
"Kau tidak tidur? Bukankah tadi kau bilang tidak enak badan?" Tanya Vivian seraya merapatkan selimut Rumi.
Pria itu masih betah menonton televisi dan sejak tadi Vivian yang mondar-mandir mengambilkan apapun yang Rumi inginkan. Kue, buah, memijit tangan pria ini,mengusap punggungnya. Sebenarnya Rumi benar-benar sakit atau hanya akting?
"Naik kesini dan temani aku agar aku segera bisa tidur!" Rumi menepuk ruang kosong di atas tempat tidur, tepat di sampingnya.
"Ck! Apa sakitmu ini hanya pura-pura?" Tebak Vivian yang sebenarnya juga sudah tahu.
"Aku benar-benar sakit!" Sergah Rumi kembali berakting.
"Aduh! Kepalaku!" Rumi memegang kepalanya dengan lebay. Vivian hanya memutar bola mata dan segera duduk di samping Rumi, lalu mengusap-usap lembut kepala pria itu.
"Kenapa kau tidak putus saja dengan pacar berondongmu itu?" Tanya Rumi kepo.
"Kenapa kami harus putus? Hubungan kami baik-baik saja sejauh ini dan tak pernah ada masalah," jawab Vivian santai.
"Ck! Dia itu tak cocok untukmu! Sudah putus saja!" Sergah Rumi memaksa.
"Kau saja tak pernah bertemu dengannya. Jadi bagaimana kau bisa tahu kalau kami tak cocok? Dasar sok tahu!" Cibir Vivian menahan tawanya yang hampir meledak.
"Ya pokoknya aku tahu!"
"Punya pacar berondong itu tak enak! Selain manja, mereka juga tak dewasa dan seumur hidup kau hanya akan kerepotan mengurus seorang bayi besar!" Cerocos Rumi yang membuat Vivian sungguh ingin tertawa terbahak-bahak.
"Jadi menurutmu, yang seusia denganku atau yang lebih tua itu tidak kekanakan? Kau juga kekanakan," sergah Vivian yang langsung membuat Rumi berdecak.
"Aku sedang sakit! Kalau aku tak sakit, sikapku dewasa!" Kilah Rumi sombong.
"Begitu, ya? Lalu menurutmu pria yang pantas untukku itu yang bagaimana?" Tanya Vivian lagi sesaat membuat Rumi terdiam.
"Yang dewasa dan seusia denganmu! Yang pekerja keras, punya banyak uang, dan lebih tampan dari pacar berondongmu itu tentu saja!" Jawab Rumi akhirnya.
Padahal Rumi ingin menjawab hal lain, tapi kenapa ia malah menjawab seperti itu.
"Aku bukan wanita matre! Aku hanya butuh pria yang mengerti diriku," pungkas Vivian seraya bangkit dari duduknya.
"Kau butuh apa lagi? Aku mau tidur siang, kalau kau tak butuh apa-apa lagi," tanya Vivian selanjutnya.
"Perawat macam apa kau itu? Aku belum tidur dan kau malah ingin tidur," omel Rumi bersungut-sungut.
"Iya, kau tidak tidur sejak tadi. Kalau kau memang sakit, seharusnya kau tidur dan istirahat agar sakitmu cepat sem-"
__ADS_1
"Aduh!" Vivian memekik kaget saat tiba-tiba tangannya ditarik oleh Rumi. Padahal Vivian belum menyelesaikan omelannya pada Rumi. Posisi Vivian kini berada di pangkuan Rumi.
"Bisakah kau berhenti mengomel?" Ucap Rumi yang wajahnya berada dekat sekali dengan wajah Vivian.
Vivian pernah di posisi sedekat ini dengan Rumi sebelumnya. Tapi itu tujuh tahun yang lalu. Dan sekarang kenapa rasanya berbeda?
Vivian menelan dengan susah payah ludahnya tang tiba-tiba mengering. Wanita dua puluh lima tahun itu mengerjapkan matanya dengan grogi.
"Kau mau apa?" Ucap Vivian nyaris tanpa suara. Tenggorokan Vivian terasa kering sekarang.
"Membuatmu putus dari pacar berondongmu," jawab Rumi sebelum pria itu menyatukan bibirnya dengan bibir Vivian. Namun baru beberapa detik Rumi dan Vivian berpagutan, pintu kamar tiba-tiba sudah menjeblak terbuka.
"Rumi, apa benar kau sakit?" Tanya Mami Lily yang sudah merangsek masuk ke dalam kamar.
Vivian buru-buru melepaskan diri dari dekapan Rumi sebelum adegannya bersama Rumi terpergok mami kandung Rumi tersebut.
"Rumi sakit apa,Vian?" Tanya Mami lily lagi kali ini pada Vivian.
"Sakit...."
"Tidak enak badan, Bu!" Jawab Vivian mengarang indah. Vivian juga tak tahu Rumi ini sebenarnya sakit apa. Kan dia cuma akting.
"Demam?" Tanya Mami Lily khawatir.
"Sudah turun!" Rumi dan Vivian menjawab bersamaan namun dengan jaeaban yang berbeda.
"Demam Rumi sudah turun, Mi!" Rumi mengulangi jawabannya.
"Tadi Dokter Ethan sudah datang untuk memeriksa Rumi, Bu!" Timpal Vivian memberikan laporan pada Mami Lily.
"Syukurlah kalau begitu," gumam Mami Lily yang sudah mendekat ke arah tempat tidur Rumi, dan kini wanita paruh baya tersebut malah duduk di tempat Vivian tadi duduk.
"Mami tidak mengurus resepsi pernikahan Ruby?" Tanya Rumi yang bermaksud mengusir sang mami secara halus. Bagaimana Rumi mau melanjutkan ciumannya bersama Vivian tadi, kalau sang mami malah mengganggu begini!
"Sudah diurus sama WO-nya Bu Audrey. Tadi Mami hanya membantu mengecek beberapa hal saja," jawab Mami Lily santai.
"Vian, kalau kau mau istirahat, silahkan! Rumi biar aku yang menjaga," ujar Mami Lily pada Vivian yang sejak tadi hanya diam melihat mami Lily yang begitu perhatian pada Rumi. Semua ibu pastikan perhatian pada putranya, tak peduli berapapun usia sang putra.
"Baik, Bu!" Jawab Vivian patuh.
Vivian hendak berjalan ke arah pintu, saat tiba-tiba Rumi kembali memanggilnya.
__ADS_1
"Vian!"
"Ada apa? Kau butuh sesuatu? Biar mami yang ambilkan," jawab Mami Lily cepat mendahului jawaban Vivian.
"Vian!" Panggil Rumi lagi mengabaikan kata-kata sang mami barusan.
"Iya," Jawab Vivian akhirnya seraya menoleh pada Rumi.
"Tidurlah di sofa situ, dan jangan ke kamarmu," Perintah Rumi pada Vivian.
"Rumi, biarkan Vivian tidur dan beristirahat di kamarnya!" Sergah Mami Lily menolak perintah Rumi pada Vivian.
"Tidak! Vivian juga Bisa tidur di sofa dan tak akan ada yang mengganggu!" Ucap Rumi keras kepala.
"Rumi-"
"Tidak apa-apa, Bu! Saya sudah biasa tidur di sofa," ujar Vivian menengahi perdebatan mami Lily dan Rumi.
Mami Lily hanya menghela nafas, sementara Vivian langsung menuju ke sofa lalu merebahkan tubuhnya di sana. Rumi masih menonton televisi dan Mami Lily tetap duduk di samping pria itu.
"Kau tidak tidur siang?" Tanya Mami Lily seraya mengusap lembut kepala Rumi.
"Mami masih mengajak Rumi mengobrol! Bagaimana Rumi bisa tidur siang?" Jawab Rumi yang langsung membuat Mami Lily tertawa kecil.
"Baiklah, matikan televisinya dan cepatlah tidur!" Mami Lily mematikan layar televisi dan segera membantu Rumi untuk berbaring lalu membenarkan selimut putranya tersebut.
"Tidurlah!" Pungkas Mami Lily sambil kembali mengusap kepala Rumi, sebelum wanita paruh baya itu keluar dari kamar Rumi.
Setelah pintu kamar ditutup, Rumi kembali bangun dan berpindah sendiri ke atas kursi roda. Terapi yang Rumi jalani beberapa minggu terakhir, sudah memberikan banyak perkembangan dan Rumi sudah bisa berpindah ke atas kursi roda sendiri tanpa perlu terjungkal.
Rumi menjalankan kursi rodanya ke arah sofa, tempat Vivian tidur. Rumi menatap lekat wajah manis Vivian, sebelum kemudian bibir pria itu menyunggingkan senyum.
Mungkinkah Rumi sudah jatuh hati pada perawatnya ini?
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
__ADS_1
Jangan lupa like biar othornya bahagia.