RUMI: Cinta Sang Pria Lumpuh

RUMI: Cinta Sang Pria Lumpuh
RUMI KENAPA?


__ADS_3

"Archie sudah melewati masa kritisnya," terang Dokter Marcell yang langsung membuat Vivian mengucapkan kalimat syukur berulang kali.


"Hanya tinggal menunggu dia bangun. Dia anak yang kuat, Vi!" Ucap Dokter Marcell lagi yang langsung membuat Vivian mengangguk-angguk.


"Sekali lagi, aku turut berduka atas kepergian kedua orang tuamu,Vivian!" Ucap Dokter muda itu lagi.


"Iya, Dokter!" Jawab Vivian lirih.


"Aku permisi dulu kalau begitu. Jangan lupa istirahat dan makan teratur agar kau tetap bisa menjaga Archie dan tidak ikut-ikutan sakit!" Pesan Dokter Marcell lagi.


"Iya!" Jawab Vivian sekali lagi.


Dokter Marcel sudah membuka pintu kamar perawatan Archie, saat tiba-tiba Vivian ingat pada video perselingkuhan Erick di ponselnya. Vivian tadinya memang berniat mengirimkan video itu ke ponsel Rumi tiga hari yang lalu. Tapi Vivian sudah terlanjur memakai ponselnya untuk membayar tiket bus.


"Dokter Marcell!" Panggil Vivian pada Dokter Marcell yang hampir keluar.


"Iya, ada apa?" Tanya Dokter Marcell tetap dengan wajah ramahnya.


"Saya kehilangan ponsel saat pulang kemarin. Bisakah saya minta nomor ponsel Dokter Ethan?" Ujar Vivian menyampaikan permintaan seraya menghampiri dojter muda tersebut.


"Tentu saja!" Dokter Marcell mengambil pena dan secarik kertas, lalu menuliskan nomor Ethan di atasnya.


"Ini!" Dokter Marcell mengangsurkan secarik kertas tadi pada Vivian.


"Terima kasih banyak," ucap Vivian tulus.


"Sama-sama!"


"Ngomong-ngomong, aku baru ingat kalau wajah Archie sekilas mirip saudara kembar istrinya Ethan, ya?" Dokter Marcell sedikit terkekeh. Dan Vivian langsung terdiam sesaat.


Saat resepsi pernikahan Ruby dan Ethan pekan lalu, Dokter Marcell dan Dokter Bri memang datang dan waktu itu keduanya sempat menyapa Vivian juga yang memakai baju couple bersama Rumi.


"Mungkin hanya kebetulan, Dokter," ucap Vivian sedikit tergagap.


"Kau benar! Kadang wajah kita memang mirip wajah orang lain, padahal tak ada hubungan darah atau saudara," pendapat Dokter Marcell yang masih tertawa kecil. Vivian ikut tertawa meskipun kaku.


"Aku permisi dulu, Vi!" Pamit Dokter Marcell selanjutnya.


"Iya. Terima kasih sekali lagi, Dokter!" Ucap Vivian sebelum wanita itu menutup pintu kamar perawatan Archie. Vivian menyimpan kontak Dokter Ethan dan nanti setelah meminjam ponsel Abang Sandy, Vivian akan mengirimkan video itu ke ponsel Dokter Ethan saja.


Vivian hanya ingin membersihkan namanya dari segala fitnah yang dilayangkan Erick dan gund*knya itu! Terserah Rumi mau percaya atau tidak, tapi setidaknya Vivian sudah berusaha.


****


"Brengsek!" Umpat Rumi seraya melempar ponselnya dengan kesal.


Sudah lebih dari sepekan Vivian kabur dari kediaman Attala, dan hingga detik ini, nomor wanita itu tak lagi bisa dihubungi.


Rumi merasa kesal, marah, dan ingin menghancurkan dunia!


Apa susahnya bagi Vivian menjelaskan semuanya pada Rumi tanpa harus kabur tak jelas seperti ini? Membuat Rumi berpikiran macam-macam saja dan menjadi ragu pada Vivian.


"Rumi!" Panggil Ethan bersamaan dengan pintu kamar Rumi yang menjeblak terbuka. Wajah Dokter menyebalkan itu terlihat berseri-seri dan sumringah sekali. Baru pulang honeymoon, jadi wajar saja!


"Apa?" Jawab Rumi galak.


"Ck! Galak sekali?" Ledek Ethan seraya duduk di sofa yang ada di kamar Rumi, lalu mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar Rumi yang terlihat berantakan.

__ADS_1


Aneh!


Apa Vivian tak beberes?


Perawat Rumi itu juga tak nampak batang hidungnya. Padahal biasanya selalu berada kurang dari satu meter dari Rumi pemarah.


"Jadi bagaimana, perkembangan terapimu serta hubunganmu dengan Vian?" Tanya Ethan kepo.


"Tidak usah lagi menyebut namanya!" Sentak Rumi ketus. Raut wajah Ethan seketika berubah.


"Ada apa?" Tanya Ethan bingung.


"Rumi, apa benar Vian tak lagi menjadi perawatmu?" Tanya Ruby tiba-tiba yang sudah ikut masuk ke dalam kamar Rumi.


"Bisakah kalian berdua berhenti menyebut nama wanita itu?" Gertak Rumi berteriak ketus pada Ruby dan Ethan.


"Tapi apa masalahnya, Rumi? Bukankah kau dan Vian saling menyukai?" Tanya Ruby bingung.


"Aku bilang tak usah lagi menyebut nama wanita itu! Dia kabur dari rumah tanpa pamit tanpa berucap apapun setelah aku membayar penuh gajinya selama setahun! Dia itu seorang penipu!" Cerocos Rumi meledak-ledak.


"Vivian bukan wanita seperti itu, Rumi-"


"Kau tahu apa memangnya tentang wanita itu? Apa dia juga sudah menggodamu?" Tanya Rumi mendelik pada Ethan.


"Menggoda apa? Kau sedang bicara apa, Rumi?" Tanya Ruby bingung.


"Tak perlu aku jelaskan dan silahkan cari tahu sendiri!"


"Keluar kalian dari dalam kamarku!" Usir Rumi galak pada Ruby dan Ethan.


"Tidak! Kau harus menjelaskan dulu pada kami, apa sebenarnya masalahmu dengan Vian sampai kau marah-marah tak jelas seperti ini!" Sergah Ruby keras kepala.


"Keluar kalian berdua!" Teriak Rumi lagi seraya meraih gelas kaca di atas nakas. Rumi melemparnya dengan barbar ke arah tembok kamar hingga gelas pecah berantakan.


"Ayo keluar dari sini!" Ajak Ethan pada Ruby keras kepala.


"Tapi kita harus tahu masalahnya dulu, Eth!" Ruby masih saja kepala batu.


Ck! Dua saudara kembar ini benar-benar keras kepala!


"Kita bisa bertanya pada Mami atau penghuni rumah lain! Kau mau Rumi menghancurkan kamarnya?" Cecar Ethan yang terpaksa menyeret Ruby untuk keluar dari dalam kamar Rumi.


****


"Mami juga tidak tahu kronologi ceritanya bagaiamana. Mami dan Papi sedang di luar kota malam itu."


"Tapi menurut cerita Alsya, Vivian itu seorang wanita yang tak benar dan sudab menggoda Erick saat Alsya sedang pergi bersama Sunny," cerita Mami Lily panjang lebar pada Ethan dan Ruby.


"Ethan sangat yakin kalau Vivian bukan wanita seperti itu, Mi! Mungkin Abang Erick yang sudah menggoda Vivian, lalu karena kepergok Kak Alsya, Abang Erick jadi memutarbalikkan fakta," ujar Ethan menerka-nerka.


"Tapi Rumi menemukan banyak sekali kond*m di bawah kasur Vivian, saat ia menggeledah kamar Vivian, Ethan! Wanita baik-baik tak akan menyimpan banyak kond0m di kamarnya, apalagi jika ia seorang wanita lajang yang belum menikah!" Jelas Mami Lily lagi yang langsung membuat Ethan dan Ruby saling melempar pandang.


"Dan lagi, jika memang semua tuduhan Erick itu tak benar, Vivian pasti juga tak akan kabur dan pergi tanpa pamit! Vivian seharusnya menjelaskan pada kami semua, yang sebenarnya terjadi malam itu!" Pendapat Mami Lily lagi.


"Mungkin Vivian sudah coba menjelaskan tapi tidak ada yang percaya, Mi! Atau mungkin Vivian tak punya kesempatan untuk menjelaskan," Ethan masih menarik banyak kemungkinan, saat tiba-tiba maid datang menyela obrolan Ethan, Ruby, dan Mami Lily.


"Nyonya, maaf! Ada polisi di depan," lapor maid dengan wajah pucat dan tubuh gemetar.

__ADS_1


Aneh!


"Polisi?" Mami Lily mengerutkan kedua alisnya dan langsung bangkit berdiri. Ethan dan Ruby mengekori wanita paruh baya tersebut.


Sudah ada dua orang polisi di teras yang tentu saja membuat Mami Lily, Ethan serta Ruby bertanya-tanya ada apa gerangan.


"Selamat siang, Bu!" Sapa salah seorang polisi pada Mami Lily.


"Selamat siang. Ada keperluan apa, ya, Pak?" Tanya Mami Lily bingung.


"Benar ini kediaman saudara Ericko?" Tanya polisi memastikan.


"Ericko? Iya benar. Ada apa dengan-"


Mami Lily belum menyelesaikan kalimatnya saat mobil Alsya sudah tiba di kediaman Attala, lalu Alsya keluar dari mobil seraya bersimbah airmata.


"Kak Alsya!" Ruby buru-buru menghampiri kakak sambungnya tersebut untuk mencari tahu apa yang sudah terjadi.


"Maaf, Nyonya. Kami membawa surat perintah penggeledahan karena saudara Ericko baru saja tertangkap karena telah melakukan transaksi narkotika." Polisi itu menunjukkan surat penggeledahan resmi pada Mami Lily.


"Jadi pria baj*ngan itu juga melakukan jual beli narkotika?" Tanya Alsya dengan raut wajah tidak percaya.


"Alsya, ini ada apa sebenarnya?" Tanya Mami Lily semakin bingung.


"Erick baj*ngan itu sudah menghamili seorang gadis, Mi! Dia juga sudah tidur dan berselingkuh di belakang Alsya dengan banyak wanita serta rekan kerjanya!" Ungkap Alsya lagi seraya berurai airmata.


"Tadinya Alsya pikir semua itu hanyalah sebuah kabar burung untuk menjatuhkan nama dan karier Erick. Tapi Alsya melihat langsung Erick yang berselingkuh bersama wanita lain-" Alsya bercerita sembari berurai airmata.


Disaat bersamaan, ponsel Ethan tiba-tiba berbunyi menandakan ada pesan yang masuk. Ethan membuka pesan dari sebuah nomor asing, saat sebuah video langsung terputar.


"Sudah siap?" Volume maksimal di ponsel Ethan langsung membuat suara Erick terdengar dengan jelas. Semua orang sontak menoleh ke arah Ethan yang langsung menunjukkan kiriman video dari nomor asing tadi pada semuanya.


Terekam jelas di dalam video bagaimana Erick dan maid di rumah saling melucuti baju di kamar maid, lalu keduanya saling berpagutan.


"Dasar jal*ng!" Umpat Alsya berteriak kesetanan. Wanita itu langsung merangsek masuk ke dalam rumah dan mencari maid di rumah yang selama ini ternyata adalah gund1k dari Erick.


"Kak Alsya!" Ruby bergegas menyusul Alsya. Pun dengan Ethan dan Mami Lily, semuanya berlari menyusul Alsya yang sudah menggedor kasar pintu kamar maid yang sepertinya dikunci dari dalam.


"Keluar kau, Jal*ng!" Teriak Alsya sambil terus menggedor.


"Mbak!" Ethan ikut-ikutan menggedor.


"Dobrak saja!" Usul Ruby pada Ethan.


Ethan tak menunggu lagi, dan mereka pun segera mendobrak kamar maid. Dan saat pintu terbuka, pemandangan yang ada di dalam kamar benar-benar membuat semua orang tercengang.


Maid di keluarga Attala itu sudah terkapar bersimbah darah dengan pergelangan tangan yang nyaris putus.


.


.


.


Bentar, othor nafas dulu.


Untuk UP malam mungkin rada telat, ya. Tapi tetap diusahakan nanti UP lagi.

__ADS_1


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.


__ADS_2