
"Aku masih penasaran," ucap Rumi setelah Vivian menyusul masuk ke dalam mobil dan duduk di sebelah pria menyebalkan itu.
"Penasaran soal apa?" Tanya Vivian pura-pura tidak tahu.
"Soal pacar buayamu tadi-"
"Sudah kubilang, Haris itu bukan pacarku!" Sergah Vivian memotong kalimat Rumi.
"Mantan pacar?" Tebak Rumi sok tahu. Sementara Vivian hanya bersedekap dan berdecak. Wanita itu benar-benar merasa malas untuk membahasnya.
"Ceritakan, Vian!" Pinta Rumi memaksa.
"Kenapa?" Tanya Vivian menatap tajam pada Rumi.
"Agar aku tahu," jawab Rumi yang sepertinya memang hidup untuk kepo.
"Ck! Itu bukan alasan!" Decak Vivian malas.
"Haris mantan suamimu?" Tebak Rumi lagi yang sepertinya semakin ngawur.
"Mantan tunangan lebih tepatnya!" Ujar Vivian yang akhirnya berkata jujur. Rumi langsung bersiul mengejek.
Baiklah!
Itu sudah biasa!
"Haris sudah menipu keluargaku, lebih tepatnya Papaku yang sangat percaya kepadanya." Vivian bercerita seraya menerawang.
"Haris tak jujur soal statusnya yang sebenarnya sudah beristri, meskipun katanya itu hanya pernikahan siri. Tapi tetap saja dia itu tak jujur dan malah datang ke rumah melamarku, membawa banyak seserahan dan langsung mengajakku bertunangan."
"Kau menerimanya begitu saja?" Tanya Rumi menyela. Raut wajah pria itu terlihat heran.
"Aku hanya menuruti permintaan papaku agar mau dijodohkan dengan Haris. Aku tak mau membuat papaku kecewa untuk kesekian kali, seperti sebelum-sebelumnya-"
"Memangnya kau melakukan apa sebelumnya hingga membuat papamu kecewa?" Sela Rumi lagi yang sepertinya kepo sekali dengan kehidupan Vivian.
"Aku tak perlu menceritakan yang itu dan kita fokus saja pada Haris si buaya!" Sergah Vivian menatap tegas pada Rumi yang malah balik menatapnya dengan tatapan tegas juga.
"Kau bisa menceritakan apapun tentang dirimu dan aku tak akan menceritakannya pada siapapun. Aku bukan tukang gosip," ujar Rumi yang hanya membuat Vivian memutar bola matanya.
"Kita sudahi saja dongeng tentang buaya Haris kalau begitu! Aku juga sedang malas membahasnya!" Vivian bersedekap dan membuang pandangannya keluar jendela. Menatap pada barisan pohon serta gedung-gedung pencakar langit yang berdiri di sepanjang jalan.
__ADS_1
"Jadi, bagaimana ceritanya hingga kau bisa membongkar kebusukan Haris di depan Papamu?" Rumi kembali buka suara setelah pria itu diam beberapa saat. Tadinya Vivian pikir Rumi sudah melupakan dongeng tentang buaya. Tapi nyatanya pria itu masih saja kepo dan membahas tentang buaya Haris.
"Haris membawaku ke apartemennya dan dia nyaris memperkosaku-"
"Apa?" Rumi menegakkan tubuhnya dengan cepat dan raut wajahnya seketika berubah marah.
"Pria brengsek itu memperkosamu?" Tanya Rumi dengan nada yang sudah naik tujuh oktaf.
"Nyaris!" Vivian mempertegas ucapannya.
"Aku berhasil lolos dan kabur. Jadi dia tak jadi memperkosaku. Kau paham bahasa Indonesia dan tahu artinya nyaris, kan?" Terang Vivian lagi yang seketika langsung membuat Rumi bernafas lega.
Aneh!
Iya, memang aneh!
"Lalu setelah kau lolos, kau lapor polisi?" Tanya Rumi lagi menyelidik. Kedua tangan pria itu sidah mengepal erat seolah masih tak terima dengan sikap bejat Haris pada Vivian, meskipun itu hanya di masa lalu.
Padahal Vivian bukan siapa-siapa Rumi. Tapi kenapa Rumi begitu posesif pada wanita ini dan merasa tak terima saat ada pria yang mendekatinya apalah menyentuhnya?
Aneh!
"Aku lapor pada Abang Sandy-"
"Abang kandungku!" Vivian kembali mempertegas ucapannya.
"Abang kandung! Yang artinya kami lahir dari rahim ibu yang sama dan kami tak mungkin berselingkuh! Abang Sandy sudah punya istri!" Tegas Vivian lagi mulai kesal pada Rumi yang mendadak jadi posesif terhadapnya.
Terserah saja!
Sejak dulu pria ini memang begitu!
"Aku juga paham artinya! Tidak usah diceritakan secara detail begitu!" Sergah Rumi seraya berdecak kesal. Sementara Vivian hanya memutar bola matanya dengan malas.
"Abang Sandy-mu percaya?" Tanya Rumi lagi semakin kepo.
"Ya. Dia percaya dan langsung minta papa membatalkan pernikahanku bersama Haris. Tapi Papa menolak dan menuduh aku hanya mengada-ada." Vivian menghela nafas sejenak sebelum kembali melanjutkan ceritanya.
"Hingga akhirnya tanpa diduga tanpa dinyana, Papa malah memergoki sendiri Haris yang sedang rangkul-rangkulan dengan seorang wanita, lalu papa menyelidiki sendiri juga dan akhirnya papa menemukan fakta kalau ternyata Haris memang sudah menikah dengan wanita lain." Raut wajah Vivian sudah berubah sendu.
"Papa shock, hingga harus dilarikan ke rumah sakit, dan opname hampir seminggu." Vivian menghapus airmata yang meleleh di pipinya dengan kasar.
__ADS_1
"Papa juga minta pernikahanku dengan Haris dibatalkan, tapi Haris tidak mau dan menuntut Papa untuk mengembalikan semua uang yang sudah diberikan Haris serta seserahan, semuanya."
"Mungkin Haris pikir keluargaku tak akan bisa mengembalikannya waktu itu karena keadaan ekonomi kami memang sedang dibawah. Tapi Abang Sandy yang akhirnya berjuang membayar semua hutang pada Haris demi menyelamatkan aku dari pernikahan dengan pria brengsek itu."
"Meskipun waktu itu Abang Sandy sampai harus pontang panting dan berhutang sana sini, setidaknya kami berhasil memutuskan semua hubungan dengan Haris. Itulah alasanku benci pada pria brengsek dan buaya bernama Haris itu. Dia seorang penipu," pungkas Vivian setelah bercerita panjang lebar pada Rumi. Wanita itu kembali menyeka butir bening di pelupuk matanya.
"Dasar brengsek!" Geram Rumi yang kembali mengepalkan tangannya. Rumi meraih ponselnya dengan cepat, lalu menghubungi seseorang.
"Toko kue Lily's Cake. Ada yang bisa dibantu?"
"Aku Rumi!"
"Oh, Pak Rumi. Ada apa, Pak?"
"Pesanan wedding cake atas nama Haris. Yang baru dibuat sore ini. Batalkan saja!" Perintah Rumi penuh emosi.
"Dibatalkan, Pak?"
"Iya! Tolak dan batalkan! Katakan kalau aku yang menyuruh!" Tegas Rumi sekali lagi.
"I-iya. Pak! Tapi-"
"Tidak ada tapi-tapi! Batalkan pesanan itu! Titik!" Tegas Rumi lagi sebelum menutup telepon.
"Rumi, apa yang kau lakukan?" Tanya Vivian yang tak mengerti dengan sikap aneh Rumi.
"Aku tidak mau menerima pesanan kue dari seorang pria brengsek, penipu, dan seorang buaya!" Jawab Rumi tegas.
"Tapi itu akan merugikan toko kue keluargamu-"
"Kita sudah sampai dan berhentilah mengoceh!" Ucap Rumi memotong kalimat Vivian dan menatap tegas pada wanita tersebut.
"Jangan hanya mematung, Vian! Cepat bantu aku turun dan siapkan kursi rodaku!" Perintah Rumi selanjutnya dengan nada galak seperti biasa.
Dasar pria aneh!
.
.
.
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.