi lagi Zeedan menegaskan posisinya.
"Iya aku tahu, kamu suamiku. tadi itu aku mau kekamar mandi jadi sekalian saja aku pakai baju.kamu sendiri kenapa belum pakai baju?" Tasya tidak ingin melihat kearah Zeedan.
Sebelum Zeedan mendekatinya lagi dan berkata yang tidak tidak lagi Tasya cepat cepat pergi meninggalkan Zeedan.
"Aku mau masak dulu." Tasya berlari kedapur.
"Tasya, kenapa setelah menikah dia jadi aneh. dia jadi sering berlari." Zeedan lalu berjalan kekamar.
Ketika keluar kamar Zeedan melihat dimeja makan sudah tersedia semangkuk mie instant.
"Tasya, kamu tidak masak." Zeedan melihat Tasya sedang memakan mie.
"Itu, aku sudah masak mie." Tasya masih tetap menikmati makanannya.
"Aku tidak mau makan mie aku mau ayam goreng." Zeedan merajuk.
"Zeedan, kamu jangan pilih pilih makanan. makan saja yang ada." Tasya minum air digelas yang ada dihadapannya, ia hampir tersedak mendengar Zeedan minta ayam goreng.
"Pokoknya aku mau ayam goreng." Zeedan mendadak manja seperti anak kecil.
"Ya sudah! Kalau kamu tidak mau makan mie. biar aku yang makan." Tasya mengambil mie yang ia buat untuk Zeedan.
"Tidak bisa!" Zeedan menarik mangkuk mie yang diambil Tasya.
"Makan satu mie satu saja sudah kenyang, kalau makan dua nanti kamu bisa sakit perut karena kekenyangan." Zeedan ngomel ngomel.
"Tapi sayang mienya." Tasya melihat mangkuk mie yang Zeedan pegang.
"Baiklah aku yang akan makan mienya, tapi ada syaratnya." Zeedan meleletakan mangkuk mienya diatas meja kemudian ia duduk disamping Tasya.
"Cih..kamu yang makan kenapa harus pake syarat." Tasya kesal.
"Kalau tidak mau. Aku buang mienya." Ancam Zeedan.
"Jangan! Syaratnya apa?" Tasya Menghela nafas.
"Suapi aku." Zeedan kembali bersikap seperti anak kecil.
Dengan terpaksa Tasya akhirnya bersedia menyuapi Zeedan.
Tasya menggulung mie dengan garpu, ia ingin memasukan mie itu kedalam mulut Zeedan. Tapi Zeedan tidak membuka mulutnya ia malah sibuk memainkan ponselnya.
"Zeedan, buka mulutmu" Tasya mengarahkan mie yang ia pegang kedepan mulut Zeedan.
Zeedan meletakan ponselnya dimeja lalu ia membuka mulutnya, Zeedan terdiam saat ia merasakan mie yang dimasak Tasya.
Mie ini enak sekali. kenapa mie ini beda dengan mie yang aku masak. Zeedan memuji masakan Tasya dalam hati.
"Bagaimana? enak kan?" Tasya merasa bangga.
"Biasa aja, ini kan cuma mie. aku juga pernah memasaknya."
"Iya, kamu benar cuma mie. Tentu saja tidak sebanding dengan masakanmu yang enak." Tasya kecewa, ia meletakan garpu yang ia pegang diatas meja.
"Sayang, kamu mau kemana?" Zeedan melihat Tasya berdiri dan ingin pergi.
"Tidur, aku cape."
__ADS_1
"Tapi mieku belum habis."
"Makan saja sendiri! kenapa kamu mau buang? buang saja. toh itu cuma mie." Sindir Tasya.