
Selesai acara foto foto keluarga , Tasya dan Zeedan berpamitan pulang. Sampai dirumah Tasya langsung mandi, kemudian ia merebahkan tubuhnya diatas kasur.
"Sayang, apa kamu sudah tidur?" Zeedan menepuk nepuk pipi Tasya dengan lembut.
"Ada apa?" Tasya membuka matanya karena ia belum benar benar tertidur.
"Sayang, aku mau...." Pipi Zeedan tiba tiba memerah.
Apa Zeedan, ingin meminta haknya. Batin Tasya.
"Zeedan, aku cape. besok saja." Besok saja, itulah ucapan yang lagi lagi Zeedan dengar saat Tasya menolak keinginannya.
"Besok." Zeedan kecewa.
Zeedan memang pernah berkata dalam hati, ia akan menunggu sampai Tasya siap. tapi melihat Tasya yang cantik membuat Zeedan ingin menyentuh istrinya itu.
Malam itu Tasya kelihatan cantik, meskipun ia telah menghapus makeupnya. tapi itu tidak menutupi wajahnya yang cantik alami.
Tasya menggulung rambutnya dibelakang kepala, sehingga Zeedan bisa melihat leher Tasya yang putih. Tasya juga mengunakan lingerie, itu membuat Tasya terlihat seksi.
"Iya, besok kita akan pergi liburan." Ucapan Tasya membuat Zeedan senang.
"Kamu serius?"
"Serius." Tasya menyelimuti tubuhnya
"Ya sudah, kalau begitu sekarang kamu istirahat. Besok kamu harus menepati janji , kalau tidak!" Nada suara Zeedan seperti sedang mengancam.
"Kalau tidak apa?"
"Kalau tidak, aku akan membuatmu tidak bisa bangun dari tempat tidur." Zeedan tertawa kecil.
"Cihh..memangnya sekuat apa dirimu, sampai bisa membuatku tidak bangun dari tempat tidur." goda Tasya.
"Oh.. jadi kamu tidak percaya dengan kekuatanku, mau bukti?" Zeedan menarik selimut Tasya.
"Tidak perlu! Aku percaya. kita tidur sekarang! besok urusan besok." Tasya kembali menyelimuti tubuhnya.
Kalau tidak diancam dia bisa saja mengingkari janji. Batin Zeedan.
Pagi itu cuaca mendung langit masih gelap meskipun jam sudah menunjukan pukul tujuh pagi.
"Sayang, bangun sayang!" Tasya menggucang guncang tubuh Zeedan.
"Aku masih ngantuk." Zeedan yang terbangun menutup kembali matanya.
"Kita mau liburan, lebih baik kita berangkat pagi supaya cepat sampai." ucap Tasya.
Mendengar kata liburan Zeedan langsung membuka matanya.
"Kamu sudah mandi?" Zeedan bangun dari tidurnya tapi ia masih duduk dikasur
"Sudah."
"Tunggu sebentar ya sayang, Aku mandi dulu." Zeedan mengacak acak rambut Tasya kemudian ia berjalan kekamar mandi.
__ADS_1
Selesai membersihkan diri Zeedan keluar dari kamar mandi, ia melihat Tasya sedang memijit mijit kepalanya.
"Sayang, kamu kenapa?" Zeedan menghampiri Tasya.
"Aku tidak tahu, kepalaku pusing."
Brug...
Tiba tiba saja Tasya pingsan, Zeedan buru buru memegang tubuh Tasya agar Tasya tidak jatuh kelantai.
"Sayang, bangun sayang!" Zeedan panik.
Setelah memakai baju, Zeedan segera membawa Tasya kerumah sakit.
Dirumah sakit,
"Dokter bagaimana keadaan istri saya? kenapa istri saya pingsan?" Zeedan khawatir.
Saat itu Tasya sudah sadar dan ia berbaring lemah dikamar rumah sakit.
"Istri bapak tidak apa apa, ini biasa terjadi pada wanita yang sedang hamil."
Pernyataan dokter itu membuat Zeedan dan Tasya terkejut, Zeedan sangat shock mendengar tentang kehamilan Tasya.
"Hamil?" Raut wajah Zeedan berubah, wajahnya sangat tidak enak dipandang. rasa marah, benci, sedih dan kecewa bercampur jadi satu.
"Iya, selamat ya pak" Dokter lalu meninggalkan ruangan tempat Tasya berbaring.
"Ayo pulang!" Zeedan menarik tangan Tasya dengan kasar.
Zeedan tidak memperdulikan Tasya, sampai didepan mobil ia baru melepaskan tangan Tasya.
"Masuk!" Perintah Zeedan.
Tasya menuruti perintah Zeedan, ia seperti ingin menangis. Zeedan melajukan mobilnya dengan cepat ia ngebut tanpa melihat Tasya yang ketakutan.
"Zeedan, pelan pelan aku takut! " Tasya melirik kearah Zeedan.
"Diam!" Zeedan membentak Tasya.
Setelah sampai dirumah, Zeedan kembali menarik tangan Tasya. Zeedan menarik tangan Tasya dari halaman sampai kedalam rumah, Zeedan lalu menghempaskan tubuh Tasya disofa.
"Katakan, anak siapa itu?" Zeedan terlihat sangat marah.
"Tasya, aku bahkan belum menyentuhmu, tapi kamu sudah hamil, katakan dengan jujur itu anak siapa?" Zeedan kembali bertanya.
Tasya tidak menjawab, ia diam membisu wajahnya terlihat bingung dan matanya berkaca kaca.
"Katakan." Zeedan setengah berteriak.
Zeedan tiba tiba berubah menjadi kasar, laki laki mana yang tidak berubah ketika mengetahui istrinya sedang mengandung anak orang lain.
Zeedan membayangkan bagaimana orang lain menyentuh tubuh Tasya sedangkan dirinya sebagai suami bahkan belum mendapatkan haknya.
"Jawab!" Api amarah dan cemburu membuat akal sehat Zeedan hilang, ia mencengkeram leher Tasya.
__ADS_1
"Aku tidak tahu." Jawab Tasya sambil mengeluarkan air mata.
"Kau tidak tahu, waah... kau benar benar munafik kau bilang tidak mau disentuh sebelum menikah tapi sekarang kau hamil dan kau tidak tahu siapa ayah dari anakmu. memangnya berapa banyak laki laki yang sudah tidur denganmu?" Zeedan merendahkan Tasya.
Mendengar hinaan Zeedan Tasya merasa sangat sakit hati, ia yang sedang lemah berusaha sekuat tenaga melepaskan cengkeraman tangan Zeedan.
Tasya melihat pergelangan tangannya yang merah karena tadi Zeedan mencengkeram dan menariknya dengan kasar, Tasya lalu memegang lehernya yang juga merah karena ulah Zeedan.
"Zeedan, ayo kita periksa lagi kerumah sakit lain! mungkin dokter tadi salah, aku tidak mungkin hamil." Pinta Tasya dengan wajah sedih.
"Tidak, aku tidak mau! aku yakin dokter tadi tidak salah." Zeedan menolak.
"Tapi aku tidak mungkin hamil karena belum ada seorang laki lakipun yang menyentuhku, aku ini masih perawan." Tasya berusaha meyakinkan Zeedan.
"Perawan? Dasar pembohong! sudah jelas jelas dokter bilang kau hamil tapi kau masih menyangkal." Zeedan tersenyum sinis.
"Zeedan, kenapa kamu tidak percaya padaku." Tasya memegang tangan Zeedan.
"Jangan sentuh aku! dengan tangan kotormu." Zeedan menepis tangan Tasya.
"Jadi kamu lebih percaya dokter itu dibandingkan aku, istri kamu sendiri?" Tasya menangis.
"Dokter itu tidak mungkin bohong."
"Tapi dokter bisa saja melakukan kesalahan."
"Cukup Tasya! aku tidak ingin berdebat lagi denganmu. kau tidak perlu repot repot mengarang cerita karena aku tidak akan percaya." Zeedan menjatuhkan dirinya disofa.
"Pergilah Tasya! Aku tidak mau melihatmu lagi." Zeedan menyandarkan kepala diatas sofa sambil memejamkan matanya.
"Zeedan." Tasya masih menangis.
"Aku bilang pergi! pergi! Melihat mu disini membuat aku semakin marah, aku tidak ingin berbuat lebih kasar lagi padamu. jadi cepat pergi! atau aku akan memaksamu." Zeedan tidak ingin mendengar penjelaskan Tasya.
"Baiklah aku pergi. Zeedan, suatu hari nanti kamu pasti akan menyesal." Tasya melangkahkan kakinya menuju kearah pintu keluar rumah Zeedan.
"Aku akan mengurus perpisahan kita, aku tidak sudi dianggap sebagai ayah dari anakmu itu."
Tasya diam saja, ia tidak menjawab hatinya terlalu sakit hingga ia tidak bisa berkata apa apa.
Tasya membuka bagasi mobil kebetulan Zeedan belum mengunci mobilnya, pintu mobilnyapun masih terbuka.
Tasya mengambil tas yang berisi pakaiannya, lalu ia menutup kembali bagasi mobil itu, Tasya juga tidak lupa mengunci mobil itu.
Awalnya aku dan Zeedan membereskan baju ini untuk dibawa berlibur, tapi ternyata liburan kami batal dan aku membawa tas ini pergi karena Zeedan mengusirku.
Tasya tidak bisa menahan air matanya yang terus menetes ia hanya bisa menghapusnya.
Tasya masuk lagi kedalam rumah Zeedan, ia melihat Zeedan sedang berbaring disofa matanya masih terpejam, entah ia tidur atau tidak.
Tasya meletakan kunci mobil tanpa berkata apa apa, ia meletakannya diatas meja. sebelum pergi Tasya menutup pintu agar tidak ada orang yang masuk ketika Zeedan tidur, meskipun Zeedan sedang marah Tasya tetap perduli padanya.
Zedaan baru membuka matanya saat ia menyadari kalau Tasya sudah pergi.
"Tasya, kenapa kau menghianatiku? kenapa?"
__ADS_1
Zeedan mengambil vas bunga yang ada disampingnya, ia membanting vas itu dengan keras kelantai. Vas itu hancur berkeping keping sama seperti hati Zeedan yang hancur.