
"Kita gugurkan saja kalau begitu!" Ucap Pak Satya tegas.
"Pa!" Teriak Abang Sandy dan Kak Vita bersamaan.
"Pa, dia sudah tumbuh di rahim Vivian! Kita tidak bisa membunuhnya!" Kak Vita sudah berurai airmata.
"Biarkan nanti Vita yang merawatnya! Tapi jangan digugurkan!" Mohon Vita lagi pada Pak Satya. Lima tahun menunggu hadirnya seorang momongan tentu bukan waktu yang sebentar untuk Kak Vita dan Abang Sandy yang masih menunggu hingga kini.
"Vita benar, Pa! Kita tidak bisa begitu saja membunuh sebuah nyawa," Abang Sandy ikut-ikutan memohon.
Pak Satya masih diam dan sepertinya mulai bimbang.
"Sandy akan membawa Vivian pergi dari rumah ini, jika Papa masih berniat menggugurkannya!" Ancam Abang Sandy.
"Tapi kita tidak tahu siapa ayah jabang bayi itu, Sandy!"
"Maka Sandy yang akan menjadi ayahnya!" Jawab Abang Sandy tegas.
"Vivian yang mengandungnya, Pa! Jadi dia adalah calon cucu Papa!" Jelas Abang Sandy mencoba memberikan pengertian.
"Vivi baru mulai kuliah," Pak Satya berucap semakin lirih.
"Vivian tetap akan melanjutkan kuliah, Pa! Nanti mendekati waktu persalinan Vivian biar mengambil cuti, lalu setelah melahirkan, Vivian akan melanjutkan kuliahnya lagi."
"Vita yang akan merawat bayi Vivian nanti," tukas Kak Vita panjang lebar memberikan solusi.
Pak Satya menghela nafas sebelum kemudian pria paruh baya itu kembali buka suara.
"Hamil tanpa suami tetaplah sebuah aib, Vivian!"
"Papa harap kamu masih punya rasa malu!" Pungkas Pak Satya sebelum papa kandung Vivian itu meninggalkan ruang makan.
Kak Vita kembali menghampiri Vivian yang masih tertunduk seraya mengusap perutnya yang masih datar.
"Jangan sedih! Kakak akan selalu menjagamu," hibur Kak Vita tulus.
"Kau mau mengatakan secara jujur ayah dari calon bayimu?" Tanya Kak Vita selanjutnya.
"Vivian tidak tahu," jawab Vivian tetap pada pendiriannya untuk tak akan mengatakan pada siapapun ayah dari calon bayinya. Kak Vita hanya menghela nafas, dan kembali memeluk adik iparnya tersebut.
****
__ADS_1
Tangis nyaring seorang bayi laki-laki merobek keheningan malam di sebuah rumah bersalin.
"Selamat, ya! Bayi kamu ganteng sekali," ujar Kak Vita seraya menunjukkan wajah bayi laki-laki mungil yang baru saja dilahirkan oleh Vivian. Bayangan wajah Rumi seketika berkelebat di benak Vivian kala melihat wajah bayinya yang begitu mirip dengan Rumi.
Apa ini akibat Vivian terlalu benci pada pria itu?
"Sudah punya nama untuknya?" Gantian Abang Sandy yang bertanya.
"Archie," jawab Vivian lirih.
"Archie Rajendra," lanjut Vivian lagi.
Rajendra adalah nama tengah Rumi, seharusnya Vivian tak usah memakainya. Tapi anak ini adalah anaknya Rumi, dan kebetulan kombinasinya terdengar apik. Jadi biar saja. Rumi juga tak akan pernah tahu tentang Archie. Mereka saja tinggal di dua kota yang jauh sekarang.
"Archie Rajendra, nama yang bagus," puji Kak Vita yang masih menimang-nimang baby Archie. Wajah kakak ipar Vivian itu begitu sumringah, membuat hati Vivian merasa trenyuh.
Vivian akan membiarkan Kak Vita ikut merawat Archie dan menganggapnya sebagai anaknya juga. Lagipula, selama hamil, Kak Vita dan Abang Sandylah yang selalu perhatian pada Vivian. Mereka berdua tak pernah absen mengantar Vivian periksa, membelikan apapun yang menjadi ngidamnya Vivian, serta membelikan semua perlengkapan bayi untuk baby Archie.
"Hai, Baby Archie! Ini adalah-"
"Bunda!" Sela Vivian menyambung kalimat Kak Vita.
"Kak Vita adalah Bundanya Archie, lalu Bang Sandy adalah ayahnya," terang Vivian menatap bergantian ke arah Kak Vita dan Abang Sandy.
"Archie bisa memanggil Vivian Mom," jawab Vivian memaksa untuk tersenyum sekalipun kedua matanya sedang berkaca-kaca sekarang. Abang Sandy langsung memeluk adik kandungnya tersebut.
"Archie punya lesung pipi juga, Vi!" Ujar Kak Vita tiba-tiba menunjukkan pada Vivian dan Abang Sandy.
"Ada satu di sebelah kanan. Senyumnya kelak pasti juga akan semanis Vivian," timpal Bang Sandy yang langsung membuat mereka bertiga tertawa bahagia.
****
"Uluh-uluh! Ganteng cucu Oma!" Puji Bu Niar sambil menimang-nimang bayi Archie.
"Pa! Udahan ngambeknya! Lihat ini, cucu kita ganteng," bujuk Bu Niar selanjutnya pada Pak Satya yang masih mendiamkan Vivian hingga detik ini. Pak Satya memang marah karena Vivian tak pernah mau mengatakan perihal siapa ayah kandung bayinya pada Pak Satya.
"Oek!" Bayi Archie mulai menggeliat dan refleks Pak Satya menoleh ke arah bayi laki-laki yang masih digendong Bu Niar tersebut.
"Mungkin haus, Bu! Biar Vivian susui dulu," ujar Vivian menerka-nerka.
"Ini bukan haus! Ini kepanasan," celetuk Pak Satya seraya meraih kertas di atas meja lalu mulai mengipasi baby Archie yang masih ditimang-timang BuNiar.
__ADS_1
"Gantian digendong gitu, Pa! Jangan cuma dikipasin kayak sate!" Titah Bu Niar seraya menyodorkan bayi Archie pada sang suami. Pria paruh baya itu hanya menghela nafas dan akhirnya mau juga menggendong bayi Archie.
"Siapa namanya?" Tanya Pak Satya pada Vivian setelah sekian lama mereka tak saling bicara.
"Archie Rajendra, Pa!" Jawab Vivian sedikit tergagap.
Pak Satya mengangguk,
"Nama yang bagus! Panggilannya Archie, kan? Biar nggak pasaran," tanya Pak Satya sedikit berkelakar.
Vivian dan Bu Niar langsung tersenyum berbarengan dan serempak menjawab iya.
"Gantengnya cucu Opa!" Puji Pak Satya yang akhirnya tak mau berhenti menimang-nimang Archie.
****
Vivian menatap sendu pada dua gundukan tanah basah di hadapannya. Airmata wanita itu kembali berderai manakala ia mengingat semua momen indahnya bersama Pak Satya dan Bu Niar. Vivian bahkan belum bisa membahagiakan keduanya, namun takdir malah sidah memisahkan mereka sekarang.
"Vi," Abang Sandy merangkul pundak sang adik, lalu merengkuhnya ke dalam pelukan.
"Sudah sedihnya! Mama dan Papa sudah bahagia di atas sana," bujuk Abang Sandy seraya menghapus airmata di kedua mata Vivian padahal saat ini, abang kandung Vivian itu juga matanya tengah berkaca-kaca.
"Vivian belum menjadi anak yang berbakti untuk Papa dan Mama, Bang!" Cicit Vivian kembali berurai airmata.
"Ssssttt! Tidak seperti itu! Papa dan Mama sudah sangat bangga kepadamu, saat kau berhasil menyelesaikan pendidikan keperawatan sambil menyusui Archie. Lalu saat kau rela bekerja jauh demi Cio, Papa dan Mama juga bangga kepadamu, Vi!"
"Jangan bilang seperti itu lagi, ya!" Abang Sandy kembali menghapus airmata Vivian.
"Sekarang, kita kirim doa saja untuk Papa dan Mama. Lalu kau juga fokus saja pada kesembuhan Archie. Kau harus kuat sekarang. Kau seorang ibu, ingat?"
Vivian mengangguk-angguk.
"Iya, Bang!"
"Ayo pulang!" Ajak Abang Sandy seraya membimbing Vivian untuk bangkit berdiri. Kakak beradik itu berjalan beriringan meninggalkan kompleks pemakaman.
.
.
.
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.