RUMI: Cinta Sang Pria Lumpuh

RUMI: Cinta Sang Pria Lumpuh
DONGENG


__ADS_3

"Lalu lebah dan semut pun hidup rukun tanpa saling mengganggu satu sama lain," ujar Vivian mengakhiri dongeng lebah dan semutnya.


"Begitu saja?" Tanya Rumi yang kini sudah berbaring miring menghadap ke arah Vivian yang juga berbaring di atas tempat tidur.


"Iya, begitu saja. Dongeng  selesai  dan cerita tamat," jawab Vivian dengan raut datar.


"Terdengar menjemukan dan lebih mirip dongeng anak-anak," komentar Rumi seraya berdecak. Vivian hanya tersenyum tipis dan segera membenarkan selimut Rumi.


"Sebaiknya kau tidur dan beristirahat, Rumi!" Nasehat Vivian.


"Siapa  nama pacarmu itu, Vian?" Tanya Rumi tiba-tiba yang sepertinya penasaran sekali dengan kehidupan pribadi Vivian.


"Aku tak perlu memberitahumu. Itu privasi!" Jawab Vivian sok jual mahal.


"Ck! Tidak usah menjaga privasi di depanku! Aku saja tak punya privasi di depanmu dan kau bisa melihat jelas bagian tubuhku dari ujung kaki hingga ujung kepala!" Sahut Rumi yang langsung membuat Vivian tertawa kecil.


"Itu karena aku perawatmu dan aku juga tak pernah membuka aib apapun tentang tubuhmu! Aku profesional, oke!" Jawab Vivi memberikan alasan.


"Aib? Aku punya aib apa memangnya?" Tanya Rumi penasaran dan sedikit menyelidik.


"Ada tahi lalat warna hitam di bokongmu," jawab Vivian seraya menahan tawa.


"Ck! Itu saja? Kau baru saja membukanya dan membeberkannya pada reader budiman kalau begitu!" Sergah Rumi seraya berdecak.


"Tenang! Mereka tidak  ember sama sepertiku!" Jawab Vivian santai.


"Aku juga tidak ember! Jadi, bisakah kau beritahu aku nama pacarmu yang selalu membuatmu tersenyum-senyum sendiri seperti orang sinting itu?" Cerocos Rumi yang kali ini sedikit memaksa.


Vivian mendekatkan wajahnya ke arah Rumi sebelum menjawab permintaan pria itu.


"Tidak!" Jawab Vivian tegas.


"Ck! Aku perpanjang hukumanmu kalau begitu!" Sergah Rumi kekanakan. Kedua tangan pria itu sudah bersedekap di depan dada.


"Hukuman yang mana? Hukumanku ada dua sekarang?" Tanya Vivian bingung.


"Keduanya!" Jawab Rumi tegas.


"Curang sekali!" Gumam Vivian seraya berdecak.


"Beritahu kalau begitu! Apa namanya Archie?" Tebak Rumi tiba-tiba yang langsung membuat Vivian  terkejut.


Darimana Rumi tahu nama itu?


"Benar, kan? Namanya Archie?" Tanya Rumi sekali lagi seraya tersenyum mengejek.


"Kau tahu darimana?" Tanya Vivian menutupi salah tingkahnya.

__ADS_1


"Kau pernah menyebutnya saat menelepon abangmu dan aku mendengarnya  sekilas," jawab Rumi  yang membuat Vivian kembali kaget.


Rumi mendengar apa saja tentang Archie?


"Tapi aku  ngantuk  sekali waktu itu, jadi aku tak terlalu memperhatikan kau bicara apa tentang Archie." Lanjut Rumi menjelaskan. Vivian sedikit bernafas lega sekarang.


"Jadi benar namanya Archie?" Tanya Rumi sekali lagi memastikan.


"Ya!" Jawab Vivian berdusta.


Archie pacar Vivian? Sepertinya Rumi sedang mabuk!


"Sudah berapa lama bersama Archie?" Tanya Rumi lagi kepo.


"Enam tahun," jawab  Vivian lagi mengarang cerita.


Eh, bukan mengarang. Tapi kenyataannya memang Vivian sudah bersama dengan Archie selama enam tahun sejak bocah itu lahir ke dunia ini.


"Enam tahun?" Rumi berdecak dengan lebay.


"Kau sedang pacaran atau kredit perumahan?" Tanya Rumi dengan nada mengejek dan tawa sumbang khasnya.


Baiklah!


Terserah kau saja, Rumi!


"Apa Archie tak ada niat untuk melamarmu atau menikahimu selama enam tahun kalian berpacaran?" Tanya Rumi lagi yang benar-benar harus membuat Vivian menarik nafas panjang.


"Baru memulai pendidikannya katamu? Kau berpacaran dengan seorang berondong?" Raut wajah Rumi berubah menjadi tak percaya. Vivian ingin tertawa  terbahak-bahak sekarang.


"Bisa dibilang begitu! Archie memang lebih muda dariku," jawab Vivian jujur.


Lebih muda sembilan belas tahun lebih tepatnya!


"Ck!".


"Apa kau tidak takut menjadi perawan tua? Pacaran dengan berondong dan masih harus menunggunya menyelesaikan pendidikan. Itu juga belum tentu kalian akan menikah!" Decak Rumi seraya bercerocos seperti biasa.


Amnesia ternyata telah mengubah Rumi yang dulu irit bicara menjadi bawel dan  cerewet.


Lagipula, kenapa disebut perawan tua kalau Vivian saja sudah tidak perawan! Dan jangan tanya siapa yang membuat Vivian tidak perawan lagi! Tentu saja pria amnesia di samping Vivian ini!


"Jodoh tak akan kemana-mana. Jadi kenapa aku harus takut menjadi perawan tua?" Jawab Vivian sok diplomatis lagi.


"Kalau aku jadi kau, aku akan mencari pria lain yang lebih serius ketimbang harus menunggu dengan ketidakpastian selama bertahun-tahun!" Komentar Rumi lagi sebelum pria itu berbalik dan memunggungi Vivian.


Vivian hanya menghela nafas dan menatap pada punggung Rumi yang terbalut selimut. Wanita itu akhirnya ikut berbalik dan balas memunggungi Rumi. Lagipula, ada guling besar di tengah-tengah Vivian dan Rumi yang menjadi pembatas posisi mereka, dan Vivian juga akan pindah nanti kalau Rumi sudah terlelap.

__ADS_1


Ngomong-ngomong soal menunggu, Vivian sepertinya sudah menjadi pemecah rekor dalam hal menunggu sebuah hubungan yang tidak pasti. Tujuh tahun Vivian menunggu pria amnesia di sebelahnya ini, dan ternyata selama tujuh tahun ini Rumi tak ingat apapun tentang Vivian.


Dan yang lebih menyakitkan, Rumi akan segera menikah dengan wanita pilihan keluarganya. Semoga wanita yang akan menjadi istri Rumi kelak adalah wanita baik dan penyayang, serta bukan seorang wanita yang egois. Bukankah Rumi berhak bahagia setelah tujuh tahun ini?


"Aku akan kembali besok pagi-pagi."


"Kau percaya kepadaku, kan? Aku tak akan lari dari tanggung jawab dan aku akan menjelaskan semuanya pada Mama dan Papa kamu."


Vivian menyeka airmatanya yang mendadak turun karena mengingat janji manis Rumi tujuh tahun yang lalu. Tapi semuanya sudah berlalu. Semuanya sudah berlalu...


"Vian, kau sudah tidur?" Teguran Rumi langsung membuat Vivian tersentak dari lamunannya. Vivian menghapus sekali lagi airmata di kedua pelupuk matanya.


"Belum. Ada apa? Kau butuh sesuatu?" Tanya Vivian  seraya berbalik menghadap ke arah Rumi.


"Air minumku habis dan kau belum mengambilkannya tadi," Rumi mengendikkan dagunya ke gelas kosong  di atas nakas.


"Maaf! Sepertinya  tadi aku lupa," jawab Vivian yang sudah bangun lagi dan mengitari tempat tidur, lalu mengambil gelas kosong Rumi. Vivian mengisi gelas kosong tadi dengan air dari dispenser yang memang berada di sudut kamar Rumi.


"Ini, air minummu!" Ucap Vivian seraya menyodorkan gelas yang sudah penuh dengan air pada Rumi.


"Kau habis menangis?" Tanya Rumi sebelum pria itu meneguk airnya hingga tandas.


"Tidak! Aku hanya mengantuk," jawab Vivian berdusta.


"Merindukan Archie-mu?" Sindir Rumi yang sepertinya merasa cemburu.


Tapi tidak seharusnya kau cemburu, Rumi! Archie itu mirip denganmu dan dia adalah miniatur dirimu!


Vivian bergumam dalam hati.


"Sedikit," jawab Vivian seraya mengul*m senyum.


"Tidur di sofa sana dan jangan berisik! Aku tidak bisa tidur jika kau berisik atau mendengkur!" Sungut Rumi seraya menyodorkan dengan kasar gelas kosongnya pada Vivian. Rumi sudah kembali berbaring dan kini pria itu berbaring miring membelakangi Vivian yang masih berdiri di dekat nakas.


Vivian hanya menahan tawa dan menggeleng-gelengkan kepala, merasa heran dengan tingkah polah Rumi.


Rumi, Rumi!


.


.


.


Tadi iseng bikin sensus penduduk. Ada yang kelewat nggak, sih?


__ADS_1


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.


__ADS_2