
Rumi baru keluarga dari kamarnya, saat mendapati Ethan dan Ruby yang sudah berdiri di bawah tangga.
"Kau akan membawanya ke kamarmu di lantai dua?" Celetuk Rumi menebak-nebak yang langsung membuat Ruby dan Ethan menoleh ke arahnya.
"Ethan yang memaksa. Padahal aku juga sudah menawarkan kamar di lantai bawah. Tapi katanya di mau tidur di kamarku di lantai dua saja," terang Ruby membeberkan sebuah alasan.
"Ck! Ini hanya naik tangga dan aku sangat bisa melakukannya!" Sergah Ethan penuh kesombongan.
Cih!
Dasar dokter keras kepala!
"Kau yakin?" Rumi menatap penuh ejekan pada Ethan. Rumi sangat yakin, kalau Ethan tak akan mampu menapaki anak tangga di rumah papinya tersebut.
"Anak tangga itu jumlahnya ada lima puluh. Kau bisa saja terpeleset, tersandung, lalu jatuh berguling-guling ke bawah," lanjut Rumi lagi yang malah menakut-nakuti Ethan. Ekspresi wajah Rumi juga kian terlihat menyebalkan.
"Ruby akan membantuku!" Jawab Ethan tetap keras kepala dan sepertinya tak gentar sama sekali.
Wajar, kan? Kalau Rumi menyebutnya dokter Ethan si keras kepala!
"Baiklah! Silahkan naik kalau begitu, Dokter keras kepala!" Ujar Rumi akhirnya dengan nada penuh ejekan.
"Lalu kau mau apa disitu?" Tanya Ethan yang sepertinya mulai kesal. Rumi tertawa kecil dan mulai suka dengan wajah kesal Ethan.
"Aku?"
"Mau apa?"
"Aku mau melihatmu mendaki tangga itu sampai ke atas. Lalu setelahnya, entah bagaimana kau akan turun?" Jawab Rumi seraya tertawa seolah sedang mengejek Ethan. Tapi sejak tadi Rumi memang sedang mengejek suami Ruby ini.
"Kita tidur di kamar bawah saja, Eth!" Bujuk Ruby pada Ethan keras kepala.
"Tidak! Aku akan..." Ethan baru menapaki tiga anak tangga saat nafas pria itu sudah terasa ngos-ngosan. Sementara Rumi kembali tertawa terbahak-bahak menyaksikan penderitaan Ethan.
"Suruh pria itu pergi, By! Aku akan naik sendiri!" Perintah Ethan pada Ruby seraya menunjuk ke arah Rumi yang semakin mengejeknya dengan menyebalkan
"Vivian!" Panggil Ruby pada Vivian. Padahal Ruby sangat bisa mendorong sendiri kursi roda Rumi. Lalu kenapa wanita ini malah berteriak-teriak dan berisik sekali?
"Vivi-"
"Sssssttt!" Rumi memotong teriakan Ruby yang kedua.
"Vian sudah tidur! Jangan berteriak-teriak seperti orang gila begitu, Ruby!" Ujar Rumi lagi memperingatkan saudara kembarnya tersebut.
"Tumben kau mengizinkan perawatmu tidur duluan? Yang sebelum-sebelumnya kau selalu marah saat mereka tidur duluan," Ruby sudah bersedekap dan sekarang wanita itu gantian menatap mengejek pada Rumi.
Sial!
Sikap Ruby yang seperti itu selalu membuat Rumi sebal.
"Ck! Kau mana tahu? Kau bahkan jarang berada di rumah ini dan lebih banyak berada di apartemenmu!" Kilah Rumi mengelak tuduhan dari Ruby dan sekarang pria itu sedikit salah tingkah. Rumi juga tak tahu kenapa mendadak jantungnya berdetak dengan tak karuan.
__ADS_1
Oh ayolah, Rumi!
Vivian hanya perawatmu!
"Jadi, sudah sejauh mana hubunganmu dengan Vian?" Tanya Ruby seraya mencondongkan tubuhnya ke arah Rumi dan nada bicara istri Ethan itu terdengar menyebalkan.
"Sejauh mana apanya? Dia masih menjadi perawat merangkqp asistenku di toko!" Jawab Rumi ketus menutupi salah tingkahnya.
Ruby baru saja akan berkomentar lagi saat panggilan dari Ethan menyelamatkan Rumi dari pertanyqan menyebalkan Ruby.
Oh, terima kasih, Sahabat satu jiwa!
"Ruby!" Panggil Ethan.
Rumi dan Ruby menoleh bersamaan ke arah ujung tangga dan demi apapun, Ethan keras kepala itu sudah berdiri di sana sekarang.
Apa?
Yang benar saja!
Bagaimana cara Ethan sampai di atas sana?
Merangkak?
"Kau sudah sampai, Sayang?" Tanya Ruby yang sepertinya terkejut sekaligis merasa bangga. Ruby lanjut melemparkan pandangannya ke arah Rumi san seakan sedang mengejek Rumi,
"Lihat! Ethan saja bisa melakukannya, lalu kenapa kau tak bisa melakukannya, Rumi? Ini bahkan sudah tujuh tahun dan kau masih saja betah duduk di atas kursi roda menjemukan itu! Apa kau akan selamanya duduk di sana dan tidak mau belajar berjalan?"
"Aku yakin cedera di kakimu itu hanya pura-pura!" Celetuk Rumi seraya menuding ke arah Ethan yang kini mengejeknya dari lantai atas. Suami istri ini sepertinya memang kompak sekali dalam hal ejek mengejek. Sialan!
"Kau harus mencobanya, Rumi!" Seru Ethan dari atas yang nafasnya terdengar ngos-ngosan.
"Tidak terima kasih! Aku lebih suka duduk di atas kursi rodaku yang nyaman ini," jawab Rumi ketus.
Rumi sudah berbalik dan menjalankan kursi rodanya masuk ke dalam kamar. Rumi sudah malas mendengarkan ejekan kompak dari Ruby dan Ethan.
Rumi menutup pintu kamarnya, dan Vivian masih di posisinya semula saat Rumi keluar tadi. Wanita itu masih terlelap di sofa dan sepertinya lelah sekali. Rumi jadi tak tega untuk membangunkannya dan hanya sekedar minta bantuan untuk berpindah ke atas tempat tidur.
Ck!
Rumi bukan pria yang lemah, jadi Rumi akan pindah sendiri saja kalau begitu.
Dan Rumi akan ikut terapi mulai besok!
Memangnya Ethan saja yang bisa cepat berjalan? Rumi juga pasti akan cepat bisa berjalan kembali setelah ikut terapi nanti!
Rumi menarik nafas panjang dan bersiap untuk berpindah ke atas tempat tidurnya.
Baiklah!
Kau bisa, Rumi!
__ADS_1
Tidak usah manja!
Rumi menumpukan kedua tangannya ke atas tempat tidur dan bersiap mengangkat bokongnya saat tiba-tiba...
Bruuk!
Brengsek! Sialan!
"Rumi! Astaga!" Pekik Vivian yang entah sejak kapan sudah bangun dan melesat cepat untuk menghampiri Rumi yang kini jatuh tersungkur di atas lantai.
"Kau sedang apa?" Tanya Vivian yang langsung sekuat tenaga membantu Rumi untuk bangun dan mendudukkannya ke atas tempat tidur. Bibir Rumi hanya mengerucut dan hatinya tak berhenti menggerutu, merutuki kebodohannya sendiri serta ketidakmampuannya untuk sekedar berpindah dari atas kursi roda ke tempat tidur.
"Kenapa tak membangunkanku kalau memang jau sudah mengantuk dan ingin tidur?" Cecar Vivian seraya memeriksa kaki dan anggota tubuh Rumi lainnya untuk memastikan tak ada yang memar atau lecet.
"Kau tak bangun-bangun sejak tadi padahal aku sudah berulang kali membangunkanmu! Dasar tukang tidur!" Omel Rumi mengada-ada. Padahal Rumi sama sekali belum membangunkan Vivian sejak tadi.
"Benarkah?" Wajah Vivian terlihat kaget dan bola mata wanita itu membulat dengan lucu.
"Maaf kalau begitu!" Lanjut Vivian lagi yang raut wajahnya tampak bersalah.
"Kau aku hukum!" Celetuk Rumi lagi yang kali ini tak membuat Vivian kaget.
Apa?
Kenapa Vivian tak protes?
"Aku harus apa?" Tanya Vivian yang sepertinya sudah hafal dan pasrah.
"Tidur di sebelahku, lalu bacakan dongeng yang tadi kau bacakan untuk pacarmu! Aku mau membuat pacarmu cemburu!" Jawab Rumi kekanakan.
Vivian terdiam sebentar dan menatap tak percaya ke arah Rumi.
"Apa? Mau protes? Aku perpanjang hukumanmu nanti!" Ancam Rumi tetap kekanakan. Vivian mendadak ingat pada Archie yang juga suka mengancam kalau kemauannya tak dituruti. Kini Vivian tahu sifat Archie yang itu menurun dari siapa.
"Baiklah! Aku akan mendongeng semut dan lebah untukmu malam ini!" Jawab Vivian dengan ekspresi wajah datar yang tentu saja langsung membuat Rumi menganga dan tiba-tiba jadi salah tingkah.
Kenapa jadi Rumi yang salah tingkah?
Bukankah yang dihukum adalah Vivian?
.
.
.
Jangan lupa pasang guling di tengah, Mi, Rumi!
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.
__ADS_1