
Beberapa bulan kemudian,
"Sayang!" Vivian membangunkan Rumi yang sedang terlelap dan mimpi indah.
"Hmmmm!" Rumi hanya bergumam tanpa sedikitpun membuka mata.
"Rumi!" Vivian mengguncang tubuh Rumi sedikit lebih kencang.
"Ada apa, Sayang?" Tanya Rumi dengan suara serak khas orang mengantuk. Kedua mata pria itu masih tetap terpejam.
"Rumi, bangun dulu!" Paksa Vivian yang tak berhenti mengguncang tubuh Rumi.
"Ada apa, Vivian?" Rumi akhirnya bangun dan duduk bersila meskipun raut wajah pria itu terlihat kesal.
"Beliin bubur ayam!" Pinta Vivian yang langsung membuat kedua mata Rumi membelalak lebar. Rumi melihat jam digital di atas nakas, menyambarnya, llau menunjukkannya pada Vivian.
"Kamu lihat ini jam berapa?" Tanya Rumi berapi-api.
"Jam satu malam," jawab Vivian nyengir tanpa dosa.
"Lalu kenapa minta bubur ayam jam satu malam? Apa kau sedang ngidam?" Cecar Rumi masih berapi-api.
"Sebenarnya iya," jawab Vivian seraya menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Rumi yang tadinya masih mengantuk, mendadak membelalakkan mata karena kaget dengan pengakuan Vivian.
"Kau benar-benar hamil, Sayang?"Tanya Rumi memastikan. Pria itu sudah menangkup wajah Vivian sekarang.
"Jangan lebay, ih!" Vivian berdecak seolah merasa tak nyaman dengan kehamilannya.
"Siapa yang lebay? Aku kan sedang bahagia!" Rumi sudah meletakkan kepalanya di pangkuan Vivian, lalu tangan pria itu mengusap lembut perut Vivian yang masih datar.
"Besok aku akan memberitahu semua orang," gumam Rumi bertekad.
"Jangan!" Cegah Vivian seraya mengusap tangan Rumi yang masih berada di perutnya.
"Kenapa?" Rumi mengangkat kepalanya dan menatap bingung ke arah Vivian.
"Nggak enak sama Ruby. Kan dia juga sedang program hamil tapi belum.ada hasil. Aku takut kalau kabar kehamilanku ini malah membuat Ruby menjadi sedih," terang Vivian mengungkapkan kekhawatirannya.
__ADS_1
"Kenapa Ruby harus sedih! Ruby seharusnya bahagia karena akan mendapatkan keponakan baru," Pendapat Rumi yang sepertinya tak paham.
Ck! Dasar pria!
Selalu saja tak peka!
"Udah kamu diem aja,nggak usah ngomong kemana-mana dulu pokoknya!" Pesan Vivian sekali lagi pada Rumi.
"Nggak! Aku nggak mau diem! Lagian, kamu hamil punya suami, Kenapa takut begitu?" Cecar Rumi tetap keras kepala.
Ish! Dasar Rumi!
"Yaudah, kamu cariin bubur ayam dulu buat aku," pinta Vivian sekali lagi yang langsung membuat Rumi kembali ternganga.
"Harus sekarang, Sayang? Ini baru jam satu. Penjual bubur ayamnya belum buka!" Jelas Rumi mencoba memberikan pengertian.
"Iya trus yang buka apa?" Vivian sudah bersedekap dan merengut.
"Angkringan paling." Rumi mengendikkan bahu.
"Yaudah! Ayo cari nasi kucing dan teh hangat!" Vivian sudah menyibak selimut dan beranjak dari atas tempat tidur.
"Iya sekarang! Masa nunggu aku lahiran! Aku udah lapar ini!" Gerutu Vivian yang tumben bawel sekali. Rumi menggaruk kepalanya yang tak gatal dan akhirnya ikut beranjak menyusul Vivian yang sudah memakai jaketnya.
****
"Kalian darimana?" Tanya Mami Lily pada Vivian dan Rumi yang baru sampai di rumah.
"Dari rumah sakit, Mi!" Jawab Rumi antusias.
"Siapa yang sakit? Kamu, Vi?" Tanya Mami Lily khawatir. Mami kandung Rumi itu langsung menghampiri Vivian dan meletakkan punggung tangannya di kening sang menantu.
"Vivian kenapa, Mi? Sakit?" Ruby yang baru keluar dari dapur seraya membawa mangkuk berisi sup ikut-ikutan bertanya. Sepertinya tadi Mami Lily dan Ruby sedang menyiapkan makan siang.
"Vivian hamil!" Jawab Rumi to the point yang langsung membuat suasana di ruang makan hening sesaat. Sebelum kemudian mami Lily tersenyum bahagia dan memeluk Vivian dengan erat.
"Selamat!" Ucap Mami Lily penuh binar kebahagiaan. Sementara Ruby masih diam, meskipun beberapa detik kemudian wanita itu ikut menghampiri Vivian dan memeluk wanita itu serta memberikan ucapan selamat.
"Selamat, ya! Akhir Archie akan punya adik," ucap Ruby seraya mengulas senyuman hangat. Senyuman yang Vivian tahu kalau itu sebenarnya dipaksakan. Sorot mata Ruby menggambarkan jelas kesedihan wanita itu.
__ADS_1
"Semoga kau juga menyusul secepatnya," Vivian menggenggam kedua tangan Ruby dan mencoba menyalurkan kekuatan untuk Ruby yang sidah hampir setahun ini menunggu untuk bisa hamil. Kandungan Ruby yang sedikit bermasalah memang membuat Ruby sedikit susah untuk hamil. Tapi saat ini Ruby dan Ethan sedang menjalani program hamil. Semoga saja Ruby juga akan cepat hamil setelah ini.
"Aamiin!" Jawab Ruby nyaris tanpa suara.
"Tak perlu sedih, Ruby! Kau juga akan menyusul hamil nanti. Biasanya hamil itu menular," hibur mami Lily ikut-ikutan menyemangati Ruby.
"Iya, Mi!" Ruby kembali mengulas senyum.
"Ngomong-ngomong, Ruby lupa kalau siang ini ada kencan makan siang bersama Ethan di rumah sakit, Mi!" Ucap Ruby selanjutnya seraya melohat arloji di tangannya.
"Ethan nggak kamu suruh pulang saja?" Usul Mami Lily. Namun Ruby menggeleng cepat.
"Ruby akan ke rumah sakit saja. Ethan masih haris lanjut praktek setelah makan siang," terang Ruby menatap bergantian pada Mami Lily dan Vivian.
"Archie belum pulang sekolah, Mi?" Rumi yang sejak tadi sudah duduk di meja makan bertanya pada Mami Lily.
"Belum! Mungkin sebentar lagi. Tadi Alsya yang menjemput," jawab Mami Lily sebelum wanita paruh baya itu kembali bicara pada Ruby.
"Ya sudah kalau begitu." Ucap Mmai Lily's yang akhirnya mengantar Ruby ke pintu depan.
"Hati-hati mengemudi dan jangan sedih-sedih terus!" Pesan Mami Lily lagi.
"Pikiranmu harus tenang dan hatimu haris bahagia kalai kau juga ingin secepatnya hamil, Ruby," nasehat Mmai Lily panjang lebar.
"Iya, Mi!" Ruby memeluk sang mami sekali lagi.
"Sampaikan pesan mami untuk Ethan, ya! Hati-hati mengemudi!" Pesan Mami Lily sekali lagi. Ruby hanya mengangguk dan wanita itu segera menuju ke mobilnya. Tak berselamg lama, mobil Ruby sudah melaju pergi meninggalkan kediaman Attala.
.
.
.
Lanjutannya Ruby menemui Ethan di rumah sakit "Penantian Ruby" bab 51
Terima kasih yang sudah mampir
Jangan lupa like biar othornya bahagia.
__ADS_1