
Zeedan membulatkan matanya, ia terkejut dengan apa yang dilakukan Tasya. belum hilang rasa terkejutnya Tasya tiba tiba mendorong dadanya.
"Jadi begini cara kamu merayu Revan?"
"Zeedan, aku tidak pernah melakukan ini pada orang lain. aku hanya melakukannya padamu." Hati Tasya terasa teriris mendengar kata kata pedas Zeedan.
"Benarkah kamu masih virzin?" Zeedan meletakan satu tangannya didinding, satu tangannya lagi menarik pinggang Tasya hingga jarak mereka menjadi sangat dekat.
"Tentu saja." Tasya salah tingkah.
"Kalau begitu, bagaimana kalau aku buktikan sekarang?"
Wajah Tasya memerah karena mendengar ucapan Zeedan, Tasya ingin sekali mendorong tubuh Zeedan, tapi tiba tiba terdengar suara pintu diketuk.
"Mengganggu saja." dengan kesal Zeedan membuka pintu yang sempat ia kunci.
"Ini pak, kopi yang bapak minta." Seorang office boy membawakan kopi untuk Zeedan.
"Terima kasih." ucap Zeedan.
Setelah memberikan kopi untuk Zeedan, office boy itu keluar dari ruangan itu, Melihat office boy itu pergi Tasyapun buru buru keluar.
"Tasya kamu mau kemana?" Zeedan baru menyadari Tasya sudah berada diluar ruangannya.
"Pulang!" Tasya buru buru berjalan meninggalkan Zeedan.
Zeedan mempercepat langkah kakinya, ia merasa tidak rela Tasya pergi.
"Tasya!" Panggil Zeedan.
Tasya tidak memperdulikan Zeedan ia terus berjalan, ketika ia sampai didepan lift ia melihat Zeedan berjalan mendekatinya.
Tasya sedikit tegang karena pintu lift belum juga terbuka sedangkan Zeedan sudah hampir sampai ditempatnya berdiri.
"Kenapa dia mengikutiku?" Tasya merasa heran.
Karena lift belum juga terbuka, Tasya memilih berlari kecil menuju tangga, melihat Tasya berlari Zeedan juga ikut berlari. Zeedan akhirnya berhasil mengejar Tasya, saat itu Tasya berdiri tepat didepan tangga.
"Tunggu! Kenapa kamu menghindariku?" Zeedan memegang tangan Tasya.
Tasya tidak menjawab, ia ingin menepis tangan Zeedan tetapi Zeedan mencengkeram tangannya dengan kuat.
"Lepaskan tanganku!" Tasya meringis kesakitan.
Tubuh Tasya hilang keseimbangan karena tiba tiba Zeedan melepaskan tangannya dan
Brug..
Tasya terjatuh dari tangga.
"Tasya!" Zeedan panik ia segera menghampiri Tasya
"Tasya, bangun Tasya!" Zeedan menepuk nepuk pipi Tasya.
Tasya tetap tidak bangun, Zeedan menjadi khawatir. ia kemudian menggendong Tasya, Zeedan berjalan tergesa gesa menuju tempat dimana mobilnya diparkir.
Setelah sampai Zeedan meletakan Tasya didalam mobilnya. Zeedan segera melajukan mobilnya, ia ingin cepat sampai dirumah sakit.
Dirumah sakit,
__ADS_1
"Dokter, bagaimana keadaan istri saya." Tanya Zeedan saat ia melihat dokter sudah selesai memeriksa Tasya.
"Istri anda baik baik saja. tapi karena baru saja terjatuh, istri anda harus dirawat dirumah sakit ini. Saya akan melakukan pemeriksaan lagi untuk mengetahui kondisi istri anda secara keseluruhan." Dokter itu menjelaskan.
"Bagaimana dengan anak yang dikandung istri saya?"
"Anak?" Dokter itu kelihatan bingung.
"Iya anak yang dikandung istri saya, apa dia baik baik saja?" Zeedan cemas dia takut terjadi sesuati pada bayi yang Tasya kandung.
"Maaf pak, istri anda tidak hamil."
Mendengar pemberitahuan dari dokter, Zeedan menjadi sangat shock. Ia teringat bagaimana ia memperlakukan Tasya.semenjak Tasya menjadi istrinya, Zeedan merasa ia tidak pernah bersikap baik pada Tasya.
Zeedan mengusir Tasya dari rumahnya, ia menuduhnya berselingkuh dengan Revan. Tasya juga pernah hampir kehabisan nafas karena Zeedan mencekiknya, bahkan Zeedan sudah mencemarkan nama baik Tasya didepan keluarga Revan.
"Tasya maafkan aku! maaf, karena aku tidak percaya padamu." Zeedan terisak.
Zeedan duduk disamping Tasya dengan lembut ia memegang tangan Tasya.
"Sayang bangunlah! mulai sekarang aku berjanji, aku akan selalu percaya padamu." Zeedan masih memegangi jari jemari Tasya.
Tasya merasakan ada yang menggengam erat tangannya, Tasya kemudian membuka matanya.
"Zeedan" Tasya melihat Zeedan yang sedang menggenggam tangannya sambil berurai air mata.
"Sayang kamu akhirnya bangun, sayang maafin aku ya" ujar Zeedan dengan wajah memelas.
Maaf, apa Zeedan sudah tahu kalau aku tidak hamil. Batin Tasya.
"Maaf untuk apa?" Tasya tidak mengerti kenapa sikap Zeedan yang dingin berubah menjadi hangat.
Kalau aku bilang aku sudah tahu dia tidak hamil.Tasya pasti akan sangat marah lebih baik aku diam saja. pikir Zeedan
"Maaf, karena aku membuat kamu jatuh dari tangga." Zeedan tersadar dari lamunannya.
"Apa tadi kamu mendorongku?" Tasya menyipitkan matanya.
"Tidak, tadi aku hanya melepaskan tanganmu. aku tidak tahu kalau tubuhmu itu lemah sekali sampai sampai kau jatuh." Zeedan mengejek Tasya.
"buat apa minta maaf? jika kamu tidak merasa betsalah
"Aku minta maaf, karena aku sudah membuatmu jatuh. Seandainya aku tidak mengejarmu, kamu tidak akan jatuh." Zeedan merasa bersalah.
"Zeedan, aku belum bisa memaafkanmu."
"Tasya" ucap Zeedan dengan wajah memelas.
"Pergilah! aku ingin sendiri." Pinta Tasya.
"Tasya, apa kamu tahu? saat kamu jatuh aku sangat takut, aku takut kehilanganmu. aku sempat berpikir lebih baik kamu menghianati aku dari pada aku harus kehilangan kamu."
"Sebenarnya apa maksud kamu."
"Aku ingin kita kembali lagi, aku tidak perduli kamu hamil atau tidak. aku hanya ingin bersamamu. seandainya kamu benar banar hamil anak Revan, aku akan menerimanya." Zeedan kembali memegang tangan Tasya.
Kata kata Zeedan membuat Tasya tersentuh, tapi rasa sakit hatinya pada Zeedan membuatnya tidak dapat memaafkan Zeedan begitu saja.
"Baiklah aku akan memaafkanmu, tapi dengan satu syarat." Tasya mengajukan persyaratan.
__ADS_1
"Syaratnya apa?" Zeedan senang karena Tasya mau memaafkannya.
"Hari ini kamu harus menuruti semua permintaanku."
"Hanya hari ini" Zeedan sangat percaya diri. ia yakin, ia bisa menuruti keinginan Tasya.
"Satu hari saja kamu belum tentu bisa?" Tasya meremehkan Zeedan.
"Kita lihat saja nanti." Zeedan mengacak acak rambut Tasya.
Beberapa saat kemudian.
"Zeedan! aku haus ambilkan aku minum." Perintah Tasya.
Zeedan mengambilkan segelas air putih untuk Tasya.
"Aku tidak mau air putih, aku mau teh hangat." Tasya menolak minuman yaang diberikan Zeedan.
Zeedan kemudian keluar dari kamar itu sebentar, tidak lama kemudian ia sudah membawa segelas teh hangat. Zeedan langsung memberikannya pada Tasya.
"Ini terlalu manis aku, tidak suka. ganti yang baru, gulanya jangan terlalu banyak." Perintah Tasya.
"Baiklah."Zeedan mengelus dadanya.
Zeedan lalu keluar lagi dari kamar itu dan kembali lagi setelah membawa segelas teh hangat sesuai permintaan Tasya.
"Ini aku sudah belikan yang baru, gulanya hanya sedikit." Zeedan memberikan segelas teh hangat itu pada Tasya.
"Aku tidak mau lagi, kamu terlalu lama."
"Tadi kamu bilang haus." Zeedan metakan gelas itu diatas meja.
"Itukan tadi, karena kamu terlama lama jadi aku minum air putih yang ada dimeja.
"Kamu!" Zeedan mengepalkan tangannya.
"Kenapa, baru begitu saja sudah tidak sanggup, ini belum satu hari." Tasya melihat raut wajah Zeedan yang berubah.
"Tidak sayang, aku sanggup kok. o iya sekarang apalagi yang kamu mau." Zeedan tersenyum kecut.
"Zeedan aku mau nonton tv. tolong nyalakan!"
Zeedan lalu menyalakan tv yang ada diruangan itu.
"Ganti canelnya, aku takut nonton film horor." Pinta Tasya Ketika ia melihat acara film horor ditv yang Zeedan nyalakan.
Zeedan kemudian mengganti canel tv itu.
"Ganti lagi aku tidak suka drama percintaan."
Zeedan kembali mengganti canel tv itu.
"Kenapa mau ganti lagi? tidak suka juga lihat berita." Zeedan baru ingin mengganti canel tv tapi Tasya melarangnya.
"Stop..jangan diganti aku mau lihat berita."
Zeedan sangat kesal rasanya ia ingin sekali membanting remote tv itu didepan Tasya, tapi karena ia tidak ingin membuat Tasya marah akhirnya Zeedan hanya bisa mengalah.
Berita terkini, pemirsa seorang wanita cantik ditangkap pihak yang berwajib karena ia mengaku ngaku sebagai seorang dokter. wanita itu berani membuka praktek didekat perumahan warga, karena penipuan yang ia lakukan banyak warga yang menjadi korban dan banyak juga warga yang merasa dirugikan. berikut kita lihat siaran langsung dari tempat kejadian.
__ADS_1
Prang..
Tasya menjatuhkan gelas yang ia pegang, wanita yang berpura pura menjadi dokter itu ternyata adalah wanita yang pernah memeriksanya, wanita itu jugalah menyatakan bahwa ia hamil.