RUMI: Cinta Sang Pria Lumpuh

RUMI: Cinta Sang Pria Lumpuh
AKU TIDAK BISA


__ADS_3

"Mom!" Suara Archie memecah kebisuan di antara Vivian dan Rumi yang masih saling beradu pandang. Rasanya sudah lama sekali mereka tak berjumpa. Padahal baru hitungan minggu, tapi entah kenapa terasa seperti bertahun-tahun.


Vivian membantu Rumi agar bisa bersimpuh dan menyamakan posisinya dengan Archie.


"Hai, Archie," Sapa Rumi seraya menangkup wajah bocah laki-laki yang pernah membuat Rumi cemburu buta dan mencak-mencak tak karuan. Archie yang kata Vivian adalah pacar berondongnya, tapi nyatanya bocah enam tahun ini adalah anak Rumi.


Konyol sekali!


"Mom, ini siapa?" Tanya Archie yang sudah beringsut mundur menjauhi Rumi. Namun kedua netra bocah enam tahun tersebut masih menatap lekat wajah Rumi.


"Ini Dad-nya Archi," jawab Vivian sedikit berbisik di telinga Archie. Rasa panas kembali merambati mata Vivian,membuat airmatanya senakin mendesak untuk keluar.


"Dad?" Gumam Archie yang masih terlihat bingung.


"Archie," panggil Rumi lembut seraya merentangkan kedua tangannya ke arah Archie.


Archie masih terlihat ragu dan tak langsung menghambur ke pelukan Rumi.


"Tidak apa-apa, Sayang! Bukankah sejak dulu Archie mau bertemu Dad?" Vivian merangkul kedua pundak Archie.


"Ayo, peluk Dad!" Ujar Vivian lagi pada Archie yang akhirnya melangkah ragu le arah Rumi. Semakin dekat bocah itu pada Rumi, hingga akhirnya...


"Maafkan Dad, Sayang!" Tangis Rumi seketika pecah saat akhirnya pria itu berhasil memeluk dan merengkuh putranya.


Putranya yang kini sudah sangat besar.


Enam tahun bukanlah waktu yang sebentar, dan Rumi sudah kehilangan semua momen berharganya selama enam tahun bersama Archie.


Tapi Rumi berjanji, kalau setelah ini Rumi akan memberikan segalanya untuk Archie. Semua kebahagiaan untuk Archie. Semuanya hanya untuk Archie.


Vivian ikut sesenggukan melihat Archie yang akhirnya bisa memeluk Dad kandungnya. Ruby tiba-tiba sudah menghampirinya Vivian dan mendekap erat wanita tersebut.


"Kakak ipar," panggil Ruby pada Vivian yang sesaat membuat hati Vivian teriris.


Bagaimana Vivian bisa menjadi kakak ipar untuk Ruby, jika Vivian baru saja menerima lamaran pria lain?


Bukan Rumi yang akan menikah dengan wanita lain, tapi Vivianlah yang akan menikah dengan pria lain.


"Pak Indra tertarik kepadamu, Vivian. Beliau punya niat baik untuk menpersuntingmu dan sudah siap menjadi papa sambung untuk Archie."


"Tapi semua keputusan ada di tanganmu. Abang benar-benar tidak mau memaksa, karena ke depannya kau yang akan menjalani."


"Nanti malam Pak Indra akan datang ke rumah untuk melamarmu. Kau bisa menolak atau menerimanya. Dengarkan saja kata hati kecilmu dan jangan memikirkan tentang balas budi kita terhadap semua kebaikan Pak Indra."


"Jika hati kecilmu memang belum siap, kau bisa menolaknya. Ini benar-benar bukan perjodohan atau pernikahan paksa. Semua keputusan Abang serahkan kepadamu, Vivian."


Vivian masih diam mendengarkan penuturan Abang Sandy. Abang kandung Vivian itu selalu bisa berpikir bijak dan memahami Vivian. Tapi Vivian masih ingin move on dari Rumi dan ingin melupakan pria itu secepatnya. Jadi mungkin ini memang jalannya.


"Vivian akan menerima lamaran Pak Indra, Bang!" Jawab Vivian seraya meyakinkan dirinya sendiri.


"Vivian akan menerimanya," ulang Vivian lagi.


"Kau yakin?" Abang Sandy terlihat kaget.


"Vivian yakin," jawab Vivian bersungguh-sungguh. Abang Sandy langsung memeluk adik perempuannya tersebut.


"Ada acara apa ini? Kenapa semuanya-" Mami Lily tak jadi melanjutkan kalimatnya saat wanita paruh baya itu melihat Rumi yang sidah turun dari kursi roda dan sedang memeluk seorang bocah laki-laki.

__ADS_1


"Rumi!"


"Kau sudah bisa berjalan?" Tanya Mami Lily yang langsung menghampiri Rumi.


"Papi!" Teriak Mami Lily memanggil-manggil sang suami yang menyusul dari belakang. Papi Juna ikut tertegun saat melihat Rumi yang sudah berdiri di atas kedua kakinya.


Kedua kakinya, dan tidak duduk di atas kursi roda lagi.


"Rumi! Kau benar-benar sudah bisa berjalan?" Papi Juna buru-buru menghampiri Rumi dan hebdak memeluk putra satu-satunya tersebut, saat kemudian wajah Archie yang berada di dekapan Rumi membuat Papi Juna dan Mami Lily mematung.


Rasanya seperti melihat kombinasi wajah Rumi dan Vivian. Tapi mungkinkah?


"Ada yang bisa menjelaskan pada Papi siapa bocah kecil i-"


"Namanya Archie, Pi!" Sela Rumi memotong pertanyaan Papi Juna.


Papi kandung Rumi dan Ruby itu langsung menatap wajah Rumi seolah minta penjelasan.


"Dia anak kandung Rumi."


"Dan Vian," lanjut Rumi yang sudah ganti menatap pada wajah Vivian yang masih sesenggukan dan didekap oleh Ruby.


"Jangan bercanda, Rumi! Kau dan Vian baru bertemu beberapa bulan. Jadi, bagaimana bisa..." Papi Juna bertanya kebingungan.


Sementara Mami Lily sudah memeluk Archie berulang-ulang dan kedua mata mami kandung Rumi tersebut terlihat berkaca-kaca.


"Wajahnya mirip sejali dengan Rumi, Pi! Jadi ini pasti anak kandung Rumi," ujar Mami Lily memberitahu sang suami.


"Tapi bagaimana ceritanya?" Tanya Papi Juna sekali lagi.


"Rumi dan Vian sudah berpacaran saat mereka masih SMA, Pi!" Ruby akhirnya menjawab kebingungan Papi Juna. Kedua mata pria paruh baya tersebut langsung membelalak.


"Sudah, Pi! Tidak usah dibahas!" Mami Lily memotong kalimat sang suami.


"Lihat, kita ternyata punya cucu laki-laki yang sangat tampan," sambung Mami Lily lagi seraya menunjuk ke arah Archie yang sepertinya masih bingung dengan banyaknya orang-orang baru yang ia temui hari ini yang bergantian memeluknya dengan penuh sayang.


"Jangan bilang kalau kejadiannya saat malam perpisahan juga!" Geram Papi Juna seraya membawa Archie ke dalam gendongannya.


"Kami teman satu jiwa, Pi!" Celetuk Ethan yang langsung membuat semua yang berada di dalam ruangan tersebut tertawa kecil. Kecuali papi Juna yang hanya berdecak tak percaya.


"Kau tak perlu meniru Dad dan Uncle-mu itu, Archie! Kau jagoan Opi sekarang!" Papi Juna tak berhenti menciumi wajah Archie dan mengajak cucu laki-lakinya itu ke halaman belakang. Mami Lily ikut menyusul Papi Juna dan Archie.


"Ehem! By, aku belum mandi," lapor Ethan pada Ruby seraya memberikan kode.


"Sebaiknya kau mandi dulu, Eth! Agar nanti Archie tak pingsan saat kau hendak menggendongnya," Ruby sedikit berkrlakar dan wanita itu sudah melepaskan dekapannya pada Vivian. Ruby menyusul Ethan yang sudah berlalu menaiki tangga menuju ke kamar mereka di lantai dua.


Kini hanya tinggal Rumi dan Vivian di ruang tengah, dan suasana mendadak berubah canggung. Sesaat hanya keheningan yang melingkupi ruangan tersebut, sebelum kemudian Vivian buka suara.


"Sebaiknya kau duduk, Rumi! Kau baru bisa berdiri dan berjalan," Vivian berbicara dengan canggung.


"Kau tidak membantuku duduk? Bukankah kau masih perawatku?" Cecar Rumi yang hanya membuat Vivian menghela nafas. Vivian mengambil kursi roda Rumi dan hendak membawanya mendekat ke arah Rumi.


"Aku mau duduk di sofa saja," ucap Rumi yang langsung membuat Vivian meninggalkan kursi roda Rumi. Vivian ganti membimbing Rumi agar duduk di sofa.


"Duduk disini!" Rumi menepuk ruang kosong di sampingnya dan sedikit menarik tangan Vivian agar ikut duduk.


Vivian masih diam.

__ADS_1


"Kau masih marah padaku?" Tanya Rumi seraya mendekatkan wajahnya ke arah Vivian.


"Marah soal apa?" Vivian balik bertanya pada Rumi.


"Soal semuanya," jawab Rumi mengendikkan kedua bahunya.


"Dosaku kepadamu terlampau banyak," sambung Rumi dengan raut wajah penuh sesal.


"Maaf!" Ucap Rumi yang sudah menggenggam erat tangan Vivian.


"Maafkan aku Vian! Maafkan atas semua kebodohanku-"


"Tidak ada yang perlu dimaafkan," sela Vivian cepat seraya melepaskan tangannya dari genggaman Rumi.


"Tidak! Kau masih marah kepadaku?" Tebak Rumi yang kembali meraih tangan Vivian namun Vivian menolaknya dengan cepat.


"Vian, aku minta maaf!" Ucap Rumi memohon.


"Aku sudah memaafkanmu!" Jawab Vivian cepat seraya bangkit dari duduknya.


"Kau juga sudah bertemu Archie dan aku sudah mengakui semuanya," lanjut Vivian lagi.


"Lalu kenapa kau menjauhiku?" Tanya Rumi tak mengerti.


"Aku masih disini dan tidak menjauhimu," kilah Vivian yang kembali duduk di sofa tapi sedikit menjaga jarak dari Rumi.


"Ayo kita menikah kalau begitu! Lalu kita bisa menjadi orang tua yang lengkap untuk Archie."


"Aku akan memenuhi janjiku di masa lalu yang pernah aku ingkari. Aku akan memperbaiki semuanya. Aku akan membuat kau dan Archie bahagia, Vian" ucap Rumi bertubi-tubi seolah sedang berjanji pada Vivian.


Hati Vivian seketika serasa diiris sembilu mendengar Rumi mengucapkan kalimat itu lagi.


Kenapa baru sekarang?


Kenapa baru sekarang, Rumi?


"Vian," Rumi sudah kembali berdiri meskipun masih sedikit limbung.


Vivian menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Aku tidak bisa, Rumi!" Ucap Vivian yang terus menggeleng.


"Kenapa?" Tanya Rumi tak mengerti.


"Karena aku akan bertunangan dengan pria lain malam ini!" Jawab Vivian yang seperti sambaran petir di siang bolong bagi Rumi.


"Tidak mungkin!"


"Tidak mungkin, Vian!"


.


.


.


Siapin baju buat malam ini.

__ADS_1


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.


__ADS_2