RUMI: Cinta Sang Pria Lumpuh

RUMI: Cinta Sang Pria Lumpuh
MENULAR


__ADS_3

Waktu begitu cepat berlalu. Rasanya baru kemarin Rumi dan Vivian pulang dari honeymoon. Lalu baru kemarin Vivian mengatakan pada Rumi kalau ia ngidam nasi kucing. Dan sekarang, tanpa terasa kandungan Vivian sudah mendekati HPL. Tinggal menghitung hari, dan Rumi akan segera berjumpa dengan putra keduanya.


Huh! Rumi mendadak jadi grogi. Karena meskipun ini adalah anak keduanya, tetap saja ini akan menjadi kali pertama bagi Rumi mendampingi Vivian melahirkan.


"Kapan kira-kira dia akan lahir?" Tanya Rumi yang sudah bersimpuh di depan Vivian. Rumi dan Vivian sedang bersantai di teras kediaman Attala sembari menikmati angin yang bertiup sepoi-sepoi.


"Bisa hari ini, bisa besok, bisa juga lusa." Jawab Vivian seraya mengusap kepala Rumi yang kini menyandar di perut Vivian. Suami Vivian itu sepertinya sedang mendengarkan pergerakan calon anak mereka.


"Tapi bukankah kata dokter HPL-nya masih dua minggu lagi?" Rumi mengernyit bingung.


"Iya kan bisa maju atau mundur. Dulu Archie maju satu minggu dari HPL," terang Vivian pada Rumi.


"Masa, sih?"


"Tapi lahir normal dan bukan prematur, kan?" Tanya Rumi bertubi-tubi.


"Bukanlah! Beratnya pas tiga kilogram dan lahir normal waktu itu di sebuah klinik bersalin," jawqb Vivian menjelaskan.


"Sakit?" Rumi sudah mendongakkan wajahnya dan menatap pada Vivian yang masih mengulas senyum.


"Lebih sakit saat kau tak datang pagi itu, lalu saat pertemuan pertama kita setelah tujuh tahun dan ternyata kau tak ingat sama sekali kepadaku," jawab Vivian dengan mata berkaca-kaca.


Rumi diam sejenak dan tangannya sudah terulur untuk menyeka butir bening di mata Vivian.


"Maaf!" Ucap Rumi penuh sesal.


Vivian menggeleng dan segera menangkup wajah Rumi.


"Aku boleh bertanya?"


"Tanya saja!"


"Apa ingatanmu masih belum pulih seratus persen?" Rumi mengernyit dengan pertanyaan Vivian.


"Maksudku, semua memori sebelum kau dianiaya oleh Arkan. Apa yang itu masih belum kembali?" Vivian memperjelas pertanyaannya.


"Saat kejadian malam itu di kamarmu, aku ingat." Rumi mulai menjelaskan.


"Yang sebelum itu?"


"Yang sebelum itu yang mana? Kita sudah ngapain saja memangnya sebelum aku menyentuhmu itu?" Rumi terlihat penasaran.


"Belum ngapa-ngapain! Ketemuan saja jarang!" Wajah Vivian berubah sedikit masam.


"Masa, sih? Trus pas di bioskop aku nyium bibir kamu itu? Atau saat di taman?" Rumi tertawa kecil dan Vivian langsung menatap tak percaya ke arah sang suami.


"Jadi, kau sudah ingat semuanya?" Tebak Vivian yang tangannya langsung refleks memukuli Rumi.


"Sayang! Jangan barbar, dong!" Ujar Rumi yang masih berusaha menangkis serangan Vivian. Rumi akhirnya berhasil memegangi kedua tangan Vivian.


"Baiklah aku mengaku! Aku sudah ingat semuanya tanpa terkecuali,"

__ADS_1


"Aku sudah ingat semuanya," tutur Rumi yang langsung membuat Vivian bernafas lega. Vivian hampir menghambur ke pelukan Rumi, saat tiba-tiba...


"Aduh... aduh!" Ringis Vivian yang tentu saja langsung membuat Rumi sedikit panik.


"Ada apa? Bayinya mau lahir?" Tanya Rumi yang sudah bersimpuh dan memeriksa perut Vivian.


"Belum! Aku hanya sedang menggodamu," jawab Vivian yang langsung membuat Rumi merengut.


"Ck! Aku sudah khawatir padahal," gumam Rumi yang kini sudah ganti menciumi perut Vivian. Disaat bersamaan, Ethan masuk ke teras dan sepertinya hendak menyusul Ruby yang sedari siang memang berada di kediaman Attala.


"Bucin terus!" Ledek Ethan pada Rumi yang masih mengusap-usap perut Vivian.


"Sedang apa kau di sini?" Gertak Rumi sok galak pada Ethan.


Dokter menyebalkan ini suka sekali mengganggu momen romantis Rumi dan Vivian.


"Mau menjemput Ruby. Masa iya mau menjemput Vivian? Nanti kamu mencak-mencak!" Jawab Ethan usil. Vivian langsung tergelak mendengar jawaban Ethan, sementara Rumi langsung menggeram kesal dan melempar tatapan membunuh ke arah Ethan.


"Selow, sahabat satu jiwa!" Ethan menepuk punggung Rumi dan tetap memasang raut wajah menyebalkan itu. Rumi benar-benar ingin menendang bokong suami Ruby tersebut.


"Ruby belum keluar kamar sejak tadi. Sepertinya sedang tidur," ujar Vivian yang ganti memberikan laporan pada Ethan.


"Kau apakan Ruby semalam, hah?" Tanya Rumi meminta penjelasan dari Ethan.


"Aku peluk saja saat tidur. Seperti halnya kau yang suka memeluk Vivian juga saat tidur," jawab Ethan seraya tergelak.


"Sok tahu!" Decak Rumi kesal.


"Mustahil! Kau itu dokter! Bukan cenayang!" Omel Rumi panjang lebar. Namun Ethan hanya acuh dan dokter menyebalkan itu sudah masuk ke dalam rumah, lalu menaiki tangga dengan cepat dan menghilang di lantai dua.


"Sudah jangan ngomel terus!" Nasehat Vivian pada Rumi setelah Ethan tak terlihat lagi.


"Aku hanya mengomel pada Ethan karena dia menyebalkan. Aku tak pernah mengomel kepadamu," tukas Rumi sambil bangkit dari bersimpuh. Pria itu sudah kembali duduk sebelah Vivian.


"Mom!" Seru Archie yang baru keluar dari dalam rumah.


"Hai, Sayang! Kau sudah bangun?" Jawab Vivian yang hebdak memeluk Archie. Namun seperti biasa, Rumi langsung mencegqh tindakan Vivian tersebut.


"Archie peluk Dad saja, ya!" Ujar Rumi seraya meraih tubuh Archie dan membawanya ke dalam pangkuan.


"Kenapa Archie nggak boleh peluk Mom?" Tanya Archie bingung.


"Bukan nggak boleh, tapi nanti adik bayi terjepit kalau Archie memeluk Mom," ujar Rumi menjelaskan teori ngawurnya.


"Mom, adik bayi kapan lahir?" Archie sudah turun dari pangkuan Rumi dan ganti menghampiri Vivian, lalu mengusap perut bulat Vivian.


"Mungkin beberapa hari lagi," jawab Vivian.


"Apa nanti juga akan seganteng Abang Cio?" Tanya Archie lagi yang sekarang sudah ganti mendengarkan pergerakan calon adiknya.


"Tentu saja. Nanti adik bayi pasti mirip Archie juga," jawab Vivian seraya mengulas senyum.

__ADS_1


"Mirip Dad juga," timpal Rumi lebay yang hanya membuat Vivian memutar bola mata.


Tak berselang lama, Ethan sudah keluar lagi dari dalam rumah dan wajahnya terlihat khawatir.


"Ada apa denganmu?" Tanya Rumi heran.


"Ruby pingsan di kamarnya. Aku akan mengambil peralatan dulu," jawab Ethan seraya berlari ke rumah orang tuanya yang berhadapan dengan rumah Rumi.


"Ruby sakit?" Tanya Vivian pada Rumi.


"Entahlah! Biar kuperiksa," Cetus Rumi seraya masuk ke dalam rumah dan berlari menaiki tangga menuju ke kamar Ruby di lantai dua.


****


"Asam lambung kata Ethan. Muntah-muntah terus sejak tadi," cerita Rumi pada Vivian setelah menengok kondisi Ruby di lantai atas.


"Jangan-jangan hamil," celetuk Vivian yang langsung membuat Rumi menatap ke arah Vivian.


"Coba kamu suruh Ethan membelikan testpack untuk Ruby!" Usul Vivian selanjutnya.


"Baiklah, aku akan bilang," ujar Rumi yang langsung keluar dari kamar dan hendak memberitahu Ethan. Namun Rumi baru saja akan naik tangga, Ethan malah sudah turun dari tangga dan hampir menabrak Rumi. Pria itu sepertinya sedang tergesa-gesa.


"Eth! Kau mau kemana?" Pertanyaan Rumi hanya terbang tertiup angin dan tak di jawab oleh Ethan yang sudah dengan cepat memacu mobilnya meninggalkan kediaman Attala. Dasar aneh!


****


Rumi masih berdiri di ambang pintu kamar Ruby, saat Ethan bersorak bahagia karena akhirnya Ruby hamil. Tapi lucu juga melihat Ruby yang tiba-tiba alergi pada Ethan dan tak berhenti mengusir suaminya tersebut agar keluar dari kamar.


"Pergi, Eth! Jangan membuat ibu hamil berubah jadi singa!" Celetuk Rumi akhirnya yang tak tahan lagi untuk tak menggoda Ethan.


"Rumi!" Ruby langsung menggeram marah karena Rumi menyebutnya singa.


"Apa? Kamu alergi juga sama aku?" Tanya Rumi balik mendelik pada Ruby. Jiwa usil Rumi sedang meronta hebat sekarang.


"Iya! Pergi sana! Jauh-jauh, kalian teman satu jiwa!" Ruby mengusir Rumi dan Ethan.


"Drama!" Ledek Rumi seraya berbalik dan hendak pergi. Namun baru saja melangkah,kepaka Rumi sudah dihantam oleh bantal yang dilempar Ruby.


"Dasar barbar!" Ledek Rumi sekali lagi sebelum pria itu menghilang dengan cepat ke arah tangga. Rumi segera turun ke lantai bawah dan tak sabar untuk segera memberitahu Vivian kalai Ruby ternyata benar-benar hamil.


Sepertinya kehamilan Vivian memang menular pada Ruby sekarang!


.


.


.


Sambungan dari "Penantian Ruby" bab 54-56


Terima kasih yang sudah mampir.

__ADS_1


Jangan lupa like biar othornya bahagia.


__ADS_2