RUMI: Cinta Sang Pria Lumpuh

RUMI: Cinta Sang Pria Lumpuh
SIAPA YANG SALAH?


__ADS_3

Hari beranjak sore.


Vivian baru selesai memakaikan baju Rumi, saat tiba-tiba pintu kamar Rumi menjeblak terbuka dan Alsya yang sudah berdiri di ambang pintu, menatap marah pada Vivian.


"Kau memberikan apa pada Sunny, hah?" Tanya Alsya seraya menarik kasar rambut Vivian.


"Aduh!" Vivian yang kaget dan tak siap sontak langsung tersungkur ke lantai.


"Kak Alsya!" Gertak Rumi yang merasa tak terima Vivian diperlakukan kasar oleh sang kakak.


"Apa? Perawatmu ini benar-benar keterlaluan! Aku menyuruhnya menjaga Sunny, dan dia malah memberikan obat entah apa sampai Sunny tidur selama ini dan belum bangun!" Cecar Alsya berapi-api.


"Sunny belum bangun?" Tanya Vivian yang sudah kembali bangkit berdiri. Vivian melirik jam di atas nakas yang sudah menunjukkan pukul lima sore.


Berapa banyak obat tidur yang diberikan Erick untuk Sunny?


"Kata Mami, Sunny sudah tidur sejak Mami pulang jam sebelas siang tadi, dan kata Erick, Sunny bersamamu sepulang sekolah sampai bocah itu tidur. Kau apakan anakku, hah?" Alsya sudah ganti mengguncang kedua pundak Vivian dengan kasar.


"Kau memberikan Sunny apa, Vi?" Rumi ikut-ikutan mencecar Vivian sekarang.


"Aku tak memberikan Sunny makanan atau minuman apapun!" Sergah Vivian membela diri.


"Aku hanya mengganti baju Sunny saat anak itu pulang sekolah, lalu Sunny sudah mengantuk dan memintaku menemaninya tidur! Aku berani bersumpah!" Vivian menatap bergantian ke arah Rumi dan Alsya. Raut wajah wanita itu terdengar bersungguh-sungguh.


"Panggil saja Ethan dan suruh dia memeriksa Sunny!" Saran Rumi pada kak Alsya yang wajahnya terlihat frustasi.


"Tidak usah mengguruiku! Aku tahu harus melakukan apa!" Sentak Alsya sebelum wanita itu keluar dari kamar Rumi dan membanting pintu.


"Vian!"


"Apa kau masih tak percaya?" Sergah Vivian yang langsung membuat Rumi berdecak.


"Aku hanya memanggilmu dan bukan menuduhmu! Kenapa kau menyalak begitu?" Cecar Rumi ikut-ikutan emosi.


"Siapa yang menjemput Sunny tadi?" Tanya Rumi selanjutnya pada Vivian.


"Aku tidak tahu! Aku keluar dari kamar setelah maid memanggilku dan mengatakan kalau Sunny sudah pulang. Lalu aku ke ruang tengah, dan Sunny sudah berada di sana bersama Erick!"


"Erick menyuruhku mengambil baju ganti Sunny, tapi aku tak mau dan aku memilih mengajak Sunny masuk ke kamar serta berganti baju di dalam kamar-"


"Kau mengunci pintu kamar Sunny?" Potong Rumi memastikan.


"Iya! Aku menguncinya," jawab Vivian tegas.


"Lanjutkan ceritamu!"


"Lalu Sunny mengeluh mengantuk, jadi aku tanya Sunny bangun jam berapa." Vivian melanjutkan ceritanya.

__ADS_1


"Sunny bangun jam berapa memangnya? Kenapa jam sepuluh sudah mengantuk? Apa bocah itu begadang?" Cecar Rumi yang kembali memotong cerita Vivian.


"Sunny bilang dia bangun jam enam dan dia tidak begadang semalam. Jadi aku tanya apa Erick memberinya sesuatu."


"Sunny menjawab apa?" Tanya Rumi tak sabar.


"Kata Sunny, Erick memberikannya jus jeruk saja. Tidak ada yang lain," jawab Vivian yang langsung membuat Rumi mengumpat. Rumi menjalankan kursi rodanya ke arah pintu kamar dan pria itu keluar dari kamar serta langsung menuju ke kamar Alsya.


Ethan sudah datang untuk memeriksa Sunny yang akhirnya mulai menggeliat dan sepertinya akan bangun sebentar lagi.


"Dia hanya tidur dan tidak pingsan," ujar Ethan setelah memeriksa Sunny.


"Lihat! Dia sudah bangun," lanjut Ethan lagi saat Sunny akhirnya membuka mata. Gadis lima tahun itu terlihat linglung menatap ke sekelilingnya.


"Tapi dia tidur lama sekali, Ethan!" Ujar Mami Lily yang raut wajahnya masih terlihat khawatir.


"Erick memberikannya obat tidur!" Celetuk Rumi yang baru tiba di kamar Sunny.


"Apa?" Mami Lily dan Ruby yang tadi datang bersama Ethan menoleh serempak ke arah Rumi dan raut wajah dua wanita itu sama-sama kaget.


"Jangan menuduh sembarangan, Rumi!" Gertak Kak Alsya galak.


"Aku tak menuduh! Erick memberikan jus jeruk pada Sunny, lalu Sunny tiba-tiba mengantuk dan tidur sampai sore. Bukankah itu mencurigakan?" Ujar Rumi dengan nada santai.


"Bagaimana kau bisa tahu kalau Erick memberikan Sunny jus jeruk dan obat tidur?" Tanya Mami Lily menyelidik.


"Tadi Sunny minum jus jeruk?" Ruby langsung bertanya pada Sunny yang terlihat masih mengantuk.


Padahal sudah tidur siang enam jam lebih.


"Iya! Dibeliin Papa," jawab Sunny lirih.


"Erick! Kau memberikan Sunny jus jeruk dan obat tidur?" Tanya Alsya dengan suara keras. Rupanya Alsya sudah menelepon Erick sekarang.


"Obat tidur apa? Aku hanya memberikan jus jeruk saja pada Sunny! Lagipula, kenapa kau bisa menuduhku sembarangan begitu dan untuk apa aku memberikan obat tidur pada putriku?"


"Tanya saja ke Vivian! Wanita itu yang menjaga Sunny setelah pulang sekolah! Vivian juga yang bersama Sunny di kamar sampai Mami pulang. Mungkin Vivian yang memberikannya pada Sunny!"


Alsya langsung menutup telepon setelah mendengar penjelasan Erick. Semua mata langsung tertuju pada Vivian yang kini mematung.


"Apa yang membuatmu menuduh Erick menaruh obat tidur di jus jeruk Alsya? Kau melihatnya secara langsung?" Cecar Alsya seraya mendelik ke arah Vivian.


"Aku tak pernah mengatakan kalau Erick memberikan obat tidur pada Sunny," jawab Vivian membela diri.


"Aku hanya bilang pada Rumi, kalau Erick memberikan jus jeruk pada Sunny, lalu setelahnya Sunny mengantuk dan minta tidur," lanjut Vivian lagi yang tak mau dituduh sebagai kambing hitam


Brengsek memang si Erick! Suka sekali pria itu memutarbalikkan fakta!

__ADS_1


Dan Alsya sepertinya bucin sekali pada Erick, hingga apapun perkataan suami brengseknya itu, Alsya langsung menelannya mentah-mentah.


"Vian benar! Dia tidak menuduh Erick," Rumi akhirnya buka suara dan membela Vivian.


"Berarti kau yang sudah menuduh Erick!" Sergah Alsya yang ganti mendelik pada Rumi.


"Ya! Suamimu itu memang br-"


"Rumi, sudah!" Sergah Mami Lily menengahi perdebatan Rumi dan Alsya soal Erick.


Sunny sendiri sudah dibawa keluar oleh Ruby agar tak ikut mendengarkan perdebatan konyol dan kasar orang-orang dewasa ini.


"Tidak ada yang memberikan obat tidur pada Sunny! Bisakah kita sudahi saja perdebatan ini dan berhenti saling menyalahkan?" Ujar Mami Lily lagi yang nada bicaranya sudah naik tujuh oktaf.


"Mungkin Sunny memang hanya kelelahan, seperti kata Ethan tadi," lanjut Mami Lily lagi.


"Jadi berhenti berdebat dan jangan saling menyalahkan lagi!" Pungkas Mami Lily seraya menatap tajam pada Rumi dan Alsya yang sama-sama keras kepala.


Rumi hanya berdecak dan segera memutar kursi rodanya, lalu keluar dari kamar Sunny.


"Vian!" Panggil Rumi memberikan kode agar Vivian mengikutinya. Vivian tak berucap sepatah katapun, dan wanita itu segera meraih pegangan kursi roda Rumi, lalu mendorongnya masuk ke dalam kamar.


"Dasar keras kepala!" Gerutu Alsya sebal. Alsya ikut keluar dari kamar Sunny dan memilih untuk menemui sang putri yang kini sedang bermain bersama Ruby di halaman samping. Hanya tinggal Ethan dan Mami Lily sekarang.


"Mami lihat sikap Rumi yang membela Vian barusan?" Ethan memecah keheningan di kamar.


"Ya!" Mami Lily tertawa kecil.


"Sepertinya, Rumi memang sudah menemukan tujuan hidupnya," lanjut Mami Lily yang langsung membuat Ethan mengangguk setuju.


"Ethan sudah tak sabar, menunggu Rumi dan Vian bersanding di pelaminan."


"Semoga disegerakan, Rumi dan Vivian menyusul kau dan Ruby," ujar Mami Lily seraya menepuk pundak Ethan.


Ethan mengangguk sekali lagi dan langsung mengaminkan ucapan Mami Lily.


.


.


.


Semoga reader yang jomblo juga segera naik pelaminan.


Eh, cari pasangan dulu 🤭🤭


Terima kasih yang sudah mampir.

__ADS_1


Jangan lupa like biar othornya bahagia.


__ADS_2