
Selesai makan mie Zeedan masuk kedalam kamar, ia melihat Tasya berbaring ditempat tidur sambil memainkan ponselnya.
"Tasya" Zeedan duduk ditempat tidur."
"Mienya enak." puji Zeedan.
"Kamu bilang begitu karena aku marah." Tasya meletakan ponselnya dipangkuannya.
"Aku serius Sayang, tadi itu aku cuma bercanda" Zeedan mengelus elus kepala Tasya.
"Tasya, kenapa sekarang kamu jadi sensitif. dikit dikit marah." Zeedan memainkan rambut Tasya.
Zeedan benar juga sejak tadi aku selalu marah, kasihan juga Zeedan punya istri suka marah marah. Tasya menyesal.
"Iya, maaf!" Tasya meminta maaf.
"Tasya, apa ada yang kamu pikirkan? Kamu kelihatan aneh hari ini."
"Tidak ada, mungkin aku hanya kelelahan."
"Istirahatlah, aku tidak akan mengganggumu." Zeedan menyelimuti tubuh Tasya.
Zeedan, dia sangat pengertian. Tasya terharu.
Zeedan mematikan lampu kemudian ia berbaring disamping Tasya karena lelah mereka berdua akhirnya tertidur pulas.
Keesokan harinya,
Tasya bangun jam delapan pagi, ia terkejut melihat Zeedan tidur disampingnya.
"Ya ampun aku lupa, sekarang aku sudah punya suami." Tasya melihat Zeedan masih tertidur pulas.
Tasya mengambil ponsel yang ada diatas meja, meja itu berada tepat disamping tempat tidur Tasya. Tasya membuka ponselnya sambil berbaring tanpa sengaja ia melihat jarum jam yang terlihat dilayar ponselnya.
"Sudah jam delapan, aku harus siap siap." Tasya panik.
Tasya turun dari tempat tidurnya, ia segera berlari menuju kamar mandi setelah mandi Tasya langsung mengambil baju dilemari, Tasya melupakan kehadiran Zeedan.
Tasya melepas handuknya begitu saja, handuk Tasya jatuh kelantai. Kini tubuh Tasya polos tanpa busana.
Zeedan baru saja terbangun ia membuka matanya, mata Zeedan tak berkedip saat melihat pemandangan indah dihadapannya .
Zeedan ingin bangun dan menyentuh tubuh Tasya tapi pemandangan indah dihadapannya membuat ia hanya melongo, setelah ia sadar Tasya sudah memakai baju.
"Kamu mau kemana?" Zeedan berjalan ia memeluk Tasya dari belakang.
"Zeedan." Tasya tersentak ia baru ingat Zeedan semalam tidur dikamarnya.
"Sejak kapan kamu bangun" Tasya berbalik sambil melepaskan pelukan Zeedan.
"Baru saja." Zeedan bohong, Zeedan tidak ingin Tasya berteriak histeris, hanya karena dirinya melihat Tasya ganti baju.
"Zeedan, aku pergi dulu ya." Tasya berpamitan.
"Pergi?"
"Iya, hari ini Kiara mau keluar negeri. aku mau melihatnya untuk terakhir kali." Tasya menjelaskan.
"Dia pasti akan kembali dan kalian bisa bertemu lagi." Zeedan sebenarnya tidak yakin kalau Kiara akan pergi.
"Zeedan, Kiara keluar negeri untuk kuliah. mungkin saja dia tidak pulang selama beberapa tahun dan setelah dia pulang mungkin saja aku tidak bisa bertemu dia lagi." balas Tasya
"Kenapa tidak bisa?"
"Waktu terus berjalan dan semuanya mudah berubah, saat dia kembali mungkin dia sudah melupakanku. kita tidak akan bertemu lagi karena dia tidak mencariku dan aku juga tidak mencarinya. Jadi anggaplah ini sebagai perpisahan kita." Tasya bicara dengan wajah yang terlihat sedih.
"Tasya, beginilah hidup ada orang yang datang dalam kehidupan kita dan ada orang yang pergi dari hidup kita. Kiara pergi dari kehidupanmu, tapi apa kamu tidak sadar? aku datang dalam hidupmu, kamu jangan sedih." Zeedan kembali memeluk Tasya.
__ADS_1
"Iya, kamu benar."
Zeedan, aku benar benar beruntung mempunyai suami sepertimu. Setiap aku sedih kamu selalu mengatakan sesuatu yang membuat aku terhibur.
Tasya merasa beruntung
"Aku akan antar kamu kebandara." Zeedan berinisiatif.
"Tidak perlu, nanti kamu ketemu Kiara terus kamu jadi baper." Tasya tidak mau diantar.
"kamu cemburu?" Zeedan merasa senang.
"Tasya, Kiara sudah mau pergi. lagi pula aku tidak punya perasaan apa apa sama Kiara. Kalau kamu tidak mau diantar, aku akan tetap pergi kebandara. aku juga mau bertemu Kiara untuk terakhir kali." Sambung Zeedan.
"Tapi kamu tidak punya baju ganti, kalau menunggu beli baju. Kita bisa terlambat." ucap Tasya.
"Kita mampir dulu kerumahku baru pergi kebandara.
Karena tidak ingin bertengkar Tasya akhirnya mengalah, ia membiarkan Zeedan mengantarnya.
Ditempat lain,
Kiara sedang menunggu jadwal keberangkatannya, bukan hanya Kiara semua keluarga Kiara juga sedang menunggu mereka ingin mengantar kepergian Kiara.
Pertama tama Ibu Arumi dan Pak Aditya datang bersama Kiara kebandara, tidak lama kemudian Sarah David dan Celina juga sampai disana yang terakhir Revan dan Alikha.
"Kiara, jaga diri kamu baik baik." Ibu Arumi memeluk Kiara.
"Kiara, disana kamu jangan nakal. jangan menyusahkan kakek dan nenek." Pak Aditya juga ikut memeluk Kiara.
"Kiara, aku akan merindukanmu. tidak ada lagi yang mengajakku bertengkar." Kini giliran Sarah yang memeluk Kiara.
"Kiara, kakak berharap kamu mendapatkan jodoh disana" Setelah Sarah selesai, Revan juga memeluk Kiara.
"Tante Kiara, kenapa tante pergi?" Celina mengeluarkan air mata.
"Tante Kiara, cepat pulang ya! jangan lama lama perginya." Celina memeluk Kiara dengan erat.
Kiara dan Celina sama sama meneteskan air mata, pemandangan mengharukan itu membuat keluarga Kiara ikut bersedih dan ingin menangis.
"Kiara, semoga sukses ya!" David menepuk nepuk pundak Kiara.
"Terima kasih Ka." Kiara melepaskan pelukannya pada Celina lalu ia berdiri.
"Kiara, hati hati." Alikha memeluk Kiara.
"Pesawatnya sebentar lagi berangkat, semuanya aku pergi dulu!" Kiara menghapus air matanya.
Kiara berjalan meninggalkan keluarganya langkahnya terasa berat. baru beberapa langkah Kiara berhenti, ia membalikan badannya.
"Aku akan cepat pulang!" Kiara mengangkat satu tangannya sambil melambaikan tangannya.
Kiara kembali membalikan badannya ia ingin meneruskan langkah kakinya, tapi ia tidak jadi melangkah karena tiba tiba ada yang memanggil namanya.
"Kiara!" Panggil Tasya.
"Kak Tasya." Kiara menoleh.
Tasya berlari kecil, ia menghampiri Kiara. melihat Tasya menghampiri Kiara, Zeedan mengikuti Tasya ia juga menghampiri Kiara.
"Kiara, kamu benar benar mau pergi?" Tasya memeluk Kiara sebentar.
"Iya ka." Mata Kiara masih basah oleh air mata.
"Kiara, boleh aku memelukmu?" Pertanyaan Zeedan membuat Kiara sedikit kaget.
Kiara tidak menjawab matanya justru melirik Tasya, tanpa persetujuan Tasya dan Kiara Zeedan tiba tiba menarik Kiara kedalam pelukannya.
__ADS_1
"Kiara, maafkan aku, karena aku tidak bisa membalas cintamu" Zeedan memeluk Kiara
"Aku harus pergi. nanti aku ketinggalan pesawat." Kiara mendorong tubuh Zeedan, Kiara tidak ingin terbawa suasana ia juga merasa tidak enak pada Tasya.
"Kak Tasya, aku pergi dulu." Kiara berjalan melewati Zeedan.
Kiara akhirnya pergi meninggalkan tempat itu.
Kiara, seandainya tidak ada Tasya mungkin aku sudah jatuh cinta padamu.
Zeedan berandai andai dalam hati.
Setelah kepergian Kiara, keluarga Kiara kembali kerumah masing masing. begitu juga Tasya dan Zeedan.
"Tasya bagaimana kalau kita bersiap siap?" Tanya Zeedan didalam mobil.
"Bersiap siap, untuk apa?" Tasya tidak mengerti maksud Zeedan.
"Kita pergi liburan. Kamu mau kan?" Zeedan berkata tapi tangannya tetap fokus menyetir.
"Iya, aku mau." Jawab Tasya dengan wajah yang kelihatan bahagia.
"Kalau begitu kamu yang tentukan, kita mau kemana?"
"Oke." Tasya tiba tiba menyandarkan kepalanya dibahu Zeedan.
Tasya apa kamu tahu? saat kau menyentuhku aku seperti terkena aliran listik, aku takut tidak bisa menahan diri. pernikahan kita sangat mendadak jadi aku tidak ingin memaksamu. aku akan menunggu sampai kau siap. Zeedan menghela nafas.
Srttt..
Zeedan mendadak menghentikan mobilnya.
"Ada apa?" Tanya kaget.
"Tasya kamu ini kenapa? kemarin dirumah kamu lari lari menghindariku tapi sekarang kamu menggodaku didalam mobil." Zeedan emosi.
"Aku tidak menggodamu." Tasya mulai terbiasa mendengar nada suara Zeedan yang tinggi.
"Tapi, tadi kamu bersandar dibahuku." Zeedan masih emosi.
"Aku cuma bersandar bukan menggodamu! lagi pula memangnya, kenapa? aku ini istrimu. apa aku tidak boleh bersandar dibahu suamiku sendiri? kalau tidak boleh, lalu aku harus bersandar pada siapa? pada suami orang." Tasya jadi kesal.
"Oh, jadi kamu mau bersandar pada suami orang? Kalau begitu bersandarlah pada Revan atau siapapun yang kamu mau. Terserah!" Zeedan mengucapkannya dengan wajah yang terlihat dingin.
"Kamu" Tasya melepas sabuk pengaman yang ia pakai.
Tidak, tidak bisa begini! kalau aku tidak mengalah kita akan bertengkar lagi.
"Sayang, sebenarnya bukan itu maksudku." Zeedan membelai belai rambut Tasya.
"Lalu?" Tasya cemberut.
"Aku sedang menyetir kalau kamu dekat dekat aku jadi kurang fokus, aku cuma tidak mau kita kecelakaan." Zeedan alasan.
"Kita jalan lagi?" Zeedan memakaikan sabuk pengaman yang sempat Tasya lepas.
Tasya diam saja, ia tidak menjawab. ia masih kesal pada Zeedan. sepanjang perjalanan Tasya tidak bicara ia malah sibuk dengan ponselnya.
"Sayang, kamu masih marah?" Zeedan melirik Tasya.
"Tidak."
"Kenapa kamu diam saja?"
"Aku tidak mau menggagumu menyetir." Tasya tetap memainkan ponselnya, ia tidak menoleh kearah Zeedan.
Zeedan menarik nafas panjang, ia mulai bosan dengan sifat Tasya yang mudah tersinggung dan gampang marah.
__ADS_1
Bersambung..