RUMI: Cinta Sang Pria Lumpuh

RUMI: Cinta Sang Pria Lumpuh
KEMANA?


__ADS_3

Vivian masih bersandar di balik pintu kamar, saat tiba-tiba ponselnya yang betada di atas nakas berdering nyaring dan membuat Vivian terlonjak. Buru-buru Vivian mengangkat telepon yang rupanya dari Rumi tersebut.


"Halo, Rumi!" Sambut Vivian berusaha menormalkan nada bicaranya. Jantung Vivian masih berdegup tak beraturan karena Erick sialan tadi.


"Kau sudah bangun? Bawakan makan siang ke kamarku, aku sedang di jalan menuju ke rumah. Kau sudah makan siang?"


"Belum." Jawab Vivian singkat.


"Belum apa? Belum bangun? Dasar pemalas!"


"Kalau aku belum bangun, bagaimana ceritanya aku bisa mengangkat teleponmu?" Omel Vivian pada Rumi.


"Kenapa kau menyalak seperti itu? Aku hanya bertanya! Kau mau membuatku darah tinggi?"


"Kau duluan yang mulai!" Sergah Vivian mencari pembenaran.


"Ya kau tak seharusnya menjawab omelanku! Kenapa kau selalu ikut mengomel setiap kali aku mengomel?"


"Kau yang mengajari! Sebagai pengikutmu aku hanya mencontohmu!" Jawab Vivian asal sebelum kemudian wanita itu tertawa sendiri dengan kalimat yang baru saja ia ucapkan.


"Kau pikir aku selebriti yang harus kau ikut-ikuti begitu?"


"Kau masih mau mengajakku berdebat di telepon begini?" Tanya Vivian yang suasana hatinya sudah sedikit membaik. Berdebat dengan Rumi selalu bisa menjadi hiburan tersendiri bagi Vivian.


"Kau itu yang mulai! Aku kan hanya menyuruhmu menyiapkan makan siang! Lihat, aku sudah sampai di rumah sekarang!"


"Cepat keluar dan bantu aku turun dari mobil!"


"Tapi bukankah kau tadi menyuruhku menyiapkan-" Vivian belum menyelesaikan kalimatnya, saat Rumi menutup sepihak sambungan telepon.


Dasar Rumi!


Vivian pergi ke kamar mandi untuk mencuci muka sebentar, sebelum kemudian wanita itu keluar dari kamar dan dari rumah. Mobil Rumi memang sudah tiba dan kini pria itu masih bersedekap di dalam mobil menunggu Vivian yang sepertinya terlalu lama keluar.


"Kau darimana?" Tanya Rumi dengan ekspresi wajah galak seperti biasa.


"Maaf, tadi aku kebelet setelah kau menutup telepon," jawab Vivian seraya nyengir. Wanita itu langsung membantu Rumi turun dari mobil.

__ADS_1


"Gaunmu yang tadi pagi kemana? Kenapa memakai seragam menyebalkan ini lagi?" Protes Rumi pada baju perawat warna hijau toska yang kini dikenakan oleh Vivian.


"Kotor tadi, jadi aku menggantinya," jawab Vivian mencari alasan.


"Vian, Sunny sudah bangun?" Tanya Erick saat pria itu muncul secara tiba-tiba di depan Rumi dan Vivian.


Ya ampun!


Membuat kaget saja!


"Aku tidak tahu! Tadi Bu Lily yang menjaganya dan aku disuruh beristirahat," jawab Vivian tergagap.


"Begitu, ya! Terima kasih karena sudah menjaga dan menidurkan Sunny, ya!" Ucap Erick dengan ekspresi hangat yang dibuat-buat.


Sial!


"Kau mau pergi?" Tanya Rumi memecah keheningan serta kecanggungan di antara mereka bertiga.


"Ya! Ada pekerjaan baru dan mungkin sedikit lama."


"Tiga minggu lagi! Tapi akan lebih baik kalau kau tak usah pulang! Mengganggu pemandangan saja!" Sindir Rumi yang langsung membuat Erick menggeram.


Sepertinya selain perang dingin dengan Papi Juna, Erick juga tak akur dengan Rumi.


"Vian! Jangan hanya mematung dan bawakan makan siangku!" Perintah Rumi menyentak lamunan Vivian yang sejak tadi masih diam di tempatnya. Rumi bahkan sudah menjalankan sendiri kursi rodanya, dan pria itu hampir mencapai kamarnya.


"Baiklah! Aku datang!" Jawab Vivian tergagap yang langsung pergi ke arah dapur untuk mengambilkan malan siang Rumi. Erick baru saja akan menyusul Vivian ke dapur, saat ponsel pria itu berbunyi. Erick tak jadi menyusul Vivian, dan pria itu segera pergi dengan mobilnya meninggalkan kediaman Attala.


****


"Kau tadi tidak menuruti perintahku untuk berada di dalam kamar saja?" Tanya Rumi tidak senang saat Vivian sudah duduk di depannya dan bersiap menyuapi tuan pemarah tersebut.


"Kak Alsya menyuruhku menjaga Sunny! Sebelum Sunny pulang juga aku di kamar dan tak kemana-mana," cerita Vivian membela diri.


"Lalu kenapa tak kau tolak permintaan Kak Alsya? Kau itu perawatku! Bukan pengasuhnya Sunny!" Decak Rumi seraya mengambil sendok di tangan Vivian dengan kasar. Rumi menyendok sendiri makanannya dan ekspresi wajahnya masih belum berubah.


Salahkan saja Vivian!

__ADS_1


Padahal jelas-jelas Vivian juga ingin menolak tadi!


"Jadi, gaunmu yang tadi pagi kotor terkena apa?" Tanya Rumi yang nada bicaranya lebih ke arah sindiran.


"Apa maksudmu bertanya seperti itu? Aku mengganti gaunku dengan celana panjang demi keamanan!" Sergah Vivian yang merasa tersinggung dengan sindiran Rumi.


Vivian beranjak dari duduknya dan hendak pergi saja. Toh Rumi juga sudah makan sendiri!


"Vian!" Panggil Rumi kemudian.


"Duduklah lagi disini dan aku minta maaf. Kau belum makan siang, kan?" Ujar Rumi yang langsung membuat Vivian menarik nafas panjang. Vivian kembali duduk ke kursinya tadi yang berada di depan Rumi. Wanita itu menundukkan wajahnya.


"Erick melakukan hal buruk kepadamu?" Tanya Rumi seraya menyodorkan sesendok nasi ke hadapan mulut Vivian.


"Tidak! Aku di kamar bersama Sunny tadi dan mengunci pintu," jawab Vivian masih sambil menunduk.


"Angkat wajahmu, dan segera makan suapanku ini! Kau pikir tanganku tidak pegal memegangi sendok di posisi seperti ini?" Omel Rumi yang sudah hilang nada lembutnya. Padahal baru beberapa detik hati Vivian dipenuhi bunga-bunga. Sekarang sudah harus mendengar cerocosan Rumi lagi. Dasar labil!


Vivian akhirnya mengangkat wajah dan membuka mulut, saat Rumi langsung menjejalkan sendok berisi makanan tadi ke dalam mulut Vivian.


Ya ampun! Kasar sekali.


"Aku akan makan sendiri," pinta Vivian di sela-sela ia mengunyah makanan yang memenuhi mulutnya.


"Telan dulu baru bicara! Makananmu tersembur kemana-mana!" Omel Rumi sekali lagi.


"Dan duduk diam saja disitu! Aku yang akan menyuapimu, jadi kau tak usah protes atau membantah!" Pungkas Rumi lagi sebelum pria itu menyuapkan makanan ke mulutnya sendiri.


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.

__ADS_1


__ADS_2