RUMI: Cinta Sang Pria Lumpuh

RUMI: Cinta Sang Pria Lumpuh
HUBUNGAN ANEH


__ADS_3

Vivian masih duduk di sudut tribune penonton di dalam GOR basket yang sudah mulai sepi. Tapi tadi Rumi meminta Vivian untuk menunggu disini, jadi Vivian menurut saja dan pemuda itu pasti akan datang sebentar lagi.


Aneh!


Iya, ini memang aneh. Vivian sebelumnya tidak mudah percaya begitu saja pada cowok yang mendekatinya.


Padahal sebelumnya memang tidak ada cowok yang tertarik kepada Vivian.


"Vivian!" Panggil Rumi yang sudah mengganti jersey-nya dengan kaus biasa. Pemida itu menggendong tas di punggungnya dan berjalan cepat le arah Vivian.


"Maaf lama," ucap Rumi lagi yang segera duduk di samping Vivian.


"Nggak, kok!" Jawab Vivian berbasa-basi. Dan selanjutnya hanya ada keheningan karena Vivian tetap saja masih saja merasa canggung pada Rumi sekalipun mereka sudah sebulan lebih berstatus sebagai pacar.


Tapi pertemuan mereka memang bisa dihitung dengan jari dan termasuk jarang sekali. Dan lagi, tak ada siapapun yang tahu sepertinya tentang status pacaran antara Vivian dan Rumi.


Benar-benar hubungan yang aneh!


"Tadi kamu mainnya keren, Rumi!" Puji Vivian yang akhirnya buka suara.


"Kan ada kamu, jadi bikin semangat mainnya. Meskipun endingnya kalah," jawab Rumi seraya tertawa. Tadi tim basket sekolah Rumi memang kalah dari lawannya.


"Yang penting kan udah usaha," timpal Vivian seraya menepuk punggung Rumi yang hanya mengangguk-angguk.


"Tadi kesini bareng siapa?" Tanya Rumi selanjutnya pada Vivian.


"Sendiri, naik angkot," jawab Vivian seraya tersenyum.


"Ya ampun! Aku pikir bareng teman kamu. Tahu gitu aku jemput tadi," Rumi merasa bersalah.


"Udah biasa, kok! Nggak usah lebay begitu! Lagian,nanti Mama malah curiga kalau kamu jemput. Kalau aku naik angkot pamit nonton basket, Mama kan nggak curiga dan nggak tanya-tanya." Jelas Vivian santai.


"Kapan dong aku boleh kenalan sama mama dan papa kamu?" Tanya Rumi berharap.


"Lalu udah lulus SMA!" Jawab Vivian sedikit berbisik.


"Lama!" Rumi berdecak kecewa.


"Iya kan fokus dulu ke sekolah. Ujian kenaikan kelas, cita-cita. Kamu nggak pengen jadi apa, gitu?" Ujar Vivian panjang lebar bertanya pada Rumi.


"Pengen," jawab Rumi yang terlihat yakin sekali.


"Pengen jadi apa?" Tanya Vivian kepo.

__ADS_1


"Pengen jadi suami kamu."


Blush!


Wajah Vivian seketika bersemu merah. Gadis itu langsung tertunduk malu.


"Masih sekolah juga," cicit Vivian merasa malu.


"Iya emang bukan sekarang. Nanti, kalau kita udah lulus dan aku udah bisa kerja, memberikanmu nafkah," terang Rumi panjang lebar.


"Lulus SMA mau kerja apa, coba? Nggak kuliah dulu?" Tanya Vivian penasaran.


"Kuliah sambil kerja di toko Papi sepertinya bisa," Rumi menerka-nerka.


"Ck! Anak papi!" Gumam Vivian yang langsung membuat Rumi berdecak.


"Tapi bukan anak manja, lho, ya! Kalau liburan aku kadang bantu-bantu kok di toko biar dapat uang jajan lebih," cerita Rumi pamer.


"Begitu, ya! Kirain kerjaan kamu nongkrong aja kalau libur," kekeh Vivian.


"Nongkrong sesekali aja kalau pengen. Kamu aku ajakin nongkrong nggak pernah mau. Kan bisa kenalan sama teman-teman aku," jawab Rumi yang langsung membuat Vivian menggeleng.


"Udah mau jam enam." Vivian melihat jam di tangannya.


"Traktir dalam rangka?"


"Merayakan kekalahan," jawab Rumi cengengesan.


Vivian hanya tergelak dan dua remaja itu segera berjalan bergandengan keluar dari GOR basket.


****


[Ada film baru. Besok nonton, yuk!] -Rumi-


Vivian baru selesai mandi saat membaca pesan dari Rumi. Hubungan Rumi dan Vivian yang kata Rumi statusnya adalah pacaran memang sudah berjalan hampir satu tahun. Kini Rumi dan Vivian sudah sama-sama duduk di kelas dua belas dan sedang bersiap untuk ujian akhir sekolah.


[Besok?] -Vivian-


[Iya, besok! Kan besok Minggu. Jangan bilang kalau kamu nggak bisa dan pake alasan ngerjain tugas sekolah. Kita belum nge-date bulan ini] -Rumi-


[Masa, sih? Perasaan baru kemarin kita jalan ke pasar kuliner] - Vivian-


[Itu udah satu bulan yang lalu, Vivian Sayang!] -Rumi-

__ADS_1


Wajah Vivian seketika bersemu merah saat membaca pesan dari Rumi yang memanggilnya sayang. Bukan sekali dua kali padahal. Tapi tetap saja berhasil membuat Vivian tersipu malu.


[Yaudah, sore aja tapi, ya! Jangan malam] - Vivian-


[Oke! Aku jemput, ya!] -Rumi-


[Di depan gang saja] -Vivian-


[Di rumah! Aku minta izin ke mama kamu] -Rumi-


[Yaudah, nggak usah jemput. Aku naik angkot saja] - Vivian-


[Kok gitu?] -Rumi-


[Di depan gang] -Vivian-


[Baiklah, Vivian keras kepala!] -Rumi-


"Vivian!" Panggil Abang Sandy seraya membuka pintu kamar Vivian.


"Iya, Bang!" Jawab Vivian yang langsung meletakkan ponselnya dan berdiri menghampiri sang Abang.


"Makan dulu!" Abang Sandy mengusap kepala Vivian.


"Sekalian Papa mau bicara," ujar Abang Sandy dengan raut wajah serius. Sepertinya ada hal penting.


"Bicara apa?" Tanya Vivian seraya menutup pintu kamarnya.


"Udah, ayo!" Ajak Abang Sandy seraya merangkul pundak sang adik. Kakak beradik itupun bersama-sama menuju ke ruang makan dan bergabung bersama Pak Satya, Bu Niar, dan Kak Vita yang sudah terlebih dahulu berada di ruang makan.


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.


VIVIAN (delete soon)


__ADS_1


__ADS_2