
Perut Tasya terasa kenyang setelah memakan makanan yang dimasak Zeedan.
"Zeedan, aku baru tahu kalau kamu bisa memasak." Tasya memuji Zeedan.
"Sebenarnya sejak kecil aku sering belajar memasak." Ucap Zeedan.
"Benarkah?"
"Iya, aku berharap ketika dewasa aku bisa menjadi seorang koki." Zeedan memberitahu cita citanya.
"Kenapa kamu ingin menjadi koki?" Tanya Tasya.
"Saat ibuku meninggal. aku sangat lapar tapi, tidak ada lagi orang yang memasak untukku, karena itu aku belajar memasak aku ingin memasak untuk Alikha. entah mengapa aku juga suka memasak untuk orang orang yang sedang lapar." Cerita Zeedan.
"Aku tidak ingin melihat orang kelaparan, aku senang melihat orang lain kenyang dan mengatakan masakanku enak." Sambung Zeedan.
"Zeedan, mulai sekarang aku akan memasak untukmu dan kamu tidak perlu memasak untuk orang lain." Tasya merasa kasihan pada Zeedan.
"Jadi, kamu tidak ingin menikah denganku."
"Maksud kamu?" Tasya tidak mengerti apa maksud ucapan Zeedan.
"Aku bilang, jika kita menikah aku akan masak setiap hari untukmu. tapi kamu tidak ingin aku memasak, itu berarti kamu tidak ingin menikah denganku." Zeedan merasa kecewa.
"Bukan itu maksudku."
"Lalu?" lagi lagi zeedan bertanya.
"Aku cuma tidak mau kamu kelelahan."
Zeedan terharu mendengarkan kata Kata Tasya.
"Apa kamu pernah berpikir untuk membuka restaurant?" Tanya Tasya.
"Belum pernah."
"Zeedan, bagaimana kalau kita membuka restaurant bersama." Tasya memberitahu idenya pada Zeedan.
"Benar juga, kita berdua sama Sama pengangguran. jadi tidak ada salahnya kita mencari uang sama sama." Zeedan megelus elus kepala Tasya.
"Baru sebentar aku tidak bekerja, kamu sudah mengejekku." Bibir Tasya manyun.
Obrolan mereka terputus saat Zeedan menerima panggilan telphone.
"Siapa?" Tanya Tasya.
"Kakekku." Zeedan berdiri lalu ia berjalan kehalaman rumah Tasya.
Beberapa saat kemudian Zeedan kembali masuk kedalam rumah Tasya.
"Zeedan, kamu punya kakek?" Tasya tidak tahu kalau Zeedan masih punya kakek.
"Aku lupa memberitahumu, aku punya kakek.tapi aku sudah lama tidak bertemu dengannya" ucap Zeedan.
"Kenapa?"
__ADS_1
"Waktu aku mengira Alikha meningggal, tiba tiba ada seorang kakek yang menemuiku. dia bilang dia adalah kakekku. aku tidak percaya, tapi dia menunjukan bukti bahwa dia adalah kakekku. dia memperlihatkan foto ibu ku bersamanya, dia juga memperlihatkan kartu keluarga sebelum ibu pergi dari rumahnya."
"Bukan hanya itu. kakek juga memberikan aku uang yang cukup banyak, hingga aku bisa membeli mobil dan rumah. tapi setelah itu kakek tidak pernah menemuiku lagi, karena sibuk balas dendam, aku juga tidak mencarinya." Zeedan menceritakan pertemuannya dengan kakeknya.
"Apa kamu pernah mencoba menelphonenya."
"Pernah tapi handphonenya tidak aktif."
"Tasya, aku harus pulang sekarang, kakek sedang menungguku dirumah." Setelah berpamitan Zeedan lalu pergi meninggalkan Tasya.
"Syukurlah! sekarang Zeedan sudah menemukan keluarganya. Alikha masih hidup dan Zeedan ternyata masih mempunyai seorang kakek." Tasya ikut bahagia karena Zeedan bertemu kembali dengan keluarganya.
Sampai dirumahnya Zeedan melihat kakeknya sedang menunggunya sambil berdiri.
"Kakek, kenapa kakek berdiri disini? Ayo kita masuk." Zeedan mengajak kakeknya untuk masuk kedalam rumah.
Sampai didalam rumah Zeedan mempersilahkan kakeknya untuk duduk.
"Kakek, bagaimana kabar kakek? kenapa kakek tidak pernah menghubungiku?" Zeedan duduk didepan kakeknya.
"Seperti yang kamu lihat, kakek baik baik saja, Maaf, kakek melupakanmu. kakek sibuk bermain dengan cucu kakek."
"Cucu?" Ucapan kakek Zeedan membuat Zeedan terkejut.
"Yah... cucu kakek, selama ini kakek tinggal bersama Alikha dan anaknya.
"Alikha." Zeedan kaget mendengar pengakuan kakeknya.
"Seandainya kakek tidak menolongnya, mungkin saat ini Alikha sudah mati." ujar kakek Zeedan.
"Untunglah supir kakek cepat menolong Alikha lalu kami Membawa Alikha kerumah sakit, kalau terlambat. mungkin saja, Alikha tidak bisa diselamatkan."
"Zeedan, biarlah Alikha melakukan kesalahan asalkan dia masih ada ditengah tengah kita. itu lebih baik dari pada ia pergi untuk selamanya."
Setelah bicara panjang lebar, Kakek Zeedan lalu berdiri.
"Besok Alikha akan menikah, kakek berharap kamu datang." Kakek Zeedan menepuk nepuk pundak Zeedan kemudian ia pergi meninggalkan Zeedan yang masih termenung.
Pagi itu suasananya sangat cerah, secerah wajah Alikha. dengan memakai kebaya putih dan rok batik Alikha terlihat sangat cantik. hari itu adalah hari yang sangat dinanti nanti oleh Alikha, hari dimana ia akan menikah dengan Revan.
Revan dan Keluarganya telah berkumpul ditempat diadakannya acara pernikahan, kakek Alikha juga telah hadir ditempat itu.
Bapak penghulupun sudah siap untuk menikahkan Revan dan Alikha.
"Apa bisa kita mulai sekarang?" Tanya pak penghulu.
"Tunggu sebentar pak, saya sedang menunggu kakak saya." ucap Alikha.
"Alikha, kamu yakin Zeedan akan datang?" Bisik Revan.
"Aku tidak tahu, kita tunggu saja sebentar lagi." Alikha terlihat sedih.
"Ya sudah, kita tunggu sepuluh menit." Revan menuruti keinginan Alikha.
Mereka semua yang ada ditempat itu gelisah menunggu kedatangan Zedaan, hingga waktu sepuluh menit telah berlalu.
__ADS_1
"Alikha, sebaiknya Kita mulai sekarang. pak penghulu masih ada acara ditempat lain" Revan kembali berbisik pada Alikha
"Baiklah." Meskipun terpaksa Alikha akhirnya pasrah menerima permintaan Revan.
"Pak penghulu, kita mulai sekarang." Ucap Revan.
"Tunggu!" Zeedan tiba tiba datang, ia berjalan mendekati tempat Alikha duduk.
"Kak Zeedan, kamu datang?" Alikha sangat bahagia melihat kehadiran Zeedan.
"Adikku akan menikah, mana mungkin aku tidak datang." Zeedan duduk disebelah Alikha.
"Kak, kamu sudah tidak marah?"
Alikha berdiri kemudian ia memeluk Zeedan.
"Bodoh, kalau aku marah. aku tidak akan datang." Zeedan tersenyum.
"Kak, maafkan aku. karena aku, hidupmu hanya kau isi dengan balas dendam." Alikha hampir menangis.
"Sudah jangan menangis, dandanan kamu nanti luntur. Alikha, meskipun kamu salah tapi karena kamu aku bertemu Tasya." Zeedan merasa ada hikmah dibalik semua yang ia alami.
"Kak Tasya, apa dia ikut kesini?" Alikha bertanya.
"Iya, tapi dia menunggu dimobil." Jawab Zeedan
"Kenapa menunggu dimobil? Kak, suruh dia masuk." Pinta Alikha.
Zeedan kemudian pergi meninggalkan ruangan itu, ia menghampiri mobilnya yang ada ditempat parkir. Zeedan membuka pintu mobil lalu ia masuk kedalam mobil.
"Zeedan, apa acaranya sudah selesai?" Tasya yang sedang ada didalam mobil merasa heran, karena Zeedan begitu cepat kembali.
"Alikha meminta kamu masuk kedalam."
"Zeedan, aku tidak mau. aku malu." Tasya menolak.
"Malu?" Zeedan mengerutkan alisnya.
"Dulu aku datang kerumah Revan sebagai calon istri Revan dan sekarang aku datang bersama kamu, aku merasa tidak enak." Tasya menjelaskan.
"Revan akan menikah dengan adikku, jadi kamu tidak perlu merasa tidak enak."
"Tapi disana juga Kiara."
"Kiara, dia terlihat baik baik saja meskipun tanpa aku."
"Zeedan, maaf aku tidak mau masuk. aku tunggu disini saja."
"Kalau kamu tidak masuk, aku juga tidak mau."
Karena tidak ingin Zeedan melewatkan acara pernikahan Alikha, Tasya akhirnya mengikuti Zeedan, ia ikut masuk kedalam ruangan tempat diselenggarakannya acara.
Saat Tasya masuk semua mata menatap kearah Tasya, mereka merasa aneh dengan pakaian Tasya.
Tasya tidak berencana untuk menghadiri pernikahan Revan hingga ia hanya memakai pakaian biasa.
__ADS_1
Revan dan keluarganya juga tidak mengira kalau Tasya mau datang keacara pernikahan Revan, karena mengingat Tasya adalah mantan tunangan Revan. Revan dan keluarganya mengira Tasya tidak akan datang.