RUMI: Cinta Sang Pria Lumpuh

RUMI: Cinta Sang Pria Lumpuh
KAU INGAT?


__ADS_3

Rumi menatap ke arah sofa dimana Ruby sudah terlelap, lalu ganti ke arah Ethan yang matanya juga masih terpejam. Terus bergantian menatap pada pasangan suami istri yang hubungannya ditentang oleh Papi Juna tersebut.


Rumi juga tak tahu kenapa Papi Juna selalu menunjukkan kebenciannya pada Ethan di depan semua orang, namun masih menyimpan foto-foto Ethan di kamar Rumi dan memandanginya secara diam-diam sambil berurai airmata di belakamg semua orang.


Mungkin Papi Juna pikir Rumi tak tahu. Tapi sebenarnya Rumi tahu semua rahasia papi kandungnya tersebut. Papi Juna sebenarnya menyayangi Ethan, tapi entah apa yang membuatnya membenci Ethan.


Rumi kembali menatap lekat wajah Ethan saat kelebat mimpi itu kembali melintas di benaknya.


"Aku sudah meminta Ruby secara baik-baik kepadamu! Tapi kau malah membiarkan adikmu itu menjalin hubungan dengan si kutu buku!"


Bugh!


"Kau sudah ingkar janji!"


Bugh!


Bugh!


Pukulan bertubi-tubi terus mendarat di wajah Rumi yang tak lagi ada kekuatan. Darah segar mengucur dari beberapa bagian tubuh Rumi yang kini sudah babak belur.


"Rasakan ini, Rumi!"


Bugh!


Bugh!


Bugh!


Rumi bahkan bisa merasakan dengan jelas rasa sakit akibat pukulan pria sialan itu. Tapi siapa sebenarnya orang yang sudah memukuli Rumi? Wajahnya tidak bisa Rumi lihat secara jelas di keremangan malam. Hanya suara dari orang itu yang kini terngiang di kepala Rumi. Dan suara itu mirip suara Arkan.


Tapi mungkinkah?


"Uhuuk!" Suara batuk Ethan membuyarkan lamunan Rumi.


Rumi tak berpindah dari tempatnya dan hanya menatap pada Ethan yang sudah mulai menggeliat. Sepertinya Pak Dokter menyebalkan yang selalu mengaju satu jiwa dengan Rumi tersebut sudah terbangun dari koma.


"Uhuuk!" Ethan terbatuk-batuk lagi.


"Lepaskan saja alat bantu nafasmu itu!" Rumi akhirnya tak tahan untuk tak buka suara. Rumi juga pernah berada di posisi Ethan dan merasakan memakai alat bantu nafas menyebalkan itu. Meskipun sudah bertahun-tahun yang lalu, namun Rumi masih ingat rasanya. Dan Rumi membencinya.


Ethan terlihat mengangkat tangannya dan menyingkirkan alat bantu nafas dari hidung dan mulutnya. Dokter muda itu menarik nafas berulang kali dan melempar tatapan aneh ke arah Rumi. Baiklah, apa salah Rumi sekarang?

__ADS_1


"Kau sedang apa disini, Rumi?" Tanya Ethan yang hendak bangun, namun lagi-lagi gips di kedua kaki Ethan membuat pria itu tak bisa banyak bergerak.


Rumi yang merasa iba, akhirnya menggerakkan kursi rodanya dan membantu menaikkan bed perawatan di bagian kepala agar Ethan bisa setengah berbaring.


"Kedua kakimu digips!" Ujar Rumi memberitahu kondisi Ethan pada Ethan sendiri.


"Brengsek!" Umpat Ethan kesal. Rumi hanya memutar bola matanya.


Bukankah biasanya orang lain akan kaget dan shock saat tahu kedua kakinya digips? Lalu kenapa Ethan malah mengumpat? Dasar dokter aneh!


"Kau sedang apa disini?" Ethan bertanya sekali lagi pada Rumi.


"Menjagamu! Memangnya kau pikir aku sedang apa? Menjadi dokter untukmu? Kau itu yang dokter bukan aku!" Sahut Rumi ketus sambil kembali memutar bola matanya.


"Ruby dan yang lain kemana?" Tanya Ethan lagi pada Rumi.


Rumi tak menjawab pertanyaan Ethan yang terakhir karena dokter muda itu sepertinya sudah menemukan jawaban saat kedua netranya memandangi Ruby yang tengah terlelap di atas sofa.


"Dia tak pernah beranjak dari sisimu sejak kau masuk ke rumah sakit hingga hari ini," ujar Rumi memberitahu Ethan.


"Berapa lama memangnya aku tak sadarkan diri?" Tanya Ethan yang kedua alisnya sudah saling bertaut. Sepertinya Ethan tak sadar kalau dia sudah koma berhari-hari. Tapi setidaknya Ethan tak kehilangan ingatannya seperti Rumi dulu yang saat bangun dari koma bahkan tak ingat namanya sendiri.


"Empat hari," jawab Rumi yang langsung membuat Ethan melebarkan kedua bola matanya.


"Ngomong-ngomong, kau ingat siapa yang sudah melakukan ini kepadamu?" Tanya Rumi penuh selidik. Rumi hanya penasaran apa orang yang sudah menganiaya Ethan sama dengan orang yang juga sudah menganiaya dirinya, karena kalau ditilik dari luka-luka di tubuh Ethan, kondisinya nyaris sama dengan yang terjadi pada Rumi.


"Arkan." Jawab Ethan ringkas.


"Arkan juga yang sudah membuatmu duduk di situ!" Lanjut Ethan lagi seraya mengendikkan dagunya ke arah kursi roda Rumi.


"Sudah aku duga!" Cetus Rumi penuh emosi. Sejak awal Rumi sudah curiga dan tidak suka pada calon mantu pilihan Papi Juna itu. Ternyata feeling Rumi ada benarnya.


"Kau sudah ingat kejadian tujuh tahun silam?" Ethan bertanya penuh harap.


"Masih acak." Jawab Rumi seraya menerawang. Tapi begitulah adanya. Satu-satunya yang Rumi ingat dari masa lalunya hanyalah malam saat dirinya dianiaya oleh Arkan. Mungkin karena bayangan itu terus hadir di dalam mimpi Rumi, makanya Rumi ingat. Selebihnya Rumi tak mampu mengingat apapun tentang masa lalunya.


"Aku hanya ingat aku dipukuli secara barbar oleh seorang pria bermasker yang juga mengenakan hoodie jaket warna hitam. Aku terus mengingatnya karena bayangan itu selalu hadir dalam mimpiku selama tujuh tahun terakhir. Seperti sebuah trauma berkepanjangan," cerita Rumi pada Ethan yang langsung membuat raut wajah Ethan berubah kecewa.


Apa memang yang diharapkan Ethan saat ingatan Rumi kembali?


"Kau tahu dimana ponselku, Mi?" Tanya Ethan tiba-tiba pada Rumi yang masih melamun.

__ADS_1


Baru bangun dari koma sudah mencari ponsel. Mau menelepon siapa memangnya? Dasar sok penting!


"Mau menelepon siapa?" Rumi akhirnya menyodorkan ponselnya pada Ethan.


"Aku tidak ingat nomor kontaknya. Aku ingin menelepon Marcell dan aku sangat yakin kalau kau juga pasti tak menyimpan nomor kontaknya," ujar Ethan yang langsung membuat Rumi menarik kembali ponselnya dan tak jadi menyodorkannya pada Ethan.


Marcell?


Rumi seperti pernah mendengar namanya disebut oleh Vivian, saat wanita itu bercerita bagaimana ia bisa mendapatkan pekerjaan sebagai perawat Rumi.


"Dokter Marcell yang mencarikanku pekerjaan. Dia teman Dokter Ethan."


"Mungkin Vian punya. Bukankah dia teman Marcell juga?" Cetus Rumi akhirnya setelah ingat siapa itu Marcell.


"Vian siapa?" Tanya Ethan bingung.


Baiklah!


Apa pria ini juga amnesia sekarang?


"Vivian, perawat sekaligus asistenku yang kata Ruby kau yang mencarikannya untukku," jelas Rumi yang langsung membuat bibir Ethan membulat.


Oh, tak jadi amnesia ternyata.


"Kau sudah bertemu dengannya?" Tanya Ethan lagi yang sepertinya mulai penasaran. Dasar!


"Hampir setiap jam. Dia sudah jadi asistenku sekarang," jelas Rumi sekali lagi.


"Oh, iya! Aku lupa. Aku sudah tidur selama empat hari," Ethan menepuk keningnya sendiri. Tentu saja hal itu langsung membuat Rumi tertawa karena sepertinya Ethan lupa kalau kepalanya masih diperban, dan ia malah memukulnya sendiri.


"Dasar bodoh!" Ejek Rumi yang langsung membuat Ethan merengut. Sama seperti Sunny saat sedang merajuk.


"Jadi, dimana Vivian?" Tanya Ethan selanjutnya.


"Sedang ke kafetaria tadi," jawab Rumi bersamaan dengan pintu kamar perawatan yang dibuka dari luar. Aunty Ghea, Sasha, dan Vivian rupanya sudah kembali dari kafetaria.


.


.


.

__ADS_1


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.


__ADS_2