Rahasia Cinta

Rahasia Cinta
Rahasia Cinta 8


__ADS_3

Aku memasuki rumah baru yang akan aku tempati bersama Yudha suamiku. Aku menaruh tasku diatas meja dan berjalan menelusuri rumah ini. Rumah ini jika dilihat dari luar itu terlihat kecil tapi kalau sudah masuk kedalam pasti akan kaget saat melihatnya, luas dan begitu strategis.


Yudha bilang dia tidak ingin punya rumah tingkat karena alasannya rumah tingkat itu berbahaya karena saat dia masih kecil pernah mengalami jatuh dari tangga dan banyak kehilangan darah.


Aku kembali ke ruang tamu dan mendapati pemandangan yang cukup membuatku merasa bersalah. Yudha nampak terlihat kelelahan karena aku membawa barang-barang yang cukup banyak dan hanya dia sendiri yang membawanya masuk.


Aku berniat mengambilkan minum untuk Yudha, saat membuka kulkas ternyata tidak ada apa-apa dan aku melihat dispenser di samping kulkas tapi juga belum ada galonnya.


Aku kembali keruang tamu dan duduk disebelah Yudha.


"Apa kamu capek Yud?" Tanyaku, dia melihatku dan menegakkan duduknya yang tadi senderan.


"Iya, tapi tidak apa-apa kok sayang" Jawabnya dengan lembut.


"Maaf ya" Aku sangat merasa bersalah.


"Aku bibirmu ini hanya bisa mengucapkan maaf?" Tanyanya dengan menyentuh bibirku.


Aku hanya diam tidak berani menjawab.


"Kenapa diam?" Tanyanya lagi.


"Aku mau cari minum dulu untuk kamu" Kataku dan hendak pergi namun Yudha menahan tanganku dan menariknya. Hal hasil aku terjatuh Dipelukannya.


"Tidak perlu, aku tadi sudah membawa minum dan makanan, aku hanya ingin memelukmu sebentar, bolehkan?" Ku balas dengan anggukan.


Pelukan inilah yang membuatku menerima Yudha, nyaman sangat nyaman dan menenangkan. Detak jantungnya yang sudah begitu terdengar familiar ditelingaku, menjadi candu tersendiri untukku.


"Terima kasih" Ucapnya dengan mengecup kepalaku.


"Kamu mandilah dulu, aku mau membereskan barang-barangmu terlebih dahulu" Suruhnya.


"Bagaimana kalau kita bersama-sama, itukan barang-barangku semua?" Tanyaku.


"Biar aku saja sayang" Tolaknya.


"Bareng-bareng aja"


"Ok kita mandi sama-sama, ayo" Yudha menggendongku kekamar mandi.


"Yudha turunkan aku, aku nggak bilang mau mandi bareng sama kamu" aku memukul dadanya.


Yudha menurunkanku dikamar mandi dan mendekatkan wajahnya ke wajahku. Karena aku takut secara spontan aku langsung berjongkok dan menutup wajahku.


"Ha... ha... ha...!" Tawa Yudha, dan dia ikut-ikutan berjongkok didepanku.


"Kenapa aku bisa punya istri selucu ini sih" Yudha mencubit pipiku.


Aku memanyunkan bibirku.


"Yud..." Ucapanku terhenti karena tiba-tiba Yudhe mencium bibirku. Lebih tepatnya mengecup bibirku.


"Kalau kamu masih memanggilku Yudha, aku akan mencium bibirmu sayang" Aku hanya diam mematung memegang bibirku. Ciuman pertamaku sudah diambil Yudha dikamar mandi.


"Apa itu ciuman pertamamu?" Tanyanya.


"Kamu harus tanggung jawab Yudha" Sebalku dan Yudha kembali mengecup bibirku.


"Kita sudah menikah sayang"


"Ha... ha... ha...! Kamu lucu sekali sayang" Tawanya lagi.


"Sa... sa... saya..ng, aku mau mandi kamu keluarlah" Aku sudah tidak tahan menahan malu saat ini.

__ADS_1


"Baiklah" Yudha mengelus kepalaku lalu berdiri dan berjalan keluar dari kamar mandi.


------


Lucu sekali melihat tingkah Heni yang ketakutan.


'Drtt...drtt...' Tiba-tiba HPku bergetar dan ku lihat layar HPku ternyata papa yang yang menelfonku.


"Hallo! Ada apa pa?" Tanyaku to the poin.


"Yudha, jangan lupa rencana awal kita! Kamu harus bisa mengambil alih perusahaan Febrian"


"Baik pa" Jawabku malas.


"Dan kamu harus bantu adikmu Shinta untuk mendapatkan Arya, mengerti?"


"Mengerti pa, tapi papa tidak boleh menyakiti Vanya" Tegasku.


"Asalkan kamu mendapatkan yang papa mau, kekasihmu akan selalu aman ditangan papa nak"


"Secepatnya kamu haru mendapatkan perusahaan itu" Lanjut papa yang membuatku sangat geram.


'Vanya tunggu sebentar lagi, aku akan menolongmu dan kita akan segera menikah' batinku


"Baik pa"


"Apa itu papa?" Tanya Heni yang tidak tau sudah berapa lama dia dibelakangku dan dengan cepat aku memutuskan sambunga telepon dari papaku.


"Apa kamu sudah lama disitu sayang?" Tanyaku ingin tahu seberapa banyak yang dia dengar.


"Aku baru saja selesai mandi" Jawabnya yang begitu melegakan.


"Papa minta cucu sayang" Dan lihatlah pipinya mulai memerah lagi.


"Belum siap kenapa?" Aku memeluknya, entah kenapa saat ini tubuhnya menjadi candu untukku.


"Aku masih terlalu muda untuk menjadi seorang ibu" Jawabnya dan itu membuatku tersenyum.


"Tidak apa-apa sayang? Lebih baikkan begitu, ok aku mandi dulu dan setelah itu kita buat cucu untuk orang tua kita" Kataku lalu meninggalkannya.


Kulihat dia sedang merapikan baju-bajunya ke lemari. Dan aku rasa dia tidak tau jika aku sudah ada disini.


"Apa nanti aku dan Yudha akan tidur seranjang? Apa bisa langsung mempunyai anak? Kata Arya jika seorang perempuan tidur berdua dengan laki-laki bisa punya anak" Sepertinya dia sedang berbicara sendiri.


"Bagaimana mungkin seorang perempuan bisa hamil hanya karena tidur dengan laki-laki?"


"Tapi ada benarnya juga kan, ibu dan ayah tidur berdua dan mereka mempuyai anak! Bagaimana ini jika Yudha tau kalau aku tidak tau cara membuat anak gimana?"


Aku menahan tawaku agar tak bersuara, bagaimana bisa dia sepolos itu? Apakah benar dia tidak tau bagaimana caranya membuat anak? Padahal usisanya sudah 22 tahun.


"Ini bantal kesanganku, taruh mana ya?" Saat itulah tatapan kita bertemu, dan diapun benar-benar kaget hingga bantal yang dia bawa terjatuh karena melihatku yang sudah ada di belakangnya.


"Sejak kapan kamu disitu sayang" Tanyanya, uh lucunya kamu Heni.


"Sudah 15 menitan sih"


"Kamu menguping ya?" Kesalnya.


"Tidak" Aku mendekatinya dan membawanya kesisi ranjang.


"Kayaknya kita perlu beli lemari lagi" Kenapa tiba-tiba dia berkata seperti itu? Apa dia ingin mengalihkan pembicaraan.


"Kenapa?"

__ADS_1


"Lihatlah, lemarinya sudah penuh dan bajuku masih banyak" Dian menunjukkan pakaiannya yang sudah tidak muat dimasukkan kelemari.


"Apa kamu membawa semua bajumu?"


"Iya sayang, bajuku SD juga aku bawa" Ucapnya.


"Hmmm, bagaimana kalau ditaruh digudang aja sama poster-poster itu"


"Jangan"


"Aku tidak suka jika kamar kita kamu pasangin poster-poster itu" Tegasku.


"Dan bantal itu juga taruh digudang, mengerti!" Lanjutku


"Tapi aku fans berat Song Joong Ki"


"Aku tidak mau tau" Aku lalu membawa poster, bantal itu ke gudang bersamaan dengan baju-bajunya yang sudah tidak muat untuk dia pakai.


Saat aku balik kekamar ternyata Heni sedang menangis. Apa aku tadi sudah keterlaluan?


"Sayang, kenapa kamu menangis?" Aku mendekatinya dan tidur disampingnya.


"Kamu jahat Yudha" Ucapnya.


"Maaf aku hanya cemburu sayang"


"Aku lelah" Ucapnya.


"Aku peluk ya"


------


Jantungku berdetak cepat saat Yudha tidur dengan memelukku.


"Sayang nanti aku bisa hamil kalau kamu tidur sambil memelukku seperti ini" Kataku sedikit takut.


"Biar saja, toh kita sudah menikah bukan" Jawabnya dengan santai.


Aku membalikan tubuhku, dan kini aku dan Yudha sedang berhadapan.


"Yudha, boleh aku memelukmu?"


"Tentu saja boleh"


"Tapi kamu harus tanggung jawab padaku ya?"


"Tanggung jawab buat apa?" Apa dia tidak tau jika nanti aku hamil?


"Aku akan hamil"


"Ha... ha... ha...! Mana bisa hamil kalau cuma berpelukan" Tawanya, lalu memelukku.


"Apa kamu ingin segera hamil?" Tanyanya.


"Tidak, aku belum siap"


"Baiklah, sekarang mari kita tidur! Karena aku sudah sangat lelah sayang"


Bersambung...


Terima kasih teman-teman atas like dan komennya😊.


Dan terima kasih juga sudah mau membaca ceritaku.

__ADS_1


Selamat membaca.


__ADS_2